Suara sebuah mobil terdengar memasuki garasi rumah. Sinta langsung menghampiri suaminya dan langsung mengadu kejadian tadi sore. Airin yang mengitip melalui pintu kamarnya merasa ketakutan. “Pa. Itu anak gadis kamu. Gangguin si Pasha terus. Main-main hapus aplikasi di handphone Pasha dan membantingnya sampai retak gini layarnya.” ucap Sinta sambil memperlihatkan layar handphone warna merah yang retak bagian layarnya. Tanpa ba bi bu. Ayah Airin langsung menghampiri anak gadisnya dan menampar, memukul, serta menjambak rambut Airin. Airin terpental dan merasa nyeri di bagian kepalanya karena jambakan papanya yang belum juga dilepasnya. Tega sekali Aryo, papa Airin dan Pasha. Tanpa tahu kebenarannya sudah tersulut emosi dan tidak mau mendengar kata-kata Airin. “Bukan begitu, Pah. Pasha yang salah. Pasha gak mau dinasehati. Dia main game terus.” jelas Airin. Belum selesai Airin menjelaskan lebih lanjut, Aryo lebih dulu berbicara, “Kamu itu selalu saja bertengkar dengan adikmu itu. Kamu itu sudah besar maunya cari masalah terus. Dasar anak tidak berguna. Kalian itu bikin papa pusing, habis pulang kerja sudah dilapori masalah seperti ini. Papa itu capek kerja buat kalian.” Aryo menarik tangannya dari rambut Airin dan mengambil sapu yang tergeletak di lantai. Dengan ringannya, Aryo mengayunkan batang sapu ke tubuh Airin terus-menerus sampai Airin kesakitan. Tega. Entah kemana mama dan adiknya pergi. Mereka tidak peduli dan sama sekali tidak menolong. Setelah puas Aryo memukul Airin, ia pergi meninggalkan anaknya sendirian dengan rasa sakit yang menjalar di tubuh. *** "Ma. Kamu itu harus mengawasi mereka. Aku gak mau kamu lapor-laporin masalah kayak gini ketika aku pulang kerja. Aku capek. Kamu jadi ibu gak becus banget." ucap Aryo marah. "Gak becus? Katamu aku gak becus? Mereka saja yang suka berantem terus. Aku juga capek pa, beresin rumah seharian. Ditambah lagi anak-anak yang suka berantem, tambah capek aku pa. Sama kayak kamu juga. Punya anak dua suka cari masalah terus. Apalagi tuh, Airin anak gadis kamu pa." jelas Sinta sama-sama marah. Dan selanjutnya hanya cekcok dan kata-kata umpatan yang menggema di rumah. *** Airin mencoba bangkit dari posisinya. Perih, linu, dan rasanya sakit sekali. Rintihan keluar dari mulut Airin karena tangannya tidak sengaja mengenai sudut tempat tidur. Kadang ia bingung, Airin ini adalah anak mama papa atau bukan. Mengapa mengapa mereka sebagai orang tua dengan tega menyiksa anaknya? Apa Airin adalah seorang anak yang dipungut dari bawah jembatan? Dengan cepat, Airin mengambil kotak obat dan menyeka bulir-bulir bening yang terus menetes di pipi mulusnya. Salep, obat merah, dan obat-obatan lainnya sudah menjadi barang wajib yang selalu menemani Airin setelah dipikul papanya, bahkan mamanya juga pernah dan sering memarahi ketika ia hanya melakukan kesalahan sepele. Kasihan sekali memang Airin. ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus juga, 👍
17d
0empat aja dulu yo
23d
0good
26/05
0Ver Todos