"Nad, lu di mana? kalo nggak ada baksonya cepet balik ya, kita mau gfood aja nih," ketik Stela di pesannya. "Gue langsung balik, ibu minta di beliin nasgor jadi gue pulang nggak apa-apa ya see u later," balas Nadin. Di tengah gerimis yang masih tersisa, langkah kaki Nadin terasa gontai menyusuri basahnya jalan itu. Tatapannya penuh sendu jika teringat cinta lamanya yang belum usai. "Gilang Samudera" Ya, itulah yang selalu terngiang di kepalanya. Perasaan yang selama ini berusaha ia hilangkan. Tetapi tak bisa di pungkiri bahwa cinta itu masih ada meski terjerembab jauh di dasar hati. "Assalamualaikum," ucap Nadin. "Walaikumsalam," jawab ayah dan ibu serentak. "Loh ibu kira kamu nginep di kosan Stela," ujar ibu. "Iya Nadin lupa ada kerjaan yang harus di selesaikan malam ini, flashdisknya di rumah," ujarnya sembari membuka sepatu. "Kelihatannya anak ayah suntuk banget mukanya, ada masalah apa nak?" tanya ayah yang duduk di sampingnya. "Nggak yah, cuman capek aja banyak kerjaan, Nadin masuk kamar dulu ya," ucapnya. "Kamu udah makan belum?" tanya ibu. "Sudah bu," jawab Nadin masuk ke dalam kamarnya. | | | | [Yess honey, pokoknya dua minggu lagi I'll back to holand, I promise] [Enjoy your time baby, manfaatkan dengan keluarga mu ya, I always waiting you here] [Okay, see you soon, I love you] [Love you too] Cinta Gilang pada Amy memang berjalan seiring waktu. Entah itu benar cinta tulusnya atau hanya sekedar memaksa hati untuk mencinta. Yang pasti saat ini Gilang berusaha menerima dan mencinta semampunya. "Sayang, makan malam dulu," ucap mami Gilangdari ruang makan. "Iya mi," jawabnya. Gilang pun makan malam bersama maminya. Terlihat kerinduan seorang ibu pada anaknya yang tak bisa di sembunyikan. Tatapan kesendirian mami terpancar jelas di matanya. "Mi, kalo mami kesepian di sini, mending ikut Gilang aja ke belanda ya!" ajak Gilang. "Mami mau di sini aja, rumah ini satu-satunya kenangan keluarga kita," ucap mami menggenggam tangan Gilang. "Gilang udah lupa semuanya mi," ucapnya melanjutkan makan. Gilang kecil memang terbilang anak yang kuat. Pasalnya sosok ayah yang selalu di idolakan anak lelakinya adalah sosok yang menakutkan bagi Gilang kecil. Hampir setiap hari papi yang ia banggakan itu selalu mematahkan keberaniannya. Gilang selalu menyaksikan kejamnya seorang lelaki dewasa pada keluarganya sendiri. Luka fisik bahkan psikis selalu di terima olehnya. Bukan hanya ia, namun maminya pun kerap menjadi sasaran kekerasan oleh papinya. Tak heran jika ia benar-benar membenci ayahnya. Gilang selalu menyibukan diri dengan berkegiatan di alam bebas. Semata untuk mengusir kepenatan saat di rumah. Saat ini papinya memilih untuk tinggal bersama istri mudanya. Beberapa kali ia menghubungi Gilang saat telah tinggal di Belanda, namun tak sedikit pun Gilang menggubrisnya. Luka yang sedari kecil membekas, tak bisa di sembuhkan begitu saja. Meski Gilang berusaha melupakan sosok ayah dalam hidupnya, tetapi mami tak pernah dendam atau pun melupakannya. Justru selalu mengingatkan Gilang bahwa ia tetaplah ayahnya. "Sayang, kabar Amy gimana? kenapa nggak sekalian kamu ajak dia pulang ke indo sih, mami kangen loh," ucapnya. "Iya mi, Gilang juga udah ngajak, tapi dia masih sibuk sama tugas kuliahnya mih," jawab Gilang. "Mami berharap kamu bisa segera menikah sama Amy, dia gadis cantik, baik, manis pokoknya mami udah sayang banget sama dia," pujinya. Gilang hanya tersenyum mendengar ucapan maminya. Dulu saat masih bersama Nadin ia pun begitu. Membanggakan dengan berlebihan. Namun saat tahu anaknya patah hati dan memilih untuk pergi ke luar negeri, mami pun menjadi benci bahkan tak pernah lagi menyebut namanya di depan Gilang "Mm, mih Gilang besok mau jalan-jalan ya, kangen banget sama temen-temen motor trail,"ujar Gilang menghabiskan makannya. "Iya, puasin deh kamu mumpung di sini," ucapnya. Hampir empat tahun Gilang tak pulang, ia merindukan suasana alam dan teman-teman motonya. Meski tempat itu menjadi saksi bisu tumbuhnya benih cinta dari dua anak manusia, namun Gilang tak ingin berlarut mengingatnya. Malam berlalu begitu cepat. Terasa sunyi meski desiran angin dan binatang malam menemani. ~~~ "Pagi bu, yah," sapa Nadin di meja makan. "Tumben kamu nggak ke siangan pagi ini," ucap ibu dengan senyumnya. "Iya semalem tidur cepet capek banget, mm oh iya bu Nadin nanti pulang kerja kayaknya mau nginep di kosan Stela, kak Rama besok ultah jadi kita mau kasih surprisse," ujar Nadin. "Wah Rama ulang tahun besok? mm suruh ke rumah ibu bikinin nasi kuning, kita rayain di sini aja," usul ibu. "Iya bener, udah lama Stela juga nggak maen ke rumah, bapak kangen bawelnya dia," ucap ayah. "Iya nanti Nadin bilangin," Pagi itu Nadin berangkat sangat santai, pasalnya ia bangun begitu awal hingga hampir saja ia menjadi orang pertama yang tiba di kantornya. "Pagi mbak Nadin, wah pagi sekali nih datengnya," sapa OB yang tengah menyapu ruangan kerja Nadin. "Pagi pak," sapa Nadin dengan ramah. Nadin duduk di bangku kerjanya sembari menghela napas dalam. Rutinitasnya kembali di hadapi pagi itu. Setumpuk kerjaan menanti untuk ia selesaikan. Tak lupa ia memesan kopi pada OB yang tengah bertugas. Di tengah coffee morningnya itu terdengar panggilan telepon berulang dari ponselnya. Itu adalah Stela. [Halo, kenapa pagi-pagi dah nelpon tumben banget] [Nad, nggak lupa kan ntar malem] [Iya iya, ntar pulang kerja aku langsung ke kosan] [Woke, eh kamu tau nggak kalo...] [Kalo apa?] [Mm, nggak deh ntar aja, ya udah semangat ya kerjanya salamin buat Musmus hihihi] [Sue lu] Nadin menutup panggilannya itu. Stela yang selalu mengganggu harinya membuat ia lebih semangat. Ia pun kembali dengan kerjaan di depan komputernya. "Good early morning Naynay," sapaan khas Bram pada Nadin. "Morning om Bram," balas Nadin. "Wuedeh, rajin banget pagi-pagi udah nangkring di sini," ledek Bram yang tepat di sebrang mejanya. "Kayaknya gue bakalan lembur," ucap Nadin yang masih fokus di depan komputer. "Oke om Bram siap menemani," ucap Bram. "Pizza time!" seru Nadin. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika waktu lembur tiba pastilah Bram selalu membeli pizza untuk mereka. Itu lah yang membuat Nadin selalu semangat saat pekerjaannya benar-benar menguras tenaga. | | | | Sementara itu di kos Stela "Yang, udah bangun kah? mau sarapan apa?" ketik Rama dalam pesan singkatnya. "Belum ayang, pengen bubur ayam deh, tapi makannya di kamar aku ya, mager keluar," balas Stela. "Woke," jawab Rama. Stela menghabiskan waktu semester akhirnya dengan bermalas-malasan di kamar. Entah harus menggunakan cara apalagi untuk membujuknya menyelesaikan tugas akhirnya. Bahkan seorang Rama yang notabene mantan ketua BEMnya pun tak sanggup menyuruhnya. *Tttookkk ttookk tttookkk "Yang, aku masuk ya," Rama masuk membawa dua mangkok makanan di tangannya. "Breakfast time, eh yang aku pengen gibah sama ayang, sini deh," Stela menggeser duduknya. "Apaan, pasti ngobrolin drakor marathon kamu kan? dari pada kamu nonton drakor ngabisin tisu mending kamu kerjain skripsi mu sayang," ucap Rama. "Ish enggak, bukan itu, nih ya aku kan lagi buka sosmed ya, terus aku liat Gilang balik ke Indo dong," Stela menunjukkan ponselnya. "Mm, terus kenapa?" tanya Rama yang tengah memakan lontong kari. "Ya tadinya aku mau kasih tau Nadin, tapi ku pikir lagi nggak perlu deh keknya, kamu liat sendiri kan kemaren kamu nyebut nama Gilang aja dia langsung galau," ujar Stela mengaduk buburnya. "Ya jangan kalo gitu," jawab Rama. "Iiihhh kamu nyimak aku nggak sih," ucap Stela sedikit kesal. Seketika Rama meletakkan mangkoknya dan segera minum. Sesaat setelah menelan sisa makanannya, Rama pun menghela napas dalam. "Yang, gini deh ya, aku tau kamu itu udah temenan sama Nadin dari kecil, aku juga tau kamu care banget sama dia, tapi bukan berarti seluruh masalah pribadinya kamu kepoin, dia udah gede udah bisa nentuin cintanya sendiri, kamu cukup support aja nggak lebih," jelas Rama. "Mm iya sih," jawab Stela sembari memakan lontong kari Rama. "Oke jadi mulai sekarang Stop ya buat kepoin Gilang lagi, aku tau kamu dulu temenan deket sama dia dari SMA, tapi semua sudah berubah, kamu pun coba hubungin dia dari dulu ada balesan? enggak kan?" tegas Rama. "Iya betul betul," jawab Stela asyik mengunyah. "Nah udah, berati dia udah nggak mau berteman dengan masa lalunya," jelas Rama. "He'eh iyak," "Ayangggg, kenapa abisin longtong ku hikshiks," rengek Rama. "Lontong ayang, mmmhh aaahhh maap khilaf yang, kamu makan bubur ku aja ya, aku mau mandi dulu," ujar Stela beranjak dari tempat duduknya. "Iiihhh nggaaaaakkkkk buburnya di aduk nggak suka gelay," umpat Rama. Stela dan Rama yang berusaha selama empat tahun menemani Nadin dari keterpurukannya melepas Gilang. Hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Seluruh memori yang pernah terekam bersama Gilang, perlahan di hapuskan oleh kedua sahabatnya itu. Bukan hal yang mudah bagi Nadin melalui fase sulit itu. Terlebih saat ia menghadapi kenyataan dengan ayahnya, yang sampai saat ini Gilang tak pernah mengetahuinya. *Ttiinnnggg Notifikasi dari ponsel Stela terdengar. "Yang, ini ada notif nih," teriak Rama. "Siapa? buka aja, tanggung ini lagi kerasam," jawab Stela. "Keramas munaroh," gumam Rama. Rama pun membuka pesan yang masuk pada kotak masuk Stela. "Hah, Gilang" | | | | "Stel, apa kabar? sorry ya kalo lo baca ini pasti kesel, selama ini gue nggak balesin chat elo, lupain elo bahkan nggak ada buat lo saat lo curhat tentang patah hati lo, tapi gue cuman mau bilang gue lagi di indo sekarang, ya walau pun lo udah nggak peduli lagi sih, tapi gue berharap lo masih mau ketemu gue, :) kafe SECERIA kek biasa," Bersambung...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Semangat lanjutkannya ya, aku mo baca dulu 😍😍😍
01/05/2022
0mana nii lanjutNnya min 😭😭😭
21/07
0baguss
13/06/2025
0Ver Todos