Seorang bocah kecil cantik, dengan baju lusuhnya sedang memandangi seorang anak lelaki yang bermain dengan kedua orang tuanya. Wanita kecil itu menghapus air matanya yang turun dari kelopak. Ia memegangi lengannya yang memar. Pandangannya tetap fokus ke arah anak lelaki yang bermain dengan orang tuanya. "Ara pengen rasain lagi main sama Mama dan Papa," ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya kesadaran kursi. Wanita kecil itu Ara Valeria Atmaja, wanita kecil yang terluka karna pukulan dari Ibu tirinya. Ara terkejut karna tiba-tiba ada seorang pria remaja yang duduk di sebelahnya. "Kakak siapa? Kakak kok sedih?" tanya Ara, dengan tubuh yang dicondongkan kearah pria disampingnya. Pria itu memandangi Ara. Bukannya menjawab pria itu terkejut melihat luka memar yang ada di lengan adik kecil disampingnya. "Lengan kamu kenapa?" tanyanya hawatir, sambil memegangi lengan Ara. "Oh ini Ara tadi kepentok kak. Kalo Kakak kenapa sedih?" tanyanya sambil menarik lengan yang dilihat oleh pria itu. "Kakak putus sama pacar Kakak. Kakak obatin luka kamu ya!" pintanya, Yanga hanya dijawab gelengan kepala oleh sang empu. "Aku baik-baik aja kok Kak." Ara tersenyum lembut kearah pria di sampingnya. Menampakkan bahwa dirinya kuat. Pria itu juga membalas senyuman dari Ara, dan menjulurkan tangannya ke arah Ara. "Kenalin aku Aldy." "Aku Ara Valeria," jawabnya. Ara memang sengaja tidak menyebutkan marganya, karna Papanya melarangnya. "Ara boleh nanya gak Kak?" "Nanya aja." "Emangnya pacaran itu enak ya? Sampek kakak sedih banget kayak gitu?" "Hahaha kakak baru cobak pacaran, dan rasanya gak enak. Ribet Ra." "Hahaha, sabar ya Kak." Ara memegang tangan Aldy dan melihat jam tangan yang aldy pakai. "Kak Aldy Ara pamit dulu ya kak, dada kak Aldy." "Dada Ara." 🌱🌱🌱 "Ara kamu kuat, kamu bisa kok ngadepin semuanya," semangat Ara terhadap dirinya sendiri. Ara masuk kedalam rumah megah Atmaja, dengan melewati pintu belakang, karna Papanya melarangnya melewati pintu depan. "Non Ara dari mana Non? Mak cariin dari tadi loh Non!" Sapa Ijah 'ART'. "Ara dari taman Mak," jawab Ara dengan senyuman lembutnya. Ijah memeluk Ara dengan sangat erat. Ia tau jika majikannya itu dimarahi oleh Ibu tirinya. Ara membalas pelukan Ijah dengan sangat erat. Ara memang sengaja memanggil Ijah dengan sebutan Mak, karna Ijah lah yang menggantikan figur Ibu ketika Mamanya meninggalkannya. "Emak, obatin lukanya ya non!" Pinta Ijah, sambil mengelus punggung Ara dengan lembut. Ara menggelengkan kepalanya. Melepaskan pelukannya dari Ijah dan tersenyum lembut ke arahnya, meskipun matanya tak henti-hentinya mengeluarkan Air mata. "Gak usah Mak, cuman memar dikit, nanti Ara kompres sendiri udah hilang kok!" Ijah tak kuasa menahan air matanya melihat majikannya yang begitu sabar dalam menghadapi semua cobaan yang menimpanya, meskipun umurnya yang masih menginjak sembilan tahun. "Oh ya! Emak sisihin ayam goreng loh non, yuk makan sama Mak!" Ajak Ijah antusias. "Ayo Mak," tiba-tiba wajah Ara yang bahagia, berubah sendu, ketika mengingat Ibu tirinya yang akan memukulinya. "Nanti Mama marah Mak." "Kita makan di gudang, biar gak ketahuan Non." Ara memeluk Ijah kembali, memang Ijah lah yang menjadi tumpahan kesedihannya, tempatnya berpulang, memberikan kasih sayang keluarga, di saat semuanya membencinya. "Makasih Mak. Ara sayang Mak." "Mak juga sayang sama non Ara." Ijah membalas pelukan Ara, sambil berdoa semoga tangis dan kesedihan Ara bisa digantikan dengan tawa. 🌱🌱🌱 Ara melewati ruangan TV, melihat sodara tirinya yang sedang menonton film kartun kesukaannya. Ara memberhentikan langkahnya dan melihat siaran TV didepannya. "HEH HEH HEH NGAPAIN KAMU DISINI PEMBUNUH," teriak Ibu Tiri Ara, sambil menuruni tangga menghampiri Ara. "E Ara cuman nonton TV ma," jawab Ara sambil menunduk ketakutan. "SIAPA YANG NYURUH KAMU HA SIAPA?" Ara tak menjawab, ia terus menunduk dengan dalam, "Ara ketakutan, Ara butuh pertolongan, tolong Ara tolong Ara," batin Ara ketakutan. Sebelum Ibu Tiri Ara memukul Ara, Papa Ara datang. "Ada apa ma?" "Dia udah berani melanggar aturan di rumah ini Mas. Dia berani-beraninya nonton TV, sambil rebaha di sofa," bohong Ibu Tiri Ara. Ara mendongakkan wajahnya yang sudah di banjiri dengan air mata penuh ketakutan. "Ara-Ara cuman lewat, dan berdiri di sini, Ara-Ara gak rebahan di sofa Pa." "Bohong Pa, tadi aku juga liat kok," sambung adik Tiri Ara, yang juga ikut menghampiri kedua orang tuanya. Papa Ara menyeretnya kekamar mandi, tanpa berkata satu katapun. "Maafin Ara Pa, Ara salah, Ara minta maaf!" "Ini hukuman buat kamu karna udah melanggar peraturan saya!" Papa Ara menghempaskan Ara, sampai tubuhnya menabrak dinding kamar mandi. Menguncinya, membiarkan Ara semalaman tidur di dalam. Seorang gadis yang tertidur meringkuk dikasur lusuhnya. Ia sedang menangis sambil menahan isaknya, ia tak mau ada yang mendengar tangisannya. "Mama Ara takut, Ara lelah nerima fitnahan dan bullyan keluarga yang Ara sendiri gak tau kesalahan Ara dimana. Tapi Ara janji bakal terus jaga amanah Mama." 🌱🌱🌱 Ara menghampiri Ijah yang sedang memasak, ia ingin berpamitan, berangkat sekolah. "Mak Ara berangkat sekolah dulu ya mak!" "Non Ara udah makan?" Tanya Ijah sambil mengelus kepala Ara. Ara tersenyum hangat kearah Ijah. Ia sangat bersyukur, tuhan masih menghadirkan Ijah di kehidupannya, "Mak gak usah hawatir, Ara ada uang kok buat beli roti." Ijah mengeluarkan uang dua puluh ribuannya dari saku bajunya, berharap Ara menerimanya. "Ini Mak ada uang buat Non jajan." Ara mengambilnya. Namun ia tak meletakkannya di kantongnya, tapi dikontong Ijah kembali. Ara menggelengkan kepalanya, dengan bibir yang ia tarik membentuk senyuman tulus. "Mak ada di kehidupan Ara itu udah lebih dari cukup." Ara memeluk ijah dengan sangat erat, "Ara gak tau mau bilang terimakasih dengan cara gimana. Ara bersyukur banget, tuhan menghadirkan Mak di kehidupan Ara." Ijah membalas pelukan Ara tak kalah erat, menyalurkan kasih sayang dan ras syukur yang begitu mendalam. "Mak juga bersyukur bisa mengenal non Ara yang kuat dan cantik ini." Ara melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Ijah, "Ara pamit Mak," Ara menyalimi tangan Ijah dan mencium pipi Ijah dengan sayang. 🌱🌱🌱 Seorang gadis cantik, dengan rambut yang di kuncir kuda. Wajah yang sangat natural, tanpa polesan make up sedikitpun. Tak lupa seragamnya yang lusuh yang membaluti tubuhnya, memberikan kesan cupu dan miskin.  Ara valeria gadis cantik yang dilarang berpenampilan cantik oleh sodara tirinya, ia harus mengikuti prosedur dan aturan-aturan yang sodara tirinya berikan. • Dilarang memakai makeup • Dilarang memakai seragam yang pas badan • Dilarang berjalan mendongakkan kepala • Dilarang mengaku jika ia adalah sodara tiri Shelby • Dilarang menggunakan kata lo gue • Dilarang menggerai rambut • Dilarang makan di kantin Ara tetaplah Ara, wanita sabar dan penurut yang selalu mengikuti ucapan keluarganya. Ara masuk kedalam kelas dengan buku paket yang selalu ia peluk. Namun, teman kelas Ara yang iseng menyandung kaki Ara dan membuatnya terjatuh. "Lemah, gitu aja jatuh. BANGUN," bentak Iqbal 'teman kelas Ara.' "A-aku minta maaf bal, aku gak sengaja nyandung kaki kamu," maaf Ara, meskipun yang salah adalah Iqbal tapi tetaplah Ara yang harus meminta maaf. Iqbal masih menimang-nimang permintaan maaf Ara, dengan tangan yang mengetuk-ngetuk dagunya. "Oke gue maafin. Tapi lo harus kerjain PR gue." Ara hanya mengangguk dan mengambil buku yang Iqbal berikan. Namun sebelum Ara duduk suara Kina memanggilnya membuat Ara menoleh kearah Kina. "Gue nitip ya Ra, ini tinggal separuh, tangan gue pegel yang mau nulis," Ara tersenyum, menghampiri Kina, dan mengambil buku milik Kina. Krink Suara bel terdengar ditelinga semua murid Nusa Bangsa. Semua aktifitas santai harus mereka akhiri untuk memasuki kelas masing-masing. Yang tadinya bermain ponsel, nongkrong, gibah, jajan, dan aktifitas lainnya. Ara valeria, ia duduk di belakang, karna ini termasuk permintaan Shelby, bukan hanya di belakang tapi Ara juga duduk sendiri, karna shelby melarang teman-temannya. Ara yang sedang sibuk dengan PR teman-temannya tidak menyadari jika ada Guru yang masuk. Ia tetap fokus menulis, dan menghitung. "Anak-anak kita kedatangan murid baru dari SMA Cakrawala. Silahkan perkenalkan diri kamu!" Suruh Bu Fina. "Kenalin nama gue Eza Akfa Denandra, panggil gue Eza," ucapnya dengan ketus.  Karna semua bangku yang penuh hanya tinggal bangku belakang disamping Ara. "Kamu duduk di samping Ara!" Perintah Bu Fina. "Ara angkat tangan kamu." Ara tetap tak mendengar ucapan Bu Fina, sampai salah satu temannya melempari Ara dengan bolpoin. Ara mengangkat kepalnya dan dihadiahi tatapan menusuk dari teman-temannya. "Angkat tangan kamu Ara!" Perintah Bu Fina sekali lagi. Ara mengangkat tangannya, dan langsung saja Eza menuju tempat duduk disamping Ara. "Lo gak budegkan?" Tanya Eza julit. Ara melihat kearah Eza dan tersenyum hangat, "aku gak budegkok, cuman tadi aku fokus sama ngerjain PR," jawab Ara. "Aneh," ketus Eza. Ara tetap tersenyum dan kembali fokus dengan buku-bukunya. Krink Suara bel istirahat terdengar, semua murid SMK Nusa Bangsa keluar kelas untuk mengisi perutnya masing-masing. "Ara ayo kita isi perut kita dengan membeli makanan di kantin!" Ajak Faiz 'teman Ara satu-satunya'  Faiz adalah salah satu spesies langka dari sekian banyaknya spesies manusia, menurut Ara. Faiz termasuk pintar. Namun, bedanya Faiz adalah orang yang tidak bisa berucap dengan non formal. "Ayok, aku mau beli roti." "Oke. Ayok." Sebelum Ara keluar ia masih menanyakan pada Eza, siapa tau teman baru sebangkunya ingin menitip, "kamu gak mau nitip, biar sekalian aku beliin." "Jangan ngomong sama gue!" Ketusnya. Eza tak memperdulikan Ara, ia lebih memilih menyandarkan punggungnya, sambil menikmati matahari yang masuk melalui celah jendela. Ara mengangguk dan pergi dari kelas menuju kantin. Sebelum ara membeli roti, Shelby memanggilnya, membuat Ara harus menghampirinya, diikuti Eza dari belakang. "Ara," panggil Shelby. "Ada apa?" Tanya Ara sambil menunduk. "Beliin gue makanan sama temen gue!" Perintah Shelby. "Shelby Ara bukan asisten rumah tangga yang bisa kamu panggil buat suruh-suruh," ucap Faiz tak terima. "Heh Faiz Ara itu anak pembantu gue, wajarlah kalo gue nyuruh dia," bantah Shelby. "Udah Fa gak papa ini tugas aku kok," ucap Ara dengan senyuman hangatnya. "tapi ra." "Udah kamu beli dulu aja, aku nitip roti yang harga lima ribuan ya," sambil mengeluarkan uang lima ribuannya dari sakunya. "Mau pesan apa Non shelby?" Tanya Ara dengan senyum hasnya. "Gue mau spaghetti, the drink is alpukat. Kalian?" "Samain aja." Ara mengangguk dan pergi untuk memesan makanan Shelby dan Gengnya. Eza melihat semua yang Shelby lakukan terhadap Ara, "bodoh, mau banget di suruh-suruh!" cemoh Eza, sambil mendaratkan bongkokngnya. 🌱🌱🌱 Faiz melipat tangannya didepan dada, sambil membenarkan tata letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Aku tidak suka, melihat kamu di suruh-suruh, layaknya asisten rumah tangga Ra," omel Faiz. Ara yang melihat Faiz layaknya ibu kost, yang sedang menagih uang sewa bulanan hanya tersenyum hangat. "Ini emang tugas aku Fa." "Aku tau kamu anaknya asisten rumah tangga, tapi kamu tidak harus patuh kepada Shelby Ara." Hati Ara seakan tertikam belatih, mengingat Papanya yang menyuruhnya mengaku jika ia anak dari Ijah. padahal sebenarnya Ara adalah anak kandungnya, sedangkan Shelby yang anak tiri di perlakukan seperti anak kandung. Ara tersenyum andalannya kepada Faiz, sambil memegang tangan Faiz dengan lembut, "jangan buat aku lemah karna belas kasih kamu ya." Faiz menggeleng beberapa kali, ia tak setuju dengan apa yang Ara ucapkan. "Bukan begitu masud dari ucapan aku Ara." "Aku tau tapi janji ya, jangan kasihani aku," Ara mengangkat jari kelingkingnya supaya Faiz mau menautkannya. Faiz bernafas lesu, dan menautkan jari kelingkingnya. "Huft janji."
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
baguss aku suka
08/07/2025
0bagusss bgtt😭
01/07/2025
0bagus
20/06/2025
0Ver Todos