Dari sedan merah itu turun seorang lelaki berkacamata hitam dan gadis berambut sebahu bersamaan, langsung melihat Dimas dari atas sampai bawah. Penampilan urakan membuat dua pasang mata itu menyipit. Sinarnya meremehkan orang yang sedang dipandang. Dimas melangkah mendekat dengan sikap santun. “Maaf ini keluarganya Rahma?” Pertanyaannya dibalas tatapan sinis dua orang yang langsung melihat arah Rahma, terhenti pada kaki dan tangan wanita itu yang terbalut perban. Tak mau membiarkan sesuatu terjadi, Rahma segera mendekat, mengabaikan nyeri kakinya yang dipaksa melangkah cepat. “Ngapain ke sini?” tanyanya pada lelaki bopeng yang tak lain adalah Harlan. “Ngapain, kamu bilang? Cih! Ini rumahku!” Dimas terdiam, merasa tidak nyaman berada di tengah mereka yang sepertinya punya masalah pribadi. “Kamu itu sudah bukan istri kakakku lagi, nggak malu tinggal di rumah orang?” Hesti menimpali ucapan kakak lelakinya sambil memutar mata. Tatapan gadis berdagu panjang itu pindah ke Dimas, membuat bibir tipis persis ibunya menyeringai lalu tertawa mengejek. “Kamu pantasnya dapat yang gembel,” matanya jelas melirik pada Dimas yang terpaku. “bukan kakakku yang baik ini.” Lengan Harlan dielusnya sayang. Ia memuja kakak lelaki yang menurutnya terbaik sedunia, siap sedia mengelurkan kocek saat ia membutuhkan. Menanggapi adiknya Harlan menarik dada baju dengan gaya paling keren, menurutnya sendiri. Hesti melangkah maju, merampas kunci rumah dari tangan Rahma, ia dan kakaknya melangkah ke teras dengan mengangkat dagu dan busungkan dada. Rok pendek Hesti jelas naik turun perlihatkan paha super mulus. Dimas membuang pandang, tapi juga tidak mau beranjak pergi. Sepertinya Rahma dalam masalah, pikirnya. Sedangkan Rahma tidak terima begitu saja perlakuan dua orang itu, mukanya merah padam menahan amarah. Cepat ia ambil batu di dekat kaki, refleks lemparkan keras mengenai punggung Harlan. Plukk!! “Owgh!” Memegang punggung yang langsung berdenyut Harlan sontak berbalik. Melihat Rahma yang mengepal kedua tangan. Ia lalu melepas kacamata hitamnya dengan tenang, menatap wanita yang naik turun dadanya itu dengan tatapan berkilat. “Ini rumah Azka! Hak milik Azka!” pekik Rahma penuh emosi. Dimas maju, berusaha menenangkan dengan menyentuh punggungnya. Tawa Harlan segera meledak melihat dua orang di depannya itu. “Lihat, gembel sama gembel cocok banget, hahaahh.” “Udah, Mas Har gak usah dengerin, bentar lagi dia gil*, liat aja rupanya. Persis penghuni jalanan,” tambah Hesti melengos ikut merendahkan dua orang itu. “Kamu itu gak becus ngurus Azka. Urus dirimu sendiri dulu!” Tunjuk Harlan tepat mengarah ke wajah Rahma, memancing Dimas yang langsung bergerak maju. “Kalu bicara pikir dulu pakai otak!” Tunjuk Dimas membalas, tepat ke dada lelaki berpipi bopeng dengan sedikit dorongan sampai Harlan terdorong mundur. “Kamu siapa ngatur aku, hah?!” Terbakar emosi Dimas. “Siapa pun aku, gak akan bersikap banc* kayak kamu. Beraninya kasar sama perempuan!” Layangan tinju Harlan meleset cepat ditahan telapak Dimas, dalam gerak cepat kepalan lelaki sama tinggi dengannya itu dipelintir oleh Dimas ke belakang, dalam satu kali sentak. Pekik kesakitan Harlan membuat adiknya dan Rahma menganga. “Mas? Mas Har?” Hesti takut tangan kakaknya itu patah. Melihat muka Harlan lebih merah dari cabai. Giginya beradu, meringis merasa nyeri luar biasa pada sambungan lengannya. “Dimas.” Rahma memegang lengan Dimas, kode matanya meminta lepaskan. Tidak menyangka lelaki yang baru dikenal itu membela, tapi Rahma juga tidak mau Dimas ikut dalam urusannya. “Auu, auu ….” Harlan menggerak-gerakkan tangan, berusaha hilangkan nyeri luar biasa saat Dimas melepas kunci lawan dari bela diri yang dikuasainya. “Dasar gembel! Kita pulang aja, Mas Har,” pinta Hesti menarik tangan kakaknya menjauh, bermaksud mengajak kembali ke mobil. Namun, Harlan bergeming. “Keluar dari rumahku sekarang juga! Keluaaarrr!!” teriakannya menggema, memanggil warga keluar rumah ingin melihat apa yang terjadi. Tadi sudah mulai curiga ada mobil merah milik keluarga Harlan datang ke rumah itu, tapi keributan ini membuat mereka harus ikut campur. “Nggak perlu teriak. Aku juga akan keluar, tapi ingat rumah ini milik Azka! Berani kalian macam-macam aku bawa ke jalur hukum,” ancam Rahma tak kalah keras. “Mbak Rahma?” Dua ibu tetangga mendekat, menenangkannya ia yang mulai berurai air mata. Sementara Harlan yang terlihat berniat menyerang segera dijaga bapak-bapak tetangga, agar tak bisa mendekati mantan istrinya. Rahma kemudian mendekati Hesti yang membeku di tempat, merebut kunci dari tangannya, lalu cepat naik ke selasar. Tidak ada nyeri yang terasa di luka kaki dan tangannya di balik perban, tertutup luka hati perih yang mengalirkan darah di dalam sana. Begitu buruk nasibnya mendapat suami seperti Harlan, sampai harus berakhir tragis begini. Dibantu ibu-ibu warga ia mengumpulkan barang-barang pribadi, dimasukkan sembarang ke koper dan tas. “Yang sabar ya Mbak Rahma, insya Allah hidup Mbak setelah ini bisa lebih baik,” doa ibu paruh baya berkerudung hitam memeluknya. Tangis Rahma pecah sebentar, tapi segera lenyap karena tak ingin larut dan berlama-lam di sini. Ia mengusap muka dengan ujung baju dan berdiri tegar. Aku harus bisa menghadapi. Harus bisa! Sugesti diri mampu membuatnya merasa kuat. Di luar …. Harlan ribut menuding Rahma berselingkuh dengan Dimas. “Maaf bapak-bapak, omongan orang ini kacau. Jangan percaya. Saya ini bertanggung jawab setelah mobil menabrak Mbak Rahma, kami baru kenal,” jelas Dimas. Bagaimana tidak, alasan Harlan mendua karena membalas sakit hati Rahma lebih dulu mengkhanatinya dengan Dimas, lelaki yang dijulukinya si Gembel atau si Preman. Mungkin melihat penampilan lelaki gondrong itu yang membuatnya menilai demikian. “Tenang aja, Mas. Kita tau kok gimana suaminya Rahma itu.” Seorang bapak menenangkan Dimas, lalu sedikit bertanya mengenai kejadian kecelakaan yang dimaksud. “Syukurlah Mbak Rahma ndak apa-apa, kasihan dia itu kena musibah berturut-turut, Mas,” timpal ibu lain sembari ceritakan masalah Rahma beberapa waktu ke belakang. Dimas tercekat mendengarnya. Hati nuraninya bergetar. Inilah jawaban dari tatapan kosongnya …. Di balik itu, ia merasa kagum. Tergambar jelas betapa sosok Rahma disayangi tetangga. Mereka mengerumuni Dimas di teras, sementara lima bapak lainnya menjaga Harlan dan adiknya tak mengganggu Rahma yang belum keluar dari dalam. Wanita berparas manis itu pun keluar dengan wajah tegar, ia bisa tersenyum pada ibu-ibu tetangga yang begitu baik membawakan barang-barangnya, lalu bapak-bapak sigap mengambil alih. “Masukan ke mobil saya, Pak,” ujar Dimas gegas mendekati kendaraan berbodi gagah miliknya di luar halaman. “Paling dia supir,” ledek Harlan melihat iri orang-orang membantu memasukkan barang Rahma ke mobil itu. “Sama-sama pembantu, Mas Har. Cocok.” Raut bahagia Hesti melihat kakak iparnya itu pergi meninggalkan harta kakaknya. Rahma mendapat pelukan ibu-ibu tetangga penuh haru melepasnya. Doa-doa mengalir untuk kebaikannya ke depan, terutama Bu Ida yang baru muncul. “Percayalah hidupmu akan lebih baik … Mbak Rahma terlihat makin kuat sekarang,” ujar wanita berpipi bulat itu saat mendekapnya beberapa detik. “Terima kasih banyak doa dan kebaikannya, Bu Ida …” Rahma lalu melihat wajah-wajah yang menatapnya iba sebelum masuk mobil. “terima kasih banyak ya, semua, ibu, bapak,” ucapnya sambil menangkup tangan menganggukkan kepala, tanda hormat pada tetangga-tetangganya. Binar semangat muncul di matanya, efek haru pada mereka yang begitu peduli. “Cuihh! Jangan akting euy! Cepet pergi!” pekik Hesti dari halaman, iri melihat semua mengeumuni dua orang itu layaknya artis masuk kota. Sementara Harlan gemerutukkan gigi. Enak sekali dia bisa ketawa selebar itu! Tawa renyah nan tulus Rahma untuk warga terasa membakar ubun-ubunnya. Lelaki ini padahal mengharap tangis iba Rahma padanya, tapi itu hanya angan kosong. Suasana mendadak senyap saat mobil Dimas berlalu, semua orang pun bubar ke rumah masing-masing tanpa sedikit pun melihat pada ia dan adiknya yang melongo. Membuat dada Harlan panas menyimpan emosi. Kecewa tak dianggap, dua orang itu pun masuk rumah yang pintunya masih menganga. “Kotor banget, sih,” keluh perempuan bergiwang bulat sebesar gelang itu sambil bergerak mundur, hanya sampai di ruang tamu, lalu bersedekap. “Jual aja rumah ini, Mas Har. Kayaknya bawa sial juga buat kita.” “Sial gimana?” Harlan muncul dari belakang menggigit buah apel sisa setengah dari kulkas. “Mama sakit, Mas Har cerai, trus mo nikahin adik si miskin sombong itu. Kan musibah, Mas.” “Santailah, nanti itu kita pikirin lagi.” Harlan merangkul bahu adiknya. “Bukan sepenuhnya musibah, ini rejeki. Bini mas bakal ganti yang cantik menarik, gak kalah sama adik-adik tersayang mas ini, ya kan?” “Iya sih, tapi Mas Har beneran suka ya sama Safea?” Lelaki bopeng yang sudah cukur rapi rambut panjang, sebagai persiapan ketampanan tampil di pernikahannya lusa ini tertawa lebar. “Ya iya, lah. Kalau nggak suka masa mo dinikahin.” “Trus kalau anaknya bukan anak Mas Har gimana?” Tahu Safea hamil juga membuat tanda tanya untuk perempuan berstatus mahasiswi semester empat ini. “Itu urusan belakangan, yang penting nikah dulu. Udah deh jangan mikir ribet nanti hilang cantiknya,” goda Harlan menowel dagu panjang sang adik. “Ah, ya, Mas. Biaya perawatan Mama seterusnya gimana? Kan harus rutin terapi, apa mas Har masih punya simpenan?” Mata bulat gadis itu penasaran. “Punya lah, apa sih yang enggak buat orang tercintaku. Simpanan mas masih buanyak, mana tahu si Terasi itu.” Tawa keduanya terdengar begitu bahagia, menikmati kemenangan menyingkirkan sosok jelek di mata mereka telah terdepak dari keluarga. Harlan puas dulu bisa mengendapkan uang tanpa sepengetahuan perusahaan, juga istri polosnya. Hasil kerja keras Rahma yang kreditkan barang sering ditariknya diam-diam, untuk memenuhi jajan dua adik dan menyenangkan mamanya. Alasan tidak ada uang, gaji dipotong ini-itu, taka da pesangon karena dipecat, sampai jual motor tanpa izin istri dengan alasan ibunya ditagih rentenir termasuk bagian siasat liciknya menyenangkan orang tercinta, termasuk Safea. Lelaki ini merasa hebat dengan kelicikan itu, membuat ia menjuluki diri sendiri bagai belut yang sulit ditangkap. Di matanya Rahma terlalu biasa, ia kira setelah menikah wanita manis semasa remaja itu bisa sedikit lebih cantik, tapi justru makin tak terawat. Harlan tak suka di otak Rahma hanya anak, dan anak, tanpa menjaga tatapan suami ingin mendamba sesuatu yang wow dari dirinya. Tau rasa sekarang kamu makin gembel, Terasi! Rutuk benaknya tertuju pada bayang wajah Rahma yang kusam.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
yujjje
30/11
0memuaskan 😍
20/10
0bagusss
15/06/2025
0Ver Todos