Hanin mengayunkan langkah kaki dengan terus menyusuri jalanan bersama koper dalam genggamannya. Akan tetapi begitu akan sampai ke jalan besar. Seseorang mengejar dari belakang dengan kendaraan roda empatnya menghentikan wanita itu. Tentu saja untuk beberapa saat Hanin terkejut sebab tidak menyangka bahwa ia akan mengejar dirinya. "Saya antar," ucapnya dengan seraut wajah penuh kekhawatiran. "Nggak usah Kak," tolak Hanin. "Hanin dengar, kamu datang bersama saya jadi kamu keluar pun harus saya antar," tekan Angga. Hanin menggigit bibirnya, ia bingung sendiri jadinya. Dalam kepalanya pun terdapat pertanyaan, apakah benar ini Angga? "Tapi," Hanin tampak bimbang. "Saya pernah janji sama paman kamu akan menjaga kamu sebaik mungkin. Saya tahu saya gagal untuk menepati itu, setidaknya biarkan saya mengantar kamu sampai ke kontrakan," pinta Angga seperti nampak memohon. Teringat pada paman dan bibinya, Hanin merasa sedih, ia pasrah lalu di menit selanjutnya menarik pintu mobil yang dikemudikan Angga dan duduk di sampingnya. Sepanjang jalan Hanin diam. Ia cukup merenungi nasibnya setelah ini akan bagaimana? Sementara tak ada kejelasan dalam ikatan rumah tangganya. Sebab jelas berat pada Nabila dan Hanin tidak memiliki perasaan apa-apa untuk Angga. Sejauh ini ya, rasa yang ia punya hanya untuk mendiang adiknya saja. . Saking dalamnya pikiran Hanin melayang mengenang setiap perjalanan yang pernah ia lalui bersama Abhi. Hanin jadi tidak sadar kalau kendaraan yang Angga bawa sudah menepi di pinggir pertokoan. Melihat pria itu langsung turun dari kursi kemudi, sedang Hanin merasa kebingungan. "Kita ke toko mebel dulu," ucap Angga seraya membukakan pintu untuk Hanin. "Hah!" Respon Hanin setengah membuka mulut dengan kening lagi-lagi berkerut. "Memang kamu mau tidur nggak pakai alas?" ujar pria itu lagi sebab mendapat ekspresi Hanin seperti itu. "Ada kasur lantai punya Windi, aku bisa pinjam ke dia," imbuhnya. "Kamu pikir saya akan diam melihat istri saya hanya tidur di atas tempat seperti itu? Sekarang ikut saya dulu ke sana, kamu butuh perlengkapan untuk diri kamu sendiri." Pungkas Angga terdengar tegas. Hanin menurut ia kemudian turun dari sana dan mengikuti Angga dari belakang. Dan sepanjang di dalam toko itu wanita dengan rambut ia ikat seperti ekor kuda dengan poni menutupi dahi itu tak lagi bersuara hanya memerhatikan bagaimana pria itu memilihkan barang-barang untuknya. Kadang-kadang Angga akan bertanya mau yang mana? Tapi Hanin hanya menggeleng dan mengangguk. Ia terlalu bingung baru kali ini dalam hidupnya di ajak pergi berbelanja oleh laki-laki demi memenuhi kebutuhan dirinya. Iya, Hanin tahu itu kewajiban Angga tapi bukankah sejak awal suaminya itu memberi respon tidak menyenangkan padanya. Tapi sekarang kenapa berubah? . Bukan hanya sekadar dibelikan kasur dan lemari. Bahkan televisi, kulkas peralatan makan sampai ke perlengkapan mandi pun Angga penuhi. Dan semua itu untuknya, untuk Hanin. Harusnya ia merasa terenyuh atas perhatian yang diberikan Angga? Atau ini hanya sebagai formalitas saja. Yang pasti selesai itu, begitu Hanin tiba di kontrakan sudah ada Windi yang melambaikan tangan padanya. Meski perlahan senyum yang hadir di raut wajah Windi perlahan memudar sebab kehadiran Angga yang mengekor dari belakang. Juga beberapa orang yang ditugaskan membawa perabotan dari toko tadi. . "Mana kontrakan kamu?" tanya Angga begitu kakinya berhenti di samping Hanin. Belum sempat menjawab, Windi sudah sibuk menyikut lengan Hanin dengan mata penuh isyarat ingin tahu. "Ini Kak," tunjuk nya pada ruang kosong yang terbuka. "Ini?" ulang Angga lantas tanpa permisi masuk begitu saja ke dalam sana. Matanya meneliti setiap inci ruang itu. Terdapat tiga sekat di dalamnya. Ruang tamu, kamar dan dapur, juga kamar mandi. Untuk di tempati satu orang mungkin cukup namun pertanyaannya apa Hanin akan betah tinggal di tempat seperti ini? "Itu yang semalam kan? Siapa sih?" Windi masih berusaha mencari tahu dengan bisikan-bisikan pada Hanin. Tapi Hanin masih tidak mengindahkan dan tetap memerhatikan Angga. "Apa ada yang lebih besar dari ini?" Suara Angga kembali mengudara. "Semua ukurannya sama seperti ini," "Kamu yakin pindah ke sini? Saya akan carikan kosan atau kontrakan lain untuk kamu," tukas Angga memberi saran sekaligus tawaran untuk Hanin. Cepat-cepat Hanin menggeleng. "Nggak Kak makasih, aku udah nyaman disini," tolaknya. Terdengar helaan napas dari Angga mendengar penolakan dari sang istri. Tangannya bahkan terangkat untuk menggaruk keningnya yang tidak gatal sama sekali. "Oke kalau begitu. Saya keluar dulu, barang-barang itu harus dibereskan sekalian," ucapnya tampak pasrah. Lantas melenggang menuju pintu. . Hampir tiga jam lamanya. Ruang sempit yang akan ditempati Hanin sudah selesai di isi oleh barang-barang pemberian dari Angga. Namun, wanita itu masih betah di luar, bercengkrama dengan Windi yang sejak tadi penasaran terhadap Angga. Sedang pria itu baru keluar dari rumah sang empunya tempat. Entah apa yang dibicarakan, Hanin pun tidak tahu. "Kamu baik-baik disini, kalau ada apa-apa cepat kasih tahu saya," pesan Angga sembari mengenakan kembali topi yang ia kenakan. Hanin lagi-lagi hanya mengangguk, intonasi suara Angga dari menit ke menit kian berubah-ubah tak ada lagi nada berunsur ketidakpedulian seperti yang sudah-sudah. Jangankan bicara saling berhadapan begini, kemarin-kemarin menatap Hanin pun Angga seakan sedang berhadapan dengan sesuatu yang menjijikkan. Bahkan kali ini, Angga sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya pada objek lain. Hanin kini, menjadi titik fokus paling utama yang harus ia jaga, selain Nabila. "Saya pulang dulu." Pamit pria itu dengan seulas senyum yang sulit diartikan. Pun sesuatu tidak bisa Hanin percaya adalah ketika Angga mendaratkan kecupan di kening Hanin. Hal itu tentu saja mengundang keterkejutan luar biasa dari Hanin dan jangan lupakan di sana masih ada Windi yang ikut terperangah. Sampai-sampai minuman dalam genggamannya jatuh begitu saja. Akan tetapi ekspresi Angga begitu mendengar suara gelas terbuat dari plastik itu jatuh hanya seraut wajah sedatar papan. Namun beda lagi ketika kembali melihat Hanin yang terkejut akan apa yang dilakukan oleh Angga barusan. Dan, ya wanita itu tersadar ketika Windi menepuk bahunya cepat-cepat. Sepeninggal Angga, Windi menuntut penjelasan dari sosok yang semalam menjemputnya dan sekarang mengantarkannya pindah juga tanpa basa-basi memberi kecupan di dahi wanita itu. Sementara sejauh ini Hanin selalu mengelak ketika ditanyai tentang pacar dengan dalih kekasihnya baru meninggal dan belum siap membuka hati. Tapi di depan matanya barusan, seorang pria tampan jelas-jelas melakukan hal lumrah pada umumnya seorang pria dan wanita yang memiliki hubungan khusus. . Bersambung...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
seruuu bgett
24/03
0ceritanya menarik
14/02
0seruuu
29/09
0Ver Todos