logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Gadis di Rumah Leluhur

Perjalanan dari balai desa menuju ujung Karangjati hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit dengan mobil, tapi bagi Lengkara, rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda.
Jalanan semakin sempit, semakin sepi. Pohon-pohon besar di kanan-kiri jalan membentuk kanopi gelap yang menghalangi sisa-sisa cahaya matahari. Udara terasa lebih dingin, lebih lembap, seperti memasuki hutan yang tidak pernah tersentuh sinar matahari penuh.
Raka mengemudi dengan perlahan, matanya waspada memperhatikan jalan yang berlubang dan tidak rata. Lengkara duduk di sampingnya, memegang tas punggungnya erat, di dalamnya, jurnal ibunya dan foto rumah Joglo yang menjadi tujuan mereka.
"Kau yakin di sini?" tanya Raka, melirik Lengkara sekilas.
"Mbah Jati bilang ada di ujung desa, itu berarti dekat hutan."
Raka mengangguk, tapi Lengkara bisa melihat ketegangan di rahangnya. Sejak pertemuan dengan Mbah Jati tadi, Raka terlihat lebih waspada, bahkan lebih dari biasanya. Seperti ia tahu sesuatu yang tidak ia katakan.
Lengkara ingin bertanya, tapi sebelum ia sempat membuka mulut, rumah itu muncul.
Di ujung jalan setapak yang hampir tertutup semak-semak, berdiri sebuah rumah Joglo besar, persis seperti di foto.
Tapi dalam kenyataan, rumah itu jauh lebih hidup.
"Tunggu," bisik Lengkara, memicingkan mata. "Itu rumahnya?"
Raka memarkirkan mobil di pinggir jalan, mematikan mesin. Mereka berdua duduk diam sejenak, menatap rumah itu dari dalam mobil.
Rumah Joglo besar dengan kayu yang menghitam, tapi tidak lapuk. Genteng yang ditumbuhi lumut, tapi masih utuh. Halaman yang bersih, tidak ada rumput liar yang tumbuh berlebihan. Tangga menuju teras bahkan terlihat bersih tanpa dedaunan atau debu menumpuk.
"Ini tidak masuk akal," gumam Raka. "Rumah yang ditinggalkan puluhan tahun seharusnya tidak terlihat serawat ini."
"Mungkin ada yang merawatnya," kata Lengkara pelan. "Mungkin ibu?"
Namun bahkan saat mengucapkan kata itu, Lengkara sendiri tidak yakin. Ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini. Sesuatu yang membuatnya ingin lari, tapi juga sesuatu yang menariknya mendekat.
Seperti rumah itu mengenalnya. Dia teringat kata Mbah Jati, "...darah menarik darah..."
"Ayo turun," kata Lengkara, membuka pintu mobil sebelum keberaniannya hilang.
Raka mengikuti dengan cepat, tangannya refleks meraih tas kamera di jok belakang. "Aku akan ambil beberapa foto. Siapa tahu berguna nanti."
Mereka berjalan perlahan melewati gerbang kayu tua yang setengah terbuka. Begitu kaki mereka melewati batas tanah rumah itu, Lengkara merasakan dingin yang tiba-tiba, seperti menyelam ke dalam air es.
Raka juga merasakannya. Ia mengeratkan genggaman pada tali tasnya. "Kau merasakan itu?"
Lengkara mengangguk. "Seperti ada yang mengawasi."
Mereka melanjutkan langkah menuju teras. Papan kayu di bawah kaki mereka berderit, suara yang terlalu keras di tengah kesunyian.
Lengkara hendak mengetuk pintu, tapi sebelum tangannya menyentuh kayu, pintu terbuka sendiri dari dalam.
Lengkara dan Raka mundur refleks, jantung berdegup kencang. Namun, sosok yang muncul dari balik pintu bukan hantu atau sosok mengerikan, melainkan seorang gadis.
Gadis muda, mungkin sekitar dua puluh lima tahun, dengan rambut panjang tergerai, mengenakan kemeja putih sederhana dan rok panjang batik. Wajahnya cantik, dengan mata besar yang menatap mereka dengan ekspresi terkejut.
"Oh!" Gadis itu melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya. "Maaf, maaf! Aku tidak tahu ada tamu. Biasanya tidak ada yang datang ke sini. Kalian siapa? Apa yang bisa aku bantu?" Ia tersenyum ramah, senyum yang terlihat sangat normal. 
Lengkara dan Raka saling berpandangan, sama-sama bingung. Ini bukan yang mereka ekspektasikan.
"Eh..." Lengkara akhirnya bicara. "Maaf mengganggu. Aku Lengkara. Ini Raka, temanku. Kami mencari informasi tentang rumah ini. Tentang keluarga Wirasena."
Mata gadis itu membesar sedikit, ada kilatan sesuatu di sana, tapi terlalu cepat untuk Lengkara tangkap.
"Wirasena?" ulang gadis itu pelan. "Kalian keluarga?"
"Ya," jawab Lengkara. "Ibu saya Ratna Wirasena. Ini rumah leluhur kami."
Gadis itu terdiam lama, terlalu lama, menatap Lengkara dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu ia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.
"Oh! Kalau begitu kita masih ada hubungan jauh!" katanya ceria. "Aku Ayu. Ayuni Wirasena, tapi semua orang panggil aku Ayu. Aku keponakan jauh, katanya. Ditugaskan menjaga rumah ini sama keluarga."
"Menjaga?" Raka akhirnya bicara, nada suaranya skeptis. "Sendirian? Di rumah sebesar ini?"
Ayu tertawa, bunyi yang terdengar sangat manusiawi. "Iya, kedengarannya aneh ya? Tapi aku sudah terbiasa. Lagipula aku juga punya kerjaan di desa, ngajar SD di sana. Jadi tidak sendirian-sendirian amat." Ia melirik jam tangan di tangannya. "Oh, kalian pasti lelah perjalanan. Mau masuk? Aku buatkan teh."
Lengkara ragu. Tapi Ayu terlihat sangat normal. Tidak ada aura aneh, tidak ada tatapan kosong seperti yang Mbah Jati gambarkan tentang rumah ini.
"Tidak apa-apa kok," lanjut Ayu, seperti bisa membaca keraguan Lengkara. "Aku mengerti kalian mungkin curiga, orang asing di rumah keluarga kalian. Tapi aku benar-benar cuma penjaga. Aku ada surat tugas dari tetua keluarga kalau kalian mau lihat."
"Tidak, tidak perlu," kata Lengkara cepat. "Maaf, kami tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa!" Ayu tersenyum. "Ayo masuk. Daripada berdiri di luar terus."
Ia membuka pintu lebar, melangkah masuk terlebih dahulu.
Lengkara melirik Raka. Raka mengangkat bahu, memberikan keputusan pada Lengkara.
Lengkara menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.
***
Bagian dalam rumah Joglo itu mengejutkan.
Bersih. Terawat. Ada furnitur sederhana tapi nyaman, sofa kayu dengan bantal, meja kopi, bahkan ada TV kecil di sudut ruangan. Tidak ada debu berlebihan, tidak ada sarang laba-laba, tidak ada kesan rumah tua yang ditinggalkan puluhan tahun.
"Maaf ya agak berantakan," kata Ayu sambil berjalan ke arah dapur kecil di belakang. "Aku tidak sempat beresin pagi ini. Langsung berangkat ngajar."
Lengkara berjalan perlahan di ruang tamu, matanya memindai sekeliling. Di dinding, terpasang foto-foto keluarga dalam bingkai kayu. Wajah-wajah yang tidak ia kenal, tapi ada sesuatu yang familiar di mata mereka.
Mata Wirasena.
Mata yang sama dengan miliknya.
"Itu foto-foto leluhur," kata Ayu dari dapur, suaranya terdengar sambil ia menyiapkan air untuk teh. "Sudah berumur puluhan tahun. Aku coba rawat sebisa aku. Rasanya sayang kalau sampai rusak. Mereka kan keluarga kita juga."
Raka berdiri di samping Lengkara, berbisik pelan: "Aku akan cek sekeliling sebentar. Ambil beberapa foto untuk dokumentasi."
"Hati-hati," bisik Lengkara balik.
Raka mengangguk, lalu mulai berjalan perlahan di sekitar ruang tamu, kameranya terangkat, mengambil foto berbagai sudut rumah.
Lengkara duduk di sofa, tangannya menyentuh permukaan kayu yang halus, terawat dengan baik. Terlalu terawat untuk rumah yang seharusnya kosong.
"Ini tehnya," kata Ayu, muncul dengan nampan berisi tiga gelas teh dan beberapa kue kering. Ia duduk di seberang Lengkara, tersenyum hangat. "Maaf cuma ada ini. Aku jarang punya tamu."
"Tidak apa-apa. Terima kasih." Lengkara menerima gelas teh, merasakan kehangatan di telapak tangannya. "Ayu, boleh aku bertanya? Kau sudah berapa lama tinggal di sini?"
"Hmm..." Ayu berpikir sejenak. "Sekitar lima tahun-an? Aku dipanggil sama tetua keluarga waktu itu. Katanya rumah ini butuh penjaga, dan karena aku masih ada hubungan darah, walau jauh, jadi aku yang ditugaskan."
"Dan kau tidak takut? Tinggal sendirian di rumah sebesar ini?"
Ayu tertawa lagi. "Awalnya takut. Banget malah. Tapi lama-lama terbiasa. Lagipula..." Ia menatap sekeliling dengan tatapan lembut. "Rumah ini tidak terasa menakutkan bagiku. Malah terasa hangat. Seperti rumah beneran."
Lengkara menatapnya, dan untuk sesaat, ia melihat kesepian di mata Ayu. Kesepian yang tersembunyi di balik senyum ceria itu.
"Kau tidak punya keluarga lain?" tanya Lengkara pelan.
"Tidak," jawab Ayu, senyumnya memudar sedikit. "Orang tuaku sudah lama meninggal. Tidak ada saudara. Jadi, rumah ini dan murid-muridku di sekolah, itu keluargaku sekarang."
Keheningan singkat.
"Maaf," kata Lengkara. "Aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa," potong Ayu cepat, senyumnya kembali, tapi kali ini terlihat sedikit dipaksakan. "Aku sudah terbiasa. Lagipula sekarang kan ada kamu! Keluarga! Meski jauh, tapi tetap keluarga." Ia condong ke depan, mata berbinar. "Cerita dong, kamu datang ke sini cari apa? Ibu kamu, Ratna, dia baik-baik saja kan?"
Lengkara terdiam sejenak. Cara Ayu bertanya terdengar terlalu ingin tahu di telinganya.
"Sebenarnya," kata Lengkara hati-hati, "aku datang ke sini karena aku mencari ibu. Dia menghilang. Dan ada petunjuk yang mengarah ke rumah ini."
Mata Ayu berkedip, hanya sekali, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. 
"Menghilang?" ulang Ayu pelan. "Sejak kapan?"
"Beberapa hari lalu. Aku menerima surat darinya, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi."
Ayu terdiam, jari-jarinya menggenggam gelas tehnya.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Tidak ada yang datang ke sini dalam beberapa hari terakhir. Hanya aku. Mungkin ibumu di tempat lain di desa?"
"Mungkin," jawab Lengkara, meski instingnya berkata lain.
Raka kembali ke ruang tamu, duduk di samping Lengkara. Ia meletakkan kameranya di meja, meraih gelas teh.
"Rumahnya bagus," katanya pada Ayu. "Terawat dengan baik. Pasti butuh usaha besar untuk merawat rumah sebesar ini sendirian."
"Aku sudah terbiasa," jawab Ayu dengan senyum. "Lagipula aku sayang sama rumah ini. Rasanya seperti rumah ini juga sayang sama aku."
Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kalimat itu yang membuat bulu kuduk Lengkara berdiri.
"Ayu," kata Lengkara, "Apa kau tahu tentang sejarah keluarga Wirasena? Tentang perjanjian?"
Ayu terdiam. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya berubah, lebih tajam, lebih waspada.
"Perjanjian?" ulangnya pelan. "Kamu sudah tahu tentang itu?"
"Mbah Jati cerita sedikit. Tentang perjanjian dengan Batara Kala."
Ayu mengangguk perlahan, menaruh gelasnya di meja. "Ya, aku tahu. Semua penjaga rumah ini diceritakan tentang perjanjian itu. Supaya kami tahu apa yang kami jaga sebenarnya."
"Dan kau tidak takut?" tanya Raka. "Tahu tentang kutukan seperti itu tapi tetap tinggal di sini?"
Ayu menatapnya—tatapan yang sulit dibaca.
"Takut," jawabnya jujur. "Tapi kadang, ada hal-hal yang lebih menakutkan daripada kutukan. Seperti kesepian. Seperti tidak punya tempat untuk pulang." Ia tersenyum lagi, kali ini lebih sedih. "Jadi aku memilih tinggal di sini. Setidaknya rumah ini membutuhkanku."
Lengkara merasa dadanya sesak. Ada sesuatu tentang Ayu, sesuatu yang membuatnya ingin memeluk gadis ini, mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
Tapi ada juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Lengkara merasa waspada.
"Kalian boleh menginap di sini kalau mau," kata Ayu tiba-tiba. "Ada beberapa kamar di lantai atas. Kosong semua. Daripada kalian cari penginapan di desa, yang mana sepertinya tidak ada, mendingan di sini aja. Lagipula kalian kan keluarga."
Lengkara dan Raka saling berpandangan.
"Itu baik sekali," kata Lengkara hati-hati. "Tapi kami tidak mau merepotkan—"
"Tidak repot kok!" potong Ayu ceria. "Malah aku senang ada teman. Biasanya rumah ini sepi banget kalau malam."
Raka menyentuh tangan Lengkara di bawah meja, singkat, memberikan keputusan pada Lengkara.
Lengkara berpikir cepat. Mereka memang butuh tempat menginap. Dan tinggal di sini berarti mereka bisa mencari petunjuk tentang ibunya lebih leluasa.
"Baiklah," kata Lengkara akhirnya. "Terima kasih, Ayu. Kami terima tawaranmu."
Ayu tersenyum lebar, terlihat sangat tulus.
"Bagus! Aku akan siapkan kamarnya. Oh, dan nanti malam aku masak ya. Sudah lama aku tidak masak untuk orang lain!"
Ia berdiri dengan ceria, mengambil nampan kosong, lalu berjalan ke dapur sambil bersenandung pelan.
Begitu Ayu hilang dari pandangan, Raka membungkuk mendekati Lengkara, berbisik, "Ada yang aneh dengan dia."
"Aku tahu," bisik Lengkara balik. "Tapi aku tidak bisa menunjukkan apa. Dia terlihat sangat normal."
"Terlalu normal," gumam Raka. "Untuk seseorang yang tinggal sendirian di rumah kutukan."
Lengkara mengangguk. "Kita harus tetap waspada. Dan malam ini, kita cari petunjuk tentang ibu. Mungkin ada sesuatu di rumah ini, jurnal, surat, apapun."
"Setuju," kata Raka. "Tapi Lengkara..."
"Ya?"
Raka menatapnya serius. "Apapun yang terjadi malam ini, jangan tinggalkan kamarmu sendirian. Kalau ada apa-apa, langsung cari aku. Oke?"
Lengkara merasakan kehangatan di dadanya meski situasinya menegangkan. "Oke. Kau juga, jangan coba-coba jadi pahlawan sendirian."
Raka tersenyum tipis. "Janji."
Mereka duduk dalam diam sejenak, mendengar suara Ayu yang masih bersenandung dari dapur, lagu anak-anak Jawa yang ceria.
Tapi entah kenapa, lagu itu terdengar salah.
Seperti lagu yang dinyanyikan oleh seseorang yang sudah lupa bagaimana rasanya benar-benar bahagia.
***
Ayu menunjukkan kamar-kamar di lantai atas, dua kamar bersebelahan yang bersih dan terawat. Lengkara mengambil kamar di sebelah kiri, Raka di sebelah kanan.
"Kamar mandi ada di ujung koridor," kata Ayu. "Airnya lancar kok. Kalau butuh apa-apa, kamarku di lantai bawah, di belakang dapur."
"Terima kasih, Ayu," kata Lengkara.
Setelah Ayu pergi, Lengkara masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Kamar itu sederhana, tempat tidur single dengan sprei putih bersih, lemari kayu tua, meja kecil dengan kursi, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang. Semuanya bersih. Terlalu bersih.
Lengkara meletakkan tasnya di atas tempat tidur, mengeluarkan jurnal ibunya. Ia membuka halaman demi halaman, mencari petunjuk, sampai ia menemukan halaman yang membuat jantungnya berhenti.
Sketsa.
Sketsa rumah Joglo, rumah ini, dengan denah lengkap.
Dan di salah satu ruangan,ruangan di loteng, ada tanda lingkaran merah dengan tulisan:
"Jangan masuk. Berbahaya."
Lengkara menatap sketsa itu lama.
Loteng.
Ada sesuatu di loteng rumah ini yang ibunya takuti.
TOK TOK TOK.
Ketukan di pintu membuat Lengkara terlonjak. Ia cepat-cepat menutup jurnal, menyembunyikannya di bawah bantal.
"Ya?" panggilnya.
Pintu terbuka sedikit. Raka menyembulkan kepalanya.
"Boleh masuk?"
"Ya, masuk."
Raka masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, wajahnya serius.
"Aku menemukan sesuatu," katanya pelan. "Tadi aku foto sekeliling rumah dari luar. Dan aku sadar ada satu jendela yang tidak pernah dibuka."
"Jendela mana?"
"Di atap. Loteng." Raka menunjukkan foto di kameranya. "Lihat? Jendela itu tertutup rapat. Tapi dari dalam, dari kamarku, aku bisa lihat ada tangga kecil tersembunyi di balik lemari. Tangga yang menuju loteng."
Lengkara merinding. "Ibu bilang di jurnalnya, ada ruangan yang berbahaya di loteng."
Raka menatapnya. "Kita harus ke sana."
"Sekarang?"
"Tidak. Nanti malam. Setelah Ayu tidur."
Lengkara mengangguk. "Baik. Tapi kita harus hati-hati."
"Selalu," kata Raka. Ia meraih tangan Lengkara, singkat, meyakinkan. "Kita akan menemukan jawabannya, Lengkara. Aku janji."
Lengkara menatap tangan mereka yang saling menyentuh. Ini situasi yang buruk untuk hatinya berdebar. Namun, dia tidak dapat mengendalikannya.
"Terima kasih," bisiknya. "Karena tetap di sini. Karena tidak meninggalkanku."
Raka tersenyum. Senyuman lelaki tersebut membuat Lengkara semakin berdebar.
"Aku tidak akan ke mana-mana," bisiknya. "Tidak akan pernah."
***
Malam tiba dengan cepat.
Mereka makan malam bersama Ayu, makanan rumahan yang sederhana tapi enak. Ayu banyak bercerita tentang murid-muridnya di sekolah, tentang kehidupan sehari-harinya di desa.
Semuanya terdengar sangat normal.
Setelah makan malam, Ayu pamit tidur lebih dulu, katanya ia harus bangun pagi untuk mengajar.
"Kalian istirahat ya," katanya sambil tersenyum. "Kalau ada apa-apa, jangan ragu panggil aku."
Setelah Ayu masuk ke kamarnya di lantai bawah, Lengkara dan Raka menunggu di ruang tamu, menunggu sampai yakin Ayu benar-benar tidur.
Satu jam berlalu.
"Sekarang?" bisik Lengkara.
Raka mengangguk. Ia mengambil senter kecil dari tasnya, menyalakannya dengan cahaya redup.
Mereka naik tangga dengan perlahan, setiap langkah diukur agar tidak membuat suara. Sampai di lantai atas, Raka membawa Lengkara ke kamarnya.
Di dalam kamar, Raka menggeser lemari tua, perlahan, sedikit demi sedikit, sampai terbuka celah di belakangnya.
Tangga kecil.
Tangga kayu tua yang menanjak ke atas, ke loteng.
"Siap?" bisik Raka.
Lengkara mengangguk, meski jantungnya berdegup kencang.
Mereka mulai naik, satu anak tangga, dua, tiga, kayu berderit pelan di bawah kaki mereka.
Udara semakin dingin. Semakin berat.
Dan saat mereka sampai di atas, di loteng yang gelap dengan hanya sinar senter menerangi.
Di saat itulah momen ketika Lengkara melihatnya. Ruangan kecil penuh dengan foto. Foto dirinya. Ratusan foto. Dari berbagai usia. Dari berbagai sudut.
Dan di tengah ruangan, sebuah altar kecil. Dengan lilin yang masih menyala. Kemudian di depan altar itu-
Sebuah boneka.
Boneka yang wajahnya ditempel dengan wajah Lengkara.
Raka menggenggam tangan Lengkara erat. "Kita harus pergi—"
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, terdapat suara dari bawah tangga. Suara bernyanyi. Suara anak kecil.
"Cublak-cublak suweng... suwenge ting gelenter..."
Ayu.
Tapi bukan suara Ayu yang ceria.
Ini suara yang lebih tua. Lebih gelap.

Comentário do Livro (16)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    17d

      0
  • avatar
    Milea Fransisca Animoto Hatori

    banus

    20/03

      0
  • avatar
    AlifAmirul

    badus

    17/03

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes