logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 BUNGA LAYU

"Sayang, kamu mau tidur cepet apa enggak?" Tanya Angga mengusap lembut kepala isterinya. 
"Belom ngantuk sih. Emang kenapa? Mau nonton film apa mau ngemil?" Terka Vanya. 
"Mau coba bikin sekarang nggak?" Goda Angga dengan wajah genitnya. 
"Mas, masa tiap hari sih?" Protes Vanya dengan senyum malunya. 
"Biar cepet jadi." Angga memulai aksinya. 
 
Waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Bunga pulang menyusuri jalan sepi di daerah rumahnya. Udara dingin seketika menyeruak kala ia melewati sebuah taman perumahannya. Bunga pun mempercepat langkahnya. Saat ini bukan hantu yang ia takutkan. Melainkan manusia yang berniat jahat padanya.  
 
Suara langkah kaki yang diseret membuatnya berkeringat sekarang. Bunga tak berani menengok ke belakang. Tatapannya fokus ke depan mencari cahaya yang lebih terang. Hingga ia mendengar sayup-sayup dari belakang tubuhnya, "Hei!" Suara serak dan berat terdengar begitu saja. "Hhhaaaa!" Bunga berteriak tanpa menoleh sedikit pun. "Dasar anak muda, kalau mau dimintain tolong malah kabur," ketus seorang nenek yang tengah berjalan mengenakan mukena untuk pergi ke masjid.  
 
Bunga berlari sekencang-kencangnya sampai tubuhnya menabrak sebuah pos ronda. "Mbak! Mbak nggak papa?" tanya seseorang. Bunga mengaduh kesakitan saat ia terjatuh. Dibantu beberapa bapak-bapak yang tengah meronda. "Eng-nggak papa kok," jawab Bunga seraya menatap sekelilingnya. Tatapannya berhenti ke arah Zainal yang baru saja menanyai keadaannya. Wajahnya memerah menahan malu karena telah menabrak pos ronda yang terbuat dari kayu itu. 
"Mbak Bunga, mau dianterin pulang?" Tanya salah satu bapak. 
"Oh, nggak usah, udah deket kok. Makasih," jawabnya seray berlalu.  
"Bapak-bapak, sebentar lagi subuh mari kita ke masjid," ajak Zainal. 
 
Bunga yang masih terkejut segera berjalan pulang. Sesampainya di depan rumah, ia melihat sendal Safiya berada di depan pintu rumahnya. Tidak biasanya anaknya itu meletakkan sendal mungil merah jambu tersebut di sana. Ia akan menyimpannya di rak dalam rumah saat sudah tidak pergi ke mana-mana.  
Bunga memeriksa kamar anaknya. Ternyata Safiya masih tertidur pulas memeluk boneka taddy bear kesayangannya. Ia lega mengetahui anaknya baik-baik saja di rumah. Bergegas ia membersihkan diri. Tak lupa mengecek dapur barangkali Safiya tidak membereskan sisa makannya.  
 
"Loh kok tumben nggak ada piring kotor. Apa Fiya nggak makan semalam?" batin Bunga. 
Sepiring nugget dan nasi masih utuh di atas meja. Tidak biasanya Safiya melewatkan makan malamnya. Apa lagi nugget adalah salah satu makanan kesukaannya.  
Karena hari akan segera pagi, Bunga tidak menyia-nyiakan lauk pauk sisa semalam. Ia akan menggoreng nasi saat Safiya terbangun nanti.  
 
"Loh, ini dari mana? Masa mama papa ke sini semalem?" gumam Bunga saat melihat bungkus makanan cepat saji di dalam tempat sampahnya.  
Bunga mengira orangtuanya semalam mampir untuk membelikan makanan itu pada Safiya. Sehingga Safiya tidak memakan nugget yang telah ia siapkan.  
 
"Mama? Mama udah pulang?" tanya Safiya dari ambang pintu kamarnya. 
"Eh sayang, kamu udah bangun. Mama gorengin nasi goreng pakai nugget nih. Kamu semalam makan chicken ya dari nenek?" Bunga tersenyum ke arah anaknya. 
"Hah? Umm, iya Ma. Maaf ya masakan Mama jadi nggak ke makan sama Fiya," jawabnya gugup. 
"Nggak papa sayang. Cepet kamu mandi hari ini kita mau ke toko buat beli seragam sekolah kamu," ucap Bunga. 
 
Safiya nampak bingung. Seolah ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan. Gadis kecil itu teringat ucapan papa dan ibu tirinya yang akan mengajak dirinya untuk membeli seragam sekolah juga. Rasanya tak kuasa memberi tahu Bunga karena takut akan kecewa.  
Tanpa komentar Safiya berjalan menuju ke kamar mandi. Segera mandi dan bersiap pergi. Tak lupa Bunga menghidangkan sarapan sebelum Safiya selesai dari kegiatan mandinya.  
 
~••~ 
 
Sekitar pukul sembilan pagi ibu dan anak itu telah siap untuk pergi. Berjalan bergandengan tangan menyusuri gang kontrakan mereka. Tubuhnya terasa lelah. Rasa kantuk beberapa kali membuat matanya sayu. Rutinitas pulang kerja dini hari menjadi pemicu terganggunya aktivitas siangnya. Biasanya Bunga akan langsung tidur setiap kali selesai membuat sarapan untuk anaknya.  
 
"Ma, nanti beli yang penting dulu aja. Untuk yang lainnya bisa nyusul kalau Fiya udah sekolah," celetuk Safiya ketika tengah menunggu angkot di pinggir jalan besar. 
"Loh kenapa sayang? Kamu nggak mau beli tas, buku, sama sepatu sekalian? Biar tidak usah bolak-balik ke tokonya nanti," jelas Bunga. 
"Fiya nggak mau Mama abis uangnya. Nggak papa Ma, papa juga beliin Fiya nanti," ujarnya dengan senyum khas anak-anak. 
"Tidak! Apapun yang Fiya mau, bilang sama Mama ya. Jangan Fiya minta ke papa," ketus Bunga sedikit meremas tangan mungil anaknya.  
 
Raut wajah Safiya berubah. Kepalanya sedikit tertunduk karena ia tak berani melanjutkan ucapannya. Hanya mengutarakan niat papanya saja Bunga terlihat tidak suka dan marah. Apalagi jika Safiya mengatakan tentang keinginan papanya untuk dirinya tinggal bersama. Sudah dipastikan Bunga akan marah besar. 
 
Srkitar lima belas menit menggunakan angkutan umum mereka pun tiba di toko peralatan sekolah di tengah pasar. Bunga sibuk memilih seragam untuk dijajal anaknya. Meski masih pagi, tapi pengunjung sudah lumayan berjubel di sana.  
 
"Sayang yang ini pas nggak?" Bunga menempelkan rok merah pada pinggul Safiya. 
 
Tak lupa topi, dasi, dan seragam pramuka ia ambil juga. Keringat Bunga terlihat bergulir sebesar biji jagung di dahinya. Menandakan ia telah lelah mencari kebutuhan sekolah Safiya di tengah ramainya pengunjung toko. 
"Ma, ayo pulang. Ini sudah cukup," rengek Safiya menarik lengan Bunga.  
"Iya sebentar sayang, tas kamu belum dapet." Safiya yang mulai kepanasan akhirnya terduduk di depan toko seraya melipat kedua tangannya.  
 
Hampir satu jam berlalu akhirnya Bunga keluar dari toko membawa dua kantong besar belanjaannya. Ia menyeka keringat di dahinya. Menghela napas sesaat sebelum menghampiri Safiya yang masih duduk termenung.  
"Sayang, kamu capek ya? Maaf ya Mama baru selesai belanjanya. Sekarang Fiya mau makan apa biar Mama beliin," ujar Bunga mengusap poni anaknya. 
"Fiya mau pulang aja Ma. Kita makan bakso di gang rumah aja," jawabnya dengan tatapan lelah.  
"Ya udah kalau kamu maunya bakso. Yuk!"  
~••~ 
Di sisi lain Vanya tengah sibuk mencari peralatan sekolah Safiya dari ponselnya. Vanya rebahan di sofa sambil sesekali ia menggulirkan layar ponsel menemukan barang yang perlu dibelinya.  
 
"Sayang, aku malam ini lembur ya. Aku beresin kerjaan dari sekarang biar weekend kita panjang," kata Angga seraya memakai kaos kakinya. 
"Iya, Mas." Vanya kembali sibuk menggulir layar ponselnya. 
"Kamu lagi belanja online ya anteng banget," terka Angga. 
"Iya nih, Mas." Vanya duduk dari tidurnya. "Aku beli semua kebutuhan sekolah Safiya di sini biar weekend kita maen aja," jelasnya.  
"Loh kita nggak jadi belanja bareng nih?"  
"Mas, anak-anak itu butuh kasih sayang lebih dari kita. Kalau kita habiskan buat prepare kebutuhan mereka nanti quality time kita yang berkurang. Jadi aku aja yang siapin kebutuhannya, nah kita tinggal habiskan waktu bareng buat maen ya," jelas Vanya. 
 

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    BilaCaca

    gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍

    03/06/2025

      0
  • avatar
    khumairoharum

    baguss bgt ka ceritanyaaa

    02/06/2025

      0
  • avatar
    Queena Alika Aprilia

    keren

    01/06/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes