Sementara itu Gilang yang telah menetap di belanda untuk menyelesaikan kuliahnya, tetap tak mampu membuatnya melupakan Nadin. Semakin ia berusaha untuk melupakan semakin muncul semua memori tentangnya dan Nadin. "Goedemorgen schatje," Sapaan khas dari Amy kekasih Gilang. Empat tahun berada di belanda, Gilang mencoba sedikit membuka hatinya untuk seseorang. Hingga Amy lah yang mampu mencuri hatinya. Amy adalah teman Gilang semenjak awal berkuliah di sana. Ayahnya berbangsa indonesia sedangkan ibunya berdarah belanda. Amy mengerti sekali akan semua tentang indonesia termasuk budaya, makanan hingga bahasa. Wajahnya yang blasteran bertambah cantik saat lesung pipitnya mengembang bersama dengan senyum. Mata coklat di padu dengan rambut pirang sebahunya membuat lelaki mana pun akan tergoda. "Morning baby, aarrgghhh," Gilang meregangkan badannya. "Gimana tidurnya, nyenyak?" tanya Amy sembari mengecup bibir Gilang. "Nice baby, tumben kamu ke sini pagi-pagi?" tanya Gilang yang beranjak dari ranjangnya. "Aku sengaja mau buat kehutan kamu," ujar Amy. "Kejutan sayang bukan kehutan," Gilang tersenyum melihat kekasihnya yang tak bisa lancar berbahasa indonesia. "Let's prepare your vacation baby," Amy memberikan map. Gilang membuka map itu dan membacanya dengan seksama. Di lihatnya Amy telah mempersiapkan paket penerbangan menuju indonesia. Gilang terkejut saat mengetahui Amy memberikan itu untuk dirinya. "Honey, you don't have to do this," ujar Gilang menatap Amy. "I just try to give you surprisse, you don't like it? you can ignore it," Amy mengambil tasnya. Gilang segera mengejar Amy dan memeluknya. Ia memeluk Amy penuh sesal karena tak menghargai niat baiknya. "I'm so sorry honey, but aku nggak mau pulang, aku mau di sini sama kamu," ucap Gilang memejamkan matanya. "I want you happy, aku nggak mau liat kamu melamun memikirkan negaramu," Amy memeluk erat Gilang. "Ini bukan soal kerinduan Amy," batin Gilang. Pagi itu Amy membantu Gilang untuk membereskan baju dan segala perlengkapannya. Gilang yang tak bersemangat hanya memperhatikan Amy dari meja makannya. "Honey, sudah lah, jangan bawa baju terlalu banyak, nanti repot aku kalau pulang ke sini lagi," ujar Gilang. "Baby, kamu kan cuma lihat saja, so diam aja ya," ujar Amy tersenyum. Gilang hanya memperhatikan Amy sembari memakan serealnya. Sejak awal kuliah Gilang terbiasa sendiri di apartemen nya. Pertemuannya dengan Amy tak sengaja ketika ada acara di kantor dubes indonesia. mulai sejak saat itu Gilang tertarik pada Amy, begitu pun sebaliknya. Meski kehadiran Amy dapat mengobati luka Gilang bertahun silam, tak bisa di pungkiri jika ia tetap mengingat Nadin cinta pertamanya. "Oh iya baby, kamu sudah apply cv kerja belum?" tanya Amy. "Sudah honey, belum ada panggilan aja," jawab Gilang. "Kamu yakin mau kerja di sini? tidak kangen di indonesia?" tanya Amy sembari sibuk melipat baju Gilang. "Mm, nggak sih, kan di sini sama kamu, lagian mama papa juga sering ke sini kalau kangen aku honey," jawab Gilang. "Ya semoga saja kamu tidak berubah pikiran setelah pulang ke indo nanti," ucap Amy. Gilang menghampiri Amy yang tengah duduk di tepi ranjang. "Apa pun yang terjadi, I never leave you," Gilang mencium kepala Amy. "Thank you baby," ucap Amy tersenyum. Gilang berjalan ke arah balkon fleet nya, menatap ke luar pintu kaca yang menyuguhkan pemandangan ladang persawahan dan aliran sungai. Pikirannya melayang entah sejauh apa. Ketika ia kembali ke indonesia apakah semua akan tetap sama? "Baby, i have to go now, my mom ask me for this," Amy menunjukkan ponselnya yang ternyata pesan dari ibunya untuk menjemputnya di stasiun saat itu. "Oh sure honey, go on," Gilang memeluk Amy penuh cinta. "See you baby," ucap Amy dan Gilang hanya memeluk dan mencium pipi Amy sebelum ia pergi. Hari berganti hari yang Gilang lalui di Belanda membuatnya lupa akan negara asalnya. Semenjak terluka empat tahun silam, kini ia merasa bahwa tempat tinggalnya bukanlah di sana. Namun walau bagaimana pun ia tetap memiliki keluarga di Indonesia. Hingga tiba hari di mana Gilang benar-benar harus pulang ke rumah asalnya. Dengan sedikit rasa ragu, Amy selalu meyakinkannya. "Baby come on, kamu bisa telat flight nanti," ujar Amy yang melihat Gilang masih memandangi ke luar jendela. "Honey, kamu yakin nggak mau ikut aku ke Indo?" tanya Gilang. "Iya, nanti kalo kamu nggak pulang aku susulin ke indo ya," jawab Amy dengan senyum manisnya. "Aku pasti pulang, I never leave you honey," Gilang mengecup kening Amy. Amy pun mengantarkan Gilang untuk pergi ke bandara. Gilang yang tak mau membawa barang banyak hanya satu koper berukuran sedang yang ia bawa. Tak lupa sebuah sweater hitam di kenakannya sebagai tanda cinta Amy. Langkah Gilang terhenti ketika akan melangkahkan kaki keluar kamarnya. Ia mengambil sebuah kotak silver berpita merah yang ia simpan di dalam lemarinya. Gilang menatap kotak itu penuh keraguan. Ya itu adalah kotak hadiah ulang tahun Nadin sekaligus hadiah anniversarry mereka ke tiga tahun lalu. "Baby," teriak Amy menyadarkan Gilang. "Okay," jawab Gilang. Segera Gilang memasukkan kotak itu ke dalam sakunya. Tak ada harapan besar apakah ia harus bertemu atau tidak dengan Nadin saat ia pulang nanti. Di depan fleet Amy telah menunggu Gilang dengan lambaian tangan di sertai senyum manisnya. Gilang berjalan penuh mantap menghampiri Amy yang telah berada di depan taksinya. "Sudah tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Amy. "Sudah," jawab Gilang. Di dalam taksi Gilang tak melepaskan genggaman tangannya pada Amy. Seolah tak ingin jarak memisahkannya di kemudian hari. tangan kirinya memegang kotak hadiah yang ia masukkan ke dalam jaket tebalnya. Ada perasaan takut bercampur bahagia kini berkecamuk di dadanya. "Baby, are you okay?" tanya Amy yang kini memegang sepenuhnya tangan kanan Gilang. "Okay honey, aku cuma takut jauh dari kamu," ucap Gilang. "It's only two weeks baby," ujar Amy. "I don't know, maybe I can't," jawab Gilang. "You can call me every time, I promise to always with you," Amy tersenyum. "Thank you honey," Gilang menicum tangan Amy. Setibanya di bandara Gilang pun bersiap untuk check in. Pandangan Gilang tak pernah luput dari Amy yang selalu mendampinginya selama empat tahun ini. Masih teringat jelas pertama kali bertemu dengannya saat hatinya terluka. Bagaimana Amy selalu menyemangatinya setiap hari. Menyembuhkan luka yang hampir empat tahun ini tak bisa ia sembuhkan sendiri. POV AMY 4 TAHUN LALU "Ben je een nieuwe student?" "Sorry," "Oh hi, you can't speak dutc right, I am Amy," Amy memberikan tangannya. "Gilang from Indonesia," Gilang menjabat tangan Amy. "Oh Indo, kenapa tidak bilang dari tadi haha," Amy tertawa. Semenjak pertemuan singkat di koridor kampus itu Gilang mengenal Amy. Sosok wanita periang yang selalu tersenyum di depannya meski tengah bersedih. Namun luka yang Gilang bawa tak bisa secepat itu berdamai dengan keadaannya. Amy berusaha mendekati Gilang dengan berbagai cara, tetapi tetap saja ia tak bisa mengambil hati Gilang dengan cuma-cuma. Hingga tahun ke dua Amy berteman dengannya, tepat di hari ulang tahun Amy. Gilang meluluhkan hatinya untuk menerima Amy di hidupnya. Meski begitu Amy tak pernah mengetahui masa lalu kelam apa yang Gilang rasakan hingga Amy tak bisa menembus hatinya hingga satu tahun lamanya. "Amy, Wil je mijn geliefde zijn?" "Ja ik wil," (Maukah kau menjadi kekasihku?) (Ya aku mau) Kata itu yang masih terngiang di telinga Amy hingga kini. Gilang selalu takut untuk meninggalkan atau di tinggalkan olehnya. Ya, itu telah berlalu tiga tahun silam. Kini di hadapan mereka hanyalah kebahagiaan yang tercipta. Tanpa Amy sadari jika kepulangan Gilang akan bertemu kembali dengan masa lalunya yang belum usai. | | | | "Baby, I love you," ucap Amy mengantar kepergian Gilang. "Love you too, I will back soon," jawab Gilang memeljk erat Amy. "Promise?" "Promise," Perpisahan haru Amy melepas Gilang kembali ke negaranya. Perasaan takut Amy selalu di tenangkan oleh Gilang. Di dalam pesawat tangan kanan Gilang tak lepas memegang kotak hadiah di balik jaketnya. Namun tangan kirinya pun memegang gelang yang ia kenakan di tangan kanannya. Gelang yang selama tiga tahun menemaninya menjalani hari dengan Amy. "Amy, I never leave you," gumam Gilang. | | | | Tibalah Gilang di Indonesia. Ia sengaja tak memberi tahu keluarganya jika ia pulang. Gilang ingin memberikan kejutan di hari kepulangannya. Ia pun memesan taksi untuk segera menuju ke rumahnya. *Tok tok tok "Iya sebentar," teriak wanita dari dalam rumah. "Paket bun," ucap Gilang menundukan kepalanya. "Saya nggak pesen paket mas," jawabnya. "Masak sih, wah saya salah alamat ya," Gilang mendongakkan kepalanya. "Aaaaa anak mami aaaaaa," Kejutan manis itu ternyata berhasil membuat mami Gilang berteriak bahagia. Ciuman dan pelukan tak henti di berikannya pada anak kesayangannya itu. Anak yang hampir empat tahun tidak pulang ke rumah itu. Meski beberapa kali ia berkunjung ke Belanda, namun rasanya berbeda dengan Gilang pulang ke rumah yang membesarkannya dari kecil tersebut. "Kenapa nggak bilang kalo mau pulang, biar di jemput supir," ucanya. "Kan mau bikin kejutan mi, mami Gilang laper masak apa nih," ujar Gilang. "Udah ayok masuk mami masak ayam goreng tepung kesukaan kamu," ujarnya. "Pas banget ya kalo gitu," Gilang masuk dengan memeluk maminya. Hari itu Gilang kembali menjadi anak kecil di depan maminya. Tak terlihat lagi rasa sedihnya meninggalkan Amy. Saat ini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama mami yang selalu ia rindukan selain Nadin. Bahkan untuk mencari tahu tentang Nadin pun tak pernah di lakukan Gilang. Ia hanya berharap suatu saat dapat bertemu dengan tak sengaja. Bertatapan langsung tanpa ada rasa. Bersambung~
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Semangat lanjutkannya ya, aku mo baca dulu 😍😍😍
01/05/2022
0mana nii lanjutNnya min 😭😭😭
21/07
0baguss
13/06/2025
0Ver Todos