logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Sebuah Taruhan

Wajahnya sudah terlihat begitu cantik. Bibir pink dipolesi dengan liptint berwarna merah leci, beberapa kosmetik pun ikut andil dalam mempercantik wajah Ramona. Sang pemilik pun sampai tersenyum dan terkagum-kagum atas karunia kecantikan yang diberikan Tuhan untuk dirinya. bahkan, bukan hanya wajah saja, melainkan juga tubuh yang ramping dan indah. Ya, hanya itu yang bisa ia gunakan dalam mencari uang. Namun, tetap dengan cara yang benar.
Gadis cantik berusia dua puluh tahun itu, kini penuh semangat yang membara. Bagaimana tidak, jika sebentar lagi cita-citanya akan tercapai. Namun, jika panggilan dari Tino-asisten pribadi direktur SJ-itu mengenai akting yang selalu ia dambakan. Menjadi aktris top yang membintangi sejumlah FTV, bahkan film layar lebar.
"Aaa! Tidak sabar!" pekik Ramona dengan perasaan yang luar biasa senang. Meski ia belum mengetahu kepastian perihal panggilan tersebut.
"Tidak usah histeris. Nanti juga gagal lagi," celetuk Melly dari ambang pintu. Ia melipat tangannya ke depan dengan senyum sinis-meremehkan-Ramona.
Ramona berbalik badan, tepatnya ketika ia telah selesai berias. Ia berjalan menghampiri sang kakak. Dengan tatapan sangat tajam, matanya mengarap pada mata Melly.
"Lihat saja nanti! Aku akan mendapatkan peran dari sebuah drama," ucap Ramona ketika telah sampai di hadapan sang kakak kandung.
Melly justru tersenyum, bahkan menjadi tawa. Ia menganggap ucapan Ramona hanya khayal semata. Baginya, Ramona tetap gadis naif yang banyak berimajinasi tanpa bisa mewujudkannya sama sekali. Ia tidak menyukai sifat Ramona yang pantang menyerah meski sudah gagal. Hanya buang-buang waktu saja, kekesalannya bertambah ketika Ramona harus menumpang di rumahnya, bahkan sama sekali tidak membantunya dalam mengupayakan kebahagiaan Yati-ibunda mereka.
"Sudah?" tanya Ramona ketika Melly sudah menyelesaikan tawanya.
"Ya," jawab Melly masih dengan senyum meremehkan itu.
Ramona menghela napas. "Kenapa Kak Melly selalu seperti ini?"
"Karena kamu bodoh."
"Oke. Aku memang bodoh, tapi aku tidak mengganggu Kakak, 'kan?"
"Tidak mengganggu? Kamu tidak sadar, sekarang numpang di rumah siapa?"
Ramona terkesiap dengan jawaban kakaknya itu. Bagaimana tidak, masalah rumah saja harus diperhitungkan. Seandainya, ayah mereka tidak meninggalkan hutang banyak, sudah pasti rumah utama tidak dijual. Dan karena sang ibunda, Ramona terpaksa tinggal di rumah hasil jerih payah Melly.
Sayangnya, respon orang lain pun akan berbeda. Ramona pikir-Melly hanya sebatas meremehkan kemampuannya saja. Ternyata, tersimpan ketidakikhlasan di hati putri pertama dari Yati itu.
"Kalian lagi apa? Tidak sarapan? Ini sudah hampir jam tujuh." Yati yang tidak sengaja melewati kamar Ramona berhenti. Ia mendengar semua ucapan Melly, hanya saja tidak bisa memarahi. Kalau sampai itu dilakukan olehnya, emosi Melly akan meledak dan muncul dugaan aneh di hati putri pertamanya itu. Dugaan yang mengarah pada perbedaan kasih sayang di antara Melly dan Ramona.
"Sudah, Ibu duluan saja. Aku masih ingin berbincang dengan Mona," jawab Melly detik berikutnya.
"Kamu jangan ka-" Ucapan Melly terhenti ketika Melly menatap dirinya dengan tajam.
Melly tersenyum sinis. "Bu, aku hanya ingin memberikan semangat untuk Mona. Apa salah?"
"Bu, duluan saja. Mona juga masih ingin berbicara dengan Kak Melly," sela Ramona.
Yati menghela napas. "Ya sudah. Jangan bicarakan sesuatu yang tidak baik. Ibu tunggu di ruang makan." Setelah itu, ia berbalik badan. Ia meninggalkan kedua putrinya di ambang pintu kamar milik Ramona.
Sepeninggalan Yati ke ruang makan, Ramona dan Melly kembali beradu tatapan. Entah sejak kapan pastinya, hubungan mereka menjadi tidak baik. Perbedaan usia mereka berkisar enam tahun, dulu Melly begitu menyayangi Ramona. Namun sekarang keadaan berbanding berbalik, ia menganggap Mona selalu rendah. Mungkin karena rasa iri terhadap wajah sang adik yang cantik jelita. Ada pula pria yang sempat ia bawa, justru terpikat oleh paras Ramona. Namun, Melly tidak menyadari perasaan iri itu, ia hanya kesal setiap kali menatap paras sang adik.
Padahal, keduanya sama-sama cantik, hanya tipikal wajah saja yang berbeda. Melly lebih mirip dengan mendiang ayahnya, sedangkan Ramona justru mewarisi paras cantik dari sang ibunda. Ya, semua tergantug selera laki-lakinya. Hanya saja, perasaan iri memang umum ada di hati insan manusia. Ada yang bisa menahan perasaan tersebut, juga banyak yang masuk ke dalam lembah hitam kedengkian.
"Kita taruhan saja," ucap Ramona dengan lirih.
Satu alis Melly terangkat naik dengan dahi yang mengernyit di detik berikutnya. "Maksud kamu?" tanyanya keheranan.
Ramona menatap netra hitam legam milik sang kakak dengan tajam. "Ya, kita taruhan saja. Kalau aku tidak berhasil masuk ke dalam dunia artis, aku akan meninggalkan rumah ini."
Senyum sinis kembali mengembang di bibir Melly yang sensual. "Tidak tahu malu!"
"Lho? Kenapa? Aku tidak pernah ingin tinggal di sini, semua karena ibu. Kakak juga tahu, 'kan?"
"Karena ibu juga tahu kalau kamu bodoh."
"Tidak, tapi karena ibu ingin kita saling rukun seperti dulu."
"Ketidakrukunan kita adalah kamu yang membuat."
"Iyakah? Karena gebetan Kakak lebih menyukaiku?"
Mata Melly membelalak. "Jangan kurang ajar kamu!"
"Tidak, itu fakta. Aku lebih cantik daripada Kakak, meskipun aku tidak secantik Kakak. Ah ... kita bahas taruhan saja. Jadi, misal aku yang menang, Kakak mau beri aku apa?"
"Mobil!"
Ramona tersenyum. "Boleh juga."
Setelah itu, Ramona meninggalkan Melly di ambang pintu kamarnya. Gadis itu menuju ruang makan karena tidak mau membuat ibundanya menunggu lebih lama lagi.
Sedangkan Melly masih berdiri sendiri. Napasnya memburu dengan urat hijau yang mendadak muncul di wajahnya. Perkataan Ramona benar-benar membuatnya terperanjat. Adik yang selama ini selalu diam ketika dicerca, tadi justru membuat pernyataan yang menyakitkan. Ramona mengakui kecantikan dirinya sendiri yang mampu mengalahkan kecantikan Melly. Bahkan, menduga bahwa semua pria yang Melly bawa justru menyukai dirinya daripada sang kakak.
Melly mencoba menenangkan dirinya, ia menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Matanya dipejamkan dalam beberapa detik. Setelah itu, ia baru menyusul Ramona dan sang ibunda yang sudah menunggu di ruang makan.
***
Sampailah, Ramona di depan gedung yang menjulang tinggi milik SJ Intertaiment. Ia merasa takjub sekali. Akhirnya, ia bisa menapakkan kaki di gedung manajemen artis yang sangat terkenal bagus. Ia mulai melangkah masuk ke dalam gerbang, setelah sebelumnya memberitahu security perihal pesan dari Tino tadi malam.
"Gila sih, ganteng-ganteng tapi perebut istri orang." Suara seseorang yang sibuk bergosip membuat langkah Ramona terhenti sejenak.
"Kita, kan, jadi tahu. Kalau aktor sukses tiba-tiba pasti ada uang di baliknya. Istri dari Benno kan kaya raya. Mungkin saja, Avan Bara minta sokongan dari Risa," sahut yang lainnya.
"Benar. Zaman sekarang, mana ada sih, kesuksesan yang instan."
Dua orang wanita berpenampilan elegan tengah berdiri di depan elevator. Mereka membicarakan rumor perselingkuhan yang menimpa aktor tampan-Avan Bara. Sama sekali, tidak mencaritahu dari sumber yang asli. Hal itu membuat Ramona merasakan perasaan getir. Bagaimana jika rumor semacam itu menimpa dirinya ketika telah benar-benar menjadi artis?
Ramona menghela napas dan mengembuskannya kembali. Ia mengabaikan dua orang wanita tersebut dan memilih menatap ruangan asing yang tengah ia singgahi saat ini.
"Avan Bara?" Mata Ramona terbelalak ketika mendapati seorang pria tampan tengah berdiri sekitar enam meter dari tempatnya berada. Ia menelan saliva seketika. Bagaimana perasaan Avan ketika mendengar orang lain tengah menggosipkan dirinya?
Tentu saja, hati Avan merasa sakit. Image baik yang selama ini ia bangun menjadi hancur dalam sekejap waktu. Ia memilih berbalik dan pergi. Sedangkan, dua wanita itu baru menyadari keberadaannya ketika tapak kakinya terdengar dengan jelas.
"Waduh! Itu Avan!" pekik salah satunya.
"A-ayo, masuk saja. Dia tidak mungkin mengenali wajah kita, lagipula rumor itu, 'kan, kesalahannya sendiri. Jadi, wajar saja kalau ada orang bergosip, 'kan?" sahut yang lainnya.
Dua wanita penggosip tersebut segera melangkahkan kaki-masuk ke dalam elevator. Namun, Ramona masih terdiam. Ia malas berada di dalam satu kotak sempit dengan orang-orang tidak baik.
Perasaan Avan pasti sangat hancur, batinnya.

Comentário do Livro (71)

  • avatar
    SumarsonoSyahid

    bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap

    11/12/2023

      0
  • avatar
    NazaMohd

    nice

    30/11/2023

      0
  • avatar
    Kiflydzakwantika Hafid

    bagus

    20/09/2023

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes