logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Perburuan Keempat

“Aku sebenarnya penasaran, kenapa kamu bisa sampai sini?”
-Andrew Narendra Putra (Are)-
***
“Kang Are sebentar lagi dia datang kan?”
“Iya, Teh Agnes tunggu aja!”
Are hanya mengirimkan pesan chat pada si sekretaris baru pengganti Firmus. Namun ia belum tahu siapa orangnya. Suasana kantor masih riweuh dengan segala kondisi. Dita pun sedari tadi mengganggu atasannya.
“Teh Agnes, ini gimana sih kok jadinya gini? Kepala urang pusih atuh!”
“Dita! Jangan ganggu Teh Agnes dulu ya.”
“Ih, Kang Are juga!”
Agnes mendorong tubuh Dita supaya menjauh dari ruangannya. Perempuan itu akhirnya berhasil dikeluarkan dari sana. Agnes tak bisa bekerja tanpa adanya seorang sekretaris. Jadwal dia padat merayap seperti kemacetan di jalan raya saat lebaran.
“Telepon sekali lagi, Kang!”
Are sudah sedari tadi menempelkan smartphone miliknya di telinga dia. Suara nada sambung terdengar keras. Dia lupa kalau sedang dalam mode loudspeaker.
“Maaf, benar ya ini kantor Penerbitan Aruna?”
Semua mata tertuju pada satu perempuan berambut pendek seperti laki-laki. Namun tetap berponi dengan belahan tengah. Dia memakai blazer warna hitam dengan kemeja putih, serta celana hitam panjang berbahan dasar kain biasa.
“Ini yang namanya Arin bukan?”
Perempuan itu hanya tersenyum lembut. Warna lipstiknya menarik siapapun yang melihat dia, termasuk Sugi dan Dewa. Bahkan Are membuka mulutnya lebar, hingga Agnes harus bantu menutupnya. Khawatir jika ada lalat masuk. Tampilan Arin memang sangat menyegarkan mata laki-laki manapun.
“Iya, saya Arin.”
“Oh, ya silahkan masuk dulu ke ruangan saya. Perkenalkan, saya Agnes CEO disini.”
“Kok kamu bisa ada disini, Rin?”
“Lho, jadi Kang Are sama Arin ini udah kenal lama ya?”
“Iya, dia ini eeh....”
Nyaris saja Are membocorkan rahasia tentang dirinya. Dia segera menutup mulutnya dan pergi. Dita yang tak sengaja melihatnya jadi heran. Editor cantik ini jadi heboh saat mengetahui siapa yang baru saja datang.
“Iih, Mbak Arin ya! Kenapa nggak kasih kabar atuh?”
“Nah, ini lagi! Kamu kenal sama dia, Dita?”
“Iya, Teh Agnes. Dia ini masih sepupu aku!”
Arin tetap melemparkan senyuman terindah miliknya. Namun dalam hati dia kesal. Bagaimana bisa dia bertemu dengan dua orang yang sangat dikenalinya di Kota Bandung ini? Tangan Dita hendak meraih dirinya. Gerakan Arin yang cepat berhasil menghindarinya.
“Ih, gitu ya Mbak Arin! Yaudah Dita kerja lagi kalau gitu.”
Agnes hanya tersenyum pada Arin. Artinya ini bukan orang yang benar-benar asing. Sebab dua orang pegawainya mengenali sekretaris baru ini.
“Saya jelaskan dulu apa saja yang harus kamu kerjakan. Silahkan hari ini berkenalan juga dengan yang lainnya ya.”
“Baik, saya panggil kakak atau ibu?”
Tentu saja CEO cantik ini tertawa. Dia masih belum pantas dipanggil “ibu”. Sekalipun di usianya yang sekarang, sudah wajar baginya untuk mendapatkan panggilan itu. Dia minta untuk dipanggil “Teh Agnes” sama seperti yang lain memanggil dirinya. Agnes pun membawa Arin ke dalam ruangannya.
“Baiklah, pekerjaanmu tidak sulit! Hanya mengatur setiap surat yang masuk kemari. Termasuk email yang masuk ke penerbitan untuk kamu forward sesuai ke bagiannya. Sepupumu itu editor disini. Kalau ada email naskah masuk, langsung forward ke dia.”
“Iya, Teh Agnes!”
“Lalu pastikan tidak ada jadwal untuk saya yang terlewat ya!”
Arin membalas dengan anggukan saja kali ini. Sebelum memulai pekerjaannya, perempuan cantik itu menyodorkan perjanjian kerja. Arin membacanya dengan seksama. Dia cukup keberatan, karena harus bekerja setidaknya tiga bulan disini. Sesudahnya Sang CEO sendiri yang memutuskan apakah dia dilanjutkan atau dikeluarkan.
“Setelah tiga bulan saya tidak harus disini kan?”
Alis Agnes naik sebelah. Dia cukup aneh mendengar ini dari seorang pegawai baru. Maksud dia adalah supaya tidak lagi mudah keluar seperti kejadian Firmus waktu itu.
“Ya, biasanya orang sangat ingin bekerja! Kenapa kamu....”
“Ah, tidak apa! Saya hanya bertanya saja.”
“Tapi kalau ada sesuatu hal lalu kamu mau keluar ya tidak masalah.”
Agnes sudah mengambil persiapan, jika Arin ternyata keluar tepat setelah tiga bulan bekerja. Setidaknya semua berkas beres dulu. Sempat kacau setelah ditinggal oleh Firmus. Jelas Are tak mampu untuk bekerja di dua bidang sekaligus. Sepertinya pekerjaan sekretaris ini ringan, tapi membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
“Pastikan kamu tidak dalam kondisi sakit ya, Arin. Karena pekerjaanmu selain yang sudah disebutkan juga harus ikut kemanapun saya pergi.”
“Iya, saya mengerti.”
Senyuman diberikan oleh Agnes pada cewek satu ini. Sekedar untuk menghilangkan ketegangan diantara keduanya. Dia lantas meminta Arin untuk keluar dulu, sambil berkenalan dengan yang lain. Baru saja menutup pintu ruang CEO, Sugi dan Dewa sudah berebut minta kenalan.
“Teteh cantik siapa namanya?”
“Panggil aku Arin aja. Kalau kakak ini siapa?”
“Aku Dewa eeh...!"
“Bruuuk!”
Tubuh Dewa digeser begitu saja oleh Sugi hingga dia terpental jauh. Kini gantian Sugi yang mengajak Arin berkenalan. Andai tidak dalam masa penyamaran, bisa jadi mereka berdua sudah babak belur.
“Arin ya! Namaku Sugi, salam kenal ya!”
“Iih, Kang Dewa sama Kang Sugi aya naon?”
Mendengar suara Dita, keduanya bergegas kembali ke meja mereka masing-masing. Dewa sedikit bersiul untuk menutupi apa yang terjadi. Dita tak perlu menunggu waktu lama untuk menarik tangan sepupunya itu.
“Mbak Arin sih pake dandan begini. Baru masuk kerja juga! Apa kabarnya Pakdhe Narto?”
“Ayah baik kok, Dit. Eh, lain kali jangan panggil mbak lagi ya!”
“Terus apa dong, mbak?”
Kepala Arin mulai mendidih. Baru juga beberapa detik dibilang sudah diulang kembali panggilan “mbak” untuknya.
“Mbak mbek mbak mbek! Panggil aja Kak Arin ya.”
“I-iya deh mbak...eh! Kak Arin maksudku hihihi...!”
Dita hanya nyengir kuda sambil meninggalkan Arin. Sementara sepupunya itu sudah menunjukkan kepalan tangan padanya. Tentu saja Dita takut! Bagaimanapun juga di keluarga besarnya, status Arin lebih tua darinya.
“Aku sebenarnya penasaran, kenapa kamu bisa sampai sini?”
Arin hanya mampu mematung. Dia tahu suara khas ini milik siapa. Cewek itu menoleh ke belakang sambil tersenyum sinis pada orang yang berbicara padanya tadi.
“Memangnya masalah buatmu ya?”
Tentu saja orang itu tak mengira tanggapan Arin akan seperti ini. Sekejap dia sadar, siapa yang tengah dihadapinya. Kini Arin berhadapan dengannya sambil melipat kedua tangannya diatas dada.
“Senang bisa bertemu lagi denganmu, Andrew Narendra Putra!”

Comentário do Livro (150)

  • avatar
    GalangDika

    bagus

    10/02/2025

      0
  • avatar
    AmarsyahArya Noor

    cerita menarik

    03/01/2025

      0
  • avatar
    NasirHasbi

    bagus

    18/12/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes