Seiring berjalannya waktu akhirnya Hanin mendapat pekerjaan di sebuah Cafe. Lokasinya sekitar tiga puluh menit dari rumah, di sana para pekerja memulai aktivitas dari pukul sembilan pagi sampai sepuluh malam, namun untuk karyawan wanita, hanya sampai pukul tujuh malam saja. Namun sewaktu pagi Hanin selalu berangkat satu jam lebih awal, sebab Hanin tidak bisa menduga kondisi di jalanan. Bisa macet atau hal lain yang tak terduga. Bagi Hanin kedisiplinan adalah hal utama, terlebih saat ini ia tinggal ditempat orang jadi sebisanya harus pandai menjaga diri. Meski ia telah bersuami yang seharusnya menjaga dirinya atau semacamnya. Namun untuk sekarang Hanin cukup tahu diri jika ia hanya sosok wanita asing di antara Angga dan Nabila. . Sedang meratapi nasibnya sendiri yang tidak pasti akan bagaimana ke depannya. Sang pemilik tempat ia bekerja sebagai pramusaji menegurnya ketika mendapati Hanin tengah melamun sendiri di ruang belakang khusus pegawai. "Nin," panggil pria berpostur tinggi itu seraya mendekati Hanin. "Eh, Kak El," sahutnya agak sedikit terkejut. "Ngapain disitu?" tanyanya ramah namun disertai kerutan di wajah. "Nggak lagi ngapa-ngapain Kak. Ini habis makan siang," ujar Hanin dengan senyum samar. Laki-laki bernama Erlangga Pradipta, tetapi kerap kali disapa El, oleh karyawannya itu mengangguk pelan. Namun bukannya pergi kembali dari sana, ia malah turut menghempaskan bantalan pinggulnya di depan Hanin. Hanya meja berbentuk bulat menjadi sekat di antara keduanya. Lagi, Hanin dibuat terkejut sebab tidak biasanya seorang Erlangga menginjakkan kaki di ruang istirahat karyawannya. "Kamu ada masalah?" tanya El tiba-tiba. "Eh!" Respon Hanin sembari mengeluarkan mimik rupa heran. "Enggak, Kak," sahut Hanin dengan tangan terangkat mengibas ke kanan dan kiri. "Kamu mengelamun begitu," tebak El. Hanin tertawa. Namun terkesan sangat dibuat-buat. Sebab memang nyatanya tidak ada yang lucu di sana. "Saya cuma lagi kangen keluarga saya aja Kak," ucapnya lalu menundu kepala. "Loh, kamu disini sendirian?" Hanin diam sejenak tidak langsung menjawab. Sejujurnya Hanin cukup bingung harus memberi jawaban seperti apa? Karena nyatanya ia dibawa oleh seseorang ke kota ini, meski nyatanya ia tetap sendiri. "Saya diajak seseorang ke sini," "Terus?" Erlangga menyangga wajah dengan tangan kanan yang terlipat dan tersimpan tepat di atas dagu. Matanya menatap lurus pada Hanin, pria itu jadi penasaran dengan wanita di depannya yang saat ini sedang memainkan jemarinya. Hanin tampak berpikir terlebih dahulu sebelum meneruskan kalimatnya. "Ya, ya akhirnya saya kerja disini," ungkapnya singkat. Mengundang keingintahuan di wajah Erlangga memudar seketika. "Kamu tuh." Ucap Erlangga langsung berdiri dari kursi kayu di ruangan luas 6x5 m² itu.itu . Matahari berlalu dan tenggelam begitu cepat. Langit mulai mengabur berubah menjadi gelap, Hanin sudah bersiap untuk pulang. "Pulang sama siapa, Nin?" tanya Windi ketika ia berjalan bersisian bersama Hanin dari pintu belakang. "Biasa," "Nyari gebetan dong," ujar Windi. "Cariin dong!" seloroh Hanin menimpali. "Tuh Boss El, lagi jomblo," ucapnya asal. Spontan Hanin menepuk pundak Windi. "Huss! Sembarangan. Lagian lebih enak begini dulu," sanggah Hanin. "Sendiri apa enaknya Nin?" cibir Windi. Hanin menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum kelewat samar. "Pacarku baru saja meninggal tiga bulan lalu, Win. Masih belum sanggup menjalin hubungan lain." Windi diam, ia yang awalnya hanya bercanda jadi merasa bersalah. Sungguh Windi tidak bermaksud mengungkit sesuatu hal yang tidak-tidak, terlebih itu tentang pribadi Hanin. . Sepeninggal Windi yang dijemput oleh pacarnya. Hanin terus berjalan menuju halte, di mana kendaraan umum biasa lewat. Di sana Hanin duduk di atas kursi besi yang memanjang sampai tumpuan nya berhenti di ujung tiang penyangga. Lagi-lagi Hanin terbawa suasana ketika hatinya tergores oleh rasa yang entahlah. Siapa sangka tiga bulan sudah berlalu sejak Abhi pergi meninggalkan dirinya. Bukan hal mudah untuknya lupa pada sosok itu meski ia dipersunting laki-laki lain. Dan sejak itu pula, ia berpisah jauh dari keluarganya. Rasa rindu jelas menyeruak dalam, jika saja diijinkan ia ingin sekali pulang. Namun ia masih merasa sulit bicara sebab setiap kali bertembung mata dengan Angga, laki-laki itu seperti begitu membencinya. Lagi, ketika ia sendiri melamunkan nasib diri. Kendaraan roda dua berhenti tepat di depan Hanin yang sedang mengadu pada sepi. Seseorang itu membuka penutup kaca helm, dan dari sorot matanya Hanin sudah pasti bisa menebaknya. "Kak El," serunya. "Ayo, di antar," "Eh, nggak usah Kak El," tolak Hanin. "Ini sudah mau hujan," "Saya tunggu kendaraan umum saja Kak," "Hanin!" suara Erlangga memberat seketika saat mendengar penolakan dari wanita itu. Sampai memang mau tidak mau, Hanin beranjak dari sana meski langkah kaki penuh ragu. Hanin akhirnya menyanggupi ajakan Erlangga. Sepanjang perjalanan Erlangga mengendarai motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Pria itu meliak-liuk menerobos kendaraan lain begitu mudah. Namun menakutkan untuk Hanin sendiri, ia yang awalnya tidak berpegangan pada apapun, jadi terpaksa memegang ujung jaket yang dikenakan oleh Erlangga. Sumpah, jika saja pria itu bukan Erlangga, Hanin tidak akan segan untuk mencacinya. Sayang, mulutnya terlalu sulit membuka suara meski laki-laki itu seperti sedang mengajak dirinya mempertaruhkan nyawa. Tidak sampai tiga puluh menit, kendaraan roda dua Erlangga tiba di depan bangunan minimalis berpagar besi sebatas dada orang dewasa, dan bercat abu-abu tua. Hanin yang terlihat ngos-ngosan pun merasa lega sebab ia bisa selamat sampai di rumah. "Makasih ya Kak, sudah mengantar pulang," ujar Hanin masih mengatur napas. Erlangga membuka helm terlebih dahulu, lalu mengibaskan rambutnya yang sedikit memanjang itu sebelum tangannya terangkat menyingkap helaian yang menutupi muka. "Ini rumah ... kamu?" Erlangga bertanya sedikit ragu. Hanin melirik sekilas pada hunian yang memang selama tiga bulan ini menjadi tempat tinggalnya juga. "Hmmm," ucapnya seraya mengangguk. "Sama siapa?" "Kerabat, Kak," "Oh!" sahutnya sembari terus melihat ke arah rumah Hanin. "Maaf ya Kak, nggak bisa mengajak untuk mampir dulu," suara Hanin tampak terdengar tak enak pada atasannya. "Nggak apa-apa, saya mau pulang kok," ucapnya seraya memakai kembali helm hitam miliknya. Belum sempat Erlangga berpamitan pada Hanin, perhatian keduanya teralihkan oleh kendaraan lain yang berhenti di tempat sama. Hanya berjarak kurang dari satu meter si pemilik roda dua berjenis matic itu diam dengan tatapan sulit di artikan. Sekali-kali mengarah pada Hanin yang tampak langsung menundukkan kepala, lalu sedetik kemudian tatap matanya beralih pada sosok pria lain di atas motor sportnya. Jika ditilik memang jauh berbeda, Angga hanya memakai kaos oblong biasa dan celana pendek serta sandal jepit rumahan. Sedang Erlangga, memakai outfit anak muda lengkap dengan sepatu boots melengkapi penampilannya. Tidak, tidak, tidak. Angga hanya sedang tidak bekerja, ia bahkan bisa lebih keren dari pria di depannya yang entah siapa. Namun tanpa sadar Angga meremas kuat stang motornya cukup kuat sehingga menimbulkan bunyi kelewat kencang sebab ia meng-gas motornya. Untung saja motor yang ditunggangi Angga tidak lepas kendali. . "Kak El, makasih ya, aku masuk dulu." Pamit Hanin tergesa-gesa, lalu tangannya mendorong pagar cukup luas sampai Angga turut mengekori dirinya dari belakang. . Bersambung....
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
seruuu bgett
24/03
0ceritanya menarik
14/02
0seruuu
29/09
0Ver Todos