⚠️⚠️Warning!!! Chapter ini berisi kekerasan pada anak, dan lain sebagainya. Dimohon kebijakan pembaca dalam membaca chapter ini!!! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Sinar matahari yang menerobos jendela kamar dan menyinari kepalaku, membuatku terganggu dan membalikkan badan untuk menghindarinya. Niatku hanya ingin melanjutkan tidur selama 10 menit lagi, tapi suara dobrak kan pintu berhasil membuatku terperanjat kaget dan langsung terjaga. Seharusnya aku tidak kaget lagi karena ini sudah sering terjadi, tetapi aku tetap saja kaget karena memang tidak tahan pada suara yang cukup keras saat santai. Mana kepalaku masih sakit lagi. “Nona Lila, mau sampai kapan anda tidur seperti itu? Seluruh anggota keluarga Pavenisa sudah bangun sejak 45 menit lalu dan anda masih tidur? Lebih baik anda segera bangun jika anda tidak ingin saya laporkan pada Grand Duke!” ujar seorang wanita paruh baya yang memiliki badan lumayan besar. Yah, untuk ukuranku sih, dia masih lebih besar dariku. “Kepala pelayan, tolong berhenti berbicara seperti itu! Itu sama saja seperti anda merendahkan Nona Lila! Anda bisa-” “Iya iya, aku bangun. Bahkan aku sudah bangun karena suara berisik itu,” ujarku dengan menutup telinga karena merasa mendengar suara balon meledak. Perkataanku itu jelas-jelas membuat semua orang yang masuk ke kamarku menoleh padaku yang langsung duduk di pinggir ranjang. Padahal aku ingin tidur lagi, semua orang pada kenapa sih pagi ini? “Nona Lila! Apa Nona tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya seorang pelayan muda dengan menghampiriku dan menyentuh pahaku sembari berjongkok di hadapanku. Melihatnya, aku hanya tersenyum dan menyapanya, “selamat pagi, Raya. Aku tidak apa-apa kok.” “Baguslah jika anda sudah bangun. Sekarang saatnya untuk anda bersiap-siap dan pergi ke ruang makan karena Grand Duke menunggu anda untuk hadir dalam sarapan bersama,” ujar wanita paruh baya itu. Mendengarnya, aku hanya menatap sinis dan berdiri. Begitu juga dengan Raya. Dia segera menjauh dariku untuk memberi ruang untukku berdiri dan ikut berdiri di belakangku. “Aku tahu itu jadi berhentilah berteriak di hadapan seorang anak kecil. Meskipun aku masih muda, derajatku lebih tinggi darimu. Meminta maaflah atau aku akan melaporkan itu pada Grand Duke,” ujarku mengancamnya dengan kedua tanganku di pinggang dan wajah marah. “Saya tidak memiliki waktu untuk hal sepele seperti itu, Nona. Sekarang saatnya saya menyiapkan anda untuk hadir di ruang makan,” ujarnya dan berbalik membelakangi ku. Aku sangat marah melihat perlakuannya itu. Tanpa sadar, aku maju dan menarik tangannya untuk membuatnya berhenti. Benar saja, wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan itu menghentikan langkahnya dan berbalik melihatku. “Aku menyuruhmu untuk meminta maaf dan bukan menyiapkan keperluanku! Minta maaflah atau benar-benar aku laporkan pada ayah!” ujarku marah padanya dan masih terus menarik tangannya. Bukannya meminta maaf, wanita itu justru tertawa. “Memangnya anda bisa melaporkan saya? Yang anda miliki hanya gelar saja dan bukan pengakuan dari Grand Duke. Walaupun anda meminta-minta sekalipun, Grand Duke tidak akan mendengarkan anda sedikit pun dan menganggap anak tanpa energi sihir seperti anda seperti kucing jalanan yang tidak perlu dipedulikan. Jadi, sebaiknya anda diam saja seperti biasanya dan segera pergi karena saya akan memulai pekerjaan saya,” ujarnya dengan mengibaskan tangan yang aku tahan ke belakang dengan entengnya. Membuat tubuh kecilku ikut terlempar ke belakang dan melepaskan genggamanku pada tangan yang besar itu dan jatuh terkapar di lantai dengan kepala yang untungnya jatuh di atas karpet. Raya yang melihatku jatuh, segera menghampiriku dan membantuku untuk bangun. Wanita sialan! Kenapa sih dia harus menjadi pelayanku? Di saat wanita itu akan pergi dengan senyum puas, sebuah rapalan sihir terdengar di telingaku dan sesaat kemudian kaki wanita itu tertutupi es yang membuatnya tidak bisa bergerak. Sihir ini... kenapa dia di sini? “Lila! Kamu tidak apa-apa kan?” tanya seorang gadis yang 8 tahun lebih tua dariku. Aku melihatnya sekilas dan benar saja, ini semua perbuatannya. Melihat semua itu, aku hanya bisa menunduk dan mengangguk kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Selain rasa sakit akibat dilempar wanita itu, aku tidak apa-apa dan kepalaku masih di tempatnya. Gadis itu pun menghela nafas lega dan menghampiri wanita yang tidak bisa bergerak itu. “No-nona Marissa, tolong dengarkan saya dulu-” “Kepala Pelayan Lemina Hawskin, bukankah perkataan dan perbuatan yang barusan anda lakukan itu keterlaluan? Bukan hanya menghina adik saya tidak dianggap dan tidak memiliki sihir, anda juga melempar dia seperti bukan apa-apa. Bukankah itu sudah sangat keterlaluan? Lalu, apalagi yang harus saya dengar dari mulut kotor anda? Kebohongan apalagi yang akan anda katakan? Anda kira saya tidak mendengar dan melihat semuanya?” tanya kakak dengan menatapnya tajam. Wanita itu terdiam seketika. Aku hanya melihatnya saja tanpa melakukan apa pun atau mengatakan apa pun. “Sudah cukup omong kosong ini. Pengawal, bawa dia ke penjara bawah tanah. Saya sendiri yang akan bilang pada ayah tentang apa yang anda lakukan pada anggota Keluarga Pavenisa. Dan pastinya, hukuman dari beliau tidaklah ringan jadi persiapkan diri anda,” ujarnya dan melelehkan es di kaki wanita itu setelah para pengawal memegang tangannya. Wanita itu sempat memberontak ketika dibawa oleh para pengawal walau akhirnya pergi juga dari kamar ini. Tidak hanya itu saja, Kak Marissa juga mengusir semua pelayan yang ada di kamar ini selain Raya dan pelayan pribadinya. “Syukurlah kamu tidak apa-apa, atau ada yang terasa sakit? Apa ada yang luka? Apa perlu kakak panggilkan dokter untuk merawatmu?” tanyanya panik dengan memegang lenganku. Aku memanggil namanya dan berbalik memegang lengannya dengan tangan kecilku. “Saya tidak apa-apa, kak. Tidak ada luka ataupun hal lain. Jadi, kakak tenang saja,” ujarku menenangkannya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Dia pun melepaskan pegangannya, begitu juga denganku. Lalu, dia memelukku dan mengelus kepala belakangku. “Kakak akan bicara langsung dengan ayah mengenai masalah ini. kakak juga akan meminta beliau mengganti pelayanmu sehingga kamu tidak akan khawatir diganggu lagi. Aku juga akan menyeleksi langsung mereka yang akan menjadi pelayanmu,” ujarnya yang masih terus mengelus kepalaku. Aku melepas pelukannya dan melihat ke arah Raya yang berada di belakangku. Kakak yang paham akan maksudku hanya bisa tertawa dan berkata, “tentu saja Raya tidak termasuk. Dia kan tidak salah apa pun jadi dia nggak perlu diganti. Kamu benar-benar khawatir padanya ya.” Kak Marissa masih terus tertawa karena hal tersebut. Aku hanya bisa menghela nafas lelah. Jika sudah begini, dia akan sulit untuk dihentikan. Jadi, sembari menunggu kakak berhenti, aku menyuruh Raya untuk menyiapkan air mandi ku sedangkan aku sendiri akan berbicara sejenak dengannya sembari menunggu Raya. Selama menunggu, kami membicarakan banyak hal, salah satunya mengenai tujuan kakak kemari. Rupanya, kakak datang untuk menjemputku dan pergi ke ruang makan bersama karena Grand Duke Pavenisa memanggil kami semua. Aku sudah mendengar hal itu dari orang itu. Tapi, untuk apa Grand Duke memanggil kami semua? Meskipun begitu, pada akhirnya aku menolak ajakan Kak Marissa dan memilih untuk makan di kamar hari ini. Ini terasa janggal untuk dia karena aku terbiasa makan di ruang makan sebelum mengalami sakit kemarin. Tapi bagiku, ini adalah hal yang wajar karena aku tidak ingin melihat seseorang yang lebih tua dan menyebut dirinya keluarga tetapi tidak menganggap keberadaan ku. Dibanding menjadi kepalsuan untukku, mereka, juga orang lain, lebih baik aku mengalah dan mundur lebih dulu karena aku memang bukan anak yang berbakat. Mendengar penolakanku, Kak Marissa hanya bisa tersenyum lalu berdiri dan menghampiriku. Dia mengelus puncak kepalaku tanpa berucap apapun. Tak lama dia melepasnya dan keluar dari kamarku. Dia mengatakan akan segera mengatakan masalah wanita itu pada Grand Duke lalu segera kembali untuk makan bersamaku. Aku sendiri sudah mengatakan tidak perlu, tapi pada akhirnya dia tidak mendengarnya dan berlari pergi dari kamarku. Aku hanya menghela nafas melihatnya dan pergi ke kamar mandi untuk menjalani ritual pagiku. Pada akhirnya tidak ada yang bisa menahannya termasuk Grand Duke, jadi untuk apa aku menahannya? Buang-buang waktu saja. Ah iya, aku belum memperkenalkan diri pada kalian ya? Kalau begitu, mari kita mulai perkenalannya sembari aku menjalani ritual pagiku. Namaku adalah Lila Ivena Pavenisa. Yak begitulah namaku di dunia ini. Sebenarnya, aku bukanlah penduduk asli dunia ini. Aku adalah manusia dari bumi yang lebih modern dan bukan abad pertengahan seperti ini. Namaku di sana adalah Clara Rahma Sancaka. Seorang pegawai kantoran biasa yang meninggal karena tabrak lari oleh seorang pengendara mobil dan lahir ke dunia ini. Di kehidupanku sebelumnya, aku dikenal sebagai anak pembawa malapetaka dan selalu dibuli oleh semua orang, termasuk orang yang disebut orang tua ku. Aku sudah dijauhi oleh semua orang sejak kecil. Namun, ada 1 anak yang tidak takut padaku dan menganggapku anak normal pada umumnya. Dia adalah teman pertama dan terakhirku sekaligus teman masa kecilku. Dia dianggap sebagai anak yang rasional karena di sekolah nilainya selalu bagus dan dia selalu logis dalam memecahkan masalah. Makanya dia sering disebut Si Rasionalis Dari Klub Fisika. Kalau kalian masih ingat dengan kisah dunia lain yang aku ceritakan sebelumnya, teman yang aku maksud adalah dia. Sejak kami berusia 10 tahun, dia selalu menceritakan tentang adanya dunia lain yang penuh dengan sihir. Aku sendiri ketika mendengarnya pertama kali sangat terkejut dan tidak percaya padanya. Bagiku, itu semua hanya dongeng yang tidak akan pernah terbukti kebenarannya. Bahkan aku sering sekali menertawakannya dan pura-pura mendengarkan ketika dia mulai bercerita seperti itu. Tapi sekarang, aku benar-benar menyesal karena perbuatanku padanya hari itu. Ya, gimana nggak orang aku justru terjebak di dunia lain yang aku tertawakan itu. Dan nggak cuma itu saja, selain reinkarnasi aku juga mengalami regresi yang terjadi tiap kali aku mati. Tidak ada syarat lain untuk mengaktifkan regresi. Aku hanya perlu mati dengan alasan apa pun dan otomatis regresi akan dimulai. Tapi, begitu aku mengalami regresi, itu artinya aku akan mengulang semuanya dari awal. Meskipun aku mengatakan dari awal, bukan berarti aku memulainya dari bayi, melainkan dari usia 7 tahun seperti apa yang aku alami sekarang ini. Itu artinya aku harus mengatur ulang rencana kedepannya dan apa yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup. Tapi ya, meskipun aku bisa bertahan sampai tua pun, pada akhirnya aku akan regresi kembali ke titik ini. Dan itu sangat menyiksaku. Kalau kalian ingin tahu alurnya, akan aku katakan. Jadi, di bumi aku mati karena tabrak lari, lalu masuk ke dunia ini sebagai bayi baru lahir, terus berjuang bertahan hidup dan akhirnya mati lalu kembali ke usia 7 tahun dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, mengulang semuanya dari awal, mati lagi karena hal lain, regresi lagi ke usia 7 tahun, dan begitu terus tanpa ada akhirnya. Jika di hitung hingga terakhir kali aku mati, maka aku sudah mengalami regresi sebanyak 150 kali dan ini yang ke 151 kali. Sesekali, aku memikirkan tentang arti dari semua ini. Kenapa di bumi aku selalu mendapat perlakuan buruk dan dianggap membawa malapetaka? Kenapa ketika aku mati harus terlahir kembali ke dunia antah berantah ini dengan ingatan penuh? Lalu, kenapa aku mengalami regresi berulang dan tanpa akhir itu? Terkadang aku selalu mempertanyakan itu semua dan sudah berkali-kali mencari jawabannya. Tapi, tentu saja aku tidak pernah menemukan jawaban itu dan berakhir mati lalu terlahir kembali. Gitu aja terus sampai aku eneg. “Aku harusnya mencari tahu jawabannya, tetapi apa yang harus aku lakukan? Huh, andaikan saja Keith ada di sini,” ujarku sendiri dengan masih berendam di bak mandi. Aku segera menggeleng kuat. Aku tidak bisa terus-menerus bergantung padanya. Aku harus berusaha sendiri dan mencari jalan keluarnya sendiri karena aku sendirian saat ini. Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Di saat aku sedang memikirkan jawabannya, sebuah panggilan dari Raya membuatku tersadar dari lamunanku. Sepertinya aku sudah terlalu lama berendam. Jadi, aku pun mengakhiri sesi ritual pagiku itu dan keluar dari kamar mandi. Dengan dibantu Raya, aku pun berganti pakaian menjadi gaun harian. Baru setelah itu aku sarapan di dalam kamar dengan ditemani Kak Marissa dan Raya. “Setelah ini kamu mau ngapain, Lil?” tanya Kak Marissa. “Saya berniat untuk pergi ke laboratorium dan melihat perkembangan dari eksperimen sebelumnya. Lalu, mungkin saya akan berkeliling di sekitar taman atau pergi ke perpustakaan,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari makananku. “Itu terdengar cukup membosankan. Apa kamu tidak ingin keluar dari mansion ini dan pergi berbelanja begitu?” tanya kakak dengan menghentikan gerakannya. Aku menggeleng sebagai jawabannya. Jika aku melakukan itu, Grand Duke akan sangat marah padaku. Dan kejadian yang aku alami di regresi ke 75 akan terjadi. Yang paling parah, aku bisa saja mati saat itu juga padahal baru mengalami regresi seperti yang terjadi di kehidupan ke 84. Itu jauh lebih mengerikan ketimbang bikin rencana kabur dari sini di usia ke 18 tahun. “Kalau bersama kakak bagaimana?” tanyanya. Aku menatap Kak Marissa kebingungan. “Kakak berencana ke kota sebentar untuk membeli perlengkapan yang kurang di akademi. Karena kamu nggak ada rencana selain ke laboratorium, bagaimana kalau kamu temani kakak ke kota? Dengan begitu, setidaknya kamu bisa santai sejenak dan melupakan... hal itu,” lanjutnya. Aku terdiam menatapnya. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Aku juga tidak ada kerjaan hingga 2 minggu ke depan, jadi ini lebih baik. “Tapi bagaimana dengan izin dari Grand Duke?” tanyaku khawatir. “Itu biar kakak yang atur. Ngomong-ngomong Lila, kenapa kamu memanggil ayah Grand Duke? Biasanya kamu tetap memanggilnya ayah,” tanyanya dengan melanjutkan sesi makan yang sempat tertunda. Aku terdiam sejenak, “itu karena beliau tidak ingin dipanggil ayah oleh saya. Jadi, saya memanggilnya seperti itu. Seharusnya, saya juga memanggil Kak Marissa dengan sebutan Nona dan bukan kakak. Tapi, saya tetap memanggil Kak Marissa dengan kata kakak karena saya tahu anda akan melarang saya.” “Kamu masih memikirkan perkataan ayah minggu lalu?” tanyanya dengan wajah sendu. Aku tidak menjawabnya. Jika ini regresi ke 2 hingga ke 5, mungkin aku akan bersikap seperti biasa. Tapi, ini adalah regresi ke 151. Itu artinya aku sudah melewati hal ini berulang kali dan aku tidak mungkin menjawab tidak. Tapi, aku juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, jadi aku memilih diam saja. “Ya sudahlah, yang penting kamu mau ikut itu sudah bagus. Untuk urusan perizinan, kakak akan bilang langsung pada ayah. Kalau begitu, kita akan bertemu lagi jam 11 siang ya,” ujarnya kembali riang. Aku mengangguk. “Kalau begitu, kakak pergi dulu. Terimakasih untuk makanannya dan sampai jumpa nanti, Lila,” ujarnya dan pergi dari kamarku. Aku tidak menjawab maupun melepasnya. Aku hanya menghela nafas dan memperhatikan Raya yang membereskan alat makan yang kami gunakan. Keluar dari mansion ini ya. Yah, itu bukan ide buruk selama aku tetap bersama kakak. ⸨─ ⸙† Reborn For The 151st Time: End †⸙ ─⸩
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0Ver Todos