"Kalau kamu sayang, kenapa memilih pergi? Apa kamu nggak kasian sama aku? Kenapa?" Hanindya Utami _________________________________________ Bunyi daun kering bergemerisik, lalu hancur akibat terusik. Hingga suara ranting kayu turut pasrah terinjak menjadi patahan yang berserak. Sore ini, suasana terlampau sunyi. Langit masih menunjukkan hawa panas meski waktu sudah menunjukkan pukul empat sore hari dan di sana, wanita dengan rambut separa bahu duduk dengan tangan meraba jantung yang ada di balik rongga dada. Sesekali napasnya menghela panjang dan berat. Lalu tak berapa lama, tetesan air mata melintas menuruni pipi. Berharap luka yang ada tak lagi menyiksa. Akan tetapi, semakin mencoba mengusirnya. Sakit itu semakin merajam raga, dan terkadang ia tak tahu harus berbuat apa? Sedang keadaan sekarang teramat berbeda dengan apa yang pernah ia inginkan. Pernikahan impian bersama kekasih yang menjanjikan kebahagiaan, kini musnah lalu tergantikan oleh dilema tak berkesudahan. Sebab ikatan yang ada tak lebih dari keterpaksaan dari janji yang entah kapan pernah terucap dalam hati. "Nin." Suara hangat meleburkan puing-puing kenangan yang sempat menari dalam ingatan. Gadis bertubuh kurus itu menoleh ke belakang, masih dengan posisinya, duduk di atas bangku kayu bertahap mata sayu. Di sana, tak jauh dari posisi Hanin, sesonok wanita paruh baya menghampiri dirinya yang masih tenggelam bersama sisa-sisa kesedihan, ia cukup sadar bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya. Mendapati sorot mata teduh dari perempuan yang selama ini merawatnya, bibir gadis itu pun tersenyum segaris, masih ingin membuktikan jika hidupnya baik-baik saja. "Iya, Bi," sahutnya. "Ada yang mencari kamu," ucap sang Bibi membuat kedua alis wanita muda itu saling bertaut. "Hah! Siapa?" jawabnya, ada kejut dalam ekspresi wajah Hanin. Bibi tak langsung memberi respon atas pertanyaan keponakannya. Tangan wanita itu malah terangkat untuk mengusap helaian rambut perempuan muda yang nasibnya tampak selalu tak sejalan dari alur hidup yang diinginkan. "Suamimu," kata bibi tampak ragu ketika mengucapkan kalimat itu. Membuat Hanin langsung terdiam, seluruh tubuhnya mendadak kaku, pun wajahnya turut menunjukkan ekspresi kian sayu. Namanya, Hanindia Utami atau kerap kali di sapa Hanin. Wanita itu masih berusia dua puluh tahun saat dinikahi oleh pria yang tak begitu Hanin kenal sejak dua minggu lalu. Melihat respon Hanin, sang bibi turut kebingungan, tetapi mau bagaimana lagi, keponakan yang ia besarkan dengan limpahan kasih sayang tanpa membeda-bedakan dengan anak kandungnya itu kini telah memiliki suami. Bibi merasa tidak punya hak untuk menghalangi kalau suami yang telah memperistri keponakannya itu akhirnya datang ke kediamannya. Entah untuk tetap dibiarkan di sini, atau membawa Hanin pergi. "Nin," panggil bibi lagi. "Ttttapi," "Jangan takut, bibi ada disini." Ucap bibi seolah memberi keyakinan dan dorongan untuk Hanin. Hingga di detik selanjutnya halaman belakang rumah sederhana itu hanya menyisakan embusan angin yang membuat kulit menggigil. ☘️☘️☘️ Hanin duduk di atas sofa panjang, kepalanya tertunduk dengan tangan enggan melepaskan pautannya dari jari sang bibi. Hanya membiarkan sepasang kupingnya mendengarkan penjelasan dari paman dan laki-laki dengan setelan berbeda dari dirinya. Jelas, itu menunjukkan bagaimana kasta antara keluarga Hanin dan pria itu bak bumi dan langit. "Kami tidak akan menghalangi, karena memang itu bukan hak kami lagi. Istrimu, sudah sepenuhnya milikmu dan hakmu." Begitulah kira-kira ucapan sang paman yang lantas hanya dibalas anggukan kepahaman dari pria berusia tiga puluh dua tahun itu. "Terima kasih, paman. Sebisa mungkin saya akan menjaga Hanin dengan sebaik-baiknya," tukas si pria cukup membuat genggaman tangan Hanin semakin enggan untuk lepas. "Bi," Bibir Hanin yang kelu kini berseru. Terlihat jelas bahwa itu adalah tanda keberatan dari Hanin. "Nduk," sang paman menyeru Hanin. "Paman bukan mengusir, bukan juga mau membuang kamu. Tidak! Tapi sekarang keadaan berbeda. Kamu sudah berumah tangga, kamu sudah menikah, suamimu tanggung jawabmu." Pesan sang paman begitu mengundang perih di hati Hanin. Kendati demikian, ia tahu. Ia tak akan bisa menolak hal itu. Sebab cepat atau lambat, pria yang dua minggu lalu mengucapkan ijab qobul atas nama dirinya akan datang dan membawa serta dirinya. "Kapan pun kamu mau, kamu boleh datang. Paman atau bibi akan selalu membuka pintu rumah ini lebar-lebar. Hanya saja, satu. Harus atas ijin dari suamimu. Jangan sekali-kali melangkah keluar rumah tanpa ijin darinya. Itu pesan dari paman yang harus kamu ingat." Hanin mengangguk pilu, wanita dalam balutan kaos dan celana panjang berbahan katun berwarna hitam itu lantas menegakkan badan. Melangkah dengan kaki terseret tanpa ada kerelaan sedikit saja di dalamnya. Kalau seandainya bisa, ia ingin tetap di sana. Tanpa harus mengikuti kemana pria ini akan pergi membawa dirinya. Sayang, bibirnya terlampau kelu untuk sekadar membuka suara. ☘️☘️☘️ Langit sudah sepenuhnya menggelap ketika Hanin keluar dari rumah paman dan bibinya. Sudah hampir dua jam juga perjalanan kendaraan hitam milik Angga Ajisasmita menembus hening, nama suami Hanin. Ya, Hanin maupun Angga sama-sama diam saat ini. Tak ada sapaan, tak ada pertanyaan dan tak ada keromantisan selayaknya pengantin baru. Keduanya persis orang yang menikah dengan latar keterpaksaan. Tetapi bukan berarti Hanin tidak mengenal laki-laki yang sekarang begitu fokus mengendalikan kemudi. Hanin tahu, meski tidak sepenuhnya. Tetapi pria itu .... Hanin masih enggan percaya bahwa hidupnya akan sedemikian rumit dan tak tertebak. Ia seperti terjebak. Terjebak dalam putaran yang ... Entah! 🌵🌵🌵 Setibanya di tempat tujuan. Sepasang kaki Hanin tampak ragu untuk mengikuti langkah Angga yang sudah terlebih dahulu menerobos kokohnya pintu utama tanpa mau repot-repot mengajaknya. Iya, gadis itu masih tertegun dengan bibir bagian bawah tergigit oleh giginya sendiri. Menutupi kebingungan yang di alami sampai pada akhirnya memang lagi-lagi kata mau tidak mau harus di terima. Meski Hanin sendiri tidak bisa lupa. Bagaimana ia pernah mendapatkan sambutan tak menyenangkan ketika tungkai kakinya untuk pertama kali menginjakkan di pelataran hunian yang tentu saja bisa dikatakan bukan tempat orang biasa. Hanin sendiri sempat berpikir kalau hari itu merupakan hari pertama sekaligus terakhir untuknya bisa memasuki dan duduk dengan ketidakyyamanan di sana. Sayang, semua praduga itu memang harus tertelan dalam sekali bulatan. Lalu sadar, jika kenyataan akan selalu menempatkan dirinya di atas angan maupun realita dan tentu saja akan selalu ada pahatan luka sebagai jejaknya. "Masuk atau saya seret kamu." Suara tegas nan penuh penekanan itu terdengar menyedihkan. Sehingga dengan berat hati, Hanin menganggukkan kepala kelewat pelan. Meninggalkan bayangan dari balik daun-daun rindang yang mungkin saja Hanin lebih rela untuk tetap berada di sana. Tanpa harus repot-repot masuk ke dalam sana dan Hanin cukup tahu sendiri risiko macam apa yang akan ia terima. Setelah itu, Hanin tidak bisa menyembunyikan kalau sekarang detak jantungnya berdegup kencang seakan mengajaknya mati saat ini juga. Ditambah tatapan dari orang-orang yang dengan leluasa menanggalkan topeng demi menunjukkan ketidaksukaan terhadap dirinya, dan itu memang terjadi sudah dari sejak lama. Bahkan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya pun ... sama. Kecuali! "Hai, Kak. Pasti namanya Hanindya Utami ya?" Sapaan riang itu membuat Hanin kikuk ketika seorang remaja datang menghampiri dirinya. Senyum dan sorot bola matanya menunjukkan ketulusan. Telapak tangannya masih terulur berharap mendapat sambutan dari Hanin. "Selamat datang di keluarga ANTONI WIJAYA," sambungnya masih dengan nada penuh kehangatan. Hanin lantas perlahan membalas uluran tangan gadis dengan kaos coklat tua, dan celana pendek rumahan itu, rambutnya terurai panjang kehitaman. Ah, jangan lupakan lesung pipi yang terdapat di gadis itu. Menambah aura lain dan Hanin yakin itu adalah persahabatan. "HHhhhhaaaai," sahut Hanin, pelan. Remaja yang ada di depannya kian tersenyum lebar, "Kenalin Kak, aku Arissa," ucapnya, "Bungsu wanita satu-satunya dari empat bersaudara dan semua kakak-kakakku laki-laki. Huh! Menyebalkan!" Sambungnya tapi tentu saja tidak dengan menunjukkan rasa sebal yang sesungguhnya. "Hai, Hanin," balasnya masih sangat kaku. "Kakak pasti capek. Sini, ikut aku antar ke kamar Bang Angga." ajak Risa tak segan meraih pergelangan tangan wanita yang menurut status adalah kakak ipar barunya. Risa mengajak Hanin menaiki titian anak tangga menuju ke lantai dua. Di mana, di sana terdapat beberapa kamar. "Ini kamar aku, kalau kakak mau main atau nemenin aku boleh banget. Pokoknya ruangan aku 100% terbuka untuk kakak." Papar Risa, ceria. Tak sampai disitu saja, Risa masih menunjukkan bagian-bagian lain yang menurut Risa sendiri, kakaknya itu harus tahu. Termasuk, kamar milik mendiang kekasihnya, Abhi. Cukup lama Hanin tertegun di depan pintu kamar dari pria yang sempat menjanjikan hal terindah itu untuknya. Meniti bagian tatanan hidup bersama sampai kelak keduanya menua. Namun sayangnya, sebelum semua terlaksana. Kekasih Hanin sudah pun pergi meninggalkan dirinya. Hingga sebuah tragedi naas seperti mengambil alih separuh dari kewarasan Hanin sendiri. Sehingga, saat ia tersadar, ada dua hal yang harus ia terima. Yaitu, kehilangan atau menuruti permintaan. ☘️☘️☘️ Putaran waktu berlalu, entah sudah jam berapa sekarang, yang pasti usus-usus dari dalam perut Hanin sudah berkerut mengundang bunyi. Dan tidak ada satu orangpun yang mengajaknya untuk makan malam atau memberinya setetes air minum. Meski di luar sana masih sangat ramai orang-orang mengobrol dan Hanin harus rela terperangkap di dalam kamar milik Angga. Ya, lagi pula mau di mana, kan? Toh ia harus sadar diri kalau yang menjadi pasangan hidupnya adalah kakak dari Abhi. Dan entah apa yang terlintas dalam pikir Abhi sehingga begitu ngotot menginginkan melihat dirinya menikah dengan pria asing pemilik sifat yang berbanding terbalik dengan diri Abhi sendiri. Sungguh, semakin dipikirkan, kepala Hanin langsung merespon dan itu sakit sekali. Maka demi apapun yang ada di dunia, Hanin segera menepis semua ingatan tentang Abhi, meski ia tahu jika itu bukan hal mudah. Merasa perutnya kian tak tahan menahan perih, Hanin meraih tas yang sejak tadi menggantung di pundaknya. Berharap menemukan sesuatu dari dalam sana. Sesuatu yang bisa ia makan sekadar menjadi ganjalan. Dan, ya Hanin merasa bersyukur karena ia berhasil menemukan satu bungkus roti coklat yang sempat ia beli beberapa waktu lalu masih tersisa di sana. Lalu dengan tidak sabaran Hanin merobek plastik pembungkus makanan itu dan segera melahapnya. Akan tetapi, belum selesai ia dengan makanan dalam genggamannya. Sebuah seruan membuat Hanin mau tidak mau menghentikan gigitannya. Sebab, dari suaranya saja, sudah bisa Hanin tebak bahwa itu penuh dengan ketidaksukaan. "Siapa yang nyuruh kamu makan di kamar saya?" Hanin diam, wajahnya menunduk. Kunyahannya perlahan tapi pasti memelan dan roti yang ia telan rasanya begitu seret. "JAWAB!" Inonasi suara itu meninggi. "Saya, saya, ... saya lapar," gugu Hanin masih menyembunyikan wajah. "Kenapa nggak bilang?" "Saya ... ta!" Belum selesai dengan kalimatnya, tangan besar itu melingkar kuat dipergelangan tangan Hanin. Tanpa membuang waktu, pria itu membawa Hanin keluar dari kamarnya, menyeretnya keluar dengan wajah penuh ketegangan. Hanin sendiri langsung merasa ciut dengan pikiran mendadak kalut. Mau diapakan dia? Apa salah dia? Kenapa? Bersambung ...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
seruuu bgett
24/03
0ceritanya menarik
14/02
0seruuu
29/09
0Ver Todos