logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Pertarungan Ayah Dan Anak

Jam dinding menunjukan pukul 21.00. di malam itu Henry berdiri di balkon sedang merokok dan memegang gelas yang berisi whiskey.
Sambil memandang bintang yang berkedip-kedip, wajah tampan, hidung mancung, serta badannya yang berotot dan tinggi, seakan tidak memiliki kecacatan sedikitpun pada pria itu. wajah tampannya selalu saja terlihat sangat serius dan tanpa senyuman walau dalam situasi apa pun. sehingga membuat banyak orang selalu saja berhati-hati di saat berbicara dengannya. di usianya yang baru 32 tahun telah berhasil menjadi pebisnis sukses yang menembus ke asia dan di bagian eropa.
Sesaat kemudian seorang wanita cantik yang mengenakan dress seksi melangkah masuk ke ruangan pribadi Henry, wanita itu yang tidak lain adalah istri ke empat, Laneza. dan yang paling cantik di antara semua istri pria itu.
"Henry, sudah malam. kenapa masih belum tidur?" tanya Laneza yang memeluk suaminya dari belakang.
"Apa kau sudah lupa dengan peraturan?" tanya Henry yang melepaskan pelukan wanita itu.
"Aku adalah istrimu, kau sudah seminggu tidak pulang dan aku hanya ingin menemani mu saja," jawab Laneza yang ingin mencium suaminya akan tetapi di dorong oleh pria dingin itu.
"Pintu di sana!" ucap Henry dengan berniat mengusir istrinya.
"Henry, apa kau ingin menikah lagi? kalau hanya demi pewaris aku juga bisa melahirkan untukmu."
"Kau tidak layak," ketus Henry dengan singkat.
"Aku juga adalah istrimu, kenapa tidak layak? apakah gadis pilihanmu itu layak?"
Henry mendekati istrinya dan mencubit dagunya dengan kasar.
"Kau harus tahu satu hal, kalian semua hanyalah di pilih menjadi istriku untuk menyenangkan mamaku saja, sementara gadis pilihan ku untuk menyenangkan ku," kata Henry dengan tegas.
"Henry, aku mencintaimu. kenapa kau begitu tega padaku? kita telah menikah selama tiga bulan, tapi kau tidak pernah menyentuhku," ujar Laneza dengan penuh rasa kecewa.
Henry menyentuh wajah istrinya dan berkata," karena aku menikah denganmu demi permintaan mamaku, dan bukan keinginan ku sendiri."
"Apa kau tidak akan memberiku kesempatan?" tanya Laneza dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk selamanya kau hanya akan menjadi istriku di atas kertas, dan ingat kataku malam ini. jangan pernah menginjak kakimu di ruangan ini lagi jika tidak mau kehilangan dua kakimu," kata Henry dengan mengancam.
Laneza hanya bisa menerima kekecewaan dan keluar saat mendengar ucapan suaminya itu. bukan hanya Laneza saja, bahkan tiga istri lainnya juga tidak pernah mendapatkan layanan istimewa dari suami mereka. selalu dingin seperti es, selalu keras bagaikan batu.
Nada dering berbunyi di handphone milik Henry.
Henry mengeluarkan handphone miliknya dan menjawab panggilan tersebut.
"Hm...."
"Tuan, alamat gadis itu sudah dapat," kata Mike yang di seberang sana.
"Siapa dia?"
"Ayahnya bernama Eric dan ibunya Audrey. ayahnya bekerja di gudang sebagai pengawas, dan Jennifer Collins sebagai karyawan di gudang tempat ayahnya bekerja."
"Aku sudah tahu," jawab Henry yang kemudian memutuskan panggilannya.
"Jennifer Collins?" ucap Henry yang lalu menghabiskan minumannya.
Keesokan harinya.
Tempat Eric bekerja.
Eric selama ini bekerja sebagai pengawas di sebuah gudang besar, sementara Jennifer bekerja di bawah pengawasan ayahnya itu.
Jennifer yang memiliki tenaga yang kuat bekerja sebagai pengangkat barang, setiap masuk barang ia akan membantu menyusun ke gudang bersama para karyawan pria lainnya. semua pekerja di sana sudah sangat mengenal sikap dan tingkah gadis itu. selama tiga tahun Jennifer sudah bekerja di sana.
Saat ada pemasukan barang dari truk datang beberapa preman yang sengaja ingin menimbulkan keonaran.
"Hei, cepat bayar uang keamanan di sini!" bentak salah satu preman itu.
"Apa kau tidak salah tempat? ini adalah kawasan kami, kalian tidak berhak meminta uang keamanan di sini," ketus Eric yang berdiri di hadapan mereka.
"Kalau tidak ingin membayar jangan salahkan kami tidak memberi peringatan padamu," gertak preman itu dengan nada tinggi
"Ingin uang? terima pukulan anjing dari ku, hiaaaaaak," teriak Jennifer yang melayangkan pukulan ke wajah pria itu.
Buk....
"Aarrghhhh...," jeritan preman itu yang mengeluarkan banyak darah di mulutnya.
"Hei, aku tidak menyuruhmu bertindak, kenapa kau memukulnya?" tanya Eric pada putrinya itu.
"Papa, dia meninggikan suara di depanmu. aku hanya memberi pelajaran saja."
"Serang mereka!" perintah salah satu preman itu.
Lima preman berbadan besar mengunakan kayu sebagai senjata mereka untuk berlawan Eric dan Jennifer.
Di siang hari itu terjadilah perkelahian di antara Eric, Jennifer dan para preman itu.
Semua karyawan di gudang sudah sangat paham dengan pengawas mereka, bisa di katakan Eric dan Jennifer sangat kompak walau terkadang sering bertengkar.
Di saat terjadi perkelahian Henry Lauder sedang melihat dari seberang sana, ia berada di dalam mobilnya bersama dengan asistennya, Mike.
"Pukulan maut," teriak Jennifer yang sedang melayangkan pukulan mengenai bagian perut lawannya. dan kemudian Jennifer langsung membanting preman yang berbadan besar dengan satu tangannya.
Bruk...
"Wah...bagus sekali,"teriak para pekerja yang sedang melihat Jennifer menghajar preman si pembuat onar.
"Jurus tendangan tanpa bayang," ucap Jennifer dan Eric sambil menendang tubuh lawan masing-masing.
Buk...
"Aaarrghhh..."
Buk...
"Aaarrgghh..."
"Jurus tamparan monyet," seru Jennifer dan Eric sambil menampar lawan mereka.
Plak...plak...plak...plak...plak...
Tamparan yang di lakukan oleh Jennifer dan Eric dengan serentak menghajar lawan mereka masing-masing.
"Aaarghh....," jeritan mereka berdua yang di hajar oleh Jennifer dan Eric.
Jennifer dan Eric menampar lawan mereka selama beberapa menit sehingganya membengkak dan mengeluarkan darah di mulutnya.
Sesaat kemudian mereka menghentikan aksi mereka, preman yang menerima tamparan wajah mereka merah dan bengkak di ke dua belah pipi.
"Pa, tidak seru begitu cepat mereka kalah."
"Papa sudah tua dan sudah lelah pada hal baru menghajar beberapa orang saja," kata Eric sambil lap keringatnya.
"Eric, walau usia mu sudah tua tapi kau masih jago dalam bertarung. kau mengajar Jennifer dengan baik sehingga mampu membantu menghajar preman," ucap salah satu pekerja.
"Iya, gadis ini tidak memiliki kelebihan selain bisa bertarung," jawab Eric dengan tertawa.
"Papa mengejekku ya?" tanya Jennifer dengan kesal.
"Tidak...tidak...papa hanya kewalahan karena sudah tua, tidak bisa lagi seperti muda dulu," ujar Eric.
"Papa kewalahan bukan karena tua, tapi papa kurang tidur."
"Kenapa kurang tidur?" tanya pekerja dengan penasaran
"Setiap malam papa hingga larut malam juga belum tidur," jawab Jennifer.
"Kenapa bisa begini? apa butuh obat tidur?" tanya pekerja itu lagi.
"Tidak perlu paman, papaku tidak bisa tidur karena sering bermain membuka kaki mama dan masuk ke dalam terus," jawab Jennifer dengan terus terang
"Jangan mendengar katanya, dia hanya anak kecil saja," kata Eric yang membekap mulut anaknya.
Para pekerja hanya menahan tawa di saat mendengar perkataan dari gadis itu.
"Papa, aku bukan anak kecil lagi. lagi pula aku mendengarnya dengan jelas papa mengatakan sangat nikmat dan rasa perawan. kalian bermain uurggghhhh....aarrrgghhhh...uurggghhhh....aarrrgghhhh... setiap malam hingga aku tidak bisa tidur," ucap Jennifer yang melepaskan tangan Eric dan bicara tanpa berhenti.

Comentário do Livro (424)

  • avatar
    PratamaIrza

    CERITA NYA SEEU DAN BAGUS

    1d

      0
  • avatar
    Kaisar

    senang sekali

    16/06

      0
  • avatar
    Itsmetata

    bagusss

    23/03

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes