logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 6

"Bang, kata ibu mau tinggal sementara dulu di sini. Nemenin aku lahiran," ucap Nabila sembari memainkan dada Angga dengan jari jemarinya.
"Hmmm, boleh," ujar Angga singkat.
"Lalu Hanin bagaimana?" tanya wanita itu lagi lantas menghentikan kegiatannya bermanja pada sang suami.
Angga melirik sekilas pada Nabila, lalu memfokuskan kembali matanya pada layar televisi yang menempel di tembok kamar mereka. "Apanya yang bagaimana?" tukasnya.
Nabila mengangkat kepala dari sandaran nya yang nyaman. Pun dekapan hangat Angga tak pernah lepas darinya.
"Kita nggak mungkin membiarkan Hanin bersama kita selama ada ibu," ungkap Nabila cukup serius.
"Kita bisa mengatakan bahwa dia salah satu kerabatku," ujar Angga datar.
"Kamar kita hanya ada dua, Bang. Masa kita biarin ibu tidur di ruang tamu sih," decak Nabila kesal.
"Masih ada ruang di belakang, kita bisa bikin bangunan untuk satu kamar di sana," pungkas Angga.
"Bila tahu Abang punya banyak uang. Tapi bukankah lebih penting itu untuk biaya bayi kita dari pada membangun ruang baru," cetus Nabila tampak tidak setuju.
"Oke!" Tukas pria itu hanya sepatah kata. Tangannya kemudian meraih tombol lampu dan mematikan lampu yang berpendar. Membiarkan cahaya minim kekuningan dari sisi ranjangnya. Menarik selimut, lalu mencoba untuk memejamkan mata.
.
Ditempat lain, Hanin baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama milik Windi. Agak sedikit kebesaran di badan Hanin, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak sempat mengambil pakaian ganti setelah membaca pesan dari Nabila.
"Mendingan ngontrak aja deh. Biar bisa bebas," usul Windi dengan dua piring nasi goreng di tangannya.
"Pinginnya sih," sahut Hanin seraya menerima piring yang di ulurkan oleh temannya itu.
"Bukannya apa sih, ya Nin. Gue punya pengalaman numpang di rumah sodara dan sumpah itu nggak enak banget. Kerja bantu ini-itu nggak dianggap, dikasih uang, nggak diterima tapi di belakang ngoceh nggak jelas," papar Windi lagi.
Hanin nampak diam, ia berpikir serupa. Meski Nabila terlalu baik terhadapnya. Tetapi ia masih memiliki rasa tak nyaman jika harus terlalu lama berada di tengah-tengah mereka.
"Kalau pulang dicoba deh ngomong sama mereka,"
"Samping gue tuh kosong, kalau mau gue bilangin sama yang punya kontrakan biar nggak dikasih ke yang lain. Tapi harus cepetan, ya." Ujar wanita itu lagi di tengah kunyahannya.
Hanin mengangguk, lalu sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan dengan memilih topik lain.
☘️☘️☘️
Hari demi hari berlalu begitu saja. Hanin masih disibukkan dengan dunianya dan pekerjaannya sendiri. Selama ia tidak dimintai pulang, maka ia tidak akan pulang. Selama satu pekan terakhir ini tak ada yang menanyai dirinya, entah itu Nabila sekalipun. Kalau Angga tidak usah dikata, mau sampai jaman manusia berubah menjadi jaman purba, seorang Angga tidak akan peduli.
Awalnya memang Nabila meminta dirinya untuk tidak pulang. Namun Hanin pikir itu hanya sehari, tetapi ini sudah berhari-hari tak ada lagi kabar atau permintaan pulang. Hanin bisa apa? Dirinya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki hak apa-apa. Jadi boleh kan dia tidak ke sana selagi tidak diminta?
.
"Heh, kebiasaan ngelamun." Lagi-lagi suara besar milik Erlangga mengejutkan Hanin di ruang belakang.
Wanita itu sempat terperanjat kaget. Tangannya mengusap dadanya beberapa kali, bersamaan mulutnya spontan berkomat-kamit tak karuan.
"Kak El, ih!" ujar Hanin nampak tak lagi canggung pada sang pemilik tempat kerja. Tangannya memukul lengan Erlangga dan pria berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya cengengesan. Bersamaan ia mendudukkan bantalan duduknya di dekat Hanin.
Rupa-rupanya keduanya sudah sangat akrab. Terbukti Erlangga dan Hanin sering mengobrol dan saling melempar canda.
"Jangan ngelamun makanya, entar setan disini pada naksir," ucapnya.
"Yang ada setan pada takut sama saya," timpal Hanin.
"Ah, iya saking cantiknya jadi takut," godanya. "Eh, iya bulan depan ada pameran lukisan. Saya punya tiket tapi nggak ada teman, mau?" ajak Erlangga.
"Hmmm,"
"Kalau kamu nggak bisa juga nggak apa-apa,"
"Saya pikir-pikir dulu ya, Kak,"
"Oke."
"Mmmm, saya permisi dulu deh Kak. Mau balik kerja, nggak enak sama yang lain." Pamitnya langsung berdiri padahal istirahat jam makan siang lamanya satu jam. Tapi belum tiga puluh menit Hanin sudah berniat kembali ke tempatnya.
Bukan karena apa, Hanin sudah beberapa kali mendengar gosip-gosip berkeliaran mengenai kedekatan dirinya dan Erlangga. Padahal di antara keduanya sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, hanya ikatan bos dan pekerja. Seandainya saja kalau Erlangga tahu jika Hanin sudah menikah, entah akan bagaimana reaksinya.
.
Perputaran waktu memang akan selalu saja sama walau harus melewati banyak hal berbeda di setiap detiknya. Seperti biasa Hanin dan Windi bersiap untuk pulang bersama. Dan ketika Hanin berjalan menuju tepi jalan, langkahnya mendadak memelan saat kedua matanya menangkap sosok Angga sudah berada di sana, berdiri mematung di sisi kendaraan miliknya.
"Nin, ayo," ajak Windi yang tahu-tahu sudah di depannya.
"Bisa tunggu sebentar," pinta Hanin lalu secepat kilat langkahnya berpindah menuju Angga.
"Kak, ada apa? Kak Nabila baik-baik saja kan?" tanya Hanin dengan raut wajah kuatir.
"Baik," jawab Angga sekilas.
"Oh, syukurlah," ucap Hanin lega. "Kakak mau ke Cafe? Masih buka sih, tapi ini sudah jam untuk aku pulang," lanjutnya mencoba mencari tahu. Sebab tidak biasanya laki-laki itu ada di sana, di tempat Hanin menghabiskan waktu.
"Saya kesini mau jemput kamu pulang,"
"Hah?" Hanin berekspresi kaget.
"Kenapa nggak pulang-pulang?" Lain yang ditanya, lain pula yang dijawab.
"Saya nginap di rumah teman, itu orangnya." Ujar Hanin seraya mengarahkan jari telunjuk pada Windi yang kebetulan sedang menguap.
Mata Angga mengikuti arah tangan Hanin. Lalu sedetik kemudian menjatuhkan pandangannya pada Hanin kembali. Wanita yang satu minggu terakhir ini tidak ada di rumahnya.
"Bilang sama dia, kamu pulangnya dijemput sama saya." titah Angga masih dengan nada suara sedatar papan.
"Mmmm," Hanin nampak keberatan, terlihat dari cara ia membalas tatap Angga.
"Atau perlu saya yang bilang ke dia? Kalau kamu akan pulang bersama saya, suami kamu." Tukas Angga kembali mengundang kejut untuk Hanin. Matanya langsung membola tak percaya.
Apa baru saja Angga mengakui bahwa ikatan itu benar adanya? Hanin merasa hatinya tersentak, entah merasa sedih atau merasa senang. Yang pasti Hanin sudah memilih keputusan untuk dirinya di masa depan.
🌵🌵🌵
Pagi ini Hanin sudah kembali rapi, tetapi kali ini berbeda dari biasanya. Wanita itu menggeret koper di sampingnya, wajahnya terlihat ragu untuk bicara. Tapi sepertinya Angga cukup mengerti.
"Baru semalam kamu pulang, sekarang mau kemana dengan membawa koper segala?" tanya Angga, ucapannya tidak berirama seperti biasa.
Hanin menundukkan kepala, ia tahu bahwa cepat atau lambat harus pergi dari sini. "Maaf Kak, tapi saya minta ijin untuk pindah dari sini,"
Angga mengangkat wajah, ada kerutan berlipat di dahinya lalu mulai berpikir. Apakah Nabila bicara sendiri pada Hanin sehingga istri keduanya itu begitu terburu-buru keluar dari rumahnya.
"Kenapa?" Angga mencoba mencari tahu.
"Ada kontrakan kosong di tempat teman saya menginap kemarin. Jadi takut terlanjur di isi orang lain," paparnya. Terdengar sangat tidak kuat sekali alasan yang dilontarkan Hanin barusan.
"Karena itu?"
Hanin mengangguk cepat, ia berharap alasan itu bisa membuat Angga mau mengeluarkan ijin untuknya. Lagipula ia sudah merasa tidak nyaman tinggal di sini. Sebab menjadi orang asing di tempat yang asing itu sangat tidak enak.
Terlebih Hanin menyadari perubahan sikap Nabila terhadapnya. Keramahan yang ditunjukkan madunya perlahan terlihat lain dan itu menandakan bahwa Hanin harus tahu diri.
Karena memang benar yang namanya rela itu hanya bualan semata. Ikhlas itu tak bener-bener ada. Lihat saja, Nabila yang katanya tak apa menerima takdir sebab suaminya menikah lagi. Kini mulai merasa bahwa Hanin adalah ancaman yang bisa saja membuat Angga berpaling darinya kapan saja.
Nabila sendiri mulai tidak percaya jika cinta suami hanya untuknya. Namun berbicara tentang putaran waktu, siapa yang bisa menjamin itu?
"Oke baiklah. Saya nggak bisa mencegah atau melarang kamu. Tapi kamu harus janji satu hal, apapun yang ingin kamu lakukan harus tetap dibawah perijinan dari saya dan kirimkan lokasi alamat kontrakan kamu secepatnya," papar Angga tanpa melihat ke arah Hanin.
"Oke," jawab Hanin singkat. "Oh iya, Kak Bila mana?"
"Keluar tadi, hari ini jadwal dia mengikuti yoga hamil." ucapnya.
Hanin mendekat, meski dengan ragu ia tetap mengulurkan tangannya pada Angga yang sejak tadi duduk di sofa ruang tengah dan Angga menyadari itu. Maka sebelum menyambut tangan dari istri keduanya, Angga sempat melihat wajah Hanin dengan sulit di artikan. Hingga di sadari atau tidak, Hanin tetap menghormati dirinya sebagai pasangan yang mungkin selama hampir empat bulan terakhir ini ia abaikan kehadirannya.
"Saya pamit, Kak. Titip salam untuk kak Bila, maaf sudah merepotkan selama saya di sini." Ucapannya terdengar sendu, lalu tanpa menunggu waktu Hanin segera membalikkan tubuh untuk bergegas keluar dari sana.
Setelah sampai luar pagar Hanin sempat menengok sekilas ke rumah itu. Hatinya sedikit perih saat ini keluar dari sana bukan sesuatu yang mudah, pikirannya dari semalam terus berperang, sampai keputusiannya dirasa cukup benar. Dan Hanin disini lah ia sekarang. Bener-bener menjadi asing untuk orang yang asing.
.
Sementara di tempat lain, Nabila terus berpikir bagaimana caranya bicara pada Hanin supaya mau keluar dari rumah yang ia huni semenjak menikah dengan Angga dua tahun lalu. Ia tidak ingin dianggap tega, tapi ia pun memiliki hati sebab mau dipungkiri sekalipun, faktanya Hanin tetap istri kedua suaminya. Yang berarti itu adalah rumah tangganya telah pun terbagi meski sejauh ini ia tetaplah ratunya.
Mungkin selain alasan ibunya yang akan menemani selama ia melahirkan kelak. Ada sesuatu lagi yang Nabila pikirkan, dan itu adalah waktu. Nabila masih memikirkan ucapan dokter tentang keadaannya yang tidak terlalu baik. Jadi jikapun benar itu terjadi, tidak salah bukan ketika Nabila mau memiliki Angga seutuhnya dan untuknya tanpa ada orang ketiga. Itu terdengar egois sekali. Tetapi ia tidak memiliki pilihan karena ingin bahagia di detik-detik terakhir yang ia punya.
Sedang dengan pikirannya, Nabila mendengar ponselnya berbunyi, ketika ia mengambilnya dari dalam tas, lalu membuka folder aplikasi pesan terdapat chat dari Hanin terlihat dari pop up layar benda pipih itu.
"Hanin?" Gumamnya dengan kening turut mengerut. Segera membuka chat dari sang madu.
"Hai Kak. Sebelumnya aku mau minta maaf selama tinggal di rumah Kak Bila dan Kak Angga, aku sudah cukup merepotkan dan untuk segalanya aku sangat berterima kasih. Aku tahu berat bagi kakak menerima aku masuk ke dalam rumah tangga kalian. Tapi sama seperti kakak, aku pun masih berat dengan itu. Aku terlalu takut dicap sebagai perempuan perebut suami orang. Meski mungkin dalam pandangan yang lain akan tetap seperti itu sebab bagaimana pun juga tidak ada wanita yang rela menjadi yang kedua, maupun diduakan.
Tolong jangan salah paham dengan kalimat aku ya Kak. Dan ya, mulai hari ini aku ijin pamit untuk pindah ke kontrakan yang lokasinya dekat dengan tempat kerja. Nanti akan ku kasih alamatnya ke kakak. Pokoknya Kak Bila harus main ke sana ya. Maaf aku pamitnya harus seperti ini bukan tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Tapi kata pemilik kontrakan pagi ini harus segera diisi sebelum pukul sepuluh nanti. Kalau tidak, kontrakannya akan di lempar ke orang lain.
Hehehe!
Buruk sekali ya Kak cara pamit ku ini. Aku bingung harus mulai dari mana atau mengakhirinya dengan cara apa? Tapi intinya aku ingin berterima kasih dan maaf sebesar-besarnya. Janji ya bahagia sama Kak Angga."
Itulah sepenggal isi pesan dari Hanin. Apakah Nabila harus terkejut? Tentu saja, sebab belum bicara apa-apa tetapi Hanin sudah pamit sendiri. Nabila pun mulai berpikir lagi, apakah suaminya sudah bicara pada Hanin tentang keinginannya tempo hari? Kalau iya kenapa bisa secepat ini? Padahal Nabila mengira bahwa Angga akan sangat keberatan dengan usulannya tentang Hanin. Tapi sekarang ....
Ada senyum terbit di wajah Nabila mendapati itu. Ia jadi yakin kembali bahwa suaminya benar-benar mencintai dirinya tanpa membagi hatinya pada siapapun, termasuk Hanin.
.
Tepat pukul sembilan lebih Hanin sudah sampai di kontrakan Windi, di sana teman satu tempat kerjanya itu sudah berdiri menyambut Hanin. Wanita berperawakan sedang itu sama sekali tidak menyangka kalau perkataannya semalam benar dibuktikan oleh Hanin.
Windi pikir Hanin sedang bercanda sebab tepat tengah malam Hanin mengirim pesan yang isinya adalah ia akan pindah esok hari. Dan ya, disinilah Hanin sekarang berjalan menggeret koper melewati gerbang kontrakan di tangannya dan seseorang di belakangnya.
.
Bersambung ....
Don't Forget Vote dan Komentnya ya sayang yaᥬ🤣᭄ ᥬ🤣᭄
Tengkiyu, hepi reading.

Comentário do Livro (175)

  • avatar
    APHP1MIRANTI.

    seruuu bgett

    24/03

      0
  • avatar
    Dyanda

    ceritanya menarik

    14/02

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    29/09

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes