Angin malam merayap dari celah jendela kamar batu itu, membawa aroma lembab bercampur dingin logam. Lila terbangun oleh sensasi tidak nyaman di pergelangan tangannya bekas borgol yang kini sudah dilepas, tapi masih meninggalkan garis kemerahan. Ia refleks kuraba tengkuknya, seolah memastikan bahwa dirinya benar-benar masih bernapas. Ruangan itu masih sama seperti sebelumnya: lenyap dari sentuhan manusia, hanya ditempeli lampu gantung tua dan rak buku berdebu. Tapi ada satu hal baru sebuah piring berisi roti hangat dan sup ayam diletakkan di atas meja kecil dekat tempat tidur. Damian Valtieri tidak ada. Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, Lila sendirian. Lila turun dari tempat tidur perlahan, takut suara langkahnya terdengar oleh kamera tersembunyi atau penjaga yang mungkin mengawasi setiap gerakannya. Begitu ujung jarinya menyentuh gagang pintu, ia menahan napas. Terkunci. Tentu saja. “Bagus, Lila. Kamu emang duduk di jackpot kehidupan,” gumamnya pelan. “Diculik mafia paranoid yang berpikir kamu mata-mata.” Ia menarik napas dalam-dalam lalu kembali ke meja, tatapannya pada makanan yang masih beruap. Perutnya berkontraksi tajam. Ia bukan tipe yang mudah percaya, tapi rasa lapar mendorongnya untuk duduk. Baru saja ia menyendok sedikit sup, suara langkah sepatu terdengar di luar pintu. Berat, ritmis, menyeramkan familiar. Damian. Pintu terbuka, dan lelaki itu masuk seperti badai hitam berwujud manusia. Dia melepas mantel panjangnya, menggantungnya di kursi tanpa melihat Lila. Rambut hitamnya sedikit basah, seperti baru terkena gerimis. Aura dinginnya memenuhi ruangan bahkan sebelum ia membuka mulut. “Kamu makan,” ujarnya datar, bukan pertanyaan, tapi perintah yang sudah ditegakkan sebelumnya. “Aku bisa mati kalau nggak makan,” balas Lila cepat. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali, Damian menatapnya. Sorotan matanya tidak sekelebat bengis seperti sebelumnya, namun tetap tidak manusiawi mata predator yang sedang mempertimbangkan apakah mangsanya masih berguna. “Aku tidak mengizinkanmu mati.” Ia menutup pintu pelan, namun suara klik kunci membuat Lila berkeringat dingin. “Tentu. Karena kamu masih butuh ‘mengintrogasiku’,” serang Lila. Damian berjalan mendekat. Hanya empat langkah, tapi setiap langkahnya membuat lantai seperti ikut menegang. Ketika ia berhenti tepat di depan Lila, jarak mereka hanya selebar napas. “Bukan begitu.” Suaranya rendah. “Aku butuh memastikan kamu tidak menyentuh kematian… sebelum aku mengetahui seluruh kebenarannya.” Lila tersentak. Itu bukan kalimat penghiburan. Itu ancaman yang dibalut kepemilikan yang tidak wajar. Damian meraih buku catatan kulit dari saku dalam mantelnya. Ia meletakkannya di meja, dan Lila sempat melihat sekilas halaman-halaman yang penuh coretan kode, diagram, dan potret wajah seseorang Clara Jayes. Lila menelan ludah. “Itu… dia.” “Perempuan yang wajahnya mirip denganmu?” Damian membuka lembaran itu, memperlihatkan foto Clara dengan luka gores di pipi. “Dia menyusup ke wilayahku tiga bulan lalu, mencuri file penting, dan menghilang. Sejak itu, tiga orang ku mati.” Lila memandangi foto itu lama, dadanya berdenyut dengan perasaan aneh—mirip rasa bersalah yang bukan miliknya. “Dan kamu pikir aku bekerja untuk dia,” gumam Lila. Damian tidak menjawab. Ia justru mengambil kursi, menariknya hingga jaraknya sangat dekat dengan Lila. “Katakan kebenaran,” bisiknya. “Siapa yang mengirimmu?” “Aku sudah bilang aku bukan siapa-siapa. Aku cuma...” “...guru privat matematika.” Damian menyelesaikan kalimatnya dengan nada mengejek. “Semua orang yang kutangkap mengaku begitu. ‘Aku cuma guru’, ‘Aku cuma resepsionis’, ‘Aku cuma seniman’. Menyalahgunakan profesi paling membosankan untuk menyembunyikan niat sebenarnya.” Lila mengepalkan jari. “Aku bukan pembohong, Damian.” Damian mencondongkan tubuhnya. Lila bisa merasakan aroma cologne maskulin itu—campuran cedar dan embers. “Buktikan.” “Aku… nggak tahu caranya.” Suaranya melemah. Untuk pertama kali sejak penculikan, Lila merasakan kehancuran mental yang tidak sanggup ia tahan lagi. “Apalagi yang kamu mau? Aku udah jelasin hidupku habis-habisan.” Damian memandangnya seperti sedang menimbang sesuatu yang rumit. Lalu ia berdiri, berjalan ke arah lemari besi di dinding. Sebuah klik terdengar. Lila ragu untuk mengakui bahwa jantungnya berpacu. Damian tidak membawa senjata. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih mengejutkan sebuah mantel wol tebal, syal, dan sepatu boots. “Pakai ini.” Lila mengerutkan dahi. “Untuk apa?” “Kita pergi.” “Kemana?” Lila menggeser mundur. “Apa kamu akhirnya mau mengubur aku di hutan?” Damian menahan senyum tipis, ekspresi yang begitu singkat hingga Lila tidak yakin itu nyata. “Kalau aku ingin membunuhmu, ini sudah selesai dari hari pertama.” “Hooh? Terus kenapa belum...” “Karena aku bukan pembunuh yang bodoh.” Suaranya dalam. “Aku butuh melihatmu di luar ruangan ini. Melihat bagaimana kamu bereaksi. Siapa yang mengenalimu. Siapa yang memperhatikanmu.” Lila berdiri perlahan, memeluk tubuhnya sendiri. “Jadi ini… observasi?” “Ini investigasi lapangan.” “Itu namanya menguntit diriku sendiri,” balas Lila ketus. Damian menaikkan alis. “Aku menyebutnya efisiensi.” Meski ia tidak menggertak, tatapannya jelas berarti: tidak ada pilihan. Dengan tangan sedikit gemetar, Lila mengenakan mantel dan boots itu. Ketika ia mengikat syal, Damian memperhatikannya dengan intens, seolah setiap gerak tubuhnya punya arti. Saat ia membuka pintu dan mengizinkan Lila keluar, tubuh Lila menegang. Dunia luar terlihat begitu besar setelah tiga hari terkurung di kamar batu itu. Mereka melewati koridor panjang dengan lantai marmer dingin. Dua penjaga berdiri mengawasi. Begitu Lila lewat, keduanya otomatis menunduk ke arah Damian bukan sekadar hormat, tapi tunduk penuh takut. Lila baru memahami sesuatu: Lelaki ini bukan hanya mafia. Ia otoritas tertinggi. Damian membawanya menuju tangga besar yang mengarah ke halaman belakang villa batu tua mereka. Saat pintu kaca terbuka, angin Inggris yang dingin musim gugur menyambar wajah Lila, membuatnya terhenti. Sudah lama ia tidak merasakan kebebasan sekecil ini. Namun kebebasan itu segera hancur saat Damian berdiri tepat di belakangnya, suaranya menghantam lehernya seperti ancaman perlahan. “Ingat, Lila.” Ia meraih tengkuknya, menggenggamnya kuat tapi tidak menyakitkan. “Kalau kamu mencoba kabur, bukan kamu yang mati… tapi orang yang kamu sayangi.” Lila menegang seketika. “Kamu...kamu nggak tahu siapa yang aku sayangi.” “Aku bisa mencari tahu.” Damian melepaskan genggamannya perlahan. “Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan.” Dua mobil hitam sudah menunggu. Damian membuka pintu belakang salah satunya. “Masuk.” Lila menatap interior mahal itu. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Tapi di lubuk hatinya, ada firasat kuat bahwa apapun yang terjadi malam ini… akan mengubah segalanya. Ia masuk ke dalam mobil. Damian mengikuti di belakangnya, menutup pintu. Dan begitu mesin menyala, Lila sadar bahwa yang menakutkan bukanlah penculikan itu— tapi kenyataan bahwa di dalam ruang sempit gelap itu, jantungnya berdetak bukan hanya karena takut. Namun karena Damian duduk terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu… menguasai. Dan itu, lebih berbahaya daripada apa pun.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus
17/05
0penasaran
03/01
0Wow cerita ini sangat seru
24/12
0Ver Todos