Ini hari kedua Hanin tinggal bersama Angga beserta istrinya. Kemarin, Hanin hanya mengurung diri seharian dan akan makan sendirian. Itupun karena Nabila terus menerus mengetuk pintu kamar. Jujur, gadis itu benar-benar kebingungan. Secara tidak langsung, ia sudah menjadi wanita yang telah merusak rumah tangga dari seseorang yang menikahi dirinya dari sejak enam jelas hari lalu. Sementara sejauh ini, Hanin sendiri tidak mengetahui status yang dimiliki oleh Angga sebelumnya. Andaikan saja ia tahu sejak awal, maka dengan tegas dan lantang, Hanin akan menolak permintaan mendiang Abhi dari pada menjadi perempuan dengan cap buruk. Sebab Hanin tahu, rasanya di duakan itu sakit, bahkan sangat sakit. . Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, Angga baru saja berangkat ke tempat kerjanya. Tentu saja tanpa mau repot-repot berpamitan pada Hanin yang masih berdiam diri di dalam ruangan pribadi yang berdekatan dengan dapur. Merasa membutuhkan penjelasan, meski enggan mengganggu, tapi Hanin sangat ingin tahu. Hanin menarik tuas pintu dari sibakan kelopak matanya yang membengkak, dapat dipastikan bahwa gadis itu menangis semalaman. Langkah kaki ia gerakan perlahan untuk menghampiri Nabila yang sedang melipat pakaian di lantai yang dilapisi karpet lembut lengkap dengan televisi menyala memperlihatkan tayangan acara talk show di salah satu stasiun televisi ternama. Hanin tampak ragu. Namun ia berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk memanggil nama Nabila. . "Kak Bila," sapa Hanin menarik perhatian Nabila sang istri pertama. "Eh, kak Nin. Udah makan, kak?" ucap Nabila bertanya dengan bibir mengulas senyuman setipis kertas. Hanin menggeleng. Bagaimana bisa ia menikmati makanan jika hati dan pikirannya masih belum mendapatkan ketenangan. "Aku, aku mau bicara," ujar wanita itu, nadanya masih terbata dengan mata masih tak berani menatap pada Nabilla. "Ah, iya. Ada apa?" "Boleh aku duduk disana," "Tentu saja boleh." Hanin tersenyum samar seraya mendudukkan bantalan pinggulnya tepat di samping Nabila. Sebelum ia bicara, Hanin menarik napas panjang dan melepaskannya secara perlahan. "Kak, aku mau minta maaf. Aku benar-benar nggak tahu kalau mas Angga sudah menikah. Aku ... " Kalimat Hanin menggantung di udara, hatinya seperti teriris pedang tajam. Sehingga mengundang air mata lagi-lagi menuruni pipinya. "Ini menyakitkan. Sangat, kak Nin, tapi aku bisa apa? Abhi adalah adik kesayangan dari abang. Apapun yang diinginkan oleh Abhi, ia pasti akan mendapatkannya. Meski aku tahu jika permintaan yang harus abang penuhi bisa menjadi pisau belati yang menikam jantung. Yaitu, menggantikan dia untuk menikahimu." Papar Nabila tak kalah menyedihkan. Ia sempat hancur dan tidak bisa berpikir jernih. Ah, jangankan itu, membayangkan tangan dan mulut sang suami menyebutkan nama wanita lain dalam ijab dan qobul selain dirinya yang hanya ia percayai bahwa memang akan menjadi satu-satunya. Ditambah lagi kondisi Nabila yang tengah mengandung. Sungguh, kenyataan itu membuat ia sempat berpikir untuk pergi saja dari rumah. Akan tetapi pada akhirnya, Angga memberi penjelasan dengan bersungguh-sungguh dan memberi janji bahwa wanita yang berhak memperlakukan dirinya sebagai suami hanya Nabila sendiri. Mendengar penuturan dari Nabilla yang juga telah menjadi korban keadaan. Hanin berjanji pula pada diri, bahwa di sini, ia hanya sebagai orang asing yang tidak akan pernah mendapatkan haknya dari status yang ia sandang. "Janji ya, Kak. Jangan merebut Abang dari aku." Lirih Nabila penuh permohonan pada Hanin yang ia balas dengan anggukkan. Mencoba paham bahwa dalam takdir yang menghampiri dan mempersatukan dirinya dengan Angga. Ada sosok yang lebih terluka lagi daripada menerima pernikahan ini. Yaitu penerimaan Nabila terhadapnya juga statusnya. Jika ditelisik tentu saja semuanya tengah berpegang pada ego sendiri, lalu mengenyahkan kewajiban yang harus dijalani dan dipenuhi terhadap pasangan masing-masing. Ah, luka. Ia memang selalu semengerikan itu. Menumpulkan pikiran, menghilangkan logika dari rasa yang bisa saja ... salah. . Cuaca hari ini cukup bagus dan sangat cocok untuk pergi berjalan-jalan. Dulu seperti itulah kebiasaan Hanin disaat merasa kebosanan. Namun kali ini, semenjak ia tinggal bersama Angga, Hanin merasa hanya diliputi kebingungan. Ia bahkan lebih sering mengurung diri di dalam kamar jika sudah selesai membantu Nabila dengan urusan rumah. Setidaknya Hanin masih cukup tahu diri dia berada di mana? Meski haknya sebagai istri yang hanya status di atas akta saja, Hanin harus berterima kasih sebab diterima baik oleh Nabila. Walau kadang Hanin berpikir bahwa wanita itu terlihat terpaksa. Jelas saja bukan, perempuan mana yang bisa semudah membalikkan telapak tangan menerima sosok wanita lain dan asing tiba-tiba hadir di tengah rumah tangganya yang tentram. Sembari memikirkan itu, mata Hanin kemudian jatuh pada bingkai kecil yang ia simpan di sisi ranjangnya. Potret pria berlesung pipi dengan senyum sehangat matahari terpampang di sana. Ia rindu, sangat rindu dengannya. Pada sosok yang selama tiga tahun pernah menemani, memahami dan menyayangi setulus hati. Walau pada akhirnya takdir seolah menjungkir balikkan keadaan lalu menyeretnya pada sebuah ikatan pernikahan. Kadang Hanin tidak habis pikir, apa alasan Abhi meminta kakaknya menikahi dirinya, untuk menggantikan posisi di saat ia sendiri malah dalam keadaan sekarat. Ya, Hanin ingat betul waktu itu memang hari pernikahannya. Semua sudah hampir sempurna, malah Abhi yang terlihat baik-baik saja ketika di hadapan penghulu, tiba-tiba terkulai tak sadarkan diri. Siapa yang tidak panik? Hari bahagia itu berganti menjadi jerit tangis, terlebih Hanin ia yang awalnya duduk di dalam kamar, berlari keluar sebab ketenangan itu berganti menjadi keributan. Abhi, ia sempat dibawa ke rumah sakit terdekat. Laki-laki itu sempat tersadar lalu malah membuat permintaan yang tak pernah siapapun bayangkan. Yaitu, menyaksikan kakaknya menyebutkan nama Hanin dalam ijab qabul. Angga sempat menolak, ia bersikeras tidak mau sebab ia sudah memiliki istri. Namun sayang di saat kekalutan itu, kedua orang tuanya malah mendesak, meski mereka tidak pernah menyetujui hubungan Abhi dan Hanin sebelumnya. Demi permintaan itu akhirnya terjadi juga. Dalam hening bercampur perih menggerogoti, lagi, hanya air mata Hanin jatuh melewati pipi. Masih tanpa jawaban yang ia cari, mengapa alur hidupnya jadi seperti ini? . Hanin mengesat kedua sisi wajahnya yang basah ketika mendengar ketukan daun pintu bertalu beberapa kali. Wanita itu beranjak dari atas kasur menuju papan datar yang menjadi saksi bagaimana hampa hidupnya sekarang. Begitu pintu sedikit terbuka, Hanin cukup terkejut sebab yang ada di depan ruangan pribadinya adalah Angga, suaminya. "Saya minta nomor rek; kamu," ujarnya tanpa basa-basi. "Hah?" sahut Hanin belum mengerti. "Saya minta nomor rek; bank kamu," ulang Angga tanpa mau menatap pada Hanin. "Untuk?" tanya Hanin ingin tahu. "Saya nggak mau istri saya mengomel terus gara-gara saya nggak tanggung jawab sama kamu," ungkapnya Hanin tidak langsung merespon saat mendengar itu. Ia mencerna kalimat yang dilontarkan Angga jika yang di anggap istri olehnya adalah Nabila. Hanya Nabila. Hanin lalu mengangguk lalu bergerak ke dalam. "Sebentar, saya catat dulu," "Kirimkan lewat ponsel kamu," titah Angga suaranya masih datar. "Tapi saya nggak punya nomor ponsel kakak," jawab wanita itu. "Ambil ponsel kamu," Hanin mengangguk lagi, lalu kembali masuk untuk mengambil benda pipih miliknya. Setelah Hanin mengkonfirmasikan nomor ponsel dan nomor rekeningnya pada Angga, Hanin mencoba mencoba menghentikan langkah sang suami yang berlalu begitu saja. "Kak," seru Hanin. Angga berhenti tanpa mau repot-repot membalikkan badan," Apa?" "Aku mau kerja, boleh?" tukas Hanin meminta ijin. "Terserah!" jawab Angga lantas kembali melanjutkan kaki kembali. "Terima kasih." Gumam Hanin lalu kembali menutup pintu. 🌵🌵🌵 Malam ini Hanin dan Nabila bercengkerama di dapur, keduanya persis adik dan kakak ada canda di antara obrolan itu. Sama sekali tidak melibatkan apapun, termasuk membahas laki-laki atau membicarakan Angga. Di sini Hanin hanya ingin menjaga perasaan Nabila, ia tidak mau dicap perempuan perebut suami orang. Hanin pun sudah bicara pada Nabila bahwa ia hanya ingin dianggap sebagai adik. "Kak Bila," panggil Hanin di tengah-tengah obrolan. "Hmmm," "Kakak punya teman, nggak," "Teman, ada lumayan. Tapi yang dekat tidak seberapa. Kenapa?" "Aku mau nyari kerja, kalau semisal teman kakak ada yang lagi butuh pegawai atau karyawan, kasih kabar ya," seloroh Hanin. Nabila nampak mengerutkan kening mendengar itu. "Apa uang dari Abang nggak cukup?" tanyanya. "Eh, nggak. Bukan gitu, aku dulu udah terbiasa kerja, jadi agak gimana gitu kalau cuma berdiam diri di rumah. Nggak enak juga sama kakak," ungkapnya sedikit memerankan intonasi suara. Terdengar helaan napas dari Nabila. "Dulu juga aku kerja, loh. Tapi semenjak nikah, Abang ngelarang aku kerja," "Aku cuma mau ngisi waktu luang aja, Kak. Pingin tahu juga kota ini bagaimana," "Nggak ada yang aneh di kota ini," potong Nabila. Cara ia berbicara sedikit berubah dari sebelumnya. Seperti keberatan ketika Hanin bertanya mengenai pekerjaan. "Oh, oke," sahut Hanin lantas melipat kedua bibir. Akan tetapi Nabila berpikir lagi. Ia tak memiliki hak untuk membatasi Hanin. Apalagi mengenai keinginan wanita itu bekerja. "Kalau Abang mengijinkan kamu, nanti akan saya coba carikan," tukas Nabila dengan senyum kelewat samar. Mengundang binar dalam bola mata Hanin. "Makasih, Kak." Ucapnya sedikit senang. . Setelah acara makan malam usai, Hanin kembali ke tempatnya, begitu pun Angga dan Nabila. Namun ada yang lain dari wanita itu ketika Angga menyadari raut berbeda dari istrinya, sedikit muram dan mendung. Antara kepedulian dan penasaran, Angga yang semula fokus pada ponsel, beralih memerhatikan Nabila. "Kamu kenapa?" Lembut sekali suara itu bertanya pada istri pertama. "Abang ngijinin Hanin kerja?" sembur Nabila. "Dia ngadu ke kamu?" Pria itu malah membalikkan tanya. Nabila menggeleng. "Dia cuma minta tolong kasih tahu kalau semisal ada teman-teman aku yang butuh karyawan bisa kasih tahu dia," Angga mengangguk paham. "Abang cuma jawab terserah. Nggak mengiyakan, juga nggak melarang." Sanggah Angga. "Aku iri loh sama dia. Tetap bisa kerja meski sudah jadi istri kamu," "Sayang, ingat bayi kita, ya." Angga segera mengingatkan. "Kalau kondisi kamu baik, Abang juga nggak keberatan, tapi kamu kan...," "Lain, maksud kamu," potong Nabila lagi. "Nggak gitu maksudnya." "Dokter memvonis, harus ada yang selamat di antara aku dan bayi ini. Siapa yang kamu pilih Bang? Kalau memilih aku, kamu nggak akan punya anak. Kalau kamu memilih bayi ini, aku yang akan pergi. Tapi kamu masih memiliki harapan keturunan dari Hanin. "Suara Nabila bergetar saat ini, secara tidak langsung ia tak bisa membayangkan bagaimana kelak Hanin benar-benar akan menggantikan posisi dirinya. "Jangan membahas apa-apa lagi, Bila. Kamu dan bayi kita akan baik-baik saja." kilah Angga dengan dekapan hangat untuk sang istri. Tetap saja Nabila merasa tersayat ketika mengingat bahwa kondisi badannya yang tidak memungkinkan, sehingga membahayakan salah satu kelak jika ia melahirkan. . Bersambung....
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
seruuu bgett
24/03
0ceritanya menarik
14/02
0seruuu
29/09
0Ver Todos