logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Hampir Terjebak Lagi

"Bara," ucap Molly langsung dengan cepat menutupi lenganya.
Ternyata Bara berhasil menemukan Molly.
"Aku pikir kamu memang perempuan yang suci karena tidak mau disentuh olehku,ternyata kamu bermain dengan laki-laki lain ha!" ucap Bara dan langsung menampar Molly dengan kasar, membuat Gandhi sedikit terkejut dengan tindakannya.
"Ayo sekarang ikut aku," ucap Bara menarik paksa Molly.
"Aku tidak mau ikut dengamu Bara." ucap Molly namun tidak digubris oleh Bara, sementara Gandhi hanya melihat saja, karena merasa tidak pantas untuk ikut campur dan membiarkannya saja, walau sebenarnya dia kasihan melihat Molly.
"Aw sakit," ucap Molly.
"Ehm, dia sudah bilang tidak mau." ucap Gandhi menahan Molly, karena dia tidak tahan lagi melihatnya.
"Kau siapa ha? aku kekasihnya, dan aku berhak untuk mengaturnya.Singkirkan tangamu!" ucap Bara langsung membawa Molly pergi, dia menatap mata Molly yang berkaca-kaca.
Gandhi tidak mau ikut campur lebih dalam dan membiarkan mereka pergi, setelah itu dia juga pergi menuju tempat penginapan yang telah ia pesan.
"Sepertinya aku sudah salah memilih kota untuk berlibur,malam ini aku mau pulang saja ke rumah." ucap Gandhi lalu membereskan barangnya, dan menghubungi Arkan untuk segera mempersiapkan helikopter untuk kepulangannya.
Di kamar Bara dan Molly, ternyata Bara tidak langsung melakukan hal yang tidak diinginkan.Dia memberi Molly makan dan minum terlebih dahulu dan memperlakukan Molly lembut kembali seperti biasa, membuat Molly sedikit bingung kenapa Bara berubah sikap lagi.
"Makan dulu, kamu pasti lapar." ucap Bara memberikan piring makanan kepada Molly.
"Ambil,aku tidak akan meracunimu." ucap Bara, lalu diambil dengan sedikit takut oleh Molly dan dia memakannya, terlihat senyum Bara yang tersirat memandangi Molly.
"Kalau begitu habiskan makanan dan minumanmu, aku mau mandi dulu." ucap Bara.
"Kali ini kamu tidak akan bisa lepas," batin Bara tersenyum senang.
Molly pun memakan makanan tersebut dengan sangat lahap, saat minum setelah beberapa kali dia baru sadar ada yang aneh diminumannya.
"Ini seperti serbuk obat," batin Molly.
"Kenapa Bara memberikan aku obat ya," pikir Molly.
Setelah selesai makan, Molly merasa tubuhnya terasa panas sekali entah kenapa.Padahal.suhu ac di kamar sudah sangat dingin, dia pun sadar sepertinya makanan yang diberikan Bara tidak beres, Molly langsung keluar kamar sebelum Bara selesai mandi.Tapi dia merasa sangat kesulitan untuk berjalan karena gejolak gairah dalam tubuhnya, Bara memang memang memberikan obat perangsang kepada Molly, agar Molly tidak menolak untuk tidur bersmanya.Beberapa kali Molly hampir saja jatuh, sampai keluar dari penginapan dia berjalan gontai dan membuatnya hampir saja tertabrak mobil.
SYIIIITTT
Mobil itu mengerem sangat kuat, tapi tetap saja menyentuh tubuh Molly sedikit membuatnya terduduk di jalan,dan secara kebetulan lagi ternyata itu mobil Gandhi yang sedang menuju bandara, dia sedikit panik dan turun bersama supirnya untuk melihat keadaan korban yang mereka tabrak.
"Molly?" ucap Gandhi, membuat Molly yang tertunduk langsung melihat kearahnya.
"Gandhi, tolong aku." pintanya dengan air mata yang mengalir lalu meraih tangan Gandhi.
Tanpa berkata apa-apa, Gandhi membawa Molly masuk ke mobilnya.
"Kaki kamu terluka, ada apa sebenarnya? kamu lari dari dia lagi?"tanya Gandhi.
"Aku sepertinya diberikan obat yang aneh," ucap Molly.
"Obat apa?" tanya Gandhi.
"Entahlah, dia memberiku makanan dan minuman tetapi setalah aku menghabiskan semuanya aku merasa sedikit pusing dan panas, rasanya seperti ada yang aneh di dalam tubuhku aku ingin..." belum sempat Molly menyelesaikan pembicaraanya mulutnya langsung ditutup oleh Gandhi.Karena dia tau apa yang akan dikatakan oleh Molly tidak seharusnya didengar oleh orang lain.
"Sialan laki-laki itu, dia memberikan Molly obat perangsang agar dia bisa melakukan itu dengannya, keterlaluan." batin Gandhi terlihat sangat kesal melihat gadis baik seperti Molly diperlakukan tidak baik.
Tak lama kemudian mereka sampai di bandara.
"Molly,aku akan pulang ke kota A ini ambil lah uang untuk kamu pergi dari laki-laki itu." ucap Gandhi memberikan uang kepada Molly, namun hanya dilihat saja oleh Molly.
"Ambil lah," ucap Gandhi.
"Gandhi, apakah aku boleh ikut denganmu?" tanya Molly dengan wajah penuh harap.
"Apa? ambil saja uang ini dan gunakan untuk pergi." ucap Gandhi lalu melangkah pergi.Molly tertunduk sangat sedih.
"Ayolah, kalau ingin ikut tapi tujuanku hanya ke kota A setelah itu kita harus berpisah." ucap Gandhi ternyata tidak tega meninggalkan Molly dengan kondisi seperti itu.
"Terima kasih banyak." ucap Molly sangat senang.
Mereka naik helikopter pribadi milik keluarga Gandhi, fasilitas di dalamnya sangat mewah membuat Molly sangat terperangah.
"Wah ternyata Gandhi memang orang hebat ya." ucap Molly yang tidak digubris oleh Gandhi.
"Aku ingin tidur, kamu jangan berisik." ucap Gandhi lalu menutup matanya dengan penutup mata.
'Tapi Gandhi kalau," belum sempat Molly menyelesaikan pembicaraanya langsung dipotong oleh Gandhi.
"Ssstt diam jangan berisik, aku capek." ucap Gandhi.
"Maaf ya Gandhi," ucap Molly.
"Padahal aku hanya ingin bertanya apakah dia mempunyai plester atau tidak,kakiku terluka dan darahnya mengotori kursi ini," batin Molly.
Bara mandi dengan sangat bersih, karena dia yakin malam ini akan tidur bersama Molly hatinya sangat senang karena ini hal yang sudah bertahun-tahun dia tunggu.Bara memang menyukai Molly hanya karena wajah Molly yang sangat cantik. Namun saat keluar,dia langsung emosi melihat di kamar tidak ada Molly dan pintu terbuka, itu mengartikan Molly kabur lagi.Dengan penuh amarah, dia menelopon asistennya dan meminta untuk mencari keberadaan Molly.
"Gadis ini ternyata tidak sebodoh yang aku bayangkan, ketika sudah bertemu nanti tidak akan kubiarkan dia lepas lagi." ucap Bara.
Sementara itu setelah perjalanan hampir sampai obat perangsang itu mulai mengeluarkan reaksi lagi. Molly dari tadi bingung dengan dirinya, kenapa merasa sangat kepanasan. Ketika menatap Gandhi, rasa panas ditubuhnya semakin bergejolak, seperti ingin melahap Gandhi.
"Apa aku sangat lapar? kenapa Gandhi terlihat sangat lezat," pikir Molly.
Dia tidak bisa menahannya lagi, dan mulai mendekatkan dirinya kepada Gandhi,meraba pipi Gandhi dan ingin menciumnya.Namun Gandhi langsung terbangun dan menahannya.
"Hei kamu ngapain?" tanya Gandhi sambil menahan Molly.
"Gandhi, aku tidak tau sepertinya aku ingin sekali memakanmu."ucap Molly dengan polosnya.
"Heh anak ini, bicara sembarangan." ucap Gandhi menjauhkan Molly dari tubuhnya, namun seperti magnet Molly langsung kembali melekat kepada Gandhi.
"Gandhi aku mohon, aku ingin memakanmu." rengek Molly sambil merangkul dan memeluk Gandhi.
Tak terasa ternyata perjalanan mereka sudah sampai, Gandhi langsung segera turun menghindari Molly.
"Gandhi tunggu, aw." ucap Molly yang kesulitan berjalan karena kakinya terluka. Gandhi pun sadar kaki Molly terluka, dia pun menghampiri Molly dan membantunya turun dari helikopter.
"Sudah, kita berpisah disini." ucap Gandhi.
"Hm tidak, aku ingin ikut dengamu." ucap Molly mengandeng tangan Gandhi.
Gandhi memutar bola matanya kesal dan menghela nafasnya, lalu dengan terpaksa membawa Molly masuk ke mobilnya.
"Wow, liburan kali ini ternyata beneran membawa pulang perempuan ya yuhu." goda Arkan yang menjemput Gandhi.
"Diamlah," jawab galak Gandhi.
"Ini keinginanmu ya Molly, aku harap tidak ada penyesalan nanti." batin Gandhi.

Comentário do Livro (629)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih

    16/07/2025

      0
  • avatar
    DjodjoboTesalonika

    good

    05/06/2025

      0
  • avatar
    Cakep21Faris

    baguss banget kak

    24/04/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes