Gandhi membawa Molly ke rumahnya, mengendongnya ke kamar mandi dan meletakannya di dalam bathub, agar tubuh Molly tidak kepansan lagi dan gairah di dalam tubuhnya meredam.Gandhi meninggalkan Molly beberapa menit, tetapi setelah kembali betapa terkejutnya Gandhi ketika melihat air di dalam bathub berubah warna menjadi merah, karena luka ditubuh Molly terutama dibagian pungung yang sangat parah.Dengan panik, Gandhi langsung membawa Molly keluar dari bathub dan menelepon ambulans.Gandhi meminta Molly segera ditangani dengan baik dan diberikan pengobatan terbaik. Sementara Molly sedang diobati, Gandhi menunggu diluar duduk dengan lelah.Ini pertama kalinya dia merasa khawatir dan peduli dengan perempuan. "Apa sebenarnya yang aku lakukan, kenapa aku melakukan semua ini.Pasti karena dia menyentuhku dan berada didekatku, dia mengalami hal buruk seperti ini." pikir Gandhi. Selesai pengobatan Molly, dokter memberitahu Gandhi kondisinya yang sebenarnya, mulai dari luka dipungung yang sangat parah, dan hampir seluruh tubuhnya terluka kecuali bagian wajah dan sudah diberi pengobatan yang terbaik. Gandhi masuk keruangan Molly, dan melihat Molly terbaring dengan tubuh yang penuh balutan perban, dia duduk disebalah ranjang Molly dan menatapnya dari bawah kaki sampai ujung kepala.Gandhi memperhatikan setiap luka ditubuh Molly, dia bingung apa yang terjadi dengan gadis bertubuh kecil ini dengan seluruh tubuh yang terluka. "Tubuhnya penuh luka seperti ini, dan dia terjun ke air sungai menolongku.Pasti luka ditubuhnya terasa perih, hei kenapa kamu melakukan semua hal bodoh itu, karena itu kamu mendapat kesialan ini." ucap Gandhi. Paginya, Molly terbangun kepalanya masih terasa pusing namun dia berusaha untuk membuka matanya mengenali tempat yang sangat asing.Saat melihat kesebelahnya ada Gandhi yang tertidur dikursi. "Apa yang terjadi," batin Molly mencoba mengingat kejadian tadi malam, yang dia ingat saat di helikopter ingin memakan Gandhi. "Ah ya Tuhan, apa aku benar-benar mengatakan hal itu.Memalukan sekali," ucap Molly lalu melihat tubuhnya yang terluka sudah diobati, dan dia juga melihat ruangannya sangat mewah, pasti ini ruangan VIP yang dipesan oleh Gandhi pikirnya. "Gandhi maaf ya, pasti tadi malam kamu tidak bisa tidur karena aku sangat menganggumu ya.Tapi aku tidak melakukan hal diluar batas kan?" ucap Molly menyentuh tangan Gandhi yang reflek membuat Gandhi terbangun dan langsung menarik tangannya yang disentuh oleh Molly. "Aku sudah bilang jangan sentuh aku!" ucap Gandhi marah. "Maaf tapi," ucap Molly terpotong. "Kamu akan mendapat kesialan jika terus menyentuhku," ucap Gandhi. "Karena itu kamu selalu takut untuk disentuh?" tanya Molly. "Iya," jawab Gandhi. "Aku lahir dengan penuh kesialan,jadi tidak akan berpengaruh jika memang sentuhanmu memberi efek kesialan, tetapi aku sudah beberapa kali menyentuhmu dari kemarin.Aku justru merasa mendapatkan hal yang luar biasa, seperti naik helikopter mewah, dirawat di rumah sakit sebaik ini, dan mengenal orang hebat sepertimu." ucap Molly dengan senyum tulusnya menatap Gandhi, seolah memberikan arti bahwa dia baik-baik saja dan Gandhi bukan kesialan untuknya. Gandhi kembali duduk di dekat Molly. "Aku laki-laki yang mempunyai kutukan sepertinya, karena jika ada perempuan menyentuhku dia akan terkena nasib buruk dan bahkan ada yang sampai meninggal, aku hanya tidak ingin membuatmu seperti itu." jelas Gandhi kepada Molly. "Aku boleh mencobanya?"tanya Molly. "Coba apa?" "Jika menyentuhmu membawa nasib buruk atau bahkan bisa membuat seseorang meninggal." ucap Molly. "Aku rasa bunuh diriku tidak terasa sakit jika hanya menyentuh Gandhi kan," batin Molly. "Gila ya kamu,tidak!" tolak Gandhi. "Ayolah, aku ingin membuktikannya."ucap Molly. "Buktikan apa? jika nanti kamu terkena nasib buruk atau bahkan meninggal bagaimana?" tanya Gandhi. "Ya memang itu yang aku mau, aku sudah tidak punya-punya siapa-siapa lagi untuk bertahan di dunia ini, atau bahkan setelah ini aku juga tidak tau harus kemana, hanya kematian yang ingin aku wujudkan.Jika hanya menyentuhmu bisa meninggal, aku ingin! karena sepertinya itu tidak terlalu sakit." ucap Molly dengan sangat polos, tetapi berhasil membuat hati Gandhi tersentuh, dia sangat sedih mendengar ucapan Molly yang sudah tidak ingin hidup lagi. "Kamu ingin menyentuhku? tapi ada satu syarat." ucap Gandhi. "Iya, sebutkan saja syaratnya." ucap Molly bersemangat. "Kita akan menguji sentuhan ini selama satu hari, karena memang biasanya sekali sentuh saja sudah terlihat efeknya, jika berhasil dan kamu tidak mendapat nasib buruk atau meninggal, kamu harus mengabulkan satu permintaanku tanpa terkecuali." ucap Gandhi. "Setuju," ucap Molly tanpa berpikir panjang. "Tanpa ragu langsung mengiyakan," batin Gandhi lalu tersenyum penuh arti. "Oke mari kita mulai." ucap Molly tersenyum, sambil memberikan tanganya, yang disambut oleh tangan Gandhi. Mereka keluar dari ruangan, karena Molly ingin menghirup udara segar.Molly berjalan digandeng oleh Gandhi, sambil membawa infusnya. "Ternyata begini rasanya mengengam tangan perempuan, hangat dan nyaman." batin Gandhi, ini memang pertama kalinya dia bisa mengengam tangan perempuan. "Kenapa tangan Gandhi terasa berbeda dengan Bara ya, aku selalu tidak bisa tenang dan merasa tidak nyaman jika di sentuh Bara, tetapi berbeda dengan Gandhi.Tangannya hangat dan nyaman." pikir Molly. Sementara itu, keluarga Gandhi sejak tadi malam sudah heboh karena kedatangan Gandhi membawa Molly ke rumah sakit, apalagi sekarang mereka melihat dari cctv Gandhi sedang bersama Molly sangat terlihat akrab, tanpa ragu berpegangan tangan. "Dimana dia bertemu gadis itu?" tanya mama Gandhi kepada Arkan yang ikut melihat mereka dari cctv. "Sepertinya saat berlibur kemarin, tadi malam pak Gandhi sudah bersama nona Molly pulang ke rumah." jelas Arkan. "Gandhi membawanya pulang?" tanya mama Gandhi sangat tidak percaya. "Iya," jawab Arkan. "Kamu awasi gadis itu, takut terjadi apa-apa nanti." ucap mama Gandhi. "Baik." jawab Arkan. Molly minta untuk duduk dikursi taman, Gandhi mendinginkan bubur untuk Molly lalu menyuapkannya. "Sepertinya aku bisa makan sendiri." ucap Molly ingin mengambil mangkok makanan yang dipegang Gandhi, namun ditolak oleh Gandhi. "Sstt sudah lah, buka saja mulutmu dan cepat habiskan makanannya." ucap Gandhi. Molly menuruti ucapan Gandhi, setelah selesai makan mereka masih di kursi taman menghirup udara segar di pagi hari. "Gandhi aku sepertinya masih sedikit pusing." ucap Molly. "Ayo segera kembali ke ruanganmu." ucap Gandhi langsung berdiri dengan sigap. "Ngga, duduk saja lagi." ucap Molly menyuruh Gandhi untuk duduk. "Aku masih suka udara pagi ini, cuma ingin merebahkan kepalaku dibahumu boleh tidak?" tanya Molly. "Boleh," ucap Gandhi. Molly langsung merebahkan kepalanya di bahu Gandhi,dengan tetap berpegangan tangan. "Jika bepegangan tangan masih kurang, dengan seperti ini apakah bisa cepat meninggal." batin Molly. "Gandhi?" panggil Molly. "Hm," jawab Gandhi. "Kamu bilang kalau menyentuhmu sedikit saja sudah memberikan efek nasib buruk itu, tapi dari tadi tidak ada tuh." ucap Molly membuat Gandhi jadi ikut berpikir ada benarnya ucapan Molly, dari tadi memang mereka tidak mengalami hal buruk. Gandhi berpikir sedikit lama, karena dia bingung juga dengan situasi seperti ini.Tidak pernah baik-baik saja setelah bersentuhan dengan perempuan, saat sedang berpikir keras tiba-tiba kepala Molly yang berada dibahunya lemas.Tentu saja membuat Gandhi sangat panik. "Tidak mungkin dia meninggal." ucap Gandhi. "Molly, hei bangun!" ucap Gandhi menepuk pipi Molly.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 24 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (629)
HasanIstiqomah
cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih
cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih
16/07/2025
0good
05/06/2025
0baguss banget kak
24/04/2025
0Ver Todos