[Halo, di kosan nggak Stel?] [Iya, lagi mabar lu nelponin mulu ah jadi afk aku cok] [Pulang kantor aku ke kosan ya, mau nitip apa?] [Apa aja wes, pecel lele sama soto boleh, pake gorengan sama thai tea sabi lah] [Laper apa ngerampok lu, ya udah ni aku bentar lagi beres, bye] Stela memang tak sepintar Nadin dalam bidang akademis. Terbukti ia harus tinggal di kampus lebih lama dari Nadin. Meski begitu persahabatan mereka tak pernah terpisah oleh jarak dan waktu. Nadin sering menginap di kosan Stela karena memang jarak kantornya lebih dekat jika ia berangkat dari kosan. Senja pun perlahan turun dari singgasananya. Meninggalkan langit yang gelap dengan kilatan cahayanya. Rintik hujan seketika membasahi jalan di hadapannya. "Ya elah telat dikit aja langsung gede gini sih ujannya," gumam Nadin di depan loby kantornya. Nadin hanya berdiri memandangi hujan yang sepertinya makin deras saja. Sesekali ia mengecek ponselnya untuk melirik jam berapa. "Woe, bengong aja kesambet ntar lu," kejut Bram. "Astaga, nggak bisa ya kalo nongol nggak ngagetin," ucap Nadin. "Maap maap, ayok kita pulang bersama wahai adinda Nadin," Bram mengulurkan tangannya. "Minus lu nambah ya?" tanya Nadin. "Hah, enggak kok, ini kaca mata masih sama," jawab Bram mengecek kaca matanya dengan bingung. "Lu nggak liat tuh, ujannya deres gitu, gimana mau balik," Nadin memutar bola matanya. "Tenang kakanda Brahmana membawa jas hujan di jok motornya," seringai Bram. Nadin terdiam sesaat memikirkan tawaran Bram. Bukan ia menolak ajakannya, namun ia telah berjanji membelikan makanan untuk Stela. Jika ia memaksakan menggunakan motor bersama Bram, pastilah akan basah karena hujan. "Aduh sorry banget nih, tapi gue baliknya mau ke kosan Stela dulu, mana harus beli makanan pesenan Stela, kalo pake motor ntar basah semua belum lagi harus berhenti-berhenti," jelas Nadin. "Oh iya juga sih ya," jawab Bram. "Nad, mau ke kosan Stela?" tanya Mustofa dari belakangnya. "Eh pak, iya," jawab Nadin gugup. "Ya elah udah di bilangin jangan manggil pak, kita seumuran kali," ucapnya dengan senyum. "Ehh iya Mus, ini lagi nunggu ujan dulu," ujar Nadin. "Udah bareng aja, aku bawa mobil yuk," ucap Mustofa. Nadin memandang ke arah Bram yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka. Nadin merasa tidak enak meninggalkannya sendiri menunggu hujan. "Hm, kenapa? ahaha udah sono balik lu, lumayan kan ada tebengan dari pada masuk angin ntar ke ujanan lu," ucap Bram. "Atau kamu mau sekalian bareng aja Bram," ajak Mustofa. "Oh enggak enggak pak, saya bawa motor, silahkan aja bawa pak," ucap Bram canggung. "Beneran nggak apa-apa nih lu nunggu sendiri?" tanya Nadin memastikan. "Udah biasa sendiri, sans aja udah," jawab Bram. "Oke kita duluan ya," ujar Mustofa. Nadin mengikuti langkah mustofa menuju basement kantor. Dari belakang terlihat jelas perawakan Mustofa yang sangat berbeda dari jaman sekolah dulu. Kini gayanya lebih kasual dan tak terlihat lagi kesan cupu yang dulu melekat padanya. Setelah Mustofa membukakkan pintu untuk Nadin, tak lupa ia menyalakan playlist lagu favorit nya sebelum beranjak pergi. "Meet me in amsterdam," ucap Nadin seketika mendengar lagu yang di putar Mustofa. "Yess, kamu tau lagu ini?" tanya Mustofa yang mulai menjalankan mobilnya. "Sure, it's my favourite song," jawab Nadin. "Me too, so romantic," ujar Mustofa. Sepanjang jalan membelah derasnya hujan, tak banyak obrolan antara mereka. Nadin dengan canggungnya tak bisa memulai obrolan. Teringat bagaimana dahulu Mustofa mengejarnya, membuat ia merasa aneh dengan situasi mereka saat ini. "Jadi kamu udah lama kerja di situ?" tanya Mustofa membuka obrolan. "Baru enam bulanan kok," jawab Nadin. "Tapi hebat langsung di posisi itu," puji Mustofa. "Lebih hebat kamu lah, kamu bisa sukses gini, nggak nyangka ketemu di kantor yang sama," puji Nadin kembali. "Hanya keberuntungan," jawabnya singkat. Seketika suasana menjadi hening kembali. Mustofa yang tak ingin membicarakan masalah kantor, berpikir untuk mencari topik lain agar mereka tidak diam. Hingga satu pertanyaan yang dari dulu bersarang di kepalanya pun keluar. "Mm, Nad aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Mustofa ragu. Nadin yang telah menebak jika Mustofa akan menanyakan statusnya terlihat mulai gelisah. Bagaimana kalau Mustofa masih mengejarnya dan akan menembaknya saat itu. Kali ini bukan hanya karis yang ia pertaruhkan, namun hatinya juga. "Halo, kok diem," ujar Mustofa membuyarkan lamunan Nadin. "Eh, i...iya mau nanya apa?" tanya Nadin gugup. "Dulu pas masih SMA, aku pernah nganterin kamu pulang kan, nggak sengaja aku ketemu di jalan pinggir trotoar, kamu lagi nangis dan sepanjang jalan kamu nggak mau cerita kamu kenapa, nah sekarang aku boleh tahu nggak dulu itu kamu nangis kenapa?" tanya Mustofa. *Dddeeggggg Jntung Nadin berdegub mengingat kejadian itu. Kejadian di mana ia telah di bohongi dan di lecehkan oleh Romi. Namun sebisa mungkin Nadin mengontrol emosi hatinya saat itu di depan Mustofa. "Tapi kalo nggak boleh juga nggak apa-apa, aku cuman penasaran aja sampe sekarang," ujar Mustofa sebelum Nadin menjawab. "Oh itu, enggak kok bukan apa-apa, aku cuman lagi kesel aja, di tipu agensi foto yang katanya mau kontrak tapi malah kabur," jawab Nadin sekenanya. "Oh gitu, aku kira kamu abis kerampokan loh, soalnya kamu nggak cerita sama sekali," ucapnya. Mustofa yang merasa tidak enak karena telah mengingatkan Nadin akan masa lalunya, akhirnya mengganti topik pembicaraan mereka. "Mm, oh iya Stela kabarnya gimana? kerja di mana sekarang dia?" tanya Mustofa penasaran. "Oh dia masih harus ngulang satu tahun lagi, biasa lah penyakitnya kambuh," ujar Nadin. "Hah dia sakit apa? parah ya?" tanya Mustofa terkejut. "Penyakit malesnya, jadi dia ketinggalan satu semester, harusnya tahun ini udah nyusun tuh dia, tapi ya susah sih kalo nasehatin dia," ujar Nadin. "Oh, hahahaha jadi ke inget dulu masih SMA dia sering banget boongin aku tuh, bilang kamu mau ketemuan sama aku, giliran sampe eh malah dia yang nongol kamunya nggak ada haha," ucap Mustofa. "Aduh sorry ya, aku nggak tahu apa-apa kalo soal yang tiu, duh tu anak emang," ucap Nadin menyembunyikan wajah malunya. "Haha santai aja, kampus kamu daerah sini kan? kosannya sebelah mana?" tanya Mustofa. "Oh itu pertigaan masuk ke kanan, nggak jauh dari situ," jawabnya. Setelah sampai di depan kosannya, Mustofa mengamati sekeliling daerah tersebut. "Mm udah sampe nih, aku boleh masuk duluan?" tanya Nadin. "Oh iya boleh, salam buat Stela ya," ucapMustofa. "Oke, makasih ya," Nadin segera masuk ke dalam untuk menemui Stela dan menceritakan apa yang ia alami hari ini. Dengan setengah berlari ia menghindari hujan mengguyur sedikit tubuhnya. | | | | "What??? lu ketemu Mumus cinta pertama gue? Oh may Godness, kenapa nggak lu ajak mampir ke sini sih," ujar Stela semakin histeris. "Heh centong sayur, lu nggak inget udah punya ka Rama? gila aja lu," ujar Nadin. "Ya tapi kan cuman silaturahmi doang masak nggak boleh," ujar Stela memanyunkan bibirnya. Setelah kejadian empat tahun silam, kini Rama resmi menjadi kekasih Stela. Entah pertimbangan apa yang ia ambil hingga memutuskan untuk memilih Stela sebagai kekasihnya. Selama hampir dua tahun mereka selalu bersama sebagai teman dekat, hingga Rama menyadari bahwa Stela lah yang ia butuhkan selama ini. Bukan Nadin yang memang tak bisa memaksakan hati untuknya. Namun dengan kedekatan mereka bertiga itu lah yang membuat Nadin semakin bahagia bersama sahabat sekaligus pacar sahabatnya yang tak lain orang yang memang ia sayang hanya sebatas teman itu. Kini Rama yang melanjutkan S2 nya di kampusnya itu pun selalu menemani Stela untuk bisa segera menyelesaikan kuliahnya. Namun memang dasarnya Stela yang malas, hingga kini ia masih belum memulai tugas akhirnya. "Assalamualaikum ukhti," Rama tiba-tiba masuk ke dalam kamar Stela. "Walaikumsalam," jawab mereka serentak. "Dari mana kak?" tanya Nadin. "Abis dari kampus Nad, nginep sini kamu?" tanya Rama meletakkan laptop di meja Stela. "Enggak ka, nanti malem pulang," jawabnya. Rama menghampiri Stela yang pura-pura mengabaikan kedatangannya dengan membenamkan tubuhnya di dalam lazy sofa yang terdapat di kamarnya itu. "Kamu nggak usah banyak drama ya, sinih aku kasih pelajaran," ucap Rama menggelitiki pacarnya itu. "Aaaaa ampun ampun ampun, aahahaha udah udah iya ampun," ujar Stela hampir kehabisan napas. Nadin melihat pemandangan itu hanya tersenyum melihat kebahagiaan kedua sahabatnya itu. Terlintas di benaknya bagaimana jadinya jika dulu ia menerima Rama, pasti saat ini mereka tidak akan sedekat dan sebahagia ini sekarang. "Ayo lah sayang, mulai sekarang yuk, aku udah ngumpulin materinya tuh di laptop mu, aku temenin sampe beres yuk," bujuk Rama. "Besok ya, aku lagi mager banget hari ini," jawab Stela. "Kamu bakalan bilang besok-besok terus kalo gini caranya, please ayok sayang," mohon Rama. "Udah kak biarin aja dia dengan masa depan suramnya, lagian skripsi siapa yang repot siapa, bentar lagi paling di D.O dia," ucap Nadin. "Ish jahat banget lu," jawab Stela. "Yuk kamu mau apa ntar aku beliin deh," ujar Rama menawarkan. "Mau makan yang, tadi nitip makanan nggak di beliin masak, gara-gara ketemu mantannya di kantor tuh," ujar Stela melirik ke arah Nadin yang tangah sibuk dengan ponselnya. "Iiih kan udah di bilang ujan maemunah," Nadin melempar bantal ke arahnya. "Hah mantannya siapa? Gilang?" tanya Rama. *Dddeegggg Seketika jantung Nadin berdegub saat mendengar nama Gilang. Stela yang mengetahui itu memandang tajam ke arah Rama. Seolah memberikan kode untuk tidak membahasnya. "Mm, eh ujannya dah reda keknya, gue turun dulu ya, kali ada kang bakso lewat," ucap Nadin menghindar. "Tuh kan, kalo depan dia jangan sebut nama Gilang yaaaanngg, sekarang dia kepikiran kan itu," ujar Stela menyalahkan. "Lah kan aku nggak tahu siapa aja mantannya, yang ku tahu cuma Gilang," ucap Rama. "Yah galau deh tu anak orang," ujarnya. Bersambung...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Semangat lanjutkannya ya, aku mo baca dulu 😍😍😍
01/05/2022
0mana nii lanjutNnya min 😭😭😭
21/07
0baguss
13/06/2025
0Ver Todos