logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 Menikahlah Denganku

"Aku hanya tertidur Gandhi, kenapa kamu terlihat heboh sekali membangunkan aku." ucap Molly terbangun dari tidurnya dan membuat Gandhi lega.
"Syukurlah kalau kamu hanya tertidur." ucap Gandhi.
"Boleh aku bertanya?" tanya Molly.
"Boleh," jawab Gandhi.
"Apa pekerjaanmu? sepertinya sangat kaya." tanya Molly dengan polosnya.
"Kamu pernah makan sosis A?" ucap Gandhi.
"Pernah, itukan sosis terenak." jawab Molly.
"Perusahaanku,yang memproduksinya." jawab Gandhi.
"Wah hebat sekali, berarti semua junkfood brand A itu kamu yang punya?" tanya Molly.
"Iya." jawab Gandhi.
"Hebat, tidak menyangka aku bisa berkenalan dengan CEO." ucap Molly membuat Gandhi sedikit tersenyum.
Setelah puas berada di luar, mereka masuk lagi ke ruangan tetapi saat masuk sudah ada keluarga Gandhi yang menunggu disana.
"Ini siapa?" bisik Molly kepada Gandhi.
Gandhi spontan langsung melepas gengaman tangannya karena merasa tidak enak dilihat orangtuanya.
"Ma, pa ada apa datang kesini?" tanya Gandhi.
"Oh orangtua Gandhi," batin Molly lalu dia berinisiatif menyalam orangtua Gandhi dengan sopan.
"Mama dan papa hanya ingin menjenguk saja,apa tidak boleh?" tanya Ratna.
"Namanya siapa nak?" tanya Ratna kepada Molly sambil mengelus kepalanya.
"Molly tante," jawab Molly dengan ramah.
"Duduk lah lagi, kamu masih sakit kan." ucap Ratna mengiring Molly ke ranjang.
"Terima kasih tante." jawab Molly.
"Cantik sekali ya Molly ini, usia berapa nak?" tanya Ratna.
"24 tahun tante," jawab Molly.
"Masih muda,tapi cocoklah ya." ucap Ratna.
"Cocok apa tante?" tanya Molly.
"Cocok untuk jadi," belum selesai Ratna bicara langsung dipotong oleh Gandhi karena dia tau maksud ucapan mamanya.
"Mama, sebaiknya kita keluar saja dulu.Molly mau istirahat dia masih pusing kalau banyak bicara, ayo keluar." ucap Gandhi membawa orangtuanya keluar.
"Hm padahal sepertinya asik mengobrol dengan mamanya Gandhi." ucap Molly sedikit kecewa karena Gandhi membawa keluar orangtuanya.
Di luar.
"Mama,papa ngapain datang kesini?" tanya Gandhi.
"Ya menjenguk." jawab Fandhi papa Gandhi.
"Menjenguk apanya, kalian saja tidak kenal dia.Dan jangan bicara sembarangan kepadanya." ucap Gandhi.
"Kamu menyukainya?" tanya Ratna.
"Aku capek mau istirahat ma pa, jangan ganggu Molly lagi." ucap Gandhi langsung masuk ke ruangan dan meninggalkan orangtuanya.
"Sepertinya dia memang menyukai gadis itu, siapapun gadis itu, apapun pekerjaanya dan bagaimana keluarganya itu tidak penting.Kalau Gandhi ingin menikahinya, jangan ditentang." ucap Fandhi ayah Gandhi.
"Siapa juga yang mau menentang, justru sekarang aku tidak sabar untuk mempersiapkan pernikahan." ucap Ratna dengan sangat bersemangat.
"Maaf orangtuaku sudah menganggumu." ucap Gandhi.
"Tidak menganggu kok, ternyata orangtua Gandhi baik banget ya mau menjengukku, aku senang loh." ucap Molly.
"Andai saja kamu tau niat mereka kesini bukan untuk menjenguk,tapi ada maksud lain." batin Gandhi.
"Oh iya, aku mau pulang dulu.Kamu disini sendiri tidak apa-apa?" tanya Gandhi.
"Aku mau pulang juga," ucap Molly membuat Gandhi terlihat bingung.
"Eh maksudnya aku juga ingin pulang ke rumahku," ucap Molly.
"Kamu masih belum membaik, istirahatlah disini sampai besok."ucap Gandhi.
"Hanya sampai besok saja ya," ucap Molly.
"Iya itupun kalau dokter memperbolehkan kamu pulang." ucap Gandhi.
"Tapi aku tidak ada uang kalau terus dirawat disini." ucap Molly.
"Tidak perlu memikirkan biaya, semuanya aku yang tanggung jawab." ucap Gandhi yang langsung direspon gelengan kepala oleh Molly.
"Jangan dong, biaya disini pasti besar.Aku tidak mau kamu terus membayarnya untukku."ucap Molly membuat Gandhi kagum dengan ucapannya,Molly sudah tau kalau dia adalah CEO perusahaan besar tapi dia sama sekali tidak berniat untuk memanfaatkannya seperti perempuan yang biasanya ketika sudah tau dirinya CEO pasti selalu memanfaatkannya.
"Gandhi? kok diam?" tanya Molly.
"Tidak apa-apa, cuma mau mengingatkan saja kalau satu hari ini berlalu dan tidak ada kejadian buruk, kamu akan menuruti satu permintaanku kan?" ucap Gandhi.
"Iya," jawab Molly.
"Tepati ucapanmu, aku pulang dulu." ucap Gandhi lalu pergi.
"Setelah ini aku harus bagaimana? aku akan kehilangan pekerjaanku, karena kafe itu milik Dimas kakak Bara.Mana mungkin aku bekerja disana dan bertemu dengan Bara.Ternyata tiga tahun tidak cukup untuk mengenal seseorang, Bara yang aku tau tidak seperti itu berubah drastis hanya karena ingin tidur denganku.Aku sangat mencintainya tapi dalam sekejap rasa cinta itu bisa pudar karena sifatnya yang sangat menyeramkan seperti itu, aku sangat takut.Tidak ada lagi tempatku untuk berlindung.Di rumah selalu dipukuli oleh ayah dan kakak, aku harus pulang kemana." pikir Molly yang sangat kebingungan bagaimana dia akan melanjutkan kehidupannya, yang terpikirkan olehnya hanya kematianlah yang dapat menyelamatkannya.
Malamnya, Molly terbangun dari tidurnya.Namun tidak ada siapa-siapa yang menunggunya termasuk Gandhi.
"Aku sedang mengharapkan siapa." ucap Molly tertunduk sedikit kecewa karena sebenarnya dia menunggu Gandhi.
"Sebentar itu berapa lama," batin Molly lalu memeganggi perutnya yang terasa lapar.
"Gandhi kapan datangnya,atau dia tidak datang lagi."pikir Molly.
Tok Tok
"Nona Molly, ini saya Arkan asisten tuan Gandhi.Saya ingin mengantarkan makan malam." ucap Arkan yang mengetok pintu.
"Iya masuk saja." jawab Molly.
Arkan masuk dengan membawakan makanan dan minuman untuk Molly.
"Wah banyak sekali,"ucap Molly langsung girang melihat makanan yang begitu banyak.
"Saya belum tau selera nona Molly apa saja, jadi saya bawa semua semoga suka." ucap Arkan.
"Baik sekali, aku suka semua makanan." ucap Molly langsung memakan makanan tersebut dengan sangat lahap.
"Gadis ini ceria sekali, wajar saja kulkas seribu pintu seperti Gandhi langsung meleleh." batin Arkan sambil memandangi Molly.
"Oh iya,kenapa Gandhi belum kembali?" tanya Molly.
"Mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan."jawab Arkan.
"Iya juga, pasti sebenarnya Gandhi orang yang sangat sibuk." batin Molly.
"Bolehkah saya bertanya?" tanya Arkan.
"Tentu saja," jawab Molly.
"Apakah nona Molly ada hubungan khusus dengan tuan Gandhi?" tanya Arkan.
"Tidak ada." jawab Molly.
"Nona Molly apakah sudah tau kalau dekat atau menyentuh tuan Gandhi, akan membawa nasib buruk bahkan bisa kehilangan nyawa." ucap Arkan sengaja ingin menguji Molly.
"Sudah," jawab Molly.
"Kenapa responnya seperti itu saja, hm aneh." pikir Arkan.
"Apakah tidak takut?"tanya Arkan lagi.
"Tidak, buktinya sekarang aku baik-baik saja dari kemarin berada didekat Gandhi bahkan aku menyentuhnya." ucap Molly dengan santainya.
"Luar biasa gadis ini, gadis pertama yang memang tidak terkena nasib buruk setelah bersentuhan dengan Gandhi." batin Arkan.
Setelah selesai makan,Arkan berpamitan untuk keluar dan Molly merasa sepi lagi tidak ada teman untuk bicara, dia pun perlahan turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar untuk menghirup udara segar.Dia duduk dikursi yang disediakan rumah sakit, sambil memandangi sekitar.Ada yang mencuri perhatian Molly, dia melihat gadis remaja yang juga sedang sakit, namun gadis itu dirawat dengan baik oleh ayahnya,terlihat jelas kasih sayang seorang ayah terhadap anak gadisnya.Tentu saja itu hal yang tidak pernah Molly rasakan, tak sadar dia meneteskan air matanya.
"Bagaimana caranya bisa mendapat kasih sayang seperti itu,mungkin sulit ya untukku karena ayah sangat membenciku.Rasanya ingin sekali disayang dan dikhawatirkan sama satu orang saja di dunia ini, tak perlu dicintai hanya ingin diberi kasih sayang bisakah aku mendapatkannya." batin Molly.
Sementara itu Gandhi kembali ke rumah sakit, dia masuk ke ruangan Molly dan mendapati kamar yang kosong, membuatnya berpikir Molly hilang. Dia langsung mencari ke seluruh rumah sakit, dan menelepon Arkan untuk membantu mencari Molly lihat dari cctv rumah sakit.
Molly yang sudah puas menghirup udara segar, langsung berdiri untuk kembali ke kamar. Saat berdiri dia melihat Gandhi dari kejahuan, Molly ingin memanggilnya tapi dia urungkan saat melihat Gandhi seperti sedang kalang kabut dengan ekspresi yang sangat khawatir.
"Dia kenapa ya, apa sesuatu hal buruk terjadi." pikir Molly.
"Gandhi," panggil Molly, yang tentu saja langsung dihampiri oleh Gandhi.
"Kamu kenapa? apa ada sesuatu terjadi?" tanya Molly.
"Aku mencarimu, aku pikir kamu sudah pergi." ucap Gandhi.
"Aku mau pergi kemana dengan kondisi seperti ini." ucap Molly setengah tersenyum.
Mereka pun berjalan kembali ke ruangan Molly.
"Apa ada sesuatu hal buruk terjadi?" tanya Gandhi.
"Tidak," jawab Molly.
"Berarti kamu harus mengabulkan satu permintaanku." ucap Gandhi.
"Baiklah, Gandhi mau apa?" tanya Molly.
"Tanganmu sudah menyentuh tubuhku, karena itu kamu harus bertangung jawab menikahlah denganku." ucap Gandhi yang tentu saja membuat Molly sangat terkejut.

Comentário do Livro (629)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih

    16/07/2025

      0
  • avatar
    DjodjoboTesalonika

    good

    05/06/2025

      0
  • avatar
    Cakep21Faris

    baguss banget kak

    24/04/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes