logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Lilin aroma terapi

"Siapa yang," tanya Stela yang telah selesai dari mandinya.
"Oh itu iklan pinjaman onlen, udah aku hapus," jawab Rama berbohong.
"Oh, terus kamu nggak jadi sarapan nih?" tanya Stela sembari mengeringkan rambut basahnya.
"Nggak udah nggak napsu," ucapnya.
Rama berdiri dan menghampiri Stela yang tengah mengeringkan rambut dengan handuknya.
"Yang,"
"Hmm,"
"Kamu keramas pagi-pagi, perasaan semalem aku nggak nganu..." ujar Rama memandangi Stela dari kaca riasnya.
*Ppplllaaakkk
Sebuah pukulan mendarat tepat di muka Rama.
"Ooouugghhh," rintihan Rama.
"Mon maap itu otak perlu di vacum sepertinya, ngeres sekali bund," ujar Stela.
"Tumben-tumbenan aja pagi-pagi kamu keramas kan biasanya seminggu sekali pas malem jumat doang," ledek Rama.
"Sepertinya anda harus segera pergi sebelum saya mendadatkan ini di wajah anda," Stela menunjukan sebuah hairdryer di tangannya.
"Oke oke see you honey," ucap Rama sebelum lari terbirit-birit.
|
|
|
|
"Kok nggak di bales ya, apa Stela marah banget ya sama gue," batin Gilang.
"Sayang nggak jadi pergi?" tanya mami tiba-tiba mengejutkan Gilang.
"Eh mi, nanti sore kayaknya," jawab Gilang.
"Oh ya udah, yuk sarapan dulu mami udah siapin sandwich pake telor dadar kesukaan kamu," ajak mami.
"Oke mi,"
Hari itu lumayan membuat Gilang bersemangat. Pasalnya ia akan menemui sahabat lamanya. Entah Stela akan mengajak Nadin atau tidak, yang pasti Gilang sudah merasa senang jika Stela mau menemuinya.
Sementara itu di kantor Nadin
"Yang ultah siapa yang harus repot siapa," gumam Nadin.
Bram yang mendengar gumaman Nadin seketika menanyakan apa yang terjadi hingg membuatnya terlihat kesal.
"Kenapa sih bund, ngomel-ngomel aja, masih pagi juga," ujar Bram.
"Ini nih, si Stela, cowoknya yang ultah aku pula yang repot," jawab Nadin.
"Ya itung-itung belajar sebelum punya cowok nantinya ye kan," goda Bram.
"Hilih, males banget," ucap Nadin.
Tak terasa jam makan siang pun tiba. Nadin yang masih sibuk dengan ponselnya hanya diam tertunduk.
"Mau lunch bareng nggak Nay?" tanya Bram yang kini berdiri tepat di sebelah Nadin.
"Nggak, nanti minta tolong OB aja beliin makan," jawabnya tak lepas dari ponselnya.
"Oh ya sudah om turun dulu ya," ujar Bram meninggalkan Nadin.
Nadin masih sibuk mencari kue ulang tahun dan beberapa pernak-pernik pesta seperti balon, terompet dan topi ulang tahun.
"Nad, nggak makan siang?" tanya Mustofa yang tiba-tiba berada di depan mejanya.
"Astaga!" pekik Nadin terkejut.
"Sorry kaget ya, lagian kamu khusyuk banget liat hp nya," ujar Mustofa.
"Eh pak, mm enggak," jawab Nadin gugup.
"Kalo kamu nggak keluar makan siang, boleh minta tolong nggak," ucap Mustofa.
"Oh iya, minta tolong apa pak," jawab Nadin seketika berdiri.
"Ke ruangan saya ya," perintah Mustofa.
Terlihat di ruangan masih tersisa beberapa karyawan yang belum keluar untuk makan siang. Maka dari itu Mustofa mengajak Nadin untuk mengikuti masuk ke ruangannya.
"Masuk Nad,"
"I..iya pak," jawabnya.
"Canggung banget ya kita di kantor, padahal enak manggil aku kamu aja," ujar Mustofa duduk di kursinya.
Nadin hanya tersenyum manis mendengar ucapan Mustofa. Ia bingung harus mengiyakan atau menyangkalnya. Faktanya ia benarlah bawahan Mustofa di kantor itu. Tidak etis jika ia memanggil atasannya dengan panggilan seperti itu.
"Mm bapak perlu bantuan apa ya, ada vendor yang perlu di kejar pak?" tanya Nadin.
Mustofa hanya melirik ke arahnya sembari tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa map biru dari lacinya.
"Ini minta tolong di cek lagi ya," ucap Mustofa membuka map itu.
"Oh iya baik pak," Nadin mengambil map tersebut.
"Mm tunggu Nad, malam ini kamu bisa lembur kan?" tanya Mustofa.
"Oh iya pak, kebetulan memang dari divisi logistik minta saya buat lembur juga untuk deadline lusa," jawab Nadin.
"Enggak divisi logis nggak kekurangan SDM, kamu lembur bantu saya bikin laporan ya, besok saya ada meeting sama klien, saya mau kamu temani ya," ujar Mustofa.
"Mm siap pak baik," jawab Nadin.
Langkah Nadin terburu-buru menuju mejanya. Saat ini hanya reputasi yang ia pertahankan. Ia tak peduli jika harus lembur hingga larut malam. Di kesampingkannya rencana membuat kejutan pada Rama malam nanti. Ia hanya berharap bisa pulang sebelum tengah malam tiba. Rutinitas setiap tahun kala mereka selalu merayakan ulang tahun bersama.
Dokumen demi dokumen Nadin periksa dengan seksama. Ia tak mau ada kesalahan dalam kerjanya. Terlebih kini Mustofa menjadi atasannya.
Hampir seharian Nadin mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan oleh Mustofa. Sore pun berganti malam seiring karyawan kantor beranjak pulang satu persatu. Kini tinggal Nadin, Bram dan dua rekan kerjanya yang lain. Dan tentu saja Mustofa yang masih betah di dalam ruangannya.
"Nay, mashroom with paperoni right?" tanya Bram.
"Yoi bro," jawab Nadin dengan seringainya.
Sudah menjadi kebiasaan mereka memesan pizza sebelum lembur di kantor. Pastinya Bram sangat tahu jenis pizza apa yang di sukai Nadin.
"Nad, boleh bantu saya sebentar?" ucapan Mustofa di depan pintu ruangannya mengagetkan Bram.
"Baik pak," Nadin segera berdiri.
"What? kok dia masih..." ucap Bram terpotong.
"Ssstt udah nitip pizza gue dulu ya," ucap Nadin berjalan ke ruangan Bram.
Cekrekk...
"Misi pak, ada yang bisa sa..ya bantu," ucap Nadin.
Seketika ruangan Mustofa berubah bak menjadi tempat meditasi dengan wewangian yang menenangkan. Ditambah lilin aroma terapi di tiap sudut membuat suasana menjadi sangat romantis.
"Kenapa? oh ini, aku emang suka suasana terapi, biar otak rilex pas lagi lembur gini," jawabnya santai.
"Ohh iya," Nadin duduk di depan Mustofa.
Terlihat Nadin yang beberapa kali menarik napas dalam bak terhipnotis dengan suasana ruangan Mustofa.
"Enak ya?" tanya Mustofa menyadarkan Nadin.
"Ehh, maaf pak," Nadin pun kembali fokus dengan pekerjaan di hadapannya.
"Santai aja, kalo kamu mau, nih," Mustofa mengambil satu kardus kecil lilin.
"Eh ng...nggak usah pak," jawab Nadin.
"Aku harus memastikan karyawanku rilex saat mereka bekerja, dengan begitu kerjaannya terasa ringan, dan satu lagi, diluar jam kerja jangan panggil pak ya," ujar Mustofa.
"Aduh nggak enak di denger yang lain pak, eh Mus," jawab Nadin canggung.
"Ya udah panggil Mumus aja kek Stela," ujar Mustofa.
"Eh jangan, ya udah Mus aja," jawab Nadin.
Nadin merasa jika ia memanggil dengan panggilan imutnya Stela dulu, sudah di pastikan semua teman kantornya akan berpikiran tidak-tidak dengan hubungan mereka.
"Ini yang harus di kerjain dan jangan lupa cek vendor besok, karena di luar kalian lembur berempat, di bagi-bagi aja ya biar cepet selesai," ujarnya.
"Oh siap pak, eh Mus," jawab Nadin.
Nadin segera merapikan berkas di hadapannya dan tak lupa membawa satu kardus kecil berisi lilin aroma terapi yang di berikan padanya.
"Mm makasih juga buat lilinnya," ucap Nadin.
Mustofa hanya tersenyum. Ia menatap langkah Nadin yang akan keluar dari ruangannya. Seketika saat Nadin akan membuka pintu, Mustofa menghampirinya.
"Nad!" Mustofa menggenggam tangan kiri Nadin yang telah berada di gagang pintu.
Entah ada sihir apa mata mereka saling beradu tanpa sepatah katapun. Kini wajah mereka sangat lekat di depan mata. Mustofa semakin mendekatkan wajahnya tanpa menutup mata.
Cekrek
"Misi pak,"
Terdengar suara pintu yang terbuka. Itu adalah Bram, tanpa sengaja ia melihat pemandangan mengejutkan di depan matanya. Posisi Nadin dan Mustofa yang sulit menghindar saat Bram tiba-tiba membuka pintu ruangannya.
"Oh maaf maaf," Bram menutup kembali pintunya.
Seketika suasana menjadi canggung. Mustofa melepaskan genggaman tangannya dan Nadin kembali ke luar menuju mejanya.
Nadin bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Mustofa saat itu. Namun tubuhnya terdiam kaku tak mau bergerak. Pasti saat ini Bram telah berpikiran yang aneh-aneh tentangnya.
"Eh Nay, ini pizza nya," Bram menghampiri Nadin di mejanya dan memberikan pizza.
Nadin hanya terdiam seolah malu dengan kejadian yang tadi di saksikan oleh Bram.
"Bram," panggil Nadin.
"Hmm," jawabnya.
"Yang tadi..."
"Udah santai aja, salah gue nggak ketok dulu, harusnya gue yang minta maap," ujar Bram.
"Tapi itu nggak seperti yang lo kira sumpah," Nadin berusaha menjelaskan.
"Nay santai aja, kalo pun iya emang hak gue apa buat ngelarang?" ucap Bram mengelus rambut Nadin.
Bram beranjak menghampiri rekn kerjanya yang lain dengan setumpuk berkas yang harus mereka kerjakan. Nadin yang merasa tidak enak dengan Bram hanya berusaha profesional saat mereka mengerjakan tugas masing-masing.
Waktu berlalu, terlihat beberapa temannya sudah mulai menguap tanda mereka telah lelah seharian bekerja. Nadin pun yang tak kalah mengantuk teringat akan lilin yang di berikan Mustofa tadi. Ia pun berinisiatif menyalakannya di depan mejanya.
"Hmm bau apa ini?" tanya salah satu temannya.
"Kayak bau lavender tapi bukan obat nyamuk," jawab yang lain.
"Oh ini lilin aroma terapi, enak kan jadi rilex," ujar Nadin.
"Wuih mau juga dong di mejaku Nay," ujarnya.
"Boleh nih ambil aja banyak, tadi di kasih sama pak Mus," jawab Nadin.
Bram yang melihat itu sama sekali tidak tertarik untuk memintanya. Di saat semua menyalakan lilin itu, terlihat Bram yang berlebihan meminum kopi untuk mengusir kantuknya.
"Bro ini lu nggak mau? gratis nih," celetuk temannya pada Bram.
"Nggak, ntar gue nyalain lu yang ngider mau!" jawabnya ketus.
Nadin yang merasa Bram kesal dengannya dan Mustofa hanya melirik Bram tanpa berkata.
Waktu kini menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Beberapa kali Stela menelepon untuk memastikan keberadaannya. Untung saja kue yang di pesan Nadin telah siap di kosan Stela sejak tadi sore. Jadi jika ia telat datang pun Stela masih bisa memberikan kejutan pada Rama.
Cekrek
"Loh kalian belum pulang?" tanya Mustofa yang telah keluar dari ruangannya.
"Eh pak, masih sedikit lagi tinggal laporan buat presentasi," jawab salah satu karyawan.
"Udah bisa di lanjut besok, sekarang kalian pulang ya, saya duluan," ujar Mustofa.
Mustofa pun berjalan meninggalkan mereka dengan senyumannya menatap Nadin.
Beraambung...

Comentário do Livro (148)

  • avatar
    BooBae

    Semangat lanjutkannya ya, aku mo baca dulu 😍😍😍

    01/05/2022

      0
  • avatar
    TampubolonAngelina

    mana nii lanjutNnya min 😭😭😭

    21/07

      0
  • avatar
    baby aiko rui apanji

    baguss

    13/06/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes