Aku menghampiri Merwais, berharap dia mau memberikan uang yang aku perlukan. "Wais, boleh minta tolong, gak? Aku mau minta duluan uang gaji dua ratus lima puluh ribu untuk memperbaiki motor yang rusak," ujarku dengan tertunduk karena merasa malu. "Oh, boleh. Sebentar, ya." Merwais pun mengambil uang di laci dan memberikan padaku. Aku mengambil uang itu dan langsung memberikannya kepada Bagas. "Nih, ambil uangnya dan segera pergi dari butik ini. Jangan bikin bunda tambah malu lagi," ucapku sedikit kesal. "Makasih ya, Bunda sayang." Bagas cengengesan dan segera berlalu pergi dari butik. Aku pun segera menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena kehadiran Bagas. Sore hari saat butik akan tutup, Merwais memberikan kami masing-masing amplop. Itulah gajih yang kami tunggu-tunggu setiap bulannya. Teman-teman yang lain merencanakan makan bersama, sekedar menikmati hasil kerja selama ini. "Kak Din, kita nongkrong di cafe dulu, yuk," ajak Lisa. "Gak ah, kalian aja. Kasian Galang nungguin Kakak di rumah neneknya. Lagian Kakak mau belikan mainan dulu buat Galang." "Bentar aja, kok, Kak. Dari pada suntuk, cape kerja langsung ketemu abang yang garang." Mereka pun tertawa. Mereka tahu Bagas seperti itu, karena sering marah kalau menjemputmu pulang. "Lain kali aja deh, adik-adik kakak yang manis. Kakak masih banyak keperluan yang lain." Aku terus berusaha menolak. "Ya udah deh, Kak, kami duluan, ya. Assalamualaikum." "Yoi, hati-hati di jalan, ya. Waalaikumusalam." Aku tersenyum melihat keceriaan mereka. Tanpa sadar Merwais sudah berada di belakang dan terkejut saat dia menepuk bahuku. "Astagfirullah, bikin kaget aja, sih, kamu." "Makanya jangan melamun, dong." "O,iya Wais, tolong berikan uang ini kepada Kak Vera sebagai cicilan utangku waktu itu." Aku menyodorkan amplop yg berisi uang. "Gak usah, anggap saja utang kamu lunas. Biar aku yang melunasinya." Dia menolak amplopnya. Tiiitt! Tiittt! Bagas sudah ada di depan butik untuk menjemput. Entah sudah berapa lama dia di situ. Dia menatap tajam ke arah kami. "Cepatan pulang, Bund!" Aku segera menghampirinya dan langsung duduk di jok belakang. Sekilas kulihat senyum yang penuh misteri di bibir Bagas. "Hhhmmm ... rupanya baik juga ya, sepupunya Vera itu. Ganteng lagi." Bagas memecahkan kesunyian di antara kami saat di jalan pulang. "Gak naksir, Bund? Kan tiap hari ketemuan di butik." Bagas mulai mencari masalah. Aku tetap diam tidak menanggapi. Percuma menanggapi kalau akhirnya nanti salah juga. "Kok diam, Bund? Kayaknya Bunda naksir juga nih, sama tuh cowok." Nada bicara Bagas mulai meninggi. Untung segera sampai di rumah mertua. Aku turun dan langsung masuk ke rumah. Saat itu Galang bermain sama Kakeknya. "Assalamulaikum." "Waalaikumsalam. Tuh, Bundanya udah datang," kata bapak mertua. "Nya nya nyaaah,, mammmmaah." "Ya Allah, Galang udah bisa ngomong ya, sayang." Aku segera menggendong dan mengecup pipi Galang dengan gemes. Kebahagian tak terkira saat Galang memanggilku untuk pertama kalinya. Keluarga Bagas sedang berkumpul di ruang tengah. Santai sambil menikmati acara televisi. Tidak berapa lama Bagas pun masuk dalam keadaan mabuk. Rupanya saat aku masuk ke dalam rumah, dia sempat-sempatnya membeli obat yang memabukan itu. Walau sedang mabuk, dia masih bisa menjawab apa yang kami tanya. "Yah, habis berapa tadi memperbaiki motornya?" tanyaku. "Gak jadi memperbaiki, uangnya tadi hilang." "Pakai aja uang gajih Bunda yang sekarang untuk memperbaikinya." "Astagfirullah, Ayah! Terlalu banget." Aku berteriak kesel. "Ada apa sih, Din?" Ibu mertua keluar dan bertanya. "Ini lo, Bu, Bagas ngabisin uangku. Katanya mau memperbaiki motor. Paling juga di belikannya ke obat itu buat mabuk." "Astagfirullah, kebangetan kamu Bagas," ujar Ibu mertua. Byuurr! Bapak mertua datang dengan seember air dan mengguyurkannya ke tubuh Bagas. "Mabok terus kamu Bagas. Sudah punya anak istri masih aja gak insaf!" Langsung bapak mertua menggetok kepala Bagas dengan ember. Kami pun semua tertawa terbahak-bahak. Kemudian bapak mertua bertanya, berapa Bagas memberiku tiap bulannya. "Din, Bapak mau nanya, berapa uang yang Bagas beri tiap bulannya?" Mumpung Ibu, Bapak, Kakak dan juga Adik serta para ipar Bagas ngumpul semua, tentu aku jelaskan semuanya. "Bagas cuma ngasih saya dua ratus ribu tiap bulannya, Pak. Tanpa saya tahu gajih sebenarnya berapa." "Duit segitu gak cukup buat bayar kontrakan, Pak. Belum makan dan susunya Galang," sambungku lagi. "Di tambah harus membayar cicilan utang waktu melahirkan Galang." "Itu pun masih meminta uang saya, Pak." Tak terasa ada air yang mengalir di pipiku. "Ya ampun, Bagas, sungguh keterlaluan!" kata Bapak mertua. "Gini saja. Bapak dan Ibu akan membantu, tetapi tidak banyak, ya." "Bapak dan Ibu cuma bisa ngasih beras lima kilo, gula, minyak goreng dan telur. Kalau nanti gas kamu habis, telpon bapak. Nanti bapak tukar yang baru" "Alamdulillah ...." Aku pun mengucap syukur. "Kamu pulang aja duluan. Biarkan Bagas tidur di sini sementara sampai dia terbangun,” ucap Ibu mertua. " Tata, antarkan Dina pulang." Tata pun mengangguk dan segera mengantarku pulang. **** "Bund, tadi malam hujannya lebat banget, ya. Tapi, kok bunda gak ada di rumah ibu?" Bagas berkata tanpa dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi. "Banget lebatnya. Mabok aja terus, biar air yang diguyur di kira hujan." Aku pun tertawa terbahak-bahak. "Tuh, air diguyur seember di bilang hujan lebat. Tadi malam Bapak yang mengguyur Ayah." "Karna gak sadar juga, ya udah Bunda tinggalin pulang aja." "Hmm, pasti pulangnya dianterin sama cowo india itu, ya. Ngaku aja deh, Bund" "Astagfirullah, Ayah! Bunda di anterin Tata pulangnya. Kalau gak percaya, tanya aja langsung sama Bapak." "Tapi setelah itu cowok india itu datang ke rumah ini 'kan? Karena Ayah gak ada di rumah, jadi Bunda merasa bebas." "Lalu cowok india itu pulang sebelum Ayah datang. Iya 'kan?!" "Kalau ngomong itu harus ada buktinya, Ayah. Kalau gak ada bukti, itu sama aja fitnah." "Kurang bukti apa lagi. Ini buktinya bunda mandi basah," ujarnya sambil memegang rambutku yang masih basah dibagian depan. Ya ampun, emang susah ngomong sama orang yang maunya menang sendiri. padahal, kalau mandi dan cuci muka, ya emang basah bagian rambut depan. Jadi tepok jidat. "Terserah Ayah mau ngapain mong apa. Dijelaskan pun tetap gak percaya. Jadi males, pagi-pagi udah berdebat. Mana mau Malaikat rahmat masuk ke rumah ini." "Ya, sudah, gak usah kerja hari ini. Makin keenakan aja nantinya si india itu menikmati tubuh Bunda." Astahfirullah, gak habis-habisnya aku berzikir menghadapi seorang Bagas yang sangat posesif. *** Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa tahun berganti tahun, usia Galang sekarang sudah hampir empat tahun. Selama itu pula sifat dan kebiasaan Bagas tidak pernah berubah. Sampai suatu hari, saat itu dia pulang dengan keadaan mabuk bersama temannya. Aku marah, tapi mereka tidak peduli. "Pulang mabuk jangan ke rumah ini," ujarku penuh emosi. "Halah, rumah kontrakan juga di sombongin." Teman Bagas menyahut. Tersulutlah emosiku "Walau kontrakan, tapi aku yang bayar. Bukan kamu, bego!" "Cih, cantik juga gak, sombongnya selangit." "Bagas tuh, sudah gak suka lagi sama kamu, tauuuu. Gak berapa lama dia akan menceraikanmu," ucap teman Bagas yang tidak tahu diri. "Mending sama Lastri yang bohay dan seksi. Setiap hari juga ketemu. Ya 'kan, Gas?" Aku segera mengusir mereka. Awalnya mereka tidak mau keluar. Emosiku memuncak dan langsung mengambil sapu. Lalu kupukulkan ke tubuh mereka dengan ganggang sapu. Beruntung saat itu mereka dalam keadaan mabuk dan lemah. Sehingga aku bisa memukul dan menendang mereka berdua. Kukeluarkan semua baju Bagas dan dia membawa baju itu ke tempat ibunya. *** Besok paginya Tata dan Ibu mertua datang ke kontrakanku menanyakan perihal kenapa aku mengusir Bagas dari rumah. Semuanya kuceritakan kepada Ibu mertua. Tetapi, mereka hanya diam mendengarkan ceritaku. "Din, walau bagaimana pun Bagas tetap suamimu. Kamu harus tetap menghormatinya walau dia seperti itu. Doakan saja semoga Bagas cepat dapat hidayah." Ddrrrttttt ponselku bergetar. Tiba-tiba Isha menelponku. Ada apa gerangan? Perasaanku jadi tak enak. (Halo, assalamualaikum.) Kuangkat telepon dari Isha. "Kak Din, cepat ke rumah. Mama kritis" Aku pun segera bersiap ke rumah Isha. Memang keadaan mamah beberapa minggu ini sudah drop. Mungkin karena usianya yang sudah tua. Mama tidak mau di rawat di Rumah Sakit. Mama hanya mau di rawat di rumah. Sesampai di rumah Isha, aku segera memeluk Mama dan menangis. Mama mencium Galang sepuasnya, seakan perpisahan bakal terjadi. Mama pun menanyakan Bagas. "Bagas mana, Din? Mama ingin bertemu." Tidak berapa lama Bagas pun tiba bersama mertua dan iparku. Dia langsung menghampiri Mama. ”Bagas, Mama minta jaga selalu Dina. Jangan pernah menyakitinya lagi. Dan berjanjilah, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan Dina." "Iya, Ma, Bagas janji." Setelah itu Mama pun meninggalkanku untuk selamanya. Tak ada lagi tempat curhat dan bermanja. Setelah meninggalnya Mama, aku kembali resign dari pekerjaan dan Bagas pun kembali ke rumah. _________________ Khanza Az-Zahra
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus bgt
01/09
0ceritanya bagus
12/06/2025
0bagus sekali
04/06/2025
0Ver Todos