logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 3 Menolong

"Apa ya maksudnya?" batin Molly bingung dengan respon Gandhi.
"Pergilah, aku tidak butuh wanita penggoda sepertimu.Berikan nomor rekeningmu, akan aku bayar semuanya." ucap Gandhi.
"Penggoda? itu seperti kata yang tidak baik." gumam Molly tidak mengerti.
"Aku tidak mengenalmu, aku melakukannya karena kamu tadi menolongku sudah itu saja, tidak ada niatan yang lain." ucap Molly menjelaskan kepada Gandhi, baru lah dia sadar gadis yang menolongnya ini adalah gadis menangis di lift tadi.
"Oh itu." ucap Gandhi sedikit tidak enak.
"Ayo aku bantu ya." ucap Molly lalu membantu Gandhi dan dia tidak menolak.
Sampai dipermukaan, mereka mencari taksi tapi tidak satupun taksi yang lewat, akhirnya Molly berinisiatif bertanya dengan pengunjung sekitar kenapa tidak ada taksi yang lewat, ternyata peraturan disana ketika sudah jam empat sore aktivitas taksi dihentikan dan kembali aktif pada jam 7 pagi.
"Tidak ada taksi, kamu bagaimana pulang?" tanya Molly.
"Kamu punya ponsel?"tanya Gandhi.
"Oh iya punya," ucap Molly menggambil ponsel disaku bajunya dan ternyata ponselnya mati karena basah saat dia berenang tadi.
"Eh mati." ucap Molly mengangkat ponselnya yang basah, membuat Gandhi menghela nafasnya.
"Kalau begitu aku hanya bisa membantumu sampai disini, semoga harimu menyenangkan."ucap Molly ingin meninggalkan Gandhi, namun lengannya langsung ditarik oleh Gandhi.
"Kamu tidak kembali ke sana?" tanyanya.
"Tidak,aku akan mencari penginapan di dekat sini." ucap Molly.
"Aku ikut." ucap Gandhi.
"Eh?" ucap Molly bingung.
Lalu Molly mendapatkan tempat penginapan yang murah sesuai uang yang dia punya.
"Cari tempat lain saja," usul Gandhi yang melihat tempat penginapan yang dipilih Molly benar-benar tidak sesuai standarnya.
"Sepertinya hanya ini satu-satunya penginapan yang cocok dengan uang di dompetku." ucap Molly dengan senyum polosnya lalu melangkah masuk ke dalam penginapan, yang dengan terpaksa Gandhi mengikutinya.
"Selamat sore ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.
"Saya mau memesan kamar hari ini sampai besok pagi apa masih ada kamar yang kosong?" tanya Molly.
"Masih ibu, cocok sekali untuk pasangan.Kita tinggal satu kamar yang kosong dengan paket lengkap bulan madu." ucap resepsionis yang tentu saja membuat Gandhi sangat terkejut.
"Oh iya gapapa," jawab Molly dengan santainya.
"Hei, kamu tidak dengar? hanya tersisa satu kamar dengan paket bulan madu." bisik Gandhi.
"Aku tidak masalah, dekorasi kamar bulan madu pasti bagus aku suka." ucap Molly dengan polosnya.
"Jadi bagaimana ibu?" tanya resepsionis.
"Saya mau." ucap Molly.
"Aku mimpi apa sih kemarin, harus bertemu gadis aneh seperti ini." batin Gandhi mengeluh tapi tetap mengikuti Molly.
Kamar yang disediakan memang dengan dekorasi bulan madu yang sederhana, dan fasilitas kamar yang sangat sederhana namun kamar ini memperlihatkan pemandangan yang indah, memanjakan mata. Gandhi sedang melihat lihat pemandangan diluar jendela.
"Kita belum berkenalan sebelumnya, namaku Molly kalau nama kamu?" tanya Molly sambil melihat dekorasi bulan madu yang sangat lucu menurutmya.
"Gandhi," jawab Gandhi.
"Boleh aku bertanya?" tanya Gandhi.
"Iya boleh," ucap Molly.
Gandhi melangkah masuk mendekat kepada Molly.
"Apa kamu tidak takut, menginap satu kamar dengan laki-laki yang tidak kamu kenal?" tanya Gandhi maju ke arah Molly, membuat Molly memundurkan langkahnya perlahan-lahan.
"Gandhi, kita kan sudah berkenalan." jawabnya dengan polos sambil tetap melangkah mundur.
"Kenal hanya dari nama, bukan mengenal namanya." ucap Gandhi.
"Kamu meminta tolong padaku, itu berarti kamu dalam kesulitan kan? tidak akan berniat jahat." ucap Molly membuat Gandhi tersenyum menyeringai mendengar jawaban polos tersebut.
Brak
"Aw," rintih Molly sangat kesakitan dan terduduk, saat pungung Molly ketabrak dinding karena dia melangkah mundur, Gandhi hanya melihatnya dengan biasa karena dia pikir Molly pasti sedang berakting.
"Hentikanlah, aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu." ucap Gandhi.
"Dari tadi menahan pedih luka dipungungku, apalagi harus masuk ke dalam sungai tadi dan sekarang terbentur tembok, rasanya sakit sekali aku seperti tidak sanggup menahanya." batin Molly.
"Gandhi,boleh kamu keluar dulu?" ucap Molly dengan suara sedikit gemetar.
"Aku capek mau istirahat," ucap Gandhi berbaring disofa, tetapi saat dia melirik Molly tak sengaja terlihat jelas dipungung Molly mengeluarkan bercak darah, dia langsung berdiri terkejut.
"Anggap saja tidak melihat apa-apa ya." ucap Molly langsung berusha berdiri.
"Aku saja yang keluar." ucap Gandhi langsung keluar dari kamar, saat itu juga Molly melepas rasa tangisnya yang dari tadi dia tahan.Luka diseluruh tubuhnya sebenarnya sangat perih ketika masuk kedalam sungai tadi,selain hatinya yang terluka, fisiknya juga sangat terluka.Karena memang setiap hari tubuhnya dipukul oleh ayah dan kakaknya, karena itu luka ditubuhnya tidak pernah sembuh.Ternyata Gandhi masih di depan pintu mendengar jelas suara tangisan Molly.Lalu dia melangkah ke resepsionis untuk meminjam telepon.Gandhi berhasil menghubungi Arkan, dan meminta Arkan segera mengirim orang untuk menjemputnya, dan mengirim dokter karena dia terluka.
Beberapa menit kemudian Gandhi kembali ke kamar, dan melihat Molly duduk dengan santai melihat pemandangan.
"Gandhi, lihat itu langitnya indah sekali." ucap Molly dengan cerianya tidak menunjukan kesedihan sama sekali.
"Iya indah," ucap Gandhi.
"Ini tadi ada mie, makan dulu kamu pasti lapar kan." ucap Molly menyiapkan makanan untuk Gandhi.
"Terima kasih." ucap Gandhi duduk dan memakan mie tersebut, sambil sesekali melirik Molly yang tersenyum memandangi langit senja yang indah.
"Dia tidak tau siapa aku, latar belakang keluargaku, dan pekerjaanku.Dia memperlakukanku dengan sangat baik walaupun cara yang sederhana, tapi dia benar-benar terlihat sangat tulus." batin Gandhi.
"Aku akan pulang," ucap Gandhi.
"Eh? dengan cara apa?" tanya Molly.
Tok Tok
Pintu kamar mereka berbunyi, Gandhi langsung melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang, dan ternyata orang kiriman Arkan sudah datang, dokter disuruh masuk oleh Gandhi untuk mengobati lukanya sekarang juga, Molly mendekat ke arah Gandhi dan melihatnya saat diobati oleh dokter.
"Gandhi orang yang hebat ya ternyata," bisik Molly kepada Gandhi yang duduk disebelahnya.
Setelah selesai mengobati luka Gandhi, tiba-tiba dia menyuruh Molly untuk diobati juga.
"Tidak perlu, aku tidak terluka." ucap Molly menolak.
"Sebagai ucapan terima kasihku, aku tidak suka berhutang budi." ucap Gandhi.
"Tidak perlu, A-aku."
"Cepat duduk," ucap Gandhi.
"Iya duduk," ucap Molly langsung menurut.
"Apa saja yang terluka?" tanya dokter.
"Yang terluka ya? hampir semuanya." jawab polos Molly.
"Ini," ucap Molly menarik lengan bajunya, terlihatlah luka yang membengkak karena terendam air sungai.
"Aku melihat dengan jelas, darah yang keluar tadi berasal dari pungung, kenapa sekarang dilengan." pikir Gandhi heran.
"Bukankah bagian pungungmu juga terluka?" tanya Gandhi.
"Itu," ucap Molly ragu.
BRAK
Pintu kamar mereka dibuka dengan kasar oleh sesorang, yang dari tadi sudah dihadang untuk masuk, mata Molly langsung membulat sangat terkejut.

Comentário do Livro (629)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih

    16/07/2025

      0
  • avatar
    DjodjoboTesalonika

    good

    05/06/2025

      0
  • avatar
    Cakep21Faris

    baguss banget kak

    24/04/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes