“Awas ya kau Raka! Hari ini, jangan harap kau bisa bisa lepas dari jerat kemarahankuuu!” gumam Anna sembari membanting stir mobil. Ia merasa kesal, sejadi-jadinya saat mendengar berita mengejudkan dari Rika, saudara kembar perempuan Raka yang pro dengan Anna. Gadis itu menggertakkan gigi seakan mangsa sudah dalam mulutnya. Tinggal kunyah, lalu mangsa akan diam dalalm perutnya tampa diketahui orang lain! Sudah lebih dari dua bulan ini Anna mengamati gerak-gerik, tingkah laku sang pacar yang telah menjalin hubungan dengannya tiga tahun ini. Ada yang aneh dengan pacarnya itu. Sungguh, membuat dia hampir beramsumsi kalau Raka telah menduakannya. Tapi karena Anna sangat mencintai Raka, dia menepis semua kegelisahan dalam hatinya. Hingga perkataan Rika, menunjukkan bukti kalau Raka berselingkuh di hari unniversary Mereka yang ketiga. Dimana Raka bersama seorang gadis, di sebuah kafe ternama di kota N. Tapi dengan wajah disamarkan, membuat Anna penasaran. Terutama hal itu terjadi ketika Raka sama sekali tidak datang ke tempat janjian mereka. Hati Anna hancur saat itu, tapi lebih hancur mendengar ungkapan dari Rika. Hingga hari ini, Anna memutuskan untuk mencari kebenarannya walau dia harus tersiksa seperti seperti gadis lain diluaran sana, yang memutuskan pacar karena sang pacar dengan mudahnya selingkuh dibelakangnya. Dia tidak peduli hal itu! Yang penting, dia tau. Seperti apa Raka yang sebenarnya dan alasan mengapa pria tercintanya Anna ini berbuat hal segila itu. Bahkan jika dibandingkan dengan orang lain, gadis lain, pasti Raka sudah sangat beruntung mendaptkan cinta Anna. Dari segi manapun, Anna adalah juaranya! Ditengah jalan besar nan luas tempat dimana mobil sedang dilajukan, Anna tampak sedang terburu-buru melajukan mobil miliknya dengan kecepatan cukup tinggi. Hingga tampa disadari, lampu lalu lintas menyalakan merah padamnya. Semua mobil tampak sudah berhenti tepat pada jalurnya, tapi dia tidak. Dan karena kelalaiannya, ia ditilang polisi. Untung ini kesalahan pertamanya sejak dua bulan lalu ia bisa menerima SIM. Setelah selesai dengan urusan polisi, Anna, si Gadis 19 tahun itu kembali melajukan mobil pemberian ayahnya dengan kecepatan cukup standar bagi pendara mobil. Berlanjut pada lampu merah kedua. Kini dia lebih hati-hati dalam memberhentikan jalannya. Tapi kelalaian kedua telah dilakukannya. Melihat jam di tangan, sudah pukul 14.00 siang. “Akh! Sial!” gumannya kecewa. Seperti perkataan Rika, Raka itu janjian bersama gadis ‘simpanannya’ pukul 14.20. Itu berarti, Raka sudah ada di perjalanan. Aduh ... Gimana ini? Karena hal itu, Anna jadi lupa! Lupa semuanya! Baik tentang semua nasihat polisi yang mengharuskan dia ‘berhati-hati’. Semua disebabkan oleh Raka! Si pria yang sebentar lagi akan diketahui kedoknya tersebut. Tentang alasan selingkuh atau sikap Anna yang mungkin kurang bagi Raka. Brak! Mobil berhenti seketika. Tedengar suara mobil milik Anna yang berbunyi alarm pencuri. Sedang gadis di dalam mobil tersebut sudah tercengang. A-ada apa ini? Mengapa bisa-bisanya, dia—Anna menabrak ... Sesuatu? Anna gelisah. Termenung dalam kesendiriannya di dalam mobil mewah tersebut, sedang orang-dari luar mobil miliknya, keluar dari kendaraan masing-masing. Mereka menggedor-gedor kaca mobil Anna. Agar gadis itu keluar serta mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Perlahan Anna membuka pintu mobil. Tangannya terasa bergetar hebat, hampir tidak bisa membuka pintu itu. Berkali-kali menghela nafas berat. Menguatkan diri dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi setelah ini. Dia harus menghadapinya! Anna keluar. Membenamkan satu kaki berbalut sepatu hak tinggi di atas aspal. Kaki ikut gemetar serta wajah penuh peluh di kening akibat syok masih terlihat. Namun ia berusaha tegar. Agar kerumunan orang di depannya tidak menganggap kalau dirinya kecil dan lemah! “Anda harus bertanggung jawab dengan perbuatan anda!” teriak salah satu orang dari antara orang-orang itu. Dia maju beberapa langakah hingga terlihat pasti dirinya. “Un .. untuk apa?” sambil menggaruk kepala pura-pura bingung. Tapi rasa kekhawatiranya bertambah ketika tak sengaja, menangkap salah satu pandangan mengerikan. Seorang wanita paruh baya berbaring lemah bersimpuh darah diseluruh tubuhnya tepat di depan mobilnya, cukup sebentar berfikir, Anna sudah mengetahui siapa orang itu. Pasti, orang itu adalah orang yang ditabraknya. ‘Ya ampun! Anna harus gimana ini?’ tanya Anna dalam dirinya. Secepat kilat dia melangkah kaki tampa memperdulikan ocehan warga yang sedaritadi bersiul tak henti-hentinya. Di depan mobil tersebut, selain wanita lemah itu, terdapat seorang pria berbalut kaus oblong cokelat memangku wanita setengah baya itu. Tangisannya terlihat jelas, membuat Anna sungguh prihatin terhadapnya. Anna berjongkok tak memperdulikan pandangan kurang meng'enakkan dari bagian bawah tubuhnya. Dan tubuh langsing berbalut baju span pendek berwarna kuning lebih bergetar dari barusan, Anna menyentuh tengan sang wanita paruh baya. Tangisannya pecah namun ia sembunyikan dari balik tundukannya. “Sudahlah, jangan menangis. Kami tidak akan merasa kasihan dengan air mata buaya milik Anda! Tanggung jawab atau kami akan menyeret anda ke kantor polisi saat ini juga!” Anna menyeka air matanya. Perlahan mengangkat lengan wanita tersebut bersama tubuhnya. Tentu dengan bantuan pria tadi. Tubuh penuh lumuran darah hampir membuat Anna muntah cukup menciumnya saja. Aroma ini, sama sekali tidak bisa diterima dalam sistem penciumannya! Namun apa boleh buat. Terpaksalah dia melakukan ini. Daripada dituduh jadi pembunuh? Melajukan mobil dalam kecepatan standar. Anna duduk di kursi penyetir, sedang tiga orang dalam mobil duduk di kursi penumpang. Dua laki-laki dan satu wanita paruh baya. Rasa bersalah begitu merasuk dalam hatinya tak kala pria yang sedang duduk di sampingnya, pria yang pertama berbicara padanya saat menyuruhnya keluar dan tanggung jawab atas perbuatannya terus mengomel seperti ibu-ibu kalau marah pada anaknya. Tak henti bicara! “Lihatlah, wanita yang anda tabrak tadi. Sekarang dia seperti ingin mati. Tersiksa karena ulah anda. Cepat lajukan kendaraan ini. Kalau anda tidak berhasil tepat waktu, maka dipastikan detik ini juga anda tidak akan bisa menghirup aroma segar selain berada dalam sel tahanan bersama dengan penjahat lainnya,” ucapan seperti ancaman itu adalah salah satu dari banyak ancaman lainnya dari pria yang sepertinya pernah masuk penjara ini. Kata-kata cukup detail, masuk dalam kategori orang berpengetahuan banyak tentang penjara. Atau, dia memang suka membaca artikel tentang penjara? Ah, Anna sekarang tidak perlu memikirkan hal itu. Yang penting Anna harus dengan segera melajukan mobil supaya lebih mudah menyembuhkan wanita paruh baya hampir skarat dibelakangnya saat ini. *** Cukup lima belas menit waktu mencapai jalan menuju rumah sakit terdekat. Sekilas Anna tampak menghela nafas lega setelah berhasil menyelamatkan nyawa wanita yang sedang ditangani para dokter. Sepertinya nasihat penuh penekanan dari pria si cerewet akan bicara tadi begitu membantu dirinya. Hmm ... Sepertinya dia perlu berterimahkasih pada pria kurang hajar plus baik tadi. “Pak, eh pak!” seru Anna melambaikan tangan setelah tampak pria berpakaian lusuh tadi. Pria tersebut menoleh. Menatap dengan mata sipit kearah Anna. Dia segera mendekat, “Ada apa?” ucapnya acuh-tak acuh. Ia hanya melihat wajah gembira dari gadis muda di depannya, tampa ada sedikit pun kata keluar dari bibir milik Gadis itu. Hendak pergi namun langkahnya tercekal oleh genggaman tangan Anna, “Terimahkasih ya pak,” ucap Anna. Matanya berbinar sungguh, dengan hati tulus ia berkata. “Untuk apa?” “Untuk kata-kata pedas bapak tadi, hehe.” Sang pria berusia mungkin lima puluh tahun itu mengernyitkan kening, “Kata pedas seperti itu 'kok berterimahkasih,” ucapnya sambil membuang wajah kesamping. “Nih pak. Saya beri uang,” Anna menyodorkan amplov cukup tebal dan pasti ‘lumayan’ isinya kepada bapak itu, “Tapi bapak jangan salah paham dulu. Uang ini bukan untuk menganggap rendah bapak ya. Saya hanya berterimahkasih dengan omelan bapak. Begitu membangun saja soal penjara.” “Tapi, saya—” Bapak tua itu berusaha menolak. ‘‘Sudahlah pak. Anggap saja sebagai tanda terimahkasih,’’ Anna dengan senyum tulusnya hampir membuat sang bapak tak berani membuat senyuman itu memudar. Dengan berat hati dia menerima uang tersebut. *** Ravelion Jiorji, nama pria itu. Pria yang sejak tadi sudah menangis meratapi nasip dengan sejuta pikiran buruk menghampiri sebab ibunya hanya dibiarkan di ruang UGD. Sembari menunduk pilu, karena merasa sungguh tak sanggup menerima semua konsekuensinya. Ibunya sakit keras. Karena kecelakaan ini, penyakitnya bertambah. Padahal tadi, sebelum semuanya terjadi, ibunya sudah diperbolehkan pulang, itupun bukan karena sembuh, tapi karena tidak ada biaya untuk membayar pengeluaran rumah sakit untuk Ibu Ravel. Mereka dengan gelisah hati berjalan melewati zebra croos. Merasa aman-aman saja karena jalan ini tidak mungkin membawa Ibu Ravel dalam kecelakaan, namun hal ini malah membawa Ibunya kembali dalam tempat penuh obat-obatan itu lagi. Dan seperti perkataan dokter, kalau Ibunya harus segera ditangani lebih lanjut. Pihak administrasi dari rumah sakit yang sama tempat Ibunya baru dipindahkan terus mendesaknya agar segera membayar uang mukanya. Padahal gadis muda penyebab semua ini sudah pergi entah kemana. Dia khawatir. Dengan semuanya! Kesehatan ibunya adalah sesuatu yang paling dinanti-nati pria itu. Lalu kenapa nasip buruk malah menimpa wanita tersayang Ravel? Hatinya mulai memaki-maki sang gadis. ‘Enak saja langsung pergi! Setelah perbuatan kurang terpuji, dia malah pergi! Dia punya otak apa tidak sih! Lihat dong, derita rakyat jelata disini. Sengsara karena perbuatan kurang terpuji dari dia—si Gadis tak tau malu itu. Sudah berbuat masalah, dia malah pergi. Tidak peduli seperti apa perasaan pada rakyat kantong kering seperti dirinya! Ditengah kekesalan akan sang gadis itu yang tak lain adalah Anna, Ravel melihat dari lorong rumah sakit. Anna, gadis dengan tubuh langsing bak gitar spayol, baju span pendek selutut yang sudah diganti dengan pakaian baru, berwarna merah muda, berlari menuju arahnya. Tas slempang merah muda senada dengan pakaian, tergambar boneka hello kitty terlihat melambai santai, mengikuti kecepatan laju Anna pergi. Padahal Anna sendiri sama sekali tidak bisa sesantai tasnya. Justru terasa tersiksa, karena menarik nafas saja berat. Ravel, Pria itu mengangkat kepala ketika getaran dari langkah kaki Anna terasa mendekat kepadanya. Dia, kembali? Ravel berdiri. Bersamaan dengan Anna, sudah berada di depannya. *** Ya, Anna kembali kemari. Tadi, sewaktu selesai dengan ucapan terimahkasih pada pria yang ternyata anaknya masuk penjara karena kecelakaan mobil berhasil mengorbankan seorang wanita sama seperti nasip Anna, Anna yang baik dan merasa berhutang budi entah karena apa, dia menyempatkan diri sekedar datang ke kantor polisi untuk membebaskan anak dari pria tua nan baik itu. Dan setelah dibebaskan, ia segera pergi ke rumah sakit karena dia lupa dengan satu hal. Biaya rumah sakit yang lainnya belum dikerjakannya. Namun jika mengingat Raka, lebih baik dia singkirkan itu dahulu. Siapa tau segalanya akan berubah ketika dia membantu orang lain? *** Bersambung ...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
19/03/2025
0bagus
16/02/2025
0Ver Todos