Hari ini Syahla sudah diperbolehkan pulang, saat aku akan mengurus administrasi nya, ternyata sudah di bayarkan oleh orang yak tak ingin disebutkan identitasnya. Tapi entah kenapa, aku sangat yakin orang itu adalah Fahri. Sesampainya di rumah kontrakan, aku langsung bersiap-siap memasukan pakaianku dan perlengkapan Syahla. Ibu sudah tahu tujuanku, meski awalnya ibu tak mengizinkan dan tak setuju dengan niatku, namun ibu begitu mengerti tentang keresahan anaknya. Sebelum meninggalkan tempat penuh kenangan ini, aku pergi ke rumah Khadijah untuk mengembalikan sepeda motor yang ia pinjamkan untuk keperluanku sehari-hari. Sekalian aku akan berpamitan padanya, juga memberikan do'a restu agar pernikahannya di lancarkan. Namun, sesampainya di rumah Khadijah, rumah itu terlihat begitu sepi, hanya ada asisten rumah tangganya saja, aku menitipkan sepeda motor beserta kuncinya, dengan berat hati melangkah tanpa perpisahan dengannya. Tadinya, aku akan pergi hanya bersama Syahla, namun ternyata ibu tak rela berpisah dengan kami, hingga akhirnya aku dan ibu memutuskan untuk bersama-sama membuka lembaran baru di salah satu kota daerah Banten. Ada sahabat baik ibu yang tinggal di sana. Padahal aku ingin pindah ke kampung halaman ibu di Sumatra barat, namun kami tak memiliki cukup bekal untuk pulang kampung. Seumur hidupku, tak pernah dibawa mudik oleh ibu, setelah kematian ayah, ibu tak pernah pulang kampung, sudah dua puluh dua tahun lamanya ibu memendam rindu pada tempat kelahirannya, namun tak kunjung pulang karena terhalang keadaan. Beginilah nasib pilu seorang perantau. Semoga di tempat baru, aku dan ibu tak lagi di kucilkan. Karena di sana tak ada yang tahu aibku, semoga saja Allah menutupi semuanya. Semoga di tempat baru hidupku semakin tenang, semoga di sana aku bisa melupakan laki-laki itu, doa dan harapan selalu ku lantunkan pada sang pemilik semesta. Selamat tinggal Fahri dan hidup yang kelabu. Fahri, ya. Tak seharusnya cintaku berlabuh pada dirimu, harusnya kau tak berhak mendapatkan cinta suciku, meski para gadis di luar sana berlomba-lomba mencari perhatian lantaran terpesona pada dirimu. Mereka terpikat oleh pesonamu karena belum tahu tentang aibmu, aku yakin kelak akan tiba saatnya kamu yang merasakan sakitnya di rendahkan. Andai waktu itu kamu tak menodaiku, jika waktu itu kamu memiliki sedikit saja belas kasihan padaku, mungkin aku sudah menjadi sarjana dan bisa meraih cita-cita ku, mengangkat derajat ibuku dan mengangkat harga diriku di mata masyarakat. Karena nafsu bej*dmu, semua angan-anganku hancur seketika, saat itu aku tak berani bahkan hanya untuk sekedar berkhayal pun. Tapi berandai-andai hanya membuat hidupku semakin terpuruk dan terbelenggu masa lalu, berandai-andai hanya akan menjadi celah untuk setan semakin menggoyahkan imanku. Semua sudah terjadi dan takan pernah bisa kembali. Takdir telah bekerja dan tugas manusia hanyalah menerima dengan lapang dada agar kewarasan tetap terjaga. Dan kini, terlalu bodoh jika hanya dengan sedikit saja perhatianmu lalu ku jatuhkan hati padamu, padahal perhatian itu tak sebanding dengan perjuangan hidupku pasca kejadian itu. Saat ini, aku akan membuka lembaran baru, kembali menata hidupku, mencoba menghapus namamu. Menguatkan langkahku yang pernah terseok, aku akan mengobati luka dengan caraku. Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan, harapan dan semangat baru. Kulihat pepohonan dari dalam bus yang ku tumpangi, seolah pohon itu melambaikan tangannya padaku, mereka tersenyum dan memantapkan langkahku. Inilah kali pertamaku meninggalkan Bogor, tempat kelahiranku. Sesampainya di kota Serang, kami di sambut hangat oleh sahabat ibu yang begitu baik, beliau seorang ustazah di salah satu pondok pesantren di kota ini. Melihat keakraban ibu dengan sahabat lamanya, mengingatkanku pada kebaikan Khadijah. Ah Khadijah, bagaimana keadaanmu? Semoga kau baik-baik saja dan rencana pernikahanmu berjalan Lancar. Ustazah Masyitah mengizinkan aku dan ibu untuk menempati salah satu rumahnya, biasanya rumah itu di kontrakan namun beliau membebaskannya untuk kami, semoga kebaikan senantiasa tercurah pada ustadzah Masyitah. Begitu do'a yang selalu kurapalkan dalam hati saat menerima kebaikan sahabat ibu. Sudah satu bulan lamanya aku, ibu dan Syahla tinggal di sini, tetangga di sini begitu baik dan ramah. Kini, aku kembali mengenakan hijab dan gamis lagi, aku ingin hijrah. Aku ingin kembali pada jalan yang Allah ridhoi. Tak akan menang saat seorang mahluk yang lemah melawan sang khalik dengan hati yang membangkang. Hanya resah, gelisah, dan kesusahan yang di dapat saat ingkar pada setiap perintah-Nya. Bismillah, semoga Allah ridhoi langkahku dan memberi kemudahan pada setiap urusanku. Aku dan ibu sering ikut taklim bersama ibu-ibu komplek, bahkan setiap ada informasi kajian kami sering mengikutinya, kini hidupku semakin terarah. Untuk bertahan hidup, ustazah Masyitah juga memberikan ibu modal untuk membuat warung kecil-kecilan, Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan. ***** "Astaghfirullah ...." Aku tersentak dari tidur karena mimpi buruk. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi, lebih baik aku bangun, masih keburu untuk tahajjud. Kulirik Syahla yang masih tertidur pulas di sampingku, kucium kening dan juga pipinya sebelum beranjak dari ranjang. Saat keluar kamar, ku dengar sayup-sayup suara lantunan Al-Qur'an yang begitu merdu dari kamar sebelah. Ibu, beliau tak pernah meninggalkan harinya tanpa membaca Al-Qur'an, pantas ibu menjadi orang yang begitu kuat menjalani kehidupan, benar kata ibu, Al-Qur'an adalah obat dari segala kesakitan. Hari ini, ustazah Masyitah mengajakku ke Bogor untuk menghadiri pernikahan keponakannya, karena sibuk beliau hanya bisa datang di hari H nya saja. Kebetulan sekali, aku rindu kota kelahiranku. Bakda subuh, aku, ibu dan Syahla Sudah rapi dengan baju terbaik yang kami miliki, gamis biru dengan hijab senada membuat penampilanku tampak segar dari biasanya. Tak ingin membuat ustazah Masyitah malu di pernikahan keponakannya karena mengajakku. Sedangkan Syahla kupakaikan gamis pink dengan hijab senada, membuat pipinya menyembul saking tembemnya. Sengaja aku mengajari Syahla menutup aurat sedini mungkin, agar kelak ia terbiasa menutup auratnya sebagai kewajiban wanita muslimah. Bila seorang wanita yang sudah menutup aurat sempurna saja masih bisa dilecehkan, lalu apalagi yang mengumbar dan menantang. Ini salah satu caraku membentengi anak perempuan dari kejahatan seksual. Ternyata pernikahan keponakan ustazah Masyitah dilangsungkan di sebuah pondok pesantren yang lumayan elit. Suasana terlihat ramai namun begitu khidmat, para santri berlalu lalang dengan masing-masing tugasnya membantu persiapan walimah anak pemilik pondok pesantren. Meski tinggal di Bogor, aku tak pernah ke daerah sini dan baru tahu tentang pesantren ini. Pondok pesantren Ar-rahmah, tulisan di gapura menyambut kedatangan para tamu. Ar-rahmah, seperti nama pondok yang tak asing bagiku. Tiba-tiba mataku menangkap tulisan di janur kuning yang melengkung. "Muhammad Al Fahri dan Khadijah Afifah" Deg. Detak jantungku berhenti seketika, dadaku sesak, napasku seakan tersekat di kerongkongan. Rasanya aku ingin pulang, enggan untuk masuk ke dalam, hatiku tak sekuat itu untuk menyaksikan pernikahan mereka. Seketika bayangan Fahri menari-nari di dalam kepala. "Shaina, ayo ...!" Ajakan ustazah masyitah mengembalikan jiwaku yang sempat mengembara. "I- iya ustadzah," jawabku sambil melirik ibu. Ibu yang mengerti perasaanku karena membaca nama kedua mempelai yang terpampang di janur kuning, ia hanya menganggukan kepalanya, tanda menguatkan ku. "Bismillah aku harus kuat, aku gak boleh bikin malu ustadzah masyitah di tempat ini." Padahal aku sudah pergi menjauh dari Fahri, tapi mengapa takdir seolah menarikku kembali. Ya Allah ... kuatkan aku. Bersambung.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
baguss woi😻
13/08/2025
0Alhamdulillah suka bgt
28/05/2025
0macam best , nk cuba baca
05/05/2025
0Ver Todos