logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 5

Seperti biasa setiap pagi suasana hening selalu membersamai Hanin, Angga dan Nabila. Hanya membiarkan suara-suara denting sendok atau gelas saling bersahutan di atas meja. Sesekali Angga meminta bantuan pada Nabila untuk diambilkan ini dan itu. Perempuan dengan perut membulat itu kadang harus susah payah mengambil barang di tempat tinggi. Membuat Hanin meringis sampai ia menawarkan diri membantu. Namun, Nabila sering kali menolak.
Bukan tanpa alasan sepertinya. Nabila melihat postur tubuh madunya lebih tinggi dari dirinya, akan lebih mudah tangan Hanin meraih barang apapun yang diperlukan oleh Angga. Ia takut, sedikit bantuan itu membuat Angga tercubit hatinya.
Nabila sendiri masih ingat bagaimana pernah selama tiga malam berturut-turut, Angga nampak gelisah dengan terus mondar-mandir di ruang tamu. Saat Nabila bertanya kenapa? Pria itu tidak menjawab. Namun seketika pertanyaannya terjawab saat Hanin memunculkan diri dari balik pintu secara perlahan dan jelas, gelisah Angga perlahan berubah menjadi kelegaan.
Sebagai istri yang katanya paling dicintai, bolehkah Nabila mewaspadai itu? Meski ia terlalu sadar diri, bahwa Hanin pun sama dengannya. Wanita itu berhak mendapatkan apa yang ia dapatkan. Walau sejauh ini Nabila tidak melihat atau mendengar penuntutan apa-apa dari suaminya. Tetap lagi dan lagi yang menjadi bahan keegoisan Nabila dan ia pertahankan adalah tentang masa depannya yang suram. Tentang fakta bahwa ia tak bisa bertahan saat nanti melahirkan.
.
Pukul sembilan pagi rumah Angga dan Nabila tampak ramai. Ternyata mereka kedatangan keluarga dari pihak Nabila. Tentu saja terdengar riuh canda tawa di sana, terlebih Nabila dapat bermanja pada kedua orang tua yang ia rindukan.
"Kamu jangan terlalu capek, Nduk," ucap ibunya menatap sang putri kuatir.
Senyum Nabila membentuk dari wajahnya. "Nggak Bu, sejauh ini Bila nggak ngerasa capek," jawabnya dengan  kepala terus bersandar pada sang ibu.
"Hmmm, baguslah," ujar wanita paruh baya itu mengusap punggung Nabila penuh sayang. "Nanti kalau sudah mendekati waktu, kamu pulang saja ya. Kasian kamu disini sendirian,"
Nabila mendongak. "Enggak, ah Bu. Bila mau disini saja, sama abang," elaknya spontan.
"Loh, kan suamimu bisa nemenin kamu disana," timpal ibunya lagi.
Kali ini Nabila diam, tidak langsung menjawab. Ia memikirkan bagaimana nanti jika Angga bersama Hanin hanya berdua saja di rumah. Sebagai manusia tidak ada yang tidak mungkin bukan. Kalau pun bisa Angga menemaninya nanti, bukan jaminan ia akan pulang ke sini dan tidak menemaninya selama empat puluh hari. Memikirkan itu Nabila langsung memejamkan mata, keningnya berkerut dan merasakan gelombang dari bagian perutnya yang keram.
"Bu, Bila telpon dulu Abang ya, biar dia pulang nanti bawa makan siang." Nabila beranjak dari sana dengan ponsel di tangannya.  Sedikit menjauhi ibunya untuk menghubungi Angga supaya ketika pulang nanti menyempatkan diri memesan makan siang untuk keluarganya. Dan dari tempat berbeda pria itu mengangguk, mengiyakan dan berjanji akan pulang tepat pada waktu.
.
Hanin tampak sibuk siang ini, terbukti kunjungan hampir memenuhi bangku-bangku kosong. Langkahnya yang sudah mulai terbiasa melayani pengunjung, Hanin sigap ke sana kemari mencatat berbagai macam pesanan menu dan menyerahkan pada rekannya.
Sampai saking ramainya pengunjung entah disadari atau tidak, rupa-rupanya meja yang Hanin hampiri adalah tempat yang ditempati Angga. Keduanya sempat saling beradu mata selama beberapa detik, saling mengadu kejut satu sama lain. Bohong rasanya kalau tidak kaget seperti itu.
"Mau pesan apa ... Kak," Hanin memelankan suara.
"Saya nggak tahu kalau di sini tempat kerja kamu," Laki-laki itu malah mengucapkan hal lain.
"Ah, iya aku kerja disini. Kakak mau pesan sesuatu?" tanya Hanin lagi, masih setia dengan notebook mini ditangannya.
"Apa bisa memesan disini? Maksudnya untuk di bawa pulang,"
"Bisa,"
"Oke, saya memilih paket makan siang yang ini, enam porsi," ucapnya dengan jari telunjuk mengarah ke salah satu menu yang ia pilih.
"Ada lagi?" Hanin tampak ingin profesional, meski di depannya adalah suaminya sendiri.
"Sembari menunggu saya pesan kopi," kata Angga lalu melipat buku menu dan memberikannya kembali pada Hanin.
Setelah itu, tanpa berucap lagi, Hanin segera ke dapur. Tidak sampai sepuluh menit, pramusaji lain datang membawa secangkir kopi hitam pekat dengan asap masih mengepul menguatkan bau sedap luar biasa.
Sesaat Angga terdiam, bagaimana Hanin bisa tahu kopi kesukaannya? Bukankah ia tadi hanya menyebutkan kopi tanpa ada embel-embel jenis kopi apa yang ia mau. Angga jadi berpikir apakah selama ini Hanin diam-diam memerhatikan dirinya?
Lagi, senyum Angga terbentuk dari wajahnya. Dengan seolah berpura-pura mengecek ponsel, Angga seperti mendadak salah tingkah sendiri.
Sedang di dalam dapur sana, Hanin sempat berpikir, untuk apa Angga memesan menu makan siang sebegitu banyaknya? Bukankah di rumah hanya ada Nabila saja. Dan Hanin sendiri sangat jarang makan siang atau malam, kalau pun iya, Hanin hanya menyempatkan sarapan.
Tidak sampai satu jam, pesanan Angga jadi dan lagi-lagi bukan Hanin yang mengantar kotak-kotak makanan itu. Melainkan laki-laki dengan usia lebih muda dari sang istri. Sejenak ia ingin bertanya, namun urung sebab sedetik dari itu ia menemukan kelibat Hanin keluar sebentar dan masuk lagi ke ruang belakang. Tentu saja tanpa mau repot-repot melirik dirinya sebagai pengunjung yang bisa saja pulang paling akhir.
.
Pepatah mengatakan, rasa akan datang karena terbiasa. Entah itu melalui secuil obrolan menyenangkan, perhatian atau sering adanya pertemuan. Namun pertanyaannya, Angga tidak melalui ketiga-tiganya, ia jarang bicara, bahkan tidak mengijinkan Hanin memberi perhatian untuknya, apalagi pertemuan. Sangat jarang sekali meski faktanya ia tinggal serumah dengannya. Lalu dengan cara apa? Bukankah Tuhan Sang Maha Pembolak-balik hati.
Mau mati-matian menghindar, membenci, jika saatnya jatuh cinta, jatuh cintalah sudah.
.
Tidak terasa waktu malam tiba, Hanin pulang menebeng ke teman wanitanya, Windi. Namun tidak sampai ke depan rumah seperti Erlangga kemarin. Hanya sampai gang sebelum masuk kawasan perumahan. Mungkin kalau jalan kaki, hanya memakan waktu lima belas menit. Lumayan jauh, tapi suasana malam jarang sepi, kecuali ya kalau hujan.
Setelah sampai di bagian pagar, Hanin melangkah cukup ragu sebab terlihat beberapa orang di teras rumah. Ada Angga tengah mengobrol bersama dua orang laki-laki, dan ada kendaraan roda empat lain terparkir di bagian luar. Ia jadi bingung sendiri sebab Hanin sama sekali tidak mengenal orang-orang itu.
"Apa minta Windi jemput lagi, ya?" Gumamnya.
Hanin mundur beberapa langkah, ia menekan dan mencari aplikasi pesan, dan saat membukanya, nama Nabila tersemat di sana, mengirimkan pesan sejak sore tadi.
"Nin, maaf bisa tidak malam ini kamu nggak pulang dulu. Ada orang tua saya di rumah, mereka tidak tahu kalau kamu istri kedua dari suami saya."
"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja ibu saya memiliki riwayat hipertensi. Saya nggak mau terjadi sesuatu dengan ibu kalau dia sampai tahu tentang keberadaan kamu di rumah."
Hanin menghela napas, lalu membalikkan badan untuk kembali meminta Windi menjemput dan menginap di sana. Terkadang Hanin merasa sedih, menjadi kedua, seperti simpanan yang sengaja disembunyikan. Iya seperti menjalani hidup sendirian tanpa pegangan.
.
Bersambung....

Comentário do Livro (175)

  • avatar
    APHP1MIRANTI.

    seruuu bgett

    24/03

      0
  • avatar
    Dyanda

    ceritanya menarik

    14/02

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    29/09

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes