Hujan turun deras di London malam itu, membasahi trotoar batu yang memantulkan cahaya lampu jalan. Lila Bennett menarik mantel cokelat mudanya lebih rapat ke tubuh, mencoba menahan dingin yang menusuk kulit. Sudah hampir tengah malam, dan ia baru saja keluar dari restoran tempatnya bekerja sebagai waitress part-time pekerjaan yang terpaksa ia ambil setelah ibunya meninggal tiga bulan lalu. London biasanya ramai, bahkan di jam-jam ganjil, tapi malam ini terasa berbeda. Sunyi. Seolah seluruh kota menahan napas. Lila mempercepat langkahnya. “Satu blok lagi,” gumamnya pada diri sendiri. Flat kecilnya ada di ujung jalan, bangunan tua dengan cat mengelupas tapi cukup aman setidaknya menurut standar kota besar. Ia melewati gang sempit di antara dua gedung, memotong jalan seperti biasanya. Hujan membuat tanah licin, dan kabut tipis naik dari jalanan, menambah aura suram. Lila memainkan headphone-nya, tapi justru ia menghentikan musiknya. Ada suara langkah. Berat. Teratur. Bukan suara tumit seorang wanita, bukan langkah orang mabuk pulang dari pub, tapi langkah pria… besar. Dan jumlahnya lebih dari satu. Lila menelan ludah. Napasnya menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak ingin terlihat panik, jadi ia tetap berjalan seperti biasa sambil perlahan memindahkan tas selempangnya ke sisi yang lebih dekat ke tubuh. Langkah itu semakin mendekat. Lila memutar kepala sedikit. Hanya sedikit. Ia melihat sekilas dari sudut mata empat pria berpakaian gelap, kepala tertutup hoodie, berjalan di belakangnya tanpa suara bicara. Empat. Itu terlalu banyak untuk dianggap kebetulan. Lila langsung berbelok ke arah jalan utama, berharap ada mobil lewat atau lampu toko yang masih buka. Tapi ketika ia menengok ke kanan, semua toko sudah gelap. Hujan semakin deras. Kabut semakin menebal. Dan langkah itu semakin cepat. Tidak. Tidak. Ini tidak normal. Lila mempercepat langkahnya. Hampir berlari. Tangan seseorang menyambar lengannya. Lila menjerit, tapi suara hujan menenggelamkan teriakannya. Ia meronta, namun tangan itu dan tangan lainnya langsung menariknya masuk ke dalam gang sempit. “Lepas! Lepas!” teriaknya dengan suara pecah. Seseorang menutup mulutnya dengan sarung tangan kulit. Dua pria lain memegang tangannya. Yang satu lagi menjaga dari luar. “Diam,” suara lelaki itu rendah, berat, dan tidak asing bagi dunia kriminal. “Kalau kau teriak lagi, aku pastikan kau tidak akan bisa bicara selamanya.” Lila meronta lebih keras. “Mereka salah orang,” pikirnya panik. “Mereka pasti salah tangkap.” Tapi para pria itu tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Mereka bergerak cepat dan rapi, seolah sudah biasa melakukan hal seperti ini. Seolah mereka sudah mempelajari setiap gerakannya malam ini. Sebuah van hitam berhenti di ujung gang. Pintu belakangnya terbuka. “Masukkan dia,” perintah salah satu dari mereka. “Tidak! Tolong! Kalian salah orang!” Lila berusaha berbicara, tapi suara itu tenggelam di balik tangan yang menutup mulutnya. Tubuhnya dilempar masuk seperti karung. Ia terjatuh keras ke lantai logam. Kepala Lila terbentur dinding, membuatnya pusing. Seorang pria masuk bersamanya, mengikat tangan dan kakinya. Lila berteriak, menendang, meronta, tapi ia hanya seorang gadis kurus bekerja paruh waktu. Sementara mereka… pria-pria terlatih. Van itu melaju cepat, membuat tubuh Lila terguncang ke sana kemari. “Apa… apa yang kalian mau dari aku?” suaranya pecah, nyaris histeris. Tak ada jawaban. Hanya suara wiper van yang menyayat suara hujan di luar. Lila mencoba berpikir. Siapa yang menginginkannya? Ia gadis biasa. Tidak punya musuh. Tidak punya keluarga kaya. Tidak punya hubungan dengan kriminal. Ia bahkan tidak punya mantan pacar yang berbahaya. Tidak ada alasan seseorang ingin menculiknya. Benar-benar tidak ada. Lila memejamkan mata. Dan saat ia membuka mata, van itu berhenti. Pintu belakang dibuka paksa. Angin basah menerpa wajahnya, dan pria yang memegangnya menyeretnya keluar. Di depan matanya berdiri sebuah bangunan tua, tampak seperti gudang yang sudah lama tidak dipakai. Lampu kuning temaram menerangi pintu besi besar. Lila diseret masuk ke dalam koridor panjang yang hanya diterangi lampu-lampu kecil. Bau besi, oli, dan sesuatu yang samar seperti darah tercium samar. Tidak. Dia tidak boleh mati di sini. Tidak malam ini. Tidak tanpa tahu alasan kenapa. Lila mencoba mengingat hal terakhir yang ia lakukan hari ini. Ia kerja. Ia pulang. Ia tidak berbicara dengan siapa pun selain pelanggan restoran. Tidak ada yang mencurigakan. Mereka membuka pintu sebuah ruangan besar. Sebuah kursi besi berdiri di tengah ruangan, lampu sorot tunggal menggantung tepat di atasnya. Tempat itu seperti ruang interogasi. Lila dipaksa duduk. Tali kasar melingkari pergelangan tangannya, mengikatnya ke kursi. “Please…” suaranya pecah. “Kalian salah orang. Aku tidak tahu apa pun. Tolong lepaskan aku.” Salah satu pria mengencangkan ikatan. "Pimpinan yang akan memutuskan." Pimpinan? Sosok. Satu orang. Orang yang memerintahkan penculikan ini. Pintu ruangan terbuka. Lila mengangkat kepalanya dan melihatnya. Pria itu masuk dengan langkah pelan, dingin, dan penuh kuasa. Tubuhnya tinggi, tegap, dengan jas hitam tailor-made yang sempurna menempel di badannya. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, wajahnya tampak tegas, rahang keras, hidung mancung, dan mata… Mata itu seperti dua bilah es gelap. Tajam. Mematikan. Damian Valtieri. Nama itu pernah ia dengar dari gosip nama yang dibisikkan orang-orang ketika membicarakan dunia bawah tanah London. Pria kelahiran Italia yang mengambil alih organisasi kriminal terbesar setelah ayahnya terbunuh. Lelaki yang kabarnya bisa membuat seseorang menghilang tanpa jejak. Dan sekarang… Pria itu berdiri hanya beberapa meter di depannya. Menatapnya. Seperti sedang menilai apakah ia layak hidup atau mati. Suara Damian rendah, berat, dan tajam seperti pisau yang baru diasah. “Lila Bennett.” Lila menegang. “A-aku… iya…” Damian berjalan mendekat. Setiap langkahnya terdengar teratur dan berbahaya. “Menarik,” katanya sambil menatap Lila seolah menelanjangi jiwanya. “Kau tidak berusaha menyembunyikan identitasmu.” “Aku ....aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan tentang aku.” Damian menyentuh dagunya dengan dua jari, mengangkat wajah Lila agar ia menatapnya. Sentuhan itu dingin, tapi begitu kuat hingga Lila tidak bisa menghindar. “Mata-mata seharusnya lebih pintar.” Lila membeku. “Mata-mata? Apa maksudmu? Aku bukan.” Damian tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung humor sama sekali. “Kau terlihat di sekitar pelabuhan timur dua malam lalu. Bertemu salah satu anak buah Nero Drakov. Lalu kau menghilang. Dan hari ini, kau kembali muncul tepat saat operasi kami berlangsung.” Wajah Lila memucat. Pelabuhan? Nero Drakov? Ia tidak pernah pergi ke sana! “Aku tidak pernah berada di pelabuhan!” Lila berteriak putus asa. “Kalian salah orang!” “Benarkah?” Damian mengangkat alis, lalu memberi isyarat dengan tangan. Salah satu anak buahnya menyalakan tablet dan menunjukkan beberapa foto. Dalam foto itu, seorang perempuan dengan wajah sangat mirip Lila terlihat sedang berbicara dengan seorang pria berbaju gelap di dekat dermaga. Wajahnya… hampir identik. Rambut cokelat gelap. Tubuh ramping. Sorot mata yang sama. Tidak. Itu bukan dia. Itu bukan dirinya! “Itu bukan aku,” Lila berbisik, hampir tidak percaya. “Itu bukan aku! Aku tidak tahu siapa itu!” Damian menunduk, wajahnya mendekati wajah Lila. Napasnya hangat, tetapi aura dinginnya menusuk. “Kalau begitu,” katanya pelan, “kenapa kau punya sidik jari yang sama dengan yang tertinggal di kontainer milik kami?” Lila terdiam. “A-apa? Tidak mungkin…” Damian kembali berdiri tegak. “Aku tidak punya waktu untuk kebohongan. Dan aku tidak punya toleransi untuk pengkhianat.” Ia memberi isyarat kepada anak buahnya. Dua pria mendekat, masing-masing memegang sesuatu yang tidak ingin Lila lihat. “Tunggu—tunggu! Kalian salah orang!” Lila meronta begitu kuat hingga kursinya bergeser. “Dengar aku! Aku tidak tahu siapa itu! Aku bukan mata-mata!” Damian menoleh sekilas. Ketika ia berbicara, suaranya begitu dingin hingga membuat darah Lila serasa membeku. “Kalau kau bukan mata-mata…” Ia mendekatkan wajahnya lagi, menatapnya dari jarak beberapa sentimeter. “…maka kau harus membuktikannya.” Lampu sorot di atas mereka bergetar. Dan di momen itu, Lila tahu: Malam ini adalah awal dari sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia kabur darinya. Pria itu bukan hanya berbahaya. Damian Valtieri adalah kehancurannya. Dan ia telah menandai Lila… meski ia bahkan belum menyadarinya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus
17/05
0penasaran
03/01
0Wow cerita ini sangat seru
24/12
0Ver Todos