"Tapi Ara tidak seperti itu." Aldy mengelak akan ucapan mamanya, meskipun otaknya selalu berpikir seperti itu. "Benarkah? Siapa yang tak bisa berubah didunia ini? Kau yang mama kenal sebagai pria paling hebat setelah papamu, kini lemah seperti ini. Lalu dimana letak kata tidak seperti itu?" Aldy bangun dari duduknya, menuju pagar pembatas balkon, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mendengar ucapan mamanya yang mengatakan tentang Ara tak bisa ia hilangkan begitu saja. Semuanya bisa terjadi, dan sangat mungkin terjadi. Ara tidak kembali sebagai mayat, yang artinya ia masih berada disana. Ditempat yang entah tak tahu dimana. Jadi tak elak jika Ara memiliki kekasih, atau suami, atu pun seorang anak. "Bagaimana? Ucapan mama benar bukan? Sudahlah Al, berhenti menunggu. Sembilan tahun itu bukan waktu sekejap." Elva menghampiri putranya, memegang kedua pundak Aldy supaya memandangnya. "Belajar lupakan Ara, dengan memasukkan wanita lain kedalaman kehidupanmu. Semua pasti bisa jika kau mau membuka hati." Aldy terdiam, apa semua harus pupus? Apa semuanya harus berakhir setelah lamanya menunggu. Apa ia harus memenuhi permintaan Ara sembilan tahun yang lalu? "Aldy dengarkan mama, kamu berhak bahagia." Aldy mengangguk, dengan satu tarikan napas. "Aku akan mencobanya." Elva langsung memeluk Aldy dengan sangat erat, ia harap, setelah perjodohan itu tiba, ia bisa membuat Aldy-nya kembali berubah seperti dulu. Sangat hangat jika dengan keluarga. "Terima kasih Al, mama senang mendengarnya." Elva membuka pelukannya, senyuman dan air mata terlihat dari wajah yang sedikit mengendur itu. "Aku akan menelepon papamu, aku akan memberi kabar tentang hal ini." Elva pergi, meninggalkan Aldy yang masih terdiam, di depan pagar balkon. "Maafkan kakak Ara." ~~~~~ Aldy sudah meyakinkan dirinya semalaman penuh jika ia akan mengangkat Sisil sebagai anaknya. Ia tak mau kehilangan mata indah milik Sisil. Aldy menuju kamar mamanya, ia melihat mamanya yang sedang menata baju di lemari. Aldy menegetuk pintu kamar mamanya yang tak tertutup. Tok tok tok Elva mengalihkan pandangannya, kearah suara. Ternyata anak sulungnya yang sudah siap dengan pakian kantornya. "Masuk nak." Aldy masuk kedalam kamar mamanya, lalu duduk di kasur Elva. "Aku ingin berbicara sesuatu kepada mama." Elva menghentikan pergerakannya. Ia melihat kearah Aldy, lalu menghampirinya. "Ada apa?" tanya Elva lembut. "Aku ingin mengangkat Sisil menjadi anakku." Elva mengelus pipi Aldy. Ia tau cintanya kepada Ara sangat dalam, sampai-sampai hanya ada seorang anak yang memiliki bentuk mata yang sama dengan Ara, Aldy tak mau kehilangan anak itu. Elva tak bisa selalu mengekang anaknya ini itu. Anaknya sudah besar, ia berhak mengatur hidupnya sendiri. "Silahkan, mama setuju. Soal papa, mama akan membicarakan hal ini," ucap Elva. "Terima kasih ma." "Sama-sama." Setelah dari kamar mamanya, Aldy turun kebawah. Ia melihat Sisil yang sedang membantu bibi melakukan tugasnya. Mengelap beberpa perabotan dengan serbet. "Sisil," panggil Aldy. Sisil mengalihkan pandangannya, lalu menghampiri Aldy. "Ada apa om?" tanyanya ketika sampai didepan Aldy. "Mau sekolah gak?" tanya Aldy. "Sekolah?" "Ia sekolah, mau atau tidak?" tanya Aldy lagi dengan nada yang dibuat-buat. "Mau om," jawabnya gembira. "Mau gak jadi anak angkatnya om?" tanya Aldy dengan topik pembicaraan yang lain. Ia tak mau kehilangan mata yang sama dengan Ara. "Anak angkat?" tanya Sisil tak mengerti. "Ia, kamu menjadi anak angkat om, yang artinya kamu akan menjadi anak om. Kamu mau tidak?" tanya Aldy lagi. "Sisil mau, mau banget." Aldy memeluk Sisil dengan sangat erat. "Terima kasih." "Sisil juga makasih," jawabnya sambil membalas pelukan hangat Aldy. Aldy melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Sisil yang membasahi pipinya. "Jangan nangis, kamu jelek kalo nangis." "Sisil seneng, ada yang mau anggap Sisil berharga kayak keluarga ini." Aldy juga tersenyum, ia kembali memeluk Sisil dengan sangat erat. "Sekarang panggilnya papa, bukan om," printah Aldy yang di angguki oleh Sisil. "Papa," ucap Sisil. "Makasih sayang." "Papa akan panggil kamu Mentari. Kamu mau di panggil Mentari?" tanya Aldy. "Ia Mentari, nama yang sangat bagus." Aldy sangat senang, saat ini. Apa ini rasanya memiliki anak? Tidak, pasti lebih senang dari pada ini, apalagi anak dengan Ara, cintanya. Aldy menghubungi anak buahnya untuk mengurus surat-surat, dan sesuatu yang diperlukan untuk keperluan sekolah Sisil. Sebelum makan selesai. Seorang pria dengan rambut plontos datang membawa beberapa mini bag, dan berkas-berkas. "Selamat pagi tuan, nyonya," ucap Ammar (sekertaris pribadi Aldy) Aldy bangun dari duduknya, mengambil paper bag itu, dan diberikan kepada Mentari. "Seragammu sudah siap sayang," ucap Aldy dengan senyuman sumringah. "Sisil sekolah om?" tanya Abel. "Sekarang namanya bukan Sisil, tapi Mentari, dia akan jadi sepupu kamu," jawab Aldy. "Yey, punya sepupu!" teriak Abel kesenangan. Alfa dan Aina yang masih bingung dengan ucapan Aldy memandang mamanya tak mengerti. Elva hanya mengangguk. Ia mengerti dengan tatapan putra bungsunya itu, jika ia meminta penjelasan akan kata Aldy. "Terima kasih pa." Mentari memeluk Aldy dengan erat. "Sekarang kamu ke atas, ganti baju, hari ini kamu harus sekolah ikut kak Abel sama Zen." "Ia pa," jawabnya dan pergi menuju kamarnya. "Kak Lo ngangkat," ucapan Alfa terhenti ketika Aldy mengangguk. Aldy mengalihkan pandangannya kearah Ammar. "Ammar, hari ini aku harus meeting dengan klien dimana?" "Klien meminta kita meeting di hotel Garuda pak, pagi ini," jawab Ammar. Aldy mengambil susunya, meneguknya hingga tandas. Tak lupa ia juga mengambil tas kerjanya. "Ma, semuanya aku berangkat dulu. Fa, Mentari sudah aku daftarkan di sekolah yang sama dengan Abel. Kau tinggal mengantarnya, aku ada meeting pagi ini." "Baiklah," jawab Alfa pasrah. Tak mungkin ia menolak permintaan kakaknya bukan. Waktu terus berlalu, hingga seperti sekarang Aldy, dan mamanya sudah berada di restoran. Mereka menunggu anak teman mamanya yang akan dikenalkan dengan Aldy. Bukan senang, Aldy ingin sekali pergi sejauh mungkin kali ini, hanya untuk meninggalkan acara yang membosankan seperti saat ini. Ia harus berdiam, dan menjawab pertanyaan yang di lontarkan teman mamanya. Sangat menguras tenaga, dan buang-buang waktu. Sekitar sepuluh menit Aldy menunggu. Ia hampir saja akan pulang, jika saja mamanya tak melihat temannya yang sedang clingak-clinguk. "Yumna, aku disini," ucap Elva sedikit berteriak, dengan melambaikan tangannya keatas supaya orang yang di panggil Yumna itu mendengar. Aldy bisa melihat ibu dan anaknya itu menghampiri mejanya. Aldy menatap wanita yang berjalan di belakang ibu Yumna itu datar. "Apa aku akan di jodohkan dengan wanita yang pakaiannya saja bukan seleraku," batin Aldy. Sesampainya didepan Elva, Yumna saling berpelukan dengan Elva, tak lupa beserta cepika-cepiki yang biasa wanita lakukan ketika bertemu dengan sahabatnya. "Gimana kabarnya?" tanya Yumna, dengan senyuman mengembangnya sejak tadi. "Aku baik. Silahkan duduk dulu na." Yumna dan wanita yang memakai baju kurang bahan itu duduk di di dua kursi kosong yang memang disediakan, untuk keduanya. "Kenalin na, ini Aldy anak sulungku," ucap Elva mengenalkan Aldy. Sedangkan Aldy ia hanya diam, tak menunjukkan raut wajah senang atau pun tak suka, tatapannya datar. "Al, salaman," bisik Elva, supaya Aldy mendengarkan. "Oh, ia Tante, perkenalkan nama saya Aldy." Dengan begitu terpaksa, Aldy menjabat tangan keduanya. Aldy bisa merasakan jika tangannya masih di pegang oleh wanita itu. "Ganteng ya, va anak kamu. Oh ya, kalo ini Melly, kenalan sayang." "Melly Tante, mas," jawab Melly. Aldy jengah dengan hal seperti ini. Apalagi melihat wanita yang ingin dijodohkan dengannya. Tak ada ketertarikan sama sekali. Aldy tak mungkin tertarik dengan wanita yang memakai dres ketat, tanpa lengan, buah dada yang menonjol, dan make up yang lumayan tebal. Mungkin jika bagi pria yang haus nafsu, penampilan Melly sangat menarik dan memikat. Namun, hal itu tak berlaku bagi Aldy. "Melly bekerja atau masih kuliah?" tanya Elva memulai percakapan. "Aku bekerja sebagai model di brand yang cukup terkenal Tante," jawabnya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 26 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (209)
Kha Thomas
sangat bagus
09/04
0
RendiIndri
menarik
22/01
0
febrianaandita
terharu banget ka😻😻
sangat bagus sekali cerita nya
sangat bagus
09/04
0menarik
22/01
0terharu banget ka😻😻 sangat bagus sekali cerita nya
01/07/2025
0Ver Todos