Hari ini aku bergegas ke rumah sakit hendak menemui Fredy untuk bertanya perihal foto-foto itu. Aku menyesal mengapa kemarin tidak mengambil itu dari tasnya. Riska berangkat ke butik pagi-pagi karena ada janji temu dengan Sinta. Untunglah dia mengerti bahwa aku tak bisa membantu menyortir kain, setelah kuceritakan kejadian di rumah sakit kemarin. Mobil kulajukan dengan kecepatan tinggi karena mengejar waktu. Begitu tiba di sana, aku langsung menuju kamar tempat Fredy dirawat. "Hai, Bro. Udah sehat?" sapaku ramah. Aku berniat menggali semua informasi sehingga memilih berpura-pura tidak tahu. Kemunculan Sinta yang tiba-tiba, kebakaran bengkel, dan pertemuan tak sengaja dengan Fredy yang terjadi dalam waktu dekat, membuat prasangka di hati ini semakin menjadi-jadi. "Lebih baikan. Thanks Bro karena udah bawa aku ke sini. Kalau gak, mungkin aku udah lewat," ucapnya sembari tersenyum. Aku memulai perbincangan agar suasana mencair dan tidak kaku. Namun, hingga satu jam berlalu, belum ada satupun petunjuk yang bisa diungkap. Aku mencoba memancing dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi sepertinya Fredy begitu lihai berkilah. Aku hendak menyerah dan berpamitan pulang, ketika dia mengucapkan sesuatu yang membuat peluang itu muncul. "Bro. Bisa bawa aku ke kamar mandi," pintanya sembari memegang perut. Aku langsung mengiyakan dan menuntunnya ke kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Setelah menutup pintunya, aku melihat sekeliling ruangan untuk mencari di mana letak tas itu berada sembari berdoa semoga saja Fredy tak curiga. Aku sangat berhati-hati saat membuka nakas di samping bed agar tak menimbulkan suara. Lalu, mengucap syukur bahwa Fredi menyimpannya di sana. Dengan cepat aku membongkar tas itu dan mengambil semua foto, lalu memasukkannya ke dalam baju. Ketika terdengar pintu kamar mandi diketuk, aku membantu Fredy keluar. "Bro. Sorry, nih. Aku gak bisa lama-lama. Aku cabut dulu, ya," pamitku kepada Fredy setelah dia kembali berbaring di ranjang. Kubetulkan kembali letak selang infus, juga selimut untuk menutupi kakinya yang dingin. Tubuh itu masih terlihat gemetaran. Harusnya dia segera dibawa ke tempat rehabilitasi, tetapi penyelidikanku lebih penting. "Kok buru-buru?" "Dicariin istri, Bro," jawabku cepat. Tak apalah berbohong sesekali, yang penting misiku selesai. "Sekarang kamu enak ya, Man? Punya istri cantik, kaya. Punya butik. Punya usaha," kata Fredy. Aku terkejut mendengarnya. Entah mengapa aku membaca ada nada tak suka dari ucapannya barusan. "Namanya rezeki, Bro. Lagian aku juga sudah hijrah dan bertaubat. Gak baik makan uang dari hasil begituan," jawabku sungguh-sungguh. "Alah, sok suci kamu. Bukannya bengkel dibanpgun dari hasil ngelonin Tante?" ucapnya kasar. Aku tersentak, tak menyangka Fredy akan berkata seperti itu. Dulu kami begitu dekat dan tak pernah ada rasa iri hati satu dengan yang lain. Lalu, kenapa dia bersikap seperti ini sekarang? "Itu masa lalu. Aku tau aku kotor," jawabku. "Makanya jangan sok suci." "Aku gak sok suci. Cuma ingin memperbaiki diri." Fredy terdiam. Aku segera berpamitan karena ingin menyimpan foto-foto agar tak ketahuan. Dengan langkah ringan, aku menuju pintu keluar dan hendak menarik gagangnya, ketika tiba-tiba teringat akan sesuatu hal. "Bro. Darimana kamu tau kalau bengkel dibangun dari uang sama Tante? Aku gak pernah ceritain itu dengan siapa pun!" tanyaku geram. Fredy terlihat gugup dan gemetaran. Dia membuang pandangan dan pura-pura melihat ke arah jendela kamar. "Apa selama ini kamu ngikutin aku? Untuk apa, Bro?" tanyaku lagi. "Aku memang punya hutang budi sama kamu karena banyak bantu waktu susah dulu. Tapi kayaknya kamu gak suka sama aku yang sekarang." Fredy terdiam dan sepertinya sengaja tak mau menjawab. Melihat itu, aku bergegas keluar dan meninggalkannya sendirian. Sepanjang perjalanan pikiranku kalut. Sempat terlintas di benak jika sampai keluargaku mengetahui semua. Oleh karena itu, sebisa mungkin aku akan menutup rapat semua rahasia ini. Tiba di rumah, aku duduk di sofa ruang tamu karena sudah tak sabar. Kuambil foto-foto itu dari kaus dan mulai menyusunnya di meja. Hatiku kembali panas saat membuka setiap lembarannya. Tenyata Fredy mengabadikan semua momen kebersamaanku dengan Sinta. Jadi, selama ini Fredy yang mengirimkan gambar itu agar Sinta bisa menerorku. Dan wanita itu membayarkan dengan sejumlah uang sebagai imbalan. Asyik melihat foto, ponselku bergetar. Aku segera mengambilnya, mengira itu Riska yang menghubungi karena sejak pagi tak ada kabarnya. 'Kamu yang mencuri foto-foto di tasku?' Sebuah pesan dari nomor tak dikenal membuatku kaget. Seharian ini ada banyak sekali kejutan yang membuatku kewalahan. 'Ini siapa?' "Gak usah pura-pura. Yang pasti, aku masih punya file semua foto itu dan yang lainnya.' Pesan itu membuatku geram, apalagi disertai dengan emoji tertawa dan mengejek. 'Mau kamu apa?' ketikku saat membalasnya. 'Uang. Siapkan lima puluh juta. Kalau gak, foto saat kamu sama Tante waktu di pulau aku sebarkan.' Aku mengumpat berulang kali. Aku tahu ini ulah Fredy sekalipun menggunakan nomor baru dan tanpa foto profil. Aku dan Sinta memang pernah berkunjung ke sebuah pulau saat liburan. Waktu itu suaminya pergi ke luar negeri karena tugas. Cerdik sekali Fredy bersembunyi sehingga aku tak mengetahuinya. 'Temui aku besok di camp jam sepuluh. Bawa uangnya. Kita barter.' Aku mencoba menelepon nomor itu tetapi tidak aktif. Sepertinya Fredy sengaja mematikannya. Aku kembali berpikir bagaimana cara mengadakan uang itu dengan cepat. Aku masih memiliki sedikit tabungan, tetapi tidak cukup sejumlah yang dia minta. Jika meminjam dari Riska, itu berarti aku harus memikirkan alasannya apa. Aku tak mau berbohong lagi, karena selama ini sudah terlalu banyak yang dirahasiakan. Aku mengecek saldo rekening dari ponsel dan nekat akan membawa seadanya besok. Akan kutambah kain di bawah koper sehingga terlihat penuh. Sebenarnya aku bisa saja kembali ke rumah sakit untuk menemui Fredy, tetapi itu akan menjadi masalah baru. Jadi kuputuskan untuk menuruti permintaannya. Aku berjalan ke kamar dan berganti pakaian. Perut ini terasa lapar. Aku ke dapur dan menghangatkan lauk di microwave untuk makan siang. Seluruh syarafku tegang menanti esok hari. Dalam hati berucap semoga dia benar-benar akan memberikan file-nya sekalipun harus kutukar dengan tabungan yang ada. *** Camp masih sama seperti dulu, hanya saja telah mengalami perbaikan di beberapa bagian yang lapuk. Tempat ini dibangun di atas sebuah pohon besar di hutan belakang kampus. Semacam rumah pohon sehingga saat menapakinya lagi tubuhku gemetaran. Begitu pintu terbuka, suasana begitu sepi dan tak ada seorang pun di sana. Lalu, di mana Fredy? Apa dia mempermainkanku? Bukankah dia masih di rumah sakit dan menjalani pengobatan? Bip! Sebuah pesan masuk dan aku segera membacanya. 'Turun dan temui aku di hutan.' Aku bergegas turun sembari memegang koper dengan erat karena takut benda itu terjatuh. Kutelusuri jalan setapak menuju ke dalam. Di kiri dan kanan tampak aneka pohon yang ditanam oleh mahasiswa progran kehutanan untuk melakukan penelitian. "FREDY. KAMU DI MANA?" teriakku ketika tak kunjung kutemukan sosoknya. "FREDY!" teriakku lagi. Aku mencoba mencarinya hingga merasakan suatu tendangan yang keras menghantam punggungku. Aku terjatuh dan koper terlempar ke tanah. "Gimana rasanya, Man?" Aku terbangun dan menoleh ketika mendapati Fredy sedang berdiri congkak sembari melipat tangan di dada. Senyum jahat menyeringai di wajahnya. Sepertinya dia puas setelah menyakitiku tadi. "Kamu mau apa?" "Balas dendam." "Aku salah apa?" tanyaku tak mengerti. selama ini hidupku begitu tenang bersama Riska sekalipun kami tak dikarunia keturunan. "Kamu merebut pelangganku," tuduhnya. Aku tak mengerti maksud ucapan itu. Saat bekerja dulu pelanggan kami adalah orang yang sama. Beberapa wanita kadang menolakku dan memilih Fredy karena lebih tampan. "Aku gak ngerti dan gak mau panjang lebar. Ini aku bawa uang yang kamu minta. Berikan semua file-nya," pintaku sembari menunjukkan koper. "Sinta itu kekasihku sebelum kamu datang," ucapnya dengan geram. Aku tersentak dengan kejutan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Ternyata ada banyak rahasia yang tak kuketahui dan mereka begitu lihai menutupi. "Sejak kenal kamu dia berpaling. Pemasukanku jadi berkurang. Parahnya setelah kamu menghilang, dia gak mau balik sama aku lagi," jelasnya panjang lebar. Ya Tuhan. Bukannya merasa kesal tetapi aku ingin tertawa geli mendengarnya. "Aku gak tau itu karena kalian gak pernah cerita. Lagian aku juga udah gak punya hubungan sama Sinta lagi." "Bohong. Aku lihat dia sering datang ke butik istrimu." Ya Tuhan. Ternyata dia benar-benar membuntutiku selama ini. "Oke. Ini uangnya. Ambil dan berikan filenya." "Gak semudah itu Rahman. Kamu harus mengganti kerugianku selama Sinta bersama kamu." Astagfirullah. Cobaan macam apa ini? Sungguh, aku benar-benar lelah menjalaninya. "Kalau itu maumu aku sanggup. Asal berikan filenya," pintaku lagi. Aku mencoba mendekati Fredy untuk berdamai. Dia menyambutku dengan mengeluarkan sebuah amplop putih. Aku menyerahkan koper itu, lalu hendak mengambil amplopnya ketika sebuah tendangan mendarat mulus di perutku. Aku jatuh tersungkur dengan rasa sesak di dada. Aku terbatuk dan mengucurlah darah dari sudut bibir. Aku mengusapnya lalu tersenyum pahit. "Diam-diam kamu buka bengkel lalu pergi begitu aja. Setelah sukses lupa demgan teman sendiri," sindirnya. Aku tertawa pahit. Aku memang memutuskan hubungan dengannya setelah bengkel siap dibuka. Sebelum pergi aku sudah berpamitan agar tak terjadi salah paham. Aku pikir itu tak menjadi masalah karena kami punya kesibukan masing-masing. "Aku yang membawamu ke rumah sakit," lirihku. "Itu gak seberapa dibanding pertolonganku dulu." Kami sama-sama mengungkit kebaikan, salah satu sifat dasar manusia jika merasa kecewa karena merasa telah berjasa. "Ambil uangnya." Dengan tertatih, aku mengambil koper yang terlempar, lalu menyodorkannya kembali kepada Fredy. Dia mengambilnya dengan cepat dan melemparkan amplop itu ke wajahku. Aku bergegas membukanya dan mengumpat berulang kali saat mendapati isinya hanya ada dua lembar fotoku saat bersama Sinta, bukan file yang dia janjikan. Sekuat tenaga aku berlari mengejar Fredy sebelum dia menjauh. Aku sudah memberikan uangnya walaupun hanya sedikit, tetapi dia malah menipuku. Bruk! Sebuah tendangan kuhadiahkan sehingga kali ini dia yang tersungkur. Aku memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga seandainya dia hendak menyerang balik. Dua tendangannya tadi memang sempat melemahkanku. Namun, rasa marah dan kecewa yang muncul saat tertipu, membuat rasa sakit itu hilang seketika. Fredy mulai menyerang. Aku berhasil menghindar dan menendang pahanya hingga dia kembali terjatuh. Kutarik koper itu karena tak rela dia mengambilnya. Dengan terseok-seok aku melangkah meningalkan tempat itu.karena kulihat Fredy sudah tak berdaya. Dulu dia begitu kuat dan tangguh. Mungkin narkoba telah menggerogoti fisiknya sehingga sekarang mulai melemah. Aku hampir keluar dari hutan dan merasa lega karena telah terbebas, ketika sebuah benda mengantam kepalaku dari belakang. Lalu, semua menjadi gelap.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
keren banget thor 👍👍👍
14d
0bagus , happy ending..
26/05
0bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰
21/01
0Ver Todos