logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 2 Sebuah Tuduhan

Ravel berdiri dari posisinya, melipat kedua tangan di dada setelah Anna di depannya, “Ngapain anda kemari?!” tukas Ravel pada Anna. Mau gimana pun ceritanya, ia tetap kesal dengan kelalaian Anna.
Sedang Ravel marah, Anna terdiam seribu bahasa. Kepalanya terus berputar jauh memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya saat ini. Memang dia juga tau kalau semua ini memang kesalahan dan keteledorannya.
Kalau kian dia tidak melajukan kendaraannya sangat cepat, maka semuanya tidak akan terjadi!
Bahkan mungkin boleh dikata, Anna sudah mengetahui kepribadian Raka sebenarannya.
Mungkin seperti yang dipikirkannya sekarang. Laki-laki seperti Raka adalah pria bermuka dua, dan licik. Hanya bisa memainkan perasaan wanita.
“Saya mau jenguk wanita~ups, maaf. Apakah beliau adalah Ibu anda?” tanya Anna sembari mengangkat kepala keatas. Melihat Ravel, yang memiliki tinggi cukup membuat lehernya naik 20° dari biasanya.
Bertanya, karena Anna mendengar suara Ravel yang begitu marah, tapi terselip sedikit kesedihan mendalam.
“Ya!” Ravel yang tertutup amarah kini terlihat membuang jauh wajah serasa tidak ingin rasanya melihat wajah Anna saat ini.
“Lalu, apa yang bisa saya lakukan agar anda memaafkan saya?” Anna mulai bernego.
“Bayar semua biaya administrasi ibu saya, hingga Dia sembuh!” syarat utama dari Ravel.
Biar orang kata kalau dia adalah pria matre yang dengan mudahnya memanfaatkan keadaan.
Tapi keapit dengan semua masalah ekonomi dalam kehidupannya membuat dia harus melakukan hal ini.
Ravel adalah pria miskin. Miskin harta namun kaya ide. Ravel anak seorang ibu penjual kue yang hari-harinya selalu berdiri dibawah pancaran sinar matahari siang hari dan dinginnya udara di malam hari.
Tapi sejak penyakit yang dimiliki Ibu Ravel kambuh, dia pensiun. Hingga Raven terpaksa menggantikan kegiatan sehari-hari Ibunya menjajahkan kue dipasaran dan jalan-ramai orang.
Mengenyampingkan studynya yang sudah berjalan setahun, kalau Ravel punya orderan dari para fans kue buatannya. Pria itu kuliah.
Kuliah di jurusan ekonomi dan mengambil siff malam supaya dia lebih mudah melakukan kewajiban terhadap Ibunya.
Maka tak heran kalau Ravel bertubuh tinggi dan berkulit cokelat pekat.
Namun entah kenapa ketampanan dari wajah Ravel tak terelakkan bagi kedua mata Anna.
Anna yang kembali tertunduk tapi sekali-kali dia melirik ke wajah Ravel dari sulur-sulur rambut cokelat tebalnya.
“Apa sanggup?” tanya Ravel. Pandangan menyelidik dan bergaya sombong agar hati Anna yang mungkin keras-menurut Ravel, jadi luluh dan mengikuti perintah, kemauan Ravel.
Walau sebenarnya Ravel sendiri tidak percaya jika Anna adalah orang dalam penglihatannya. Kaya. Memang benar Anna terlihat seperti seorang gadis kaya. Tapi tiada yang tau kehidupan seseorang.
Apa mungkin Anna adalah seorang gadis simpanan, atau gadis dengan bantuan sugar dady untuk memperlancar kegiatannya sehari-hari.
Dia hanya ingin membuktikannya saja ...
Sedang Anna yang mulai sadar, mengangkat kepala lagi, “Yaa ... Bisa, bisa. Saya bisa. Tidak perlu takut,” sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Lagi pula hal ini merupakan hal paling memudahkan baginya.
Dari biaya administrasi hari lalu, tak termasuk hari ini, yang dibayarnya lunas.
Anna tau jika benar-benar, pria di depannya ada orang miskin seperti penglihatannya. Dia kasihan.
‘Kalalu ini, hm ... Baiklah, saya akan menghubunginya,’
Anna berbalik badan, berjalan beberapa langkah, meletakkan ponsel dekat dengan telinganya dan mulai menelepon seseorang.
Ravel menunggu ...
Lima menit berjalan. Anna baru selesai dengan teleponnya. Dia kembali berjalan kepada posisinya, serta berbicara sembari meletakkan kembali ponsel dalam tas.
“Sekarang, anda hanya perlu melihat kerja para dokter yang akan menangani ibu anda. Tapi ingat, para dokter itu bukan dokter biasa. Melainkan dokter terbaik. Saya yakin, ibu anda bisa sembuh cukup dengan suntikan obat dari dokter itu!”
“Benarkah?” Ravel tentu tidak percaya. Bahkan kata ‘benarkah’ terdengar dua kali lebih angkuh dari barusan.
“Iya. Mereka sedang berada diperjalanan. Apa anda tidak percaya?”
“Tentu saya tidak percaya. Sebelum ada bukti, maka tidak ada yang percaya bahkan sampai kata jujur sekalipun,” alasan Ravel mengatakan itu karena Raven khawatir jika suatu waktu gadis di depannya lari, bukan kah dia yang rugi? Tapi perkataan Anna tadi sedikit mengurangi kekhawatiran akan keselamatan ibunya.
***
‘‘Saya tidak bohong 'kan? Yah sudah, saya akan pergi dan anda nikmatilah pandangan indah anda sekarang.’’
Anna melangkah dari hadapan Ravel. Saat ini Anna dan Ravel sedang berada di halaman luar dari ruang UGD tempat Ibu Ravel ditangani.
Melihat dari sudut jendela kecil. Ravel tersenyum kecil hampir tak terlihat oleh Anna. Tapi Anna mengetahui, kalau Ravel sekarang sedang bahagia sekali!
Namun ...
Tak selang beberapa lama ...
“Awh!”
Anna tiba-tiba terdandung kaki kursi panjang disampingnya. Ravel dengan sigap meraih lengan gadis itu setelah didengarnya suara Anna. Ravel membawa Anna dengan tangannya dalam dekapan miliknya.
Tangan besar nan kokoh milik Ravel memegang erat pinggang kecil berbalut pakaian. Sedang kedua tangan lentik serta langsing milik Anna menglung di leher jenjang Ravel.
Kini kedua manusia itu saling bertatap-tatapan. Tinggal sejengkal lagi kedua manusia itu hampir melakukan kegiatan yang seharusnya tidak Mereka lakukan sebelum menjadi sepasang kekasih. Ciuman.
Wajah Anna saat ini memerah. Berfikir banyak hal jika hal ini terjadi. Juga wajah Ravel ikut memerah, dia berhasil menangkap wajah Anna. Gadis itu kelihatan sungguh cantik.
Make up yang tidak tebal dan sangat anggun. Sulur-sulur rambut berkeliaran sepanjang wajahnya.
Sangat berantakan! Namun begitu indah dipandang mata. Ravel baru kali ini berdekatan dengan gadis selain ibunya! Owh, sebuah keajaiban baginya sore hari ini.
Hingga beberapa detik setelahnya. Seorang dengan suara paling dikenal Anna menyadarkan mereka.
“Owh, jadi begini, kelakukanmu Anna Bunga Vanesha! Bermain dengan pria lain dan melupakan pacarmu yang sebenarnya! Sudah berapa lelaki yang kau pacari selama aku berpacaran denganmu, huh!”
Anna serta Ravel melepaskan sikap kurang terpuji yang mereka lakukan barusan. Padahal ini hanya sebuah kesalah pahaman. Tapi kenapa, kenapa ... Ups, siapa tadi itu?
Penasaran dengan siapa orang itu. Anna mengangkat kepala. Dan betapa terkejudnya lah dia ketika mendapati keberadaan Raka disana. Tadi, dia tempat tak percaya jika Raka disana. Karena tak mungkin kalalu Laki-laki itu tau keberadaan Anna dimana pun ia berada.
Lebih tepatnya tak perduli. Sebab selama dua bulan ini hubungan Raka dan Anna merenggang sejak timbul kecurigaan Anna terhadap sang kekasih hati. Tapi kini, kenapa wajah Raka di depan mata Anna?
Mengucek-ucek mata, tapi Anna sama sekali tidak dapat menemukan wajah orang lain dari orang selain Raka.
“Kau kaget Ann? Iya? Bwha-ha-ha-ha!” lelaki itu tertawa sungguh keras. Lebih tepatnya tawa jahat yang tak henti-hentinya mengatkan dalam bahasa isyarat kalau Anna itu bodoh!
“Tapi Ann, itu sungguh bagus. Karena dengan begini, Raka, si pujaan hati yang ternyata hanya kebohongan bagimu itu tak perlu lagi memutuskan hubungan kita. Aku dukung kegiatanmu, bye! Nikmati hari-hari indahmu bersama dia!”
Lelaki itu pergi. Karena selain dia kecewa dengan sikap kurang terpuji dari Anna, dia juga tidak mau menimbulkan permasalahan baru karena mengguncang seisi rumah sakit dengan tawa jahatnya tadi.
Anna disamping Ravel tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya. Dia menangis dalam diam meratapi kebodohannya! Seharusnya kali ini Raka yang ketahuan kedoknya, Raka menduakan Anna dan sekarang mungkin Raka yang memohon kebaikan Anna agar kembali hubungan antar kekasih yang mereka jalin selama tiga tahun ini.
Dan Anna bisa dengan mudah hati menjungkir balikkan kehidupan Raka supaya laki-laki itu patuh seperti anak anjing yang manis.
Ini, semuanya terbalik! Semuanya sudah terlambat! Seharusnya Anna lebih cekatan dalam bertindak! Anna harusnya membiarkan dokter rumah sakit ini melakukan tugasnya, dan bukan menyewa dokter profesional untuk menyembuhkan penyakit wanita yang ditabraknya tadi!
Sekarang, apa yang harus diperbuatnya? Bagaimana pun, dia masih mencintai Raka, dan Anna ingin sekali jika Raka kembali padanya.
Bersambung~

Comentário do Livro (111)

  • avatar
    Ratu Jihan

    cerita novel nya sangat baguss hebatt💞

    06/05/2022

      4
  • avatar
    ARMuhazarah

    cerita nya bagus kak..

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Muhammad Raka Brahmansyah

    bagus

    16/02/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes