Página Inicial/KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA/
bab 9
KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA BAB 9 "Ayo ngaku anak siapa!" sentak Sinta. "A, aku juga gak tau Kak," ucap Riana dengan bibir bergetar. "Jadi beneran kan kamu hamil!" hardik Bu Widya. "Siapa yang hamil Bu?" Sontak Riana, Bu Widya maupun Sinta menatap ke arah suara tersebut. "Kak Desi," ucap Riama lirih. "Siapa yang hamil, kenapa kalian diam saja?" ucap Desi dengan wajah garang. Semenjak mengetahui skandal antara Riana dengan suaminya, Desi memang sangat membenci Riana, awalnya Desi menolak untuk menampung Riana yang dianggapnya sebagai pelakor, tapi setelah Mirza membujuknya serta diiming imingi dengan uang akhirnya Desi luluh juga. "Anu, itu Ibu juga lagi bertanya Des." "Tanya sama siapa dan siapa yang hamil." "Noh si Riama yang bunting," seloroh Sinta, Sinta ini selain dia julid bin nyinyir juga mata duitan bin matre, dari ketiga anak Bu Widya hanya Sinta yang hingga saat ini belum juga menikah, itu lantaran Sinta terlalu banyak memilih dan menuntut, pernah beberapa kali Sinta menjalin asmara dengan laki-laki tapi akhirnya kandas ditengah jalan, karena kematrean Sinta. "Riana? Hamil anak siapa? Jangan bilang anak Mas Rian," ucap Desi sembari menatap tajam Desi. "A, aku juga gak tau Kak, ini anak siapa, kalau gak Mas Mirza ya Mas Rian." "Enak saja mau menuduh Rian dan Mirza, kamu itu kan pengobral selangkangan, bisa saja itu anak pelangganmu kan!" hardik Sinta. "Tapi Kak, anak ini sudah ada sebelum aku bekerja seperti ini, lagian aku kan baru satu hari profesinya kayak begitu Kak." "Pokoknya aku gak mau tau, jangan sekali-kali kamu minta tanggung jawab sama Mas Rian, karena aku dengan Mas Rian mau rujuk!" sentak Desi, sontak saja ucapan Desi membuat ketiganya terkejut. "Kamu mau rujuk sama Rian Des? Tapi kemarin kamu yang udah ngusir Rian," ucap Bu Widya. "Ya karena kemarin itu aku emosi Bu, tapi sekarang udah enggak, kata Mas Rian Riana ini yang selalu menggodanya, yah namanya aja kucing Bu makan daging mulu ya bosen, sesekali juga pengen makan ikan asin Bu, ditambah lagi Riana merayunya," sinis Desi sembari melirik Riana. "Itu bohong Kak, justru Mas Rian lah yang selalu menggodaku, bahkan perawanky pun dia yang ambil Kak." "Alah gak usah alesan kamu, aku lebih percaya sama Mas Rian karena dia suamiku , dan sudah hidup bersamaku selama 10 tahun, selama ini Mas Rian tidaj pernah main perempuan, baru setelah kamu datang ke keluarga kami semuanya jadi berantakan, termasuk rumah tangga Mirza dengan Lia juga." "Iya tu bener kata Kak Desi, gara-gara kamu masuk ke rumah Lila, semuanya jadi kacau." timpal Santi. "Tapi bukankah kalian juga menyetujui hubunganku dengan Mas Mirza, lalu kenapa sekarang hanya aku yang disalahkan?" "Ya memang kamu yang salah, lalu siapa kalau bukan kamu yang bersalah, kamu mau menuduh kami ha!" ucap Bu Widya sembari menarik rambut Riana. "Aduh Bu, sakit, tolong lepas Bu," hiba Riana pada Bu Widya. "Makanya jangan berani ngelawan kamu, kalau kami isir kamu bisa jadi gembel di jalanan sana!" hardik Sinta. "Bukan gembel lagi Sin, tapi pelacu* jalanan hahahaha." "lah Kak Desi, dia kan emang udah pelacu* Kak, hahahaha." Desi, Sinta dan Bu Widya menertawakan Riana dengan puas, sementara Riana hanya bisa menangis mendengarkan cacian dari mereka ditambah rasa perih yang menjalar ke seluruh kepalanya lantaran rambutnya ditarik oleh Bu Widya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, betapa Riana tidak akan mau untuk tinggal dirumah Lila, karena ternyata keluarga Bu Widya yang notabene nya masih saudaranya sangatlah licik, jahat, culas, dan bermulut tajam. "Mbak Lila, maafkan aku, aku baru tahu jika selama ini kamu menahan sakit atas hinaan mereka padamu," batin Riana perih. **** "Sekarang kamu masuk dan temui pelanggan di kamar 205, namanya mr Bryan," ucao Mirza pada Riana. "Kali ini tamunya bule Mas?" "Ya, dan seperti biasa aku sudah memberimu vitamin dan sedikit obat perangsang, biar kamu lebih bergairah, o iya, pelanggan kali ini orangnya suka cewek agresif, jadi kau harus melakukan apa yang dia suka, dan kau harus tahan dengan apapun yang dilakukannya padamu, paham!" "Iya Mas aku ngerti." "Bagus, ya sudah sana kamu masuk, orangnya sudah menunggumu didalam." Riana pun turun dari mobil yang ditumpanginya, dengan kaki yang sedikit gemetar karena obat yang diberikan Mirza sudah bereaksi, Riana berjalan menuju kamar tujuannya. **** Tak berselang lama Riana pun sampai di kamar no 205, Riana mengetuk pintu lantas membukanya, karena Mirza sudah memberi tahu jika kamar tidak di kunci dan Riana langsung masuk saja. Perlahan Riana membuka pintu kamar, namun didalam sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali padahal hari masih sore. Riana berjalan sembari meraba dinding kamar, berniat mencari saklar lampu, karena sejujurnya Riana takut gelap. Tapi belum sempat Riana menemukan saklar lampu tiba-tiba Riana berteriak kesakitan. "Aaakh…" Bagian punggung Riana terasa panas dan perih, saat Riana masih sibuk dengan rasa sakitnya tiba-tiba lampu kamar menyala, dan ternyata di dekat saklar lampu sudah ada seorang pria berkulit putih berbadan besar dan tinggi yang hanya memakai celana dalam saja, ditangan orang itu sudah ada sebuah cambuk yang panjang, mungkinkah cambui itu yang tadi digunakannya untuk menyakiti Riana? "Come on baby, you will love this game," ucal Bryan sembari mengayunkan cambuk yang ada di tangannya. Cetarrrrr… Kembali Bryan mengayunkan cambuk itu ketubuh Riana, tentu saja Riana kembali berteriak karena kesakitan. Melihat Riana yang kesakitan sama sekali tidak membuat Bryan menjadi iba akan tetapi membuat birahi Bryan semakin menjadi. Kini Bryan sudah mengangkat tubuh Riana dan menghempaskannya ke atas ranjang hotel, bergegas Bryan duduk diatas perut Riana dan… Plak, olak, plak... Kembali Bryan menyakiti Riana dengan menamparnya berkali-kali hingga sudut bibir Riana mengeluarkan darah. "Saya mohon tuan, jangan sakiti saya," ucap Riana mencoba menghiba dengan suara lirihnya karena Riana sungguh sudah kehilangan tenaga, sebab sebelum menemani pelanggan Riana sudah harus berjibaku dengan setumpuk pekerjaan di rumah Desi. "Come on Baby, ini baru permulaan," ucap Bryan sembari menyeringai, seringai yang sangat menakutkan, seperti seorang psikopat yang mendapatkan mangsa. akhirnya Bryan pun melakukan kegiatan ranjang bersama Riana, tentunya masih disertai dengan kekerasan lainnya, berupa jambakan pada rambut Riana maupun tamparan pada pipi maupun tubuh Riana lainnya. Hingga pada akhirnya Riana sudah merasa sangat tidak berdaya, pandangannya tiba-tiba menjadi gelap dan Riana pun akhirnya pingsan.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (89)
Ranii
wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku
wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku
21/12/2021
0Bagus
14/06/2025
0sukaaa
12/04/2025
0Ver Todos