logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 2

Hanin duduk di atas kursi dan meja makan dengan jemari saling bertaut satu sama lain. Ia cukup gemetar saat ini, ketika malam begitu sunyi dan keriuhan yang tadi sempat terjadi telah sepenuhnya usai.
Hanin bahkan kini menggigit bibir dalamnya dengan mata sekilas memerhatikan pria  bersetelan kemeja berlengan panjang yang ia gulung kainnya sampai ke siku, pun celana katun berwarna senada tengah sibuk mengaduk makanan di atas penggorengan. Sampai tak butuh waktu lama untuk laki-laki itu menyajikan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur di atasnya.
Tanpa kata, ia menyimpan piring yang telah berisi dengan hidangan buatannya ke depan Hanin lantas berlalu begitu saja. Sepasang kaki panjangnya melangkah bebas menuju lantai atas dimana ruangannya terdapat di sana.
Hati Hanin kian tercabik. Ia tak tahu harus apa setelah ini? Juga menghadapi penerimaan dari keluarga sang suami terhadap dirinya sangat kentara sekali. Ketidaksukaan pada tiap lirikan mata mengundang dilema, lalu bertanya pada diri. Mampukah ia menjalani ini?
☘️☘️☘️
Hanin menghentikan langkah ketika ia kembali ke lantai atas. Berdiri di antara lorong ruang dengan beberapa pintu tertutup rapat. Sunyi sekali.
Tangannya sebentar-sebentar terangkat, ingin mengetuk ruangan yang tadi sempat ia tempati. Namun hatinya terlalu ricuh saat ini sebab begitu takut mengganggu. Hingga ia sempat melirik ke arah belakang, di mana ada ruang dengan sebait nama menempel di papan pintu.
Hanin sebak, ia mendekati kamar itu lalu tanpa ragu menarik tuas yang kebetulan tidak terkunci. Mendapati itu, ruang pikir Hanin langsung terpenuhi oleh bayangan seseorang yang paling ia sayang. Sehingga entah kekuatan dari mana, tapak kaki-kaki telanjang miliknya yang tanpa alas menerobos masuk ke sana.
Tanpa terasa air mata Hanin luruh pada akhirnya. Matanya tidak berhenti melihat seisi ruang, di mana potret dengan senyum yang akan selalu dirindukan itu mengembang hangat dalam bingkai besar.
"Kamu. " Hanin sedikit menggumam. Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya sebab sakit lagi-lagi menghimpit perasaannya yang kini berganti rumit dan pada akhirnya tangan Hanin meraih bingkai kecil dan mendekapnya dengan penuh kesakitan, juga sebagai penghibur dari rindu yang tak lagi berujung temu. Hanin melewati malam itu dan terlelap di sana.
                                                    ☘️☘️☘️
Pagi menjelang, Hanin sadar ia berada di mana. Namun, ketika netra bulatnya meneliti kembali, ruangan yang semalam ia singgahi berbeda dengan yang saat ini ia tempati.
Hanin bangun sesegera mungkin. Mencoba meraih sadar secepat yang ia bisa, ketika bingung melanda perpotongan raga.
Akan tetapi sebelum itu terjadi. Suara berat telah mencuri atensi Hanin sepenuhnya.
"Cepat bersihkan dirimu, setelah itu kemasi barang-barangmu. Jangan sampai ada yang tertinggal." Pesannya terdengar datar, dan Hanin yang diam kemudian tersadar oleh suara roda koper berukuran besar berbunyi begitu berisik.
.
Hanin tidak tahu ia akan dibawa pergi kemana sepagi ini ketika langit masih cukup redup. Tak ada kata pamit kepada keluarganya atau apapun itu. Ia merasa sedang dibawa kabur oleh laki-laki yang memang tidak ia kenal sebelumnya.
Merasa takut dan cemas, Hanin yang diam sejak tadi memberanikan diri untuk bertanya pada Angga yang juga hanya bungkam saja.
"Kitt---kittaa mmmau kkkemana?" Hanin bertanya dengan terbata-bata.
"Pulang," jawab Angga hanya sepatah.
"Pulang," ulang Hanin. "Tapi ini bukan jalan ke rumah bibiku,"
"Pulang ke rumahku." Sahut Angga, tegas.
Hanin sempat terperangah, mencoba untuk bicara lagi. Namun pada akhirnya lebih memilih bungkam lalu memalingkan wajah ke luar jendela.
.
Jika saat itu aku maupun kamu tak saling bertemu.
Mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dan membiarkanku berakhir pada sesuatu yang pilu. Terlebih nyata menyeret pada langkah, bahwa bukan kamu takdirku. Benak Hanin masih bermonolog berisikan sesal. Sementara Hanin tahu, mana mungkin ia menyalahkan takdir sedangkan salah satu ketentuan Tuhan paling mutlak itu tentang jodoh yang sudah tertulis jauh sebelum dirinya terlahir ke dunia.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Hanin dan Angga tiba di sebuah hunian sederhana yang letaknya di luar kota. Setelah kendaraan milik Angga terparkir di halaman. Pria itu langsung melenggang keluar dari dalam kendaraannya tanpa mau mempersilakan Hanin untuk turun atau masuk ke dalam rumah secara bersama-sama.
Hanin akhirnya hanya bisa menghela napas. Lantas harus turun sendiri dan masuk ke tempat asing sekali lagi. Namun, ketika Hanin hendak melangkah, sebuah pemandangan lain menyambut kehadirannya. Sebab, di sana, di muka pintu seorang wanita dengan rupa jelita tengah tersenyum kelewat ramah pada Angga. Begitupun Angga, yang notabenenya sudah menjadi suami Hanin malah bersikap jauh berbanding terbalik pada dirinya.
Terlebih tangan besar Angga mengusap hangat perut wanita itu yang memang sedikit membuncit.
Siapa dia? Apakah sedang mengandung?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang  sedang bergelut dalam benak Hanin. Namun, ia segera mengusir pikiran itu dan menguatkan diri untuk melanjutkan langkah.
"Assalamualaikum," Hanin mengucap bingung, berdiri tepat tak jauh di belakang Angga.
Tak ayal sapaan itu membuat Angga teringat pada Hanin. Seorang perempuan yang tidak lain adalah pacar dari mendiang adiknya yang sekarang sudah pun menjadi istrinya. Lebih tepatnya istri keduanya.
"Wa'alaikum salaam." Sahut sang wanita yang ada di depan pintu menjawab sapaan dari Hanin.
Dapat dilihat ada keterkejutan dalam sorot matanya. Hingga menghadirkan selapis kabut yang ia tutupi dengan senyuman.
"Abang masuk dulu, ya!" bisik Angga pada wanitanya tanpa mau peduli pada Hanin yang menunggu agar Angga mau mengajak dirinya juga.
Meski kenyataan itu lagi-lagi harus Hanin telan secara mentah-mentah.
"Ayo, Kak mari masuk," ajak perempuan itu pada Hanin.
Hanin mengangguk pelan seraya mengikuti langkah wanita itu.
"Kakak mau istirahat langsung atau mau minum dulu? Oh, iya jangan sungkan ya, anggap saja rumah sendiri dan kamar kakak ada di sana, sudah Nabila bereskan. Semoga kakak betah." Jelas wanita itu secara tidak langsung mengenalkan dirinya sendiri dengan menyebutkan namanya.
Hanin kian bingung. Pertanyaan sama kembali terngiang dalam pikirannya. Ada ketakutan luar biasa yang sedikit lagi menyentuh ulu hatinya. Namun tetap berpikir, semoga itu tidaklah benar.
"Bila, Sayang. Abang mau mandi, tolong siapkan pakaian ya, Abang mau ke Galeri." Laung Angga dari dalam kamarnya.
"Iya, Bang sebentar!" sahut Nabila. "Kak, Bila masuk dulu ya, kalau kakak mau istirahat, silakan aja." Pamit wanita itu masih dengan senyum melengkung indah menghiasi wajah.
Sedang Hanin jelas terperangah. Sebutan mesra itu terdengar begitu mengganggu, hingga benar prasangka yang ada seolah menampar memberi nyata. Jika Nabila adalah istri Angga. Lalu, siapa dirinya?
                                                 ☘️☘️☘️
"Abang pergi dulu, ya. Jaga diri baik-baik." Pesan Angga pada Nabila. Tak lupa telapak tangannya mengusap perut sang istri dengan penuh cinta. Hingga pria dengan raut wajah tampan dengan rahang begitu tegas itu rela sedikit menurunkan posisi kepala demi menunduk dan memberi ucapan serupa pada calon sang buah hati. "Halo, Baby. Jangan nakal harus baik sama ibu ya, ayah pergi kerja dulu." Bisiknya lantas tak ragu mengecup lembut buntalan perut Nabila.
Wanita itu tertawa, senang sekali jika ia diperlakukan sebagaimana mestinya. Meski ia sadar, bahwa saat ini hatinya sedang menghadapi kelut seorang diri.
Bagaimana tidak, menerima kabar bahwa laki-laki yang pernah berjanji padanya untuk tidak pernah berkhianat, kini malah membawa wanita lain yang berstatus sama dengan dirinya turut masuk tinggal bersamanya.
Hatinya bukan lagi sebatas sakit. Namun perih dan hancur semakin menggerogoti. Akan tetapi mau bagaimana? Tidak akan ada manusia yang mampu berkelit dari ikatan takdir yang senantiasa menuntun untuk tetap terlihat kuat. Nabila hanya percaya, kendati pernikahannya tercoreng oleh adanya istri kedua, hati Angga akan selalu ada untuknya.
"Bang," Nabila menyeru suaminya seraya mencegah kaki Angga yang akan berlalu begitu saja.
"Kenapa?" jawab Angga.
Nabila memberi isyarat dengan cara menolehkan kepalanya pada ruangan yang dihuni oleh Hanin. "Pamit dulu sama dia."
"Nggak, ini udah siang. Nanti Abang telat." Elak Angga yang langsung melepaskan pautan tangan Nabila dan langsung mempercepat langkah.
Nabila menatap sendu, ia tak bisa memaksa dan hati kecilnya sulit menerima nyata.
Sementara Hanin, ia menangis dalam diam. Ingin menampik apa yang terjadi, dan berpikir kenapa harus menyanggupi permintaan terakhir dari Abhi, kekasihnya. Jika pada akhirnya ia hanya menjadi perempuan kedua.
Bersambung....

Comentário do Livro (175)

  • avatar
    APHP1MIRANTI.

    seruuu bgett

    24/03

      0
  • avatar
    Dyanda

    ceritanya menarik

    14/02

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    29/09

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes