Liana langsung menggendong Ken dan membereskan perangkat makannya. Ia mencari kamar mandi, masuk, dan mengecek apakah ada air hangat di dalam sana? Hallo? Di tembok, Liana melihat benda yang merupakan tempat munculnya air hangat. Tapi ia ragu, dirinya belum pernah menyalakan air hangat yang canggih seperti itu. Liana pun beralih memasak air di atas kompor, kemudian memandikan Ken di bak kecil dengan pintu kamar mandi yang terbuka. "A-ana, kau sedang apa? Aku ingin mencuci kaki. Oh, Ken ada di sini rupanya. Ah itu, kenapa kotoran Ken ada di karpet?" Barra berjingkat di depan pintu. "Aku sedang memandikan Ken, maaf Dad, aku terpaksa memandikannya karena tubuhnya sudah dipenuhi bubur. Dan yang ada di karpet itu bukan kotoran tapi makanannya Ken, aku belum sempat membersihkannya." Liana menoleh sambil menggosok-gosok badan Ken. "Oh? Benarkah?" Barra langsung masuk kemudian mencuci kakinya. Ia memandang Liana yang terlihat sudah pandai memandikan Ken. 'Hm, wajar saja, dia kan sudah berumur 22 tahun.' Barra sengaja berlama-lama karena senang melihat Ken yang tengah berkecibak ria. Padahal baru bertemu, anak bayi ini mudah sekali pindah asuhan. "Kau tidak boleh main kotor-kotoran lagi ya adik kecil, PA-MA-LI! Tuyul sepertimu siapa yang tak mau?" Ucap Liana kemudian menghanduki Ken dan beranjak keluar dari sana. Sementara Barra yang ditinggal pergi sendirian penasaran dengan perkataan pamali yang diucapkan Liana. Barra segera menyelesaikan cuci kakinya lalu keluar menyusul keduanya. "Pamali apa maksudnya, Ana?" Tanya Barra di pintu dapur. Liana berbalik, melirik ke kiri dan kanan seperti tengah memastikan keadaan. Kemudian ia menyuruh Barra untuk mendekatinya. Barra pun berjalan menghampiri Liana dan membungkuk karena Liana hendak membisikkan sesuatu. "Mandi malam bisa mengundang hantu." Bisik Liana langsung ke telinga Barra, "Oh ya, pakaian Ken ada di mana Dad?" Lanjutnya dengan nada kembali normal. "Semuanya ada di kamar. Cari saja, Daddy akan membereskan karpetnya." Barra tidak percaya ucapan Liana tadi. Sudah bertahun-tahun ia mandi malam sepulang kerja dan ia tak pernah tuh melihat hantu menemani acara mandinya. Barra menelpon laundry dan segera menggulung karpet yang kotor, ia menyusul Liana yang kini tengah berada di dalam kamar. "Dad, di sini hanya ada satu kamar ya?" Tanya Liana, menyadari kehadiran Barra. "Iya, Daddy dan Melani tidur di satu ranjang. Kau sudah baikan?" Pernyataan Barra membuat Liana terkejut sekaligus berpikir jauh. Melani dan Barra, sudah 9 tahun mereka yang tidak memiliki hubungan darah itu tidur dalam satu ranjang. Ah tidak, tidak, Barra menganggap Melani sebagai anak, tak mungkin ia melakukan hal yang aneh. "Aku sudah tak apa. Melani ke mana? Kok dia tidak kelihatan?" Liana terlihat sibuk mendandani tuyul. "Dia menginap di rumah temannya, jadi sekarang kita tunda dulu pindahannya. Karena Melani pergi, ranjang masih muat untuk kita berdua." Perkataan Barra membuat Liana terkejut kembali. Maksudnya kita itu Liana dan Barra atau Barra dan Ken? Eh, tapi kan Ken punya ranjang sendiri? "A-aku akan tidur di sini bersama Daddy?" Liana memastikan. "Iya, kenapa? Ah, kau sudah dewasa ya kau tidak takut jika tidur sendirian. Kalau begitu Daddy akan tidur di sofa saja agar kau nyaman." Mengingat Liana yang sudah berumur, Barra yakin ia pasti ingin tidur sendirian. "Em, tidak Dad, Daddy tidur di sini saja." Liana mencegahnya, ia kasihan jika harus melihat lagi tubuh panjang pria itu berbaring di sofa pendek. Dan sebenarnya mumpung tidak ada Melani di rumah, Liana ingin menggunakan kesempatan ini untuk bisa tidur seranjang dengan Barra. Kapan lagi bisa begini kan? "Daddy lapar, kita mau ke luar untuk mencari makanan? Kau pasti juga masih lapar kan?" Ajak Barra kemudian. Sebenarnya Barra selalu membatasi aktivitas makan di luar, tapi karena malas masak, mau bagaimana lagi? "Pamali Dad, membawa Ken keluar malam-malam. Biar aku saja yang memasak, bahan-bahannya ada kan?" Hah? Pamali lagi? Ah, kebetulan sekali Liana menawarkan jasanya, tapi apakah ia bisa memasak? Barra tak yakin. Hmm ... Sebab tak boleh keluar karena pamali yasudahlah. "Mm.. ada sih di kulkas." "Kalau begitu aku titip dulu Ken ya Dad, sebentar lagi dia pasti akan tidur, jadi jangan membawanya loncat-loncat." Liana menyerahkan Ken kepada Barra, sementara Barra dibuat aneh dengan kata loncat-loncat. Tentu Barra tidak akan meloncat-loncat, aneh saja perkataan anak itu. Di pangkuan Barra, Ken terlihat amat sangat tenang. Tak lama Ken mengangut dan akhirnya langsung tertidur. 'Kenapa dia bisa tahu? Seperti peramal saja.' Gumam Barra dan langsung menidurkan anaknya segera. Barra menghampiri Liana di dapur, tercium bau harum masakan yang tengah Liana buat. Entah karena Barra yang sudah keroncongan atau memang masakannya yang terlihat enak, Barra tak sabar ingin mencicipinya. Ia pun mengambil sendok, memastikan masakan yang masih di atas kompor. "Eiits! Jangan dulu dimakan Daddy! Kau harus menunggunya, duduk di atas meja dan tunggu masakannya matang!" Liana menepis tangan yang hendak mencomot itu. "Daddy hanya ingin mencicipinya, kali saja masakanmu kurang sesuatu." Barra kembali mengarahkan sendok. "Aku ahli memasak dan rasanya juga sudah pas. Pokoknya Daddy harus menunggu sampai masakannya selesai!" Liana kembali menepisnya. "Hm, bodoh amat." Dengan gerakan kilat, Barra pun mencomot satu sendok penuh masakan itu. Ia meniup-niupnya sebelum dimasukkan ke dalam mulut. "Daddy! Apa yang kau lakukan?! Itu bukan mencicipi namanya, tapi memakan! Kalau dimakan sekarang masakannya jadi tidak spesial!" Liana menggoncang-goncangkan tubuh Barra. Hal itu membuat Barra sulit menjaga keseimbangan sendoknya dan ... dan .... PLUKK! Makanan di sendok itu jatuh tepat di atas kepala Liana.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 19 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (149)
Agustin Simanjuntak
assik
24/04
0
Ida Amelia
keren novel ini sangat seruu
13/03
0
DolPak
sangatt seruuu novell inii,saya sangat suka membacanya
assik
24/04
0keren novel ini sangat seruu
13/03
0sangatt seruuu novell inii,saya sangat suka membacanya
12/02
0Ver Todos