Aku menyadarkan diriku dari lamunan gilaku tentang pria dihadapanku ini. “Bapak,” “iya “ jawabnya sambil memandangku “bapak sampai kapan mau menggandeng tangan saya?” Ia melepaskan genggamannya. Dan aku mendeham untuk mencairkan kegugupanku. Aku membuka pembicaraan karena ia masih saja diam. “bapak, ini tempat apa, sungguh indah. Saya tidak tahu ada tempat seindah ini diperusahaan. Kalau tahu pasti saya kesini setiap hari” Ucapku polos “ ini adalah tempatku, hanya saya yang bisa kemari. Karena pintu aksenya hanya saya dan orang kepercayaanku yang tahu” “oh maaf pak, saya kira ini tempat umum” Dia tertawa “ lalu kenapa kita kemari ya pak” Pak sem berjalan kesebuah tempat duduk diatas kaca yang seperti sungai. Aku masih terdiam “ Kemarilah Briana, saya hanya ingin istirahat. Dibawah rasanya bising” Aku mendekat, tapi masih ingin menanyakan semua yang ada dipikiranku “ apa tidak apa – apa saya disini pak, bapak memang mengenal saya, kenapa bapak tau nama saya” “ hahahahaha satu – satu briana, saya akan jawab semua” Aku terdiam malu “maaf” “ oke, pertama ini tempatku, perusahaanku, jdi jelas kamu tidak apa – apa disini karena kau yang mengajakmu, kedua saya sudah bertemu denganmu 3 kali jelas saya mengenalmu, dan yang ketiga saya bos perusahaan ini, jadi bukan hal yang sulit mengetahui nama karyawan perusahaan saya. Sudah jelas Briana” “maaf, jelas Pak” “oke sekarang kamu duduk, kakimu akan sakit jika berdiri terus begitu” “ Baik pak” “ Kamu mau minum apa, Jus, kopi,the, atau air putih?” “ air putih saja pak” Ia berjalan kesebuah batu besar, dan betapa terkejutnya aku ternya itu adalah kulkas yang didesain seperti batu. “ Bapak kenapa membangun tempat seindah ini disini pak?” “ karena saya suka. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu dikantor jadi tak punya banyak waktu berlibur. Hasilnya aku buatlah tempat ini” “Kamu suka briana?” “suka” jawabku sambil menengok kearah Pak sem Tanpa sadar wajahnya ternyata sedang memandangku. Kami saling berhadapan. Jantungku rasanya mau copot. Tuhan tolong aku keluar dari kecanggungan ini. Tiba – tiba suara dering handphone Ternyata telpon dari mas Ryan. Aku menatap Pak Sem dan aku bertanya “Pak boleh saya angkat telpon saya?” Beliau tersenyum “Halo Mas,” “Kamu dimana, aku cari dipojok aula ko ga ada” “hmmmm” aku bingung harus menjawab apa “kenapa na, kamu sakit, kamu dimana” “mas, aku pulang duluan ya. Mau kerumah temen dulu soalnya penting” “ Loh kenapa ga bilang, kan bisa aku anter” “ ga usah mas, terimakasih. Silahkan lanjutkan acaramu. Malam” Aku matikan telponku. Ada wajah yang sedang menatapku dengan aneh. “maaf pak” “kenapa, pacarmu mencarimu” Aku terdiam kaget. Pertanyaan apa ini. “ bukan pak” “ lalu?” tanyanya Kembali Kenapa ia bertanya detail sekali dengan wajah seperti harimau hendak menerkam mangsanya “ hmmm dia Mas Ryan, teman satu divisi. Dia adalah teman saya semenjak bekerja disini pak” “cukup dekat ya, memanggilnya mas” Aku bingung harus menjawab apa, apakah hal seperti ini harus aku jelaskan pada bosku. “kenapa diam, berarti memang dekat ya” “ memang dekat pak, karena dia seperti kakak saya dan saya terdiam karena memang bingung harus menjawab apa karena pertanyaan bapak aneh” Dia terdiam dan tersenyum. sebenarnya apa yang ada dipikirannya. *** Kami berbincang cukup lama sampai waktu tak terasa sudah begitu malam. Aku tak mau telat sampai rumah dan membuat ibu khawatir. “Pak sepertinya sudah cukup malam, saya harus pulang” “oke, saya antar” “ tidak usah pak, saya bisa sendiri. lebih baik bapak Kembali keacara. Pasti banyak yang mencari bapak” “ Tidak apa – apa, saya antar kamu. Mari” Sebenarnya aku senang bisa berlama – lama dengan Pak Sem. Tapi aku takut kecewa. Hati ini mulai meminta lebih. Sepertinya ini salah. Sepanjang perjalanan dimobil kami hanya diam. Aku masih dalam lamunanku. Tiba – tiba pa Sem buka pembicaraan. “ Sampai kapan kamu mau diam Briana?” “ Maaf pak, saya tersenyum” “kamu mau pulang kerumah saya?” Saya menatapnya kaget Pak Sem tertawa renyah “matamu jangan melotot begitu, nanti copot” “ bapak yang buat saya kaget” jawabku “ lagian kamu diam saja, tidak memberi tahu alamat rumahmu, jadi saya bingung harus mengantar kemana. Jadi benar dong saya berkata seperti itu” “ Kan bisa langsung tanya ajah pak, ga usah membuat ucapan yang ambigu” Dia tertawa lagi. Sepertinya dia senang membuatku kesal. Perjalanan tak terasa dan aku sudah sampai didepan rumah. “ Pak terimakasih sekali sudah mengantar saya, bapak bos yang baik” “ sama – sama, kamu tidak mengajak saya mampir?” Saya kaget dan di tertawa “hmmm sudah dong pak jangan becanda terus. Sudah malam, kalau bapak saya ajak mampir nanti diomongin tetangga. Lagian mana mau bapak mampir ke gubug saya” “ kenapa ga mau?, oke oke cukup obrolan kita, silahkan masuk” “baik, sekali lagi terimakasih pak Bos” Aku membuka pintu mobil, baru mau melangkah keluar, tiba – tiba Pak Sem memegang lenganku. “Briana, jangan panggil saya pak, kamu bisa panggil saya mas” “Maaf pak, tapi saya tidak bisa, anda bos saya” “kenapa ga bisa, pokonya kamu panggil saya Mas atau nama saya Sem. Pilih salah satu” “hmmm…. Oke “ “Oke apa?” “oke Masssssssss..” Dia tersenyum “ dan satu lagi, boleh aku minta nomer handphonemu?” Aku melanjutkan langkahku keluar dan menutup pintu mobil. Dia masih terdiam didalam mobil. Aku melangkah masuk halaman sambil tersenyum. aku berbalik dan berkata “Kalau mas bisa, cari tahu sendiri, aku tunggu kabarmu” aku berlari Dia tersenyum dan menjalankan mobilnya. “aku pasti mendapatkannya sayang” ucap sem pada dirinya sendiri *** Aku telah selesai membersihkan diri. Aku merebahkan diri dikasur. Sungguh Lelah. Aku periksa handphone ada banyak sekali chat dari mas Ryan. Sebenarnya aku tak enak hati meninggalan mas Ryan begitu tapi aku tak mungkin jujur kalau aku Bersama Pak Sem.Tiba- tibahandphoneku berdering, ternyata Mas Ryan padahal aku beharap ada nomor lain “iya halo mas” “ kamu sudah dirumah” “ sudah mas, mas masih diacara?” “syukurlah, masih tapi sebentar lagi pulang. Ya sudah kamu istirahat” “iya mas, malam” “malam” Aku mulai menulis, rasanya aku harus mengeluarkan isi hatiku. Rasanya mau meledak. Hai hati Apakah kamu baik-baik saja? Aku lihat banyak bunga bermekaran ditamanmu indah ya, milik siapa itu? Sepertinya bunga jenis baru Atau hanya aku yang baru tahu Ayo dong hati Bicara sedikit tentang perasaanmu Agar aku tahu kemana harus menuju Hmmm Sudahlah ayo tidur Takut nanti rasa ini kabur Ana, 11 Maret 2018
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0Ver Todos