Sejak tadi Dimas mau bertanya ke mana arah mereka tuju sekarang, tapi Rahma yang sebelumnya tegar, begitu mobil menjauh dari rumahnya langsung terisak sampai sesenggukan. Bahunya berguncang terlihat begitu menyakitkan apa yang ia rasa saat ini. Dimas mengatup mulut rapat membiarkan wanita rapuh itu mengeluarkan semua bebannya. Sendiri. Ia tidak bisa apa-apa, hanya terbaa sendu suasana dengan sengaja menginjak gas perlahan. Saat tidak tahu akan ke mana, mereka ia bawa berputar dua kali di jalan raya yang sama. Jiwa lelakinya ingin sekali melindungi wanita di sebelahnya ini, tapi tertahan karena mereka belum 24 jam mengenal. Seandainya sudah akrab, ingin sekali ia menyediakan bahu tempat Rahma bersandar membagi beban. Ia tampak tertekan sendiri? Apa sebenarnya yang terjadi padanya? “Ini ke mana?” tanya Dimas ragu-ragu. Ia baru membuka suara setelah Rahma menarik napas panjang, embuskan pelan, persis seperti kakaknya dulu menahan sakit perut saat akan melahirkan. “… mm-maaf …,” ucap Rahma menyadari dirinya sudah membuat lelaki di sebelahnya ini bingung. “A-aku belum tau ke mana …” air matanya keluar lagi di sela tawa yang terpaksa. “bisakah kau carikan aku tempat sementara? Maaf, aku butuh waktu sendiri.” Dimas terdiam, berpikir sejenak. “Apa boleh aku yang tentukan tempatnya?” Dimas ingin memastikan. “… iya ….” Rahma sedang merasa amat lelah hati dan raga. Membuatnya tak mampu berpikir akan apa setelah ini. Kembali ke rumah orang tua sama saja membuatnya makin hancur. Di sana wajah-wajah ceria menanti hari bahagia anak bungsunya, tak mungkin ia ganggu jadi sendu. Ia butuh orang lain menetralkan otaknya yang berkecamuk. Rahma pasrah pada kebaikan lelaki di belakang kemudi itu, akan ke mana membawanya. Diceburkan ke laut pun tak apa, karena ia benar-benar merasa kacau untuk memikirkan apa pun. Semoga Azka masih bisa tertawa di sana. Ia membayangkan tawa ceria anak itu bermain riang bersama-teman sebaya di rumah neneknya. Mendapat peluk dan cium dari semua orang yang suka mendengar kata cadel dari mulutnya. Teruslah tertawa, Nak. Jangan pernah kamu tahu betapa pun sakitnya mama … kamu harus tetap bahagia. Rahma menutup mata dalam-dalam, bulir mengalir hangat dari sudut mata ia biarkan jatuh. Hidup telah begitu keras menempanya sejak lama, dan ini yang paing telak. Tuhan satu-satunya penguat dari jeritan hatinya. Mata basah itu terbuka saat merasa mobil berhenti setelah perjalanan cukup panjang. Rahma memajukan badan melihat sekitar. Sebuah rumah berhalaman asri. Banyak bunga di rak kayu, tersusun rapi dalam pot mini. “Ayo turun,” ajak Dimas sembari membuka pintu mobil. “Om Jaaaayyy.” Seorang gadis kecil berkuncir satu lari, langsung memeluk erat lelaki ramah yang berjongkok melebar tangan menyambutnya. “Hai Nadia, muah!” Dimas berikan hadiah kecupan pada dahi anak itu. “mama mana?” “Ada di dalam, lagi mandi,” jawab anak itu sambil meringis lebar perlihatkan gigi susu yang putih bersih. “Ini kenalin. Tante Rahma.” Dimas berdiri mengenalkan Rahma yang sudah ada di sebelahnya. “Hai, Tante Rahma. Aku Nadia.” Bocah ceriwis itu mencium tangan Rahma. “Nadia cantik sekali,” puji Rahma jujur. Anak itu memang langsung membuat hati dan matanya segar. Penampilan bersih, ramah, dan suka tertawa. “Ayo masuk, Tante. Mamaku di dalam.” Lincah ia akan menarik tangan Rahma ke dalam. Setelah melempar tawa ragu pada Dimas, dan mendapat anggukan lelaki itu, Rahma sedikit berlari mengikuti langkah Nadia yang langsung menariknya hingga ke dapur, sambil memanggil-manggil mamanya. “Mamaaa, Mamaaa,” panggilnya keras tapi bernada manja. Senyum Rahma sulit ditahan, anak ini menggemaskan, pikirnya. “Ada apa Sayang kok teriak-teriak?” Seorang wanita berambut panjang bergelombang muncul dari pintu belakang dapur. Tangah mengusap rambut yang basah dengan handuk kecil. Ia tampak terkejut melihat anaknya bersama orang asing, dan mengira itu tetangga baru. “Ma-maaf.” Rahma menangkup tangan melihat tuan rumah mengerut dahi. “Mama ini temannya Om Jay.” “Maaf Mbak Din, Jay ke sini gak bilang-bilang.” Dimas muncul menggeret koper dan tas Rahma. Merasa tak nyaman melihat kerepotannya Rahma bergerak akan membantu. “Sudah kamu istirahat aja.” Dimas menahan tangan Rahma, membuat wanita itu kikuk lalu membiarkan Dimas kerepotan dengan tiga tasnya. “Ohh, gak pa-pa, Jay, tapi ini siapa, kok mbak nggak pernah dikenalin?” tanya wanita bersuara lembut memandangi Rahma dengan pandangan penuh arti. Antara kagum dan heran ia dengan apa yang dilakukan Dimas, lelaki gagah yang dipanggil sayang Jay oleh keluarga mereka. “Ini kenalin, Rahma. Rahma itu Mbak Dini, kakakku,” ujar Dimas menunjuk wanita bermata bulat itu pada Rahma. “Salam kenal, Mbak Dini, maafkan saya-“ “Sudah gak usah pake minta maaf segala, ayo sini aku tunjukin kamarnya.” Sambutan ramah kakak Dimas itu menetralkan hati Rahma. Ia sungguh tak menyangka Dimas membawanya ke rumah saudara tanpa bilang lebih dahulu. “Ini kamarnya, semoga kamu suka dan betah, ya.” “Terima kasih Mbak Dini, saya suka.” “Istirahat saja dulu, saya tinggal ke belakang.” “Iya, Mbak. Terima kasih.” Ia melihat Dini menarik tangan Dimas ke belakang. Mungkin akan bertanya banyak pada lelaki itu. Rahma berharap diberi kesempatan menumpang sebentar di sini, untuk menenangkan pikiran dan berpikir jernih akan apa yang harus dilakukan esok hari. Tak henti rasa terima kasihnya atas pertolongan Dimas padanya. Kamar kira-kira ukuran 6x7 itu isinya lengkap. Ada lemari, ranjang ukuran nomor satu sampai meja kerja dengan lampu baca. “Ini dulu kamar kakek dan nenek, tapi waktu kakek pulang ke surga jadi kosong, deh. Nenek ikutan pindah rumah, tapi Nadia tetap sering main ke sini masih ada bau kakek, sih,” jelas Nadia dengan bibir mungilnya bergerak-gerak lucu, menggemaskan hati Rahma. Anak yang ikut duduk di sisi bed menemaninya. Mereka bisa langsung nyambung ngobrol bersahutan, membuat Rahma melupakan sejenak masalahnya. * Hari yang ditunggu pun tiba, Harlan kembali menjadi menantu keluarga Bu Tami. Ia resmi mempersunting Safea yang tampil bak bidadari dengan balutan kebaya dan rok duyung serba putih. Setelah kata sah terucap, doa bersama, lalu masuklah acara pasang cincin kawin. Emas lima gram melingkar polos itu masuk di jari manis putih mulus Safea, detik kemudian Harlan spontan menyosor bibir berbalut lipstick warna merah darah itu, membuat riuh para undangan yang merupakan para tetangga dan keluarga. “Sabar, euy, sabar. Banyak anak-anak,” celetuk lain di antara tawa heboh atas kelakuan pengantin pria yang cengengesan. Akad nikah langsung resepsi sederhana di hari yang sama. Dihadiri juga oleh ibunya Harlan yang duduk di kursi roda. Kondisinya masih belum stabil. Bicara belum jelas dan bibir kiri tertarik ke atas. Sorot matanya sendu, sebab tak bisa lagi bicara banyak seperti dulu. Hanya menonton orang lalu lalang melewatinya. Sampai bulir air di sudut pelupuk mengalir sendiri, merasakan pilu kesunyian hati di antara keramaian di depan mata. Wajah menor didandani anaknya tadi meluntur tersapu air mata. “Ih! Mama ngapain nangis segala, sih. Liat tuh eyelinernya luntur,” decak Hasna salah satu anak gadisnya yang segera mendorong wanita paruh baya itu masuk ke kamar. Bagaimana tidak menarik orang melihat wajah di kursi roda itu. Kedua belah pipi Bu Mira bagai lelehan tinta hitam, membuat wajahnya seram bagai penampakan. Bayangkan, wajah dengan bedak tebal, bibir merah lalu aliran hitam basah dari mata. Pantas saja ada dua anak kecil menangis tadi melihatnya. Hasna sangat kesal. “Mama ini malu-maluin aja!” protes anak gadisnya yang masih SMA itu. Nyeri merambat hati Bu Mira, mendapati keluhan putrinya yang terus ngomel sambil mengusap wajahnya tanpa permisi. Sikap anakku ini beda sama Rahma ….
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
yujjje
30/11
0memuaskan 😍
20/10
0bagusss
15/06/2025
0Ver Todos