Aku memperhatikan wajah Syahla yang tengah mengoceh, ku pandangi mata indahnya lalu di balas senyuman yang melengkung di bibir mungilnya. Uh, gemas sekali rasanya. Kenapa semakin besar kamu semakin mirip lelaki itu, nak? Kenapa kamu gak mirip mama aja, biar cinta mama tak terhalang oleh kebencian pada ayah kandungmu. Bercengkrama dengan bayiku ternyata menjadi obat mujarab bagi luka hati yang menganga. Selama ini, aku terlalu mengedepankan ego sehingga bayi mungil ini ku urus dengan setengah hati. "Kamu kenapa Sha?" Pertanyaan ibu mengejutkanku. Ragaku memang sedang bercengkrama dengan Syahla, tetapi jiwaku berkelana ke dunia Fahri. Ah, mengapa dia harus hadir lagi pada hidupku dan membangkitkan rasa yang mungkin inilah cinta. "Ehm ... enggak Bu, ibu dari tadi disini?" Aku balik bertanya engan menahan rasa malu. "Iya, ibu ajak kamu sarapan tapi kamu malah bengong terus," balas ibu sambil menaruh bubur ayam di atas nakas. "Masa sih bengong Bu? Enggak ah, orang lagi ngobrol sama Syahla. Iya kan nak ...," jelasku sambil mengajak Syahla bercanda, bayi itu terus tersenyum seolah menghibur mamanya agar tak sedih. "Assalamu'alaikum, Shaina ...." Suara yang tak asing di telinga membuat suapan bubur ke dalam mulutku berhenti. "Wa'alaikumsalam, Khadijah," jawabku dengan memaksakan senyum. Entah mengapa rasanya sakit sekali melihat kedatangan Khadijah, padahal niatnya baik ingin menjenguk Syahla yang sedang sakit, tapi dia pasti akan membicarakan khitbah Fahri di sela-sela menjenguk Syahla. "Ya Allah, ponakan aunty, kaciaaan ... gimana kabarnya? udah sehat belum anak cantik?" Khadijah berbicara pada Syahla dengan gemasnya. Syahla terus tersenyum saking senangnya diajak bicara. "Kamu sudah sarapan Khadijah?" tanyaku, aku kembali menyuap sendok bubur ke mulut. "Sudah kok, udah kamu makan aja dulu, kamu pasti kecapekan, makan yang banyak, istirahat yang cukup biar gak ikutan sakit." Khadijah begitu perhatian padaku, sedari Syahla masih dalam perut dia selalu memperhatikan kami, tak tega rasanya bila harus menyakiti perasaannya. "Sha ... MaaSyaaAllah, Allah emang maha mendengar setiap do'a hambanya, aku yang tadinya sudah hampir putus asa, ternyata tiba-tiba saja ustaz Fahri datang bersama kedua orangtuanya langsung mengkhitbahku." Sudah ku duga, dia pasti menceritakan Fahri. Aku harus berusaha kuat dihadapannya. "Alhamdulillah ya, selamat ... semoga di mudahkan sampai hari H nanti ya." Do'aku tulus untuk Khadijah, tapi ada yang tergores di dalam sana, meninggalkan luka yang terasa perih. "Terima kasih ya, kamu memang sahabat terbaik aku," ucapnya sambil memelukku. "InsyaAllah pernikahan kami dilangsungkan bulan depan, jadi hari ini sudah mulai menyiapkan surat undangan dan persiapan lainnya." Deg. Duniaku seakan-akan runtuh, hatiku remuk bagai dihimpit bebatuan yang begitu besar, bahkan saat Fahri tahu bahwa aku membesarkan darah dagingnya, ia tak bertanggung jawab dan pasti tidak menceritakan pada orangtuanya, dasar sok suci. Kulihat binar bahagia terpancar dari wajah Khadijah, saat bertemu denganku ia selalu membuka cadarnya, hanya memakai cadar bila di luar rumah atau di hadapan lelaki ajnabi atau lelaki asing saja. Pipinya nampak kemerahan membuat kecantikannya begitu memancar, pastilah menjadi fitnah bagi kaum Adam yang melihatnya. Terlebih Khadijah adalah seorang Hafidzah, pengemban dakwah, berasal dari keluarga terpandang, juga berpendidikan tinggi, pastilah sangat pantas bersanding dengan keluarga kyai Mustofa, seorang ulama yang di segani. "Sha, aku mau ke toilet yang di luar ya, kebelet nih, toilet di dalam sini ada orang, lama banget lagi," kata Khadijah sambil memakai cadarnya. "Ya udah sana, nanti ngompol disini lagi," godaku lalu kami tertawa bersama-sama. Aku mengambil kelas dua, satu kamar dengan tiga orang pasien, saat itu kelas tiga penuh, ibu bersikukuh agar cucunya tetap dirawat, ibu masih punya sedikit simpanan untuk biaya berobat Syahla. Malu sekali rasanya karena masih harus menyusahkan ibu. Aku hanya bisa berdo'a semoga kesehatan dan keberkahan senantiasa terlimpah padamu, Bu. Saat aku menidurkan Syahla dengan memberinya ASI, aku mendengar suara yang sering sekali terngiang-ngiang di telinga, ya suara Fahri. "Assalamu'alaikum Shaina." Terdengar salam Fahri dari balik gorden pembatas. Aku langsung merapikan diri, meski aku tak mengenakan jiblab, tapi pakaianku cukup sopan. "Wa'alaikumsalam, ada apa?" tanyaku datar, ada getar kecewa dalam batinku. "Bagaimana keadaan Syahla? Sudah baikan?" tanyanya sambil menaruh kado dan parcel buah ke atas nakas. "Sudah, kamu ngapain ke sini, di sini ada calon istrimu, nanti dia curiga," ucapku sinis. "Sha, ini semua gak seperti yang kamu bayangkan, orang tuaku tiba-tiba saja menjodohkan aku dengan Khadijah. Ummi sangat ingin Khadijah menjadi istriku, dan aku tak bisa membantahnya." Jawabnya disambut senyum kecut olehku, aku sudah tak ingin lagi berharap tanggung jawab darinya, aku sudah terbiasa hidup dengan perjuangan. "Terserah, aku tak peduli, aku juga tak berharap kamu tanggung jawab, lagi pula dalam agama kita, Syahla bukan anakmu meski dia anak biologis mu." "Astaghfirullah, Mas Fahri ... Shaina! Jadi Syahla itu ...." Suara Khadijah yang terjeda mengejutkan aku dan Fahri. Entah sejak kapan dia berdiri di dekat gorden pembatas, aku Sama sekali tak menyadari kehadirannya. "Khadijah," gumamku lirih. Khadijah hanya mengambil tas yang tersimpan di atas kursi, lalu ia langsung pamit, aku yakin dia menangis, terlihat dari wajahnya yang selalu menunduk dan suara serak. "Aku pamit duluan Sha, Assalamu'alaikum," ucap Khadijah sambil berlalu. "Wa'alaikumsalam," jawabku lirih. Tak enak hati rasanya melihat sahabatku terluka, hatiku sakit saat dia merasakan sakit. Tanpa terasa kedua netraku telah basah. Aku berusaha mengejar Khadijah dan menjelaskan semuanya, namun tangisan Syahla mengurungkan niatku. "Cepat kejar Khadijah! Dia terluka, jelaskan padanya semua kebenaran, agar tak ada yang terluka, tak usah pedulikan aku ataupun Syahla. Kami sudah biasa hidup tanpa kamu," titahku pada Fahri yang tengah kebingungan. Fahri bergegas keluar mengejar Khadijah, padahal aku yang menyuruh, tapi rasanya begitu sakit saat Fahri memilih Khadijah. Shaina, kamu bukan siapa-siapa Fahri, lupakan dia. Fahri menjadi ayah Syahla adalah sebuah takdir, tetapi untuk tidak menjadi istrinya adalah pilihan. Lagi pula aku harus tahu diri, aku tak mungkin diterima begitu saja di keluarga kyai Mustofa. Mulai saat ini, aku harus menghindari Fahri sampai dia menikah dengan Khadijah nanti bahkan mungkin untuk selamanya. Setelah Syahla sehat nanti, aku akan pergi jauh dari tempat ini, pergi dari jangkauan Fahri, aku ingin menenangkan diri dan fokus pada Syahla. Khadijah, aku akan sangat bahagia saat melihat kamu, sahabat terbaikku bahagia. Meski jauh dalam lubuk hati terdalam, aku begitu terluka. Bersambung.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
baguss woi😻
13/08/2025
0Alhamdulillah suka bgt
28/05/2025
0macam best , nk cuba baca
05/05/2025
0Ver Todos