"Hah, suami! Suami darimana, kapan aku nikah?!" teriak Hani yang baru pulang dari pondok dan belum sempat duduk di kursi. Matanya melotot karena kaget bukan main, saat akan menyalami kedua orang tuanya, karena ia baru pulang dari pondok, malah disuguhi kabar bahwa dirinya telah dinikahkan oleh ayahnya tanpa sepengetahuannya. "Iya, ini suami kamu, kemaren bapak yang menikahkan," jelas Pak Jajang, ayah Hani. Tak ada gurat kesedihan di wajahnya justru nampak bahagia karena Rivaldi adalah anak dari sahabatnya dulu. "Ya tapi, masa nikahin aku, tapi aku gak tahu kalau mau dinikahkan, bapak juga gak kasih kabar atau nyuruh aku pulang gitu!" protes Hani. "Ya gak perlu ngasih tahu, toh kamu kan gadis, jadi walaupun tanpa sepengetahuanmu pernikahannya tetap sah, kan?" tanya Pak Jajang memastikan. "Sah, sih, Pak, tapi kok bapak tega menikahkan anak semata wayang bapak ini, tanpa resepsi atau syukuran atau apa gitu?" Hani menghembuskan napas kasar. 'Gini banget ya nasibku,' ucap Hani dalam hati. "Bukan enggak ada resepsi, memang baru akad saja nanti resepsi menyusul kalau Pak Deris sudah sehat dan istrinya sudah pulang dari luar negeri." "Tapi tetap enggak bisa gitu dong pak, lagian aku juga enggak cinta sama.... sama... siapa sih namanya?!" "Rivaldi, namanya." "Nah, nak Rivaldi ini Hani anak bapak, istri kamu," lanjut Pak Jajang dengan antusias. "Kok, kamu mau sih nikah sama perempuan yang gak ada orangnya?" tanya Hani heran. "Hani, sembarangan kalau ngomong! Ini suami kamu, panggil Mas, Kang atau Aa kan lebih bagus?" tegur Pak Jajang. "I... iya pak, m... m.. Mas, siapa namanya tadi? Ri... Ri.. siapa sih?!" "Rivaldi, nama saya Rivaldi Adinata," terang Rivaldi dengan senyum tipis, sesungguhnya ia pun merasa canggung dengan pernikahan ini, tapi semua karena papanya. "Susah banget sih namanya, oh iya, kenapa tiba-tiba Mas jadi suami saya?!" gerutu dan tanya Hani dengan penekanan di kata Mas dan ekspresi wajah tak suka. "Nanti kamu akan tahu," jawab Rivaldi datar. "Sudahlah, lebih baik kamu segera mandi sana! Habis perjalanan jauh juga," titah Pak Jajang. "Enggak mau ah, Pak, lagian aku enggak bau badan kok," bantah Hani yang malah duduk di lantai sambil memainkan gawai. Sebenarnya ini ia lakukan sebagai bentuk protes pada bapaknya yang tiba-tiba menikahkannya tanpa sepengetahuannya. "Anakmu itu, loh, Ma!" Pak Jajang kesal. "Sudahlah, Nak, yang sabar ya, lebih baik kamu mandi dulu, terus makan, kemudian istirahat ya," ucap Bu Yani lembut, walaupun Hani tak menangis tapi ia tahu berat untuk putrinya menerima kenyataan ini. "Hmm, iya ma," jawab Hani pendek, ia tak berani melawan pada mamanya, dan langsung bergegas ke kamar mandi. Sehabis mandi, Hani langsung menuju kamar dengan keadaan sudah memakai baju ganti lengkap dengan jilbabnya. "Hani, ajak suamimu ini!" titah Pak Jajang saat Hani mengambil tas yang ada di ruang tengah untuk dibawa ke kamar. "Dia kelihatannya punya kaki, biar jalan sendiri aja!" ujar Hani ketus. Hani langsung membawa tasnya dan melenggang ke kamar tanpa mempedulikan Rivaldi, suaminya. "Nak, Rival, maafkan Hani ya dia mungkin memang belum bisa menerima keadaan, tapi sebenarnya dia anak yang baik," terang Pak Jajang. "Tidak apa-apa, Pak, saya maklum kok." "Kamu susul Hani ke kamar ya, beri penjelasan, sementara mamanya Hani lagi ke warung." "I.. Iya, Pak." Rivaldi kemudian menyusul Hani ke kamar, pintu terkunci, ia coba mengetuk pintu kamar Hani dengan pelan. "Mau ngapain, sih, ini kamar saya!" bentak Hani dari dalam meski suaranya tidak terlalu keras. "Saya disuruh bapakmu, kesini, bukalah pintunya, saya enggak akan ngapa-ngapain kamu kok," ujar Rivaldi pelan agar tak terdengar oleh Pak Jajang. "Enggak mau!" Di dalam kamar, Hani tengah berbaring di kasurnya dengan wajah dibenamkan ke bantal, ia menangis. Berat baginya menghadapi kenyataan ini. Di usianya yang masih terbilang remaja, tentunya ia masih betah mondok, masih ingin mewujudkan cita-citanya dan berharap bisa kuliah selepas pengabdian yang baru setengah jalan ia lakoni. 'Apa ini maksud Umi tadi ya,' batin Hani, teringat tadi saat ia dan santriwati lainnya bersalaman, Umi pemilik pondok memeluknya dan berbisik, "Allah tak akan memberi ujian diluar kemampuan hambanya, jalani dengan sabar dan ikhlas." 'Keras kepala juga anak ini,' ucap Rivaldi dalam hati, 'padahal fotonya manis kelihatannya lugu dan santun, sepertinya dugaanku salah,' lanjutnya. "Cepatlah! Kamu enggak mau kan kalau bapakmu yang datang kesini untuk menggedor pintu." Rivaldi sudah mulai kesal. "Loh, Rivaldi ada apa Nak?" Bu Yani datang menghampiri yang tadinya tujuannya untuk mengajak Hani makan, malah diharamkan dengan Rivaldi yang sibuk mengetuk-ngetuk pintu kamar Hani. "Enggak apa-apa, Ma, sepertinya Hani ketiduran makanya enggak bukain pintu," jawab Rivaldi. "Nak, Hani sayang, buka dulu yuk pintunya, kita makan dulu, kamu pasti lapar kan sayang, mama sudah buatin makanan kesukaan kamu lengkap dengan sambal dan lalapan segar," tutur Bu Yani lembut. Ceklek! Pintu kamar terbuka, perlihatkan sosok Hani dengan wajah tersenyum pada mamanya tapi matanya sembab seperti habis menangis. "Makan dulu, yuk, Nak." Bu Yani langsung menggandeng tangan Hani dan membawanya ke dapur, hatinya sakit melihat keadaan putrinya. Di meja makan, Hani hanya menatap semua makanan tanpa selera. "Ma, kenapa ini semua terjadi?" tanya Hani lesu. Bu Yani menatap putrinya dengan sendu, matanya berkaca-kaca. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan Hani. "Tak ada gunanya kamu menangis! Jalani saja nanti juga kamu mengerti dan bahagia!" Pak Jajang berkata saat ikut duduk di meja makan. "Kebahagiaan seperti apa yang bapak maksud?!" Bibir Hani bergetar mengatakannya, air mata ditahannya sekuat tenaga, ia tak pernah ingin terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk orang tuanya. Pak Jajang menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia kenal putrinya dari dulu, putri yang selalu nampak tegar dan berani, ucapannya tegas dan harus dituruti, wataknya keras tidak seperti mamanya yang lembut. Hatinya juga sedih melihat putri kesayangannya kini rapuh, tapi ada hal yang tak bisa dijelaskan hingga pernikahan ini terjadi dan baginya ini untuk kebahagiaan Hani. "Sudahlah, ikhlas dan terima semua yang sudah terjadi!" "Bapak, tidak seperti bapak yang kukenal, sebenarnya kenapa, Pak? Ada apa?!" Tanpa menanggapi lagi ucapan Hani, Pak Jajang malah pergi ke luar rumah. "Makanlah, Nak," titah Bu Yani lemah, air mata telah berderai sejak tadi. Hani hanya menggeleng kemudian berdiri dan kembali melangkah menuju kamarnya. Rupanya di dalam telah ada Rival yang duduk termangu di ujung bawah kasur. "Kenapa, kamu ada disini?! Pergi! Aku gak kenal siapa kamu!" bentak Hani kalap, amarahnya meledak saat melihat sosok yang katanya suaminya itu. "Bisakah kamu sedikit saja bersabar, setelah kamu mengerti semuanya aku akan melepasnya dan kamu bisa kembali meneruskan hidupmu!" tutur Rivaldi pelan tapi penuh penekanan. Hani diam, dadanya naik turun, amarah dan kesedihan jelas terpancar dari wajahnya. Ia seperti terjebak dengan permainan yang dibuat oleh bapak dan suaminya ini. "Apa maksudmu?! Aku tak mengerti dan tak ingin mengerti!" "Aku tak akan menyentuhmu, pernikahan ini tak seperti yang kau pikirkan," "Pokoknya, lepaskan aku! Aku gak sanggup!" "Aku mohon bantu aku sebentar saja!" Sorot mata tajam Rivaldi melemah, ia memohon pada Hani dengan kesungguhan. "Baiklah, 1 minggu." Hani sebenarnya wanita yang tidak tegaan pada orang lain, apalagi yang meminta bantuannya. "Tidak mungkin, satu tahun, aku butuh bantuanmu, aku pinjam waktumu satu tahun, lalu apapun yang kamu mau aku turuti, kuliah di Kairo Mesir, kan?" Tawaran yang sangat menggiurkan, tapi sebenarnya apa yang terjadi dibalik pernikahan dadakan ini?
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita nya menarik
08/07/2025
0baguss bgtt ceritanya
25/11/2024
0lanjut
31/10/2024
0Ver Todos