Aku menghela napas setelah Sinta pergi dan memintanya datang kembali untuk bertemu dengan Riska esok hari. Untunglah dia tak berani berulah selama di butik, karena aku mengancam akan mencekik lehernya jika sampai berbuat nekat. "Tadi ada tamu?" tanya Riska saat kembali setelah makan siang. Aku sendiri memesan makanan online untuk makan siang dan beberapa karyawaan butik. Sepertinya besok aku tidak akan datang ke sini, mengingat cukup bahaya jika sampai bertemu dengan 'ular' itu lagi. "Sinta. Katanya mau pesen baju lagi. Entah buat apa aku gak tanya," jawabku santai saat menemui Riska di depan. Aku sudah selesai menyortir kain dan itu terasa membosankan karena tidak ada tantangannya sama sekali. Berbeda dengan bengkel yang membuatku lebih 'hidup' saat mengerjakannya. "Iya, Bu. Tadi Ibu Sinta datang, terus Bapak terima di ruang belakang." Aku tersentak mendengarnya. Secara bersamaan kami menoleh ke arah karyawan yang mengatakan itu tadi. Aku membuang pandangan saat Riska kembali menatapku tajam. "Dia ... mau lihat kain," jawabku gugup. "Tumben. Bisasanya cuma sebutin jenis sama warnanya terus aku yang jahitin," ucap Riska sembari menatapku curiga. "Ya gak tau. Mungkin pengen lihat jenis yang lain. Aku ngikutin kata pelanggan aja. Aku mana ngerti," jawabku beralasan. Riska mendengkus, lalu mengajakku ke ruangannya. "Mas sini dulu." "Apa?" "Itu ... soal adopsi anak. Aku rasa baiknya kita tunda dulu." "Kenapa?" tanyaku kecewa. Menurutku jika ada bayi di rumah kami, hubungan yang mulai merenggang ini akan kembali menguat. Sikap Riska yang akhir-akhir ini dingin bisa menghangat lagi. "Soalnya ... butik kan mau dibesarin. Aku takut gak bisa bagi waktu buat anak kita nanti." Kali ini terlihat Riska yang gugup. Aku tahu dia pasti sudah terpengaruh oleh ucapan mamanya, sehingga aku memilih mengalah. Jika sampai dia meminta cerai, maka aku akan bertindak tegas. "Kan kita bisa ambil baby sitter. Jadi kamu tetap bisa kelola butik. Aku yang jagain sementara." "Tapi nanti jadinya repot. Baiknya selesaikan dulu renovasi butik. Baru kita bicara lagi keputusan itu ya, Mas," pintanya. Aku mengiyakan permintaan Riska lalu memilih ke luar setelah dia selesai bercerita. "Mas mau ke mana?" "Mau cari angin. Aku udah selesai sortir sebagian. Nanti aku selesaikan sisanya." Kutinggalkan Riska yang masih mematung di ruangan. Aku sungguh kecewa dengan sikapnya. Ternyata dia lebih mendengarkan orang tua daripada suami. Kulajukan mobil menuju kedai biasa. Mungkin segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng bisa menjadi penyejuk hati. "Lama gak muncul, Mas? Biasanya tiap siang makan di sini," sapa pemilik kedai saat menyajikan pesananku. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya karena malas menjawab. Lebih tepatnya aku enggan berbicara dengan siapa pun untuk saat ini. Setelah membayar tagihan, aku memutuskan untuk pulang. Dalam situasi seperti ini, aku seperti kebingungan hendak berbuat apa. Kususuri setiap jalan untuk mengusir kebosanan. Ingin berkunjung ke rumah Ibu tetapi malas jika harus mendengar sindirian Dina. Hampir satu jam aku memutari kota. Tiba di lampu merah, mataku menangkap sosok yang cukup familiar. Aku melihat lagi untuk memastikan agar tidak salah orang. Benar, itu Fredy kakak tingkatku dulu. Lama kami tidak bersua semenjak aku berhenti dari pekerjaan itu. Ketika lampu hijau menyala, aku mengikutinya dari belakang, mencoba mencari tahu ke mana arah tujuannya. Jika memungkinkan, aku ingin menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus dulu. Motor Fredy berbelok ke sebuah jalan di ujung kota. Daerah ini berdekatan dengan tempat tinggal Ibuku. Lalu, motornya berhenti pada sebuah kedai di mana banyak pelanggan berkumpul. Aku memutar arah dan memarkir mobil didekat kedai itu. Lalu, membuka kaca untuk melihat kegiatan Fredy di sana. Rasa penasaranku semakin menjadi, entah mengapa ada prasangka yang menyusup ke hati. Benar saja, tak lama sebuah mobil berhenti di dekat kedai, datang dari arah yang berlawanan denganku. Seorang wanita berpakaian tertutup tampak keluar dan menghampiri Fredy. Aku terkejut saat melihat wanita itu membuka kacamata. Bukankah itu Sinta? Fredy terlihat menerima sebuah amplop tebal berwarna cokelat yang disodorkan Sinta. Lalu, mereka berdua tergelak dan saling bersalaman. Aku bergerak perlahan, mencoba mendekat agar tidak ketahuan. Sayangnya, begitu tiba di depan kedai, Sinta bergegas pergi dan masuk ke mobil, lalu menghilang dengan cepat. "Hai, Bro!" Kutepuk bahu Fredy yang seketika tersentak karena terkejut. "Loh, Rahman?" tanyanya heran. "Sering nongkrong di sini, Bro?" "Eh, anu ... enggak. Aku kebetulan lewat. Jadi ya mampir ngopi," jawabnya gugup. Aku menatap Fredy dengan lekat, mencoba mencari kejujuran dari matanya. Dulu dia begitu tampan dan berjaya dengan banyak pelanggan. Kini, tubuhnya kurus dan seperti kurang terawat. "Gimana kabar, sehat?" tanyaku lagi. Kami berbincang sembari memesan makanan. Fredy mengatakan bahwa dia sedang sakit dan butuh banyak biaya untuk pengobatan. Aku sama sekali tak menyinggung soal Sinta. Kupikir bisa saja wanita itu menggunakan jasanya. Satu jam berlalu dan Fredy berpamitan kepadaku. Aku membayarkan semua makanan kami, lalu melambaikan tangan saat dia berpamitan. Kuteguk sisa kopi yang masih ada karena rasanya lumayan enak. Lalu, tiba-tiba saja .... "Brak!" Aku menoleh dan mendapati Fredy jatuh tersungkur bersama dengan sepeda motornya. Beberapa orang di kedai berlari ke arahnya. Fredy terlihat lemah saat kami membantunya berdiri. "Bawa ke mobil saya saja. Motornya saya titip di sini sebentar. Tolong dijagakan," pesanku kepada pemilik kedai. Aku memapah Fredy ke mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Begitu tiba di sana, sebuah kursi roda disiapkan oleh salah satu petugas rumah sakit. Aku mengambil tasnya dan bermaksud mengamankannya. Aku tahu isinya adalah uang dalam jumlah besar. Entah Fredy sakit apa, masih menjadi tanda tanya karena tadi dia tak mau memberitahukan. "Permisi, Pak. Boleh diisi dulu form ini untuk merujuk pasien ke ruang rawat inap," ucap seorang perawat sembari menyodorkan selembar kertas. Aku mengambil pulpen dan mulai mengisinya. Ketika diminta identitas Fredy, dengan terpaksa aku membuka tas dan mengambil dompetnya. Sebuah kartu tanda penduduk menjadi acuanku untuk melengkapi semua. Setelah selesai, aku hendak mengembalikan dompet ketika mata ini menangkap sebuah amplop lain berwarna putih yang bentuknya agak besar. Iseng aku membukanya karena tidak dilem. Aku terkejut saat mendapati ada banyak gambar di dalamnya. Amarah berkobar di dada karena itu adalah foto-foto bengkel yang terbakar dan beberapa fotoku saat bersama Sinta di Kopi Tiam. Kubalik tiap lembarnya dan kembali emosi saat melihat ada foto kami ketika menghadiri acara pernikahan keponakan Sinta. Ternyata selama ini diam-diam Fredy membuntutiku. "Ada yang kurang, Pak?" Pertanyaan perawat itu mengangetkanku, sehingga seketika aku lupa akan prasangka tadi. "Eh, enggak, Suster. Udah lengkap ini," ucapku sembari menyerahkan kembali kertas itu. "Kalau begitu, pasien kami pindah ke ruang rawat inap sekarang. Biaya awal masuknya bisa Bapak selesaikan di bagian pembayaran di sebelah sana, ya." Aku langsung berdiri dan hendak menuju tempat itu ketika teringat akan sesuatu. "Maaf, Suster. Memangnya teman saya ini sakit apa?" tanyaku penasaran. "Sepertinya penyalahgunaan Narkoba, Pak. Tapi kami masih menunggu hasil Lab." Aku sudah menduga sejak pertama bertemu bahwa Fredy menggunakan barang haram itu. Namun, dia pintar menutupi, sehingga anak-anak di camp kami tidak ada yang curiga sama sekali. Aku bergegas menuju tempat pembayaran agar bisa segera pulang. Setelah membayarnya, aku menuju kamar yang telah disebutkan oleh suster tadi. Saat masuk, Fredy tertidur sehingga kuletakkan begitu saja tasnya di atas nakas. Kutitip pesan kepada perawat bahwa jika dia terbangun, motornya bisa diambil di kedai. Aku berjalan keluar dan kembali teringat akan foto-foto tadi. Untuk apa Fredy memata-mataiku selama ini? Apa di orang suruhan Sinta yang membocorkan semua informasiku, termasuk nomor ponsel yang baru? Tiba-tiba bayangan bengkel yang terbakar berkelebat di benakku. Semua orang menduga itu akibat korsleting listrik. Namun, bisa saja itu disengaja oleh orang yang tidak menyukaiku. Jadi, apakah Fredy pelakunya? Atau, jangan-jangan dia .... Berbagai pikiran negatif bekelebat di benak, berulang-ulang dan membuatku semakin pusing. Aku bergegas menuju parkiran. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan menyelidikinya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
keren banget thor 👍👍👍
14d
0bagus , happy ending..
26/05
0bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰
21/01
0Ver Todos