Selesai berkeliling ria dari Taman Wisata Mangrove, aku dan July akan pergi ke Taman Suropati di kawasan Menteng. "Kita ma"Soalnya kamu hanya memerhatikan Aluna." Aku terdiam untuk beberapa saat. "Apa kamu mengenal Aluna?" tanyaku. Wanita itu mengangguk kemudian menyunggingkan senyuman masam. "Saya dan Aluna adalah teman dekat. Itu dulu sekali, ketika kami masih SMA. Hanya saja, setelah kuliah ... dia jadi melupakan saya," jelasnya. Aluna? Mana mungkin dia meninggalkan teman dekatnya. Apa wanita ini hanya ingin menjelek-jelekkan Aluna di hadapanku saja? "Jangan salah paham dulu!" ucapnya kemudian. Kedua alisku saling bertautan dibuatnya. "Maksud saya, Aluna sangat sibuk dengan segala kegiatan yang dia ikuti di kampus. Saya juga tahu, kalau dia tidak punya banyak waktu untuk menemui kamu," paparnya membuat pikiran burukku seketika hirap. "Ya. Aluna memang tidak bisa memilih diam, ketika ada pilihan untuk mengerjakan sesuatu," sahutku seraya membuang pandangan. Bahkan ketika sudah berada di rumah sakit. Dia selalu saja menolak untuk tetap beristirahat. Dia selalu membujuk diri ini untuk sekadar pergi jalan-jalan ke taman rumah sakit. "Sekarang saya turut berduka cita," ucapnya terdengar tulus. "Terima kasih." "Mas Liam!" tegur Sadam setengah berteriak. "Kalau begitu saya harus pamit," pungkasku kemudian berlalu menghampiri Sadam. "Mas Liam kok malah ngobrol sama Bu Friska?" tanya Sadam ketika kami berjalan beriringan. "Dia gurumu?" "Iya, guru Bahasa Indonesia. Memangnya Mas Liam tadi ngobrol apa sama Bu Friska?" "Dia temannya Aluna waktu SMA," sahutku seadanya. Mendengar itu, Sadam terdiam. Tak ada sepatah kata pun lagi yang melolos dari bibirnya. Mungkin dia takut jika pembicaraan kami menyinggung tentang Aluna. "Ini ruang BK-nya," tunjuk Sadam yang seketika beralih ke belakangku. "Sana masuk duluan!" titahku malah membuat anak itu semakin bersembunyi. "Guru BK-nya galak," bisiknya. "Bukan galak, mungkin tegas!" kataku membenarkan ucapannya. "Mas Liam duluan aja!" Kini Sadam malah mendorong-dorong pinggangku maju. "Permisi," ucapku seraya mengetuk pintu yang sudah terbuka. Kulihat seorang wanita bertubuh sedikit gempal tengah duduk di meja kerjanya. Mungkin itu guru BK-nya Sadam. "Masuk!" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan miliknya. Aku berjalan terlebih dahulu kemudian diikuti Sadam yang terus saja menggenggam ujung belakang kemejaku. "Ada apa? Kena razia?!" tuduhnya kemudian menaikkan pandang. Raut wajahnya seketika terkejut kemudian tersenyum lebar. "M-maaf, saya kira anak-anak. Silakan duduk!" ujarnya. Lantas aku duduk di sofa panjang yang tersedia. "Ada keperluan apa?" tanyanya terdengar ramah. Sadam bilang tadi gurunya galak, tetapi kurasa tidak. Buktinya saja dia tersenyum ramah. "Saya orang tuanya Sadam," jelasku. Tampak bola matanya seketika terbelalak kaget. "Mas-nya umur berapa waktu nikah?" "Ah, maksud saya, saya datang kemari sebagai walinya Sadam. Kebetulan ayah dan ibunya sedang ada keperluan. Saya kakaknya ... Liam," jelasku membuatnya terdengar mengembuskan napas lega. "Saya kira beneran papanya Sadam," kekehnya. "Tapi sudah menikah?" imbuhnya. "Belum." "Sama, saya juga." Aku hanya menyunggingkan senyuman kecil menanggapi candaannya tersebut. Namun, kulihat Sadam tampak menahan tawa mati-matian. Entah hal apa yang dia pikir lucu "Permisi!" ucap seseorang di ambang pintu. Lantas kami menoleh ke sumber suara, menemukan seorang pria bersama seorang anak berseragam SMA. Aku tebak itu pasti Riki bersama papanya. Pria tersebut berpenampilan rapi, layaknya seorang pekerja kantoran. Namun, melihat jam tangan yang dikenakannya ... sepertinya dia pemilik perusahaan, bukan hanya karyawan biasa. "Silakan masuk," sambut guru BK tersebut. "Duduk, Pak!" Papanya Riki hanya mengangguk kemudian duduk di sofa yang satunya bersama sang putra. Guru BK tersebut turut duduk di sofa satu. "Jadi begini Bapak-Bapak, Sadam dan Riki kemarin terlibat pertengkaran. Riki bilang, Sadam yang pukul dia duluan. Sadam bilang, dia memukul Riki karena Riki telah mengejek Sadam," jelasnya. "Kami di sini harus menindak tegas atas kesalahan yang siswa dan siswi perbuat. Walaupun Sadam melakukan satu kali kesalahan, saya tetap akan memberikan sanksi." "Apa perbuatan Sadam memang tidak bisa ditoleransi, Bu?" tanyaku. "Tidak ada kesempatan kedua untuk sebuah kesalahan, bukan?" Aku terdiam. Dia benar. "Maka dari itu, Sadam harus menjalani skors selama tiga hari ke depan, dimulai hari ini." Penjelasan itu tentu saja membuatku terkejut sekaligus bingung. Bagaimana Sadam menghadapi papa nantinya? Dia pasti akan curiga jika anak itu berada di rumah selama tiga hari. "Mungkin untuk Sadam hanya seperti itu saja, sebagai teguran dan untuk menjadi perenungan diri," pungkas ibu guru. Kulirik papanya Riki yang terlihat memasang wajah datar sedari tadi. Apa dia tidak berniat untuk mengatakan apa pun? "Sedangkan untuk Riki ...." Wanita itu menggantung ucapannya. Kemudian terdengar embusan napas panjang. "Kamu sudah tiga kali masuk BK, kenapa masih mengulanginya lagi?" desahnya. Anak bernama Riki itu terdiam menunduk. Apa dia merasa menyesali perbuatannya? "Hukuman untukmu—" "Tidak perlu, Bu!" potong papanya Riki. Aku dan guru BK lantas memerhatikan wajahnya. Apa dia mau marah terhadap keputusan tersebut? "Saya akan mencabut Riki dari sekolah ini. Saya akan memasukkannya ke akademi militer!" jelas papanya Riki membuat kami seketika membelalak tidak percaya. "Riki gak mau, Pa!" protes sang putra yang tak diindahkannya. Kudengar dia mengembuskan napas berat nan panjang, kemudian menatapku dan Sadam. "Saya minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Riki terhadap Sadam. Bullying adalah perilaku yang sangat tidak terpuji. Saya tidak akan membenarkan hal tersebut ... hanya karena putra saya yang melakukannya." Aku dan Sadam masih sama-sama terdiam. Bingung harus menanggapi bagaimana. "Saya juga meminta maaf atas apa yang sudah adik saya lakukan terhadap putra Bapak. Sebuah kesalahan tidak harus dibalas dengan kesalahan juga," ucapku setelah beberapa saat terdiam. "Sadam juga sudah bersalah, dan saya tidak akan bisa membenarkan tingkah lakunya tersebut," imbuhku. Pria tersebut menyunggingkan senyuman tipis kemudian beralih menatap guru BK. "Saya akan mengurus semua berkasnya hari ini juga. Permisi," pungkasnya kemudian melenggang pergi. "Pa!" seru Riki yang tak diindahkannya. Lantas anak itu berlari mengejar sang papa. "Riki memang sering bertindak seenaknya kepada siswa siswi yang lain. Namun, kesrmpatan demi kesempatan yang kami beri ... tidak pernah membuatnya sadar akan kesalahan." Guru BK menjelaskan tanpa diminta. "Ibu harap, ini yang pertama dan terakhir kalinya kamu masuk BK!" ucapnya tertuju kepada Sadam. "Iya, Bu. Sadam menyesal, Sadam minta maaf," gumamnya hampir tak terdengar. "Kalau begitu, kami juga pamit. Permisi," ucapku kemudian beranjak dari duduk. "Iya, silakan," sahutnya seraya meyunggingkan senyuman. Aku berjalan keluar terlebih dahulu. "Mas! Mas Liam!" panggil Sadam tak membuatku menghentikan langkah kaki. "Mas!" Kini anak itu memotong langkahku. "Apa lagi?" "Nanti gimana kalau papa curiga Sadam gak masuk sekolah selama tiga hari?" ucapnya setengah berbisik. Raut wajahnya terlihat bingung dan juga takut. "Berarti kamu harus bilang semuanya sama papa. Tuhan gak ngizinin kita buat berbohong!" "Tapi kita 'kan gak bohong sama papa. Kita cuma gak kasih tau aja," kilahnya. "Mungkin Tuhan gak mau kita menyembunyikan kesalahan," pungkasku kemudian melanjutkan jalan.mpir dulu di Rumah Makan Padang," ajakku ketika melihat ada Rumah Makan Padang di depan sana. July hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedari pergi tadi pagi, aku memang belum makan apa-apa. Sepertinya dia pun begitu. Aku bukan bos galak yang akan membiarkan anak orang pingsan kelaparan. Akhirnya mobil ini menepi ke area parkir nasi Padang. Kami pun turun dan segera menduduki bangku yang masih kosong. Ternyata Rumah Makan Padang Uda Zafar ini cukup ramai juga. "Mau pesan apa, Mas dan Mbak-nya?" tanya seorang pelayan. "Saya paket komplit, pake rendang," kataku. Aku beralih pandang terhadap July. "Pesen aja apa yang kamu mau. Saya yang bayarin, kok." "Saya juga samain aja sama Mas Liam aja," katanya kemudian. "Minumnya?" tanya pelayan wanita itu lagi. "Es teh manis aja," sahutku. "Saya teh manis hangat," imbuh July. "Baik, ditunggu sebentar," ucap pelayan tersebut sembari undur diri. "Cuaca panas gini kamu minum teh manis hangat?" tanyaku. "Saya memang jarang minum minuman dingin. Malah justru sering yang anget-anget," jelasnya. "Ada-ada aja kamu." Aku menggeleng-geleng kepala. Ponsel dalam saku bergetar, lantas aku melihat notifikasi yang masuk. Ternyata Risya. RISYA : [Mas udah OTW balik kantor, belum?] [Saya masih di jalan, mau ke Taman Suropati. Kenapa?] [Ini ada kurir, nganterin barang atas nama Mas Liam.] "Kurir?" bingungku. "Kenapa, Mas?" tanya July. "Ini kata Risya ada kurir datang ke kantor." [Mas, gimana? Mana COD, lagi!] Aku mengecek aplikasi toko online dan ternyata benar. Ah ya, aku lupa kalau dua hari yang lalu memesan bunga-bunga plastik untuk di studio. [Iya-iya. Tolong kamu bayar dulu, nanti saya ganti.] [Ini tiga ratus ribu. Uang Risya gak cukup Mas Liaaam.] [Patungan aja dulu sama yang lain. Nanti saya ganti kalau udah pulang.] [Iya, ini coba minjem dulu sama yang lain. Semoga ada.] [Harus ada, Ris!] [Mas Liam gak boleh maksa ya, kalau gak ada!-_-] [Pasti ada.] Pesanan datang, membuat atensiku teralihkan. Cacing-cacing di perut seketika mendemo untuk segera diberi makan. Langsung saja aku menyimpan kembali ponsel ke dalam saku, kemudian menyantap hidangan yang sudah tersaji. Makanan enak tidak boleh dibiarkan menunggu terlalu lama untuk disantap. Selesai makan, aku dan July segera melanjutkan perjalanan menuju Taman Suropati. "Selesai dari sini, kita mau pergi ke mana lagi, Mas?" tanya July. "Kayaknya dua tempat aja udah cukup." "Mas, saya boleh duduk di sana dulu sebentar, gak?" tanya July seraya menunjuk ke arah bangku taman yang tak jauh dari kami. "Duduk aja, saya tanggung ambil foto sebelah sini. Nanti saya juga nyusul deh ke sana," sahutku. "Iya, Mas." July melenggang pergi menuju bangku taman. Kasihan juga dia. Di hari pertama masuk kerja, sudah harus bepergian jauh. Jalan kaki sepanjang hari. Aku kembali mengarahkan kamera ke sekitar. Berusaha mencari objek foto yang bagus. Namun, lensa kamera ini justru menangkap objek yang membuat jantungku seketika berhenti dibuatnya. Ketika di-zoom, sosoknya semakin terlihat nyata. "Aluna?" gumamku seraya menurunkan kamera. "Aluna," gumamku lagi seraya berjalan menghampiri sosok yang begitu aku rindukan. Apa dia kembali untukku? Langkah kaki ini semakin cepat dan cepat. Aku merasa begitu semangat untuk menemui kekasihku. Kali ini, aku tidak boleh membuat ia terlepas untuk kedua kalinya. Langkahku terhenti di seberang jalan. Kuperhatikan dirinya yang tengah celingukan seolah-olah tengah mencari sesuatu. Aluna ... apa kamu sedang mencari diriku? Dia masih terlihat sama, dengan kali terakhir kami bertemu. Cantik. Bahkan terlihat sangat cantik dengan dress putih selutut dan rambut yang tergerai. Anak rambutnya yang terjuntai kian beterbangan tertiup angin. Kendaraan yang cukup ramai berlalu-lalang, tak membuat diri ini beralih pandang terhadapnya. "Al—" "Rin!" seru seorang pria yang kini berjalan ke arahnya. "Dari mana aja? Aku nungguin kamu udah lama banget, loh! Kita udah telat," gerutunya. "Maaf Rinjani .... Tadi motorku mogok, makanya sekarang jalan kaki," sahut pria yang bersamanya kini. Seketika aku benar-benar merasa tertampar oleh kenyataan. Dia bukan Aluna-ku. Wanita itu bernama Rinjani. Ingatanku kembali melayang, pada hari di mana diri ini pulang dari peristirahatan terakhir kekasihku. Sosok wanita yang serupa dengan Aluna. Mungkin dia wanota yang sama dengan yang tempo hari. Entah saat itu atau pun saat ini ... aku masih sama-sama terpaku melihat sosoknya. Namun, lagi dan lagi semua mimpi harus dipatahkan oleh sebuah kenyataan. Dada ini terasa sesak. Kenapa aku harus kembali dipertemukan dengan wanita itu? "Dasar bodoh!" Aku merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa aku tertipu untuk kedua kalinya. Senyum bahagia yang sedari tadi menghiasi wajah ini, seketika pudar menjadi senyuman getir. Menyedihkan sekali. "Aluna, lihatlah. Aku menjadi sosok yang menyedihkan tanpamu," gumamku seraya menatap ke arah langit. "July?" Seketika aku teringat dengan anak itu. Mungkinkah dia tengah mencari keberadaanku saat ini? Ah, karena wanita bernama Rinjani tersebut, aku jadi melupakan July yang sedang bersamaku. Dengan sangat berat kaki ini melangkah kembali ke tempat di mana July berada. Ketika aku sampai di sana, dia malah menghilang. Aku mengedarkan pandangan, kemudian menemukan sosoknya tengah membeli es krim dari pedagang keliling. Kaki ini kembali berayun menuju tempat di mana ia berada. "July!" seruku membuat sang pemilik nama lantas menoleh. Ia tersenyum mengembang. "Alhamdulillah!" serunya. Kedua alisku saling bertautan. Kenapa dia mengucap syukur? "Saya terharu, Mas Liam ternyata sekarang sudah ingat sama nama saya," ucapnya terdengar senang. Kukira dia mengucap syukur karena berhasil menemukanku, ternyata hanya karena hal itu? "Tadi saya cari Mas Liam. Tiba-tiba hilang dari pandangan," ucapnya kemudian. "Iya. Saya lupa tadi ngajak kamu, saking keasyikan ambil foto," kilahku. "Hm ... Mas Liam mau es krim?" "Saya gak suka makan es krim." "Makan es krim itu bagus loh, Mas. Bisa meningkatkan mood seharian," jelasnya. "Saya gak percaya sama yang begituan. Mood itu tergantung dari diri kitanya, bukan karena makan es krim!" sanggahku. "Mas Liam gak percaya? Makanya cobain dulu." "Nggak, makasih." "Ya udah deh." July beralih kepada pedagang es krim tersebut. "Ini berapa, Bang?" tanyanya. "Sepuluh ribu. Gak jadi beli lagi, Neng?" "Hehehe, nggak Bang. Bos saya gak suka es krim," cengirnya. Setelah July membayar, pedangang es krim tersebut pun pergi untuk kembali menjajakan dagangannya. "Kamu suka es krim?" tanyaku. "Suka banget, Mas." "Es krim itu makanan buat anak kecil padahal." "Ya gak apa-apa. Terkadang menjadi orang dewasa itu membosankan, jenuh!" sahutnya seraya terus menyantap es krim. Aku tersenyum tipis. "Yaaa." Seperti Aluna, yang tidak pernah absen sehari pun dari es krim. Dia juga selalu mengatakan hal yang sama seperti July. Bahwasanya es krim bisa meningkatkan hormon endorfin dan membuat mood seharian. Aluna ... mengapa kamu selalu menjadi bayang-bayang dari semua hal yang aku temukan? Sekalipun itu hal kecil.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭
28/05
0bagussss banget
26/03
0bagus
11/03
0Ver Todos