logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Kejutan

Alam begitu indah dengan sejuta bintang yang menghiasi angkasa malam. Sinar bulan pun turut menyinari-membuat semesta begitu menawan. Tuhan memang tidak terlihat, tetapi  isi-isi bumi yang menakjubkan membuat Dia terbukti ada. Keyakinan itulah yang terus dipegang oleh Ramona. Meski mengalami kegagalan berkali-kali dalam casting, ia tidak pernah ingin menyerah. Semua karena keyakinannya perihal keberadaan Tuhan yang akan menunjukkan jalan terbaik untuknya.
Ambisinya yang besar terkadang menjadi bahan tertawaan orang lain, bahkan saudaranya sendiri. Ramona dikatakan sebagai manusia yang terlalu naif. Cibiran sering ia dapatkan dari kakak perempuannya sendiri. Menjadikan dirinya terkadang sampai kesal, tetapi ia tidak bisa berkilah lantaran semuanya benar. Ya, mungkin memang benar. Namun, tidak ada salahnya untuk tetap berusaha. Apalagi ia masih bisa menghasilkan uang, meski harus tetap mengikuti kelas ber-akting.
"Mona," panggil ibundanya sembari menyentuh pundak Ramona.
Gadis itu berbalik-memandangi wajah Yati, sang ibu. Ia tersenyum lalu berkata, "iya, Ibu."
"Sudah malam, kamu enggak tidur?"
"Sebentar lagi, Bu."
"Seenggaknya tutup jendela kamu, nanti kamu kena angin malam. Yang ada malah masuk angin."
"Mm ... ya, Ibu." Ramona selalu tidak memiliki alasan untuk membantah permintaan Yati. Entah karena sifatnya yang lembut atau memang dirinya adalah anak yang baik. Ia pun bergegas menutup jendela kamarnya yang sejak tadi dibiarkan terbuka sesuai perintah dari ibunya itu.
Lalu, karena tidak ingin mengabaikan ibundanya, Ramona memilih menyudahi pandangannya ke arah langit yang masih dipenuhi bintang-bintang. Detik berikutnya, ia berjalan untuk menghampiri ranjang berisi kasur busa di pojok kanan kamar. Sama halnya dengan Ramona, Yati pun melakukan hal yang sama.
Sepasang anak dan ibu itu saling duduk bersebelahan, memberikan tatapan lembut satu sama lain. Dalam hati Yati, ia sebenarnya ingin menghentikan ambisi Ramona yang terus mencoba membobol pintu intertaiment. Sayangnya, ia selalu kalah dengan pendapat sang putri. Hanya itu saja yang tidak bisa Ramona turuti dari setiap ucapan ibunya. Obsesi gadis cantik itu sudah sangat besar, melebihi kekhawatiran sang ibunda.
"Tadi kamu masih foto-foto?" tanya Yati sembari menggenggam tangan Ramona.
Ramona mengangguk. "Iya, Ibu. Itu, 'kan, pekerjaan Mona. Memangnya selain itu ada lagi yang bisa Mona lakukan?" balasnya.
Yati tersenyum getir. Bagaimana tidak, meski tergolong gadis yang baik, Ramona bukanlah seseorang yang pintar dalam bidang pelajaran. Ramona juga tak memiliki keterampilan khusus. Hal itulah yang membuat gadis itu kesulitan dalam mencari pekerjaan untuk lingkup perkantoran.
Ramona memang bodoh dalam segi pelajaran, tetapi ia memiliki hati yang baik serta paras yang cantik, dan membuatnya memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan kamera. Hanya saja, soal akting ia belum bisa menembusnya.
"Mm ... apa Kakak masih menertawai Mona, Bu?" Dengan sangat hati-hati, Ramona mencari tahu perihal sang kakak yang terus meremehkan dirinya. Ya, tentu saja karena ia tidak sesukses Melly—kakak perempuannya tersebut.
Yati menghela napas. "Kamu, 'kan, audah hapal sifat kakak kamu itu seperti apa orangnya, Mona." Detik berikutnya, Yati berangsur membelai kepala sang putri. "Tapi, jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja pads cita-cita kamu, Nak. Ibu selalu mendo'akan kamu."
"Jadi, ... Ibu enggak akan mencoba menghentikan Mona lagi?"
Yati tersenyum. "Ibu sudah menyerah. Tapi, kalau nanti kamu sudah lelah jangan dipaksakan lagi ya, Nak? Lagi pula, menjadi selebriti itu bukan hal yang mudah. Kamu harus siap menjadi sorotan orang banyak, bahkan kehidupan pribadimu pasti akan digali dalam-dalam."
Ramona membalikkan tangan ibundanya dan kini ia yang menggenggam tangan keriput itu. "Mona janji, suatu saat kalau Mona sudah berhasil, Mona akan bersikap baik dan manis, jadi orang-orang akan terus menganggap Mona sebagai gadis sekaligus artis yang baik."
"Hmm ... sebenarnya, apa sih yang membuat kamu ingin menjadi artis? Sampai sekarang, Ibu masih bingung." Yati menggelengkan kepalanya.
"Itu rahasia, Ibu." Ramona tertawa kecil.
Respon itu membuat Yati semakin tidak habis pikir. Seharusnya, cita-cita seorang anak muda itu begitu tinggi. Misalnya saja ingin menjadi dokter, guru, insiyur, polisi dan lain-lain. Namun, anak keduanya itu justru bercita-cita ingin menjadi artis. Memangnya ada uang pensiun ketika nanti sudah berhenti? Dan lagi, tak selamanya ketenaran seorang artis itu bisa bertahan, bukan?
Yati menghela napas, lalu kembali ia embuskan secara perlahan. Ia berdiri dari duduknya dan menatap Ramona. "Tidur, Nak, sudah malam," ucapnya.
"Ya, Ibu. Selamat malam ya, Ibu," balas Ramona.
Yati tersenyum. "Jangan didengar apa pun perkataan buruk kakak kamu. Jangan dimasukkan hati juga."
"Iya, Ibu."
Setelah memberikan nasihat itu, Yati langsung berbalik badan. Diambilnya langkah untuk menuju pintu keluar. Dan ia sudah benar-benar keluar setelah sebelumnya menutup daun pintu yang sempat ia buka.
Sepeninggalan ibundanya, Ramona mulai membaringkan badannya di atas ranjang kecil miliknya. Ia tahu perihal kekhawatiran yang terus muncul dari dalam hati Yati, tetapi ia tidak bisa menuruti keinginan sang ibunda untuk berhenti. Ia sudah melangkah sampai sejauh ini, bahkan masuk ke dalam kelas akting. Tidak mungkin ia berhenti sebelum benar-benar berhasil.
Ramona tidak memungkiri rasa sakit hatinya ketika Melly terus mencercanya dan terus menganggapnya sebagai anak yang gagal. Bahkan, ia disebut hanya mengandalkan wajah saja. Sampai saat ini, ia selalu menjadikan hinaan itu sebagai motivasi untuk maju. Sayangnya, sampai detik ini ia belum mencapai satu pun keberhasilan sama sekali.
Teringat beberapa saat yang lalu, ketika Ramona tengah bertemu Melly di sebuah restoran. Sang kakak mengajaknya makan bersama, sehingga mau tidak mau ia menurutinya.
"Kamu ini, kalau sudah benar-benar gagal kenapa masih ngeyel sih? Jangan jadi anak bodoh, Mona. Ck! Kerja kok hanya mengandalkan kecantikan saja, bikin muak tahu!" ucap Melly.
"Aku akan berhasil, Kak. Tunggu saja," balas Ramona, meski ia memilih menunduk menahan malu.
"Lihat aku, Mona. Aku sudah sukses dalam karierku, bahkan sudah diangkat sebagai kepala manager. Hidup itu yang realistis, jangan banyak berkhayal. Jadinya ya gagal terus! Sekarang kamu sudah nyaris seperti pengangguran yang bikin sepet mata!"
"Selamat, Kak, atas pencapaiannya. Tapi, ... tolong jangan ikut campur hidup Mona."
"Ck!" Melly menggelengkan kepalanya sampai beberapa kali. "Bocah naif, bodoh, bahkan tidak membanggakan sama sekali. Kalau kamu seperti ini terus, bagaimana kamu bisa membahagiakan ibu? Dan kapan kamu punya rumah sendiri hah?!"
Ramona menghela napas dalam. "Aku akan membahagiakan ibu, tunggu saja! Dan tinggal sendiri!" Setelah itu, ia berdiri. Didorongnya kursi ke arah belakang lalu pergi meninggalkan Melly.
Semua perkataan Melly pada saat itu, masih membekas di dalam ingatan Ramona. Ia masih merasa tersinggung, bahkan sakit hati, tetapi sampai saat ini pun ia tidak bisa menyanggah semua ucapan Melly sama sekali, selain hanya dengan sebuah janji yang entah bisa ia tepati atau tidak. Melly memang lebih dari segala-galanya daripada Ramona. Bukan hanya karir yang bagus, tetapi juga pemberian Melly yang tidak sedikit pada sang ibunda. Ramona hanya bisa menghela napas ketika mengingat semua pencapaian Melly. Iri? Tentu saja, rasa itu yang terus muncul dan tumbuh subur di hatinya.
Suara ponsel yang tiba-tiba berdering sukses mengejutkan Ramona. Ia membuyarkan lamunannya dan bergegas bangun. Ponsel itu berada di meja kecil dekat jendela. Meski malas, ia tetap bergerak menghampiri benda tersebut karena khawatir jika sang penelepon adalah Susi.
Ketika mendapatkan benda pintar tersebut, Ramona justru mengernyitkan dahinya. Nomor tidak dikenal terpampang jelas di layar ponselnya. Dengan ragu-ragu, ia menerima panggilan itu.
"Ya, halo? Selamat malam? Dengan siapa ya?" sapa Ramona pada orang yang tidak ia ketahui identitasnya itu, tentu setelah ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Nona Ramona. Selamat malam," sapa sang penelepon dengan suara berat khas pria.
"Iya, ini siapa?"
"Mm ... maaf menganggu malam-malam. Ini Tino, Nona."
Dahi Ramona kembali mengernyit. "Tino siapa? Dan Anda dapat nomor saya dari siapa?"
"Mencari info seseorang adalah kemampuan saya, Nona."
"Apa?! Jadi, Anda seorang stalker?"
"Bu-bukan! Aduh!"
"Terus apa lagi dong. Kalau hanya pengganggu, saya matikan saja dan jangan mencoba mengikuti saya lagi! Dasar kuman!"
"Aduh! Saya bukan penguntit, Nona. Saya dari agensi SJ Entertaiment."
"Eh?! Bohong kamu! Tidak mungkin, jangan membawa-bawa nama SJ untuk menipu orang ya! Saya bisa melaporkan Anda."
"Aduh! Apa salahku, Tuhan? ! Saya ini Tino Andreas, asisten paling andal, tampan, pintar dan ah ... pokoknya yang baik-baik dari Bapak Sujati, selalu direktur dari SJ Entertainment. Dan ingin mengundang Nona Ramona ke kantor besar milik kami besok pukul delapan pagi langsung ke ruang kerja Bapak Sujati!"
Ramona menelan salivanya. Matanya menatap ke segala arah. Apa benar Tino adalah orang dari agensi ternama itu? Agensi di mana Avan Bara berada sebagai seorang aktor. Jika, itu benar , berarti keajaiban sudah datang di malam ini, bahkan nyaris tengah malam. Suara Tino terdengar sangat meyakinkan.
"Jadi, benar?" Ramona memastikan lagi, meski sudah menuduh Tino yang bukan-bukan.
"Benar, Nona. Nanti alamat saya kirimkan lewat pesan. Anda bisa datang dan menunjukkan nomor saya pada security atau siapa pun yang bertugas," jawab Tino.
"A-anu, ma-maaf tadi saya sudah menuduh Anda yang tidak-tidak."
"Hmm ... untung cantik. Ya sudah, karena saya adalah pria yang bertanggung jawab, jadi saya matikan saya telepon ini. Selamat tidur, besok dandan yang cantik, ya? Semoga memimpikan saya—Tino Andreas."
"Ba-baik, Pak."
Panggilan suara itu dimatikan oleh Tino dari kejauhan sana. Senyum tipis menjadi melebar di bibir Ramona. Bagaimana tidak, jika ia bisa mendapatkan rezeki yang tidak terduga-duga malam ini. Ia mengira akan mendapatkan panggilan casting keesokan hari. Bahkan, ia tidak mengirimkan apa pun ke agensi besar tersebut.
"Ibuuu! Kakaaak!" pekiknya dengan sangat keras, sampai membuat ibunda dan kakaknya terbangun karena terkejut luar biasa.
***

Comentário do Livro (71)

  • avatar
    SumarsonoSyahid

    bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap

    11/12/2023

      0
  • avatar
    NazaMohd

    nice

    30/11/2023

      0
  • avatar
    Kiflydzakwantika Hafid

    bagus

    20/09/2023

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes