Ravel merasa kasihan dengan Anna. Air mata Anna bercucuran deras membasahi lantai dingin yang menyentuh kulit putih bersihnya. Tampa berfikir panjang, Ravel mendaratkan lututnya, menyamakan tinggi Anna yang duduk diatas lantai itu. Walau sedikit cangung, Ravel akhirnya berani menyentuh bahu Anna. Membuat gadis dengan rambut ikal gantung itu menoleh. Bukan seperti yang terharapkan oleh Ravel, dimana Anna akan menyandarkan diri pada dada bidangnya dan Ravel dengan senang hati memberikan ketenangan bagi Anna. Tapi hal yang terjadi sebaliknya. Wajah gadis itu terlihat sungguh marah. Matanya membulat menandakan api kemarahan mulai berkobar disana. Hidung peseknya mengatup-atup serta mulutnya komat kamit semakin menyempurnakan amarahnya. Jemari telunjuk lentik Anna menunjuk pada wajah Ravel. Lelaki itu memang mengerti maksudnya, namun dia diam. Dia tau kalau sebentar lagi amarah gadis yang baru dikenalnya sejam ini disebabkan olehnya. “Kau, berani-beraninya! Lepaskan bahumu dariku! Jauhkan tubuh kotormu dari diriku. Kau berbeda jauh denganku!” ucapan Anna yang marah besar pada pria di depannya tampa menjilat lidah dahulu sebelum berkata. Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa takut dari pria itu. Ya, Ravel memang sering menemui prilaku seperti ini. Bahkan Ravel jauh lebih merasakan pahitnya hati ketika ucapan seseorang mengatakan kalau dia bukan setara dengan orang itu. Memang, Ravel juga tau diri. Dia hanya anak orang miskin. Putra seorang yang tidak akan mendapat uang hanya duduk bersila kaki di sofa serta meminum teh hangat. Sedang gadis di depannya. Sudah pasti, jangankan untuk duduk bersila kaki di sofa serta meminum teh hangat. Ravel yakin, kata-kata yang muncul dari mulut Anna bagaikan sebuah mantra sihir atau perintah besar dari seorang raja kaisar dinasti pada zaman dahulu. Keinginan terwujud bukan sebuah masalah bagi Anna. Ravel bangkit dari posisinya saat ini dan berjalan mendekat ke halaman UGD. Pandangan kosong melihat dua orang dokter berkerja keras menyembuhkan ibunya tersebut ditengah-tengah lampu sorot yang menerangi bagian tengah dimana itu adalah Ibunya. “Nona tidak tau pasti akan semuanya. Kami memang orang miskin. Dan maaf kalau perbuatan lancang saya telah mengganggu anda. Dari awal Nona datang kemari, saya sudah memarahi Nona. Karena saya khawatir dengan keadaan Ibu saya. Kami ini adalah salah satu dari penduduk yang berasal dari kelas menengah kebawah. Hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, kami harus kerja.” “Kalau nona. Ekhm! Sebenarnya bukan untuk membanding-bandingkan kehidupan, tapi memang ini sudah ditakdirkan dan merupakan sebuah hukum alam kalau orang kaya itu sombong sedangkan orang miskin selalu gigit jari melihat orang kaya berfoya-foya tampa batas.” “Dan kalau nona kesal atau marah pada saya karena telah berani membuat nona tersinggung dengan kejadian tadi, maka saya bisa kok membantu nona.” Ravel berbalik badan. “Tidak perlu sungkan atau berfikir macam-macam. Saya hanya ingin ‘membantu’ nona kalau nona ingin kembali pada pacar nona. Sekaligus ucapan terimahkasih karena telah memberikan pengobatan terbaik pada Ibu saya. Beliau, setelah ini, seperti perkataan nona pasti sembuh. Dan saya yakin hal itu. Sebab hanya beliau-lah teman saya di dunia ini.” Raven berjalan mendekat kepada Anna. Gadis yang sedaritadi berfikir keras akan perkataannya, benar-benar, dia lupa. Sebab kemarahan seseorang akan menutup mata batinnya. Dia yang marah pasti tampa disadari akan menimbulkan sesuatu, seperti perasaan tersinggung akan orang yang mendengar ucapannya. “Dan jika nona sudah kembali pada pacar nona, maka saya akan pergi jauh dari kehidupan nona. Tidak perlu beri saya sepeserpun harta nona pada saya. Apa nona ingin?” tanya Ravel dengan percaya diri. Pikiran cerdasnya mulai berputar dan menghasilkan ide ‘tampa perlu imbalan’. Lagi pula Ravel adalah pribadi lemah lembut dan penyayang. Rendah hati serta tak akan ingkar janji. Jadi Anna bisa saja menjadi salah satu gadis beruntung yang mendapat pria modelan Ravel. Tapi dilihat dari wajah Anna saat ini, sepertinya Anna kurang percaya, atau mungkin, Anna tidak mengerti apa maksud Ravel saat ini? “Hmm ... Tapi sepertinya nona kurang paham,” Ravel menyimpulkan. “Tapi tidak apa,” Pria itu tersenyum manis, dan berusaha mengangkat tubuh Anna melalui bahu gadis itu, ”Maaf, saya memegang bahu nona, tidak apa 'kan?‘’ tanya Ravel meminta izin. Anna mengangguk, dan Anna berjalan lewat topangan Ravel. Kini Ravel dan Anna sudah duduk di kursi dekat mereka tadi. “Maksudnya begini. Hmm ... Nona bisa marah atau tidak akan setuju dengan ide saya. Karena mungkin ide ini cukup gila kedengarannya. Tapi dengarkan lah dahulu, baru putuskan.” Anna mendengarkan pasti akan semuanya. Walau hati merasa tak cocok sebelum perkataan itu diucapkan. Ada rasa ragu tertempel lekat dalam dirinya. Tapi kata yang diucapkan pria di depannya sedikit mengurangi rasa ragu itu. “Hmm ... Nona dan saya, bisa jadi pacar. Ups~bukan-bukan. Maksudnya jadi pacar palsu. Dan saya berharap kita bisa bekerja sama. Dengan cara menghumbar kemesraan jika di hadapan pacar Nona. Seperti mengatakan kata ’sayang lah, cinta lah, my love lah’ tapi ini hanya untuk membuat pacar nona itu merasa menyesal telah memutuskan nona. Bagimana, apa nona setuju?” “Tapi, apa tidak masalah jika saya mengatakan kata manis seperti itu padamu?” tanya Anna sedikit canggung. Sebentar Ravel tampak memikirkan, “Tidak masalah. Tapi nona jangan berfikir macam-macam dahulu. 'Kan tadi saya hanya memberi jalan. Siapa tau pikiran Nona dengan saya memiliki cara berfikir yang sama, dan kita bisa bekerja sama seperti perkataan saya tadi.” “Kalau Nona tidak suka dengan cara berfikir saya, maka tidak masalah. Atau, Nona takut ya kalau saya menyentuh nona?” tebak Ravel. “Tidak! Saya tidak berfikir begitu!” cekal Anna. Tapi wajah memerahnya begitu membuktikan jelas kalau isi kepalanya sama seperti tebakan Ravel. “Wajah Nona memerah, berarti Nona berbohong, hahaha!” tak sengaja Ravel tertawa lepas. Anna dengan cekatan menutup mulut Ravel dan membuat sensasi baru bagi Anna ‘untuk pertama kalinya’ Rasa seperti sedang berbunga-bunga entah apa alasannya. Tapi Anna tidak memperdulikan hal itu. Lagi pula dia kan dengan pria di depannya baru kenal. Tidak mungkin kan langsung AJA GITU! “Jadi, apa nona mau mengikuti saran saya? Menjadi pacar palsunya Nona?” tanya Ravel setelah Anna melepas tangannya dari mulut Ravel. Anna terdiam, namun setelahnya dijawab dengan anggukan kepala tanda setuju. Bersambung~
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
19/03/2025
0bagus
16/02/2025
0Ver Todos