Langkah Hanna terdengar ringan saat menyusuri koridor Fakultas Teknik yang beraroma oli dan besi. Hari itu, ia membawa bekal kecil, berniat memberikan kejutan untuk Dewa, kakak kelas sekaligus sahabat yang selalu menjaganya. Dewa tidak tahu ia akan datang. Namun, sejujurnya, bukan hanya Dewa yang ingin ia temui. Sejak Dewa memperkenalkannya pada Bimo, perasaan Hanna mulai bergeser. Ia tertarik pada sosok Bimo yang misterius—lelaki berkulit hitam manis dengan rambut gondrong urakan yang pelan-pelan mulai berubah rapi sejak Hanna masuk ke dalam hidupnya. Hanna merasa bangga bisa "memperbaiki" penampilan Bimo. Sore itu langit mendung, menyisakan hawa lembap yang menekan. Hanna melangkah menuju taman belakang kampus, tempat favorit Dewa dan Bimo menghabiskan waktu. Namun, langkahnya mendadak kaku saat sebuah bentakan kasar menghantam udara. “Gue sudah bilang, jangan pernah deketin dia kalau cuma buat main-main, Bim!” “Bukan urusan lo! Lo saja yang tidak berani mengaku sama dia kalau...” BUGHHH! Hanna menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia menyibak semak-semak rendah yang membatasi pandangan. Di sana, di bawah pohon beringin tua, Dewa berdiri dengan napas memburu di atas tubuh Bimo yang tersungkur di tanah. Wajah Bimo babak belur, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Tangan Dewa masih mengepal, siap melayangkan pukulan lanjutan dengan mata merah yang beringas. “KAK DEWA!!” Teriakan Hanna memecah kekacauan itu. Ia berlari panik, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup di depan tubuh Bimo yang tak berdaya. Matanya membelalak menatap Dewa dengan amarah yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Kamu ngapain sih, Kak?! Kenapa mukulin Mas Bimo seperti ini?!” teriaknya sembari menarik lengan Dewa sekuat tenaga. Dewa terpaku. Kepalan tangannya perlahan melemah, namun matanya menatap Hanna dengan pandangan yang sulit diartikan getir, terluka, dan penuh amarah “Hanna, ini… ini tidak seperti yang kamu lihat... Dia...” “Sudah, Kak! Aku tidak mau dengar alasan kamu! Kenapa kamu jadi kasar begini?!” Hanna menengadah, matanya mulai berkaca-kaca. Suaranya pecah, menyisakan luka yang dalam. Sementara itu, Bimo hanya duduk bersandar pada bangku taman, diam seribu bahasa. Ia menyeka darah di mulutnya dengan punggung tangan, menunduk lesu seolah-olah ia adalah korban paling malang di dunia. Gestur itu sukses memicu naluri pelindung dalam diri Hanna. Ia berjongkok, mengabaikan Dewa, dan mulai menyeka luka Bimo dengan tisu dari tasnya. “Han, kamu harus tahu, dia bukan seperti yang kamu kira selama ini…” Dewa masih berusaha menjelaskan, suaranya parau karena rasa sakit yang bukan berasal dari fisik. “Cukup, Kak! Aku minta mulai sekarang kamu jangan dekati aku lagi. Aku kecewa sama kamu!” Suara Hanna tajam dan final. Dewa hanya berdiri diam membeku. Di antara rintik gerimis yang mulai turun, ia hanya bisa menatap punggung Hanna yang memapah Bimo pergi menjauh. Di momen itu, Dewa tahu ia telah kehilangan Hanna karena kejujuran yang belum sempat terucap. Flashback Off Di luar ruangan rawat inap, Dewa masih berdiri terpaku. Matanya mengikuti sosok Bimo yang berjalan tertatih menjauh menuju lift. Napasnya masih berat, sisa amarah di dadanya belum benar-benar reda, namun rasa sakit karena melihat kondisi Hanna jauh lebih mendominasi. Begitu memastikan Bimo sudah menghilang dari pandangannya, Dewa membalikkan badan dengan tekad bulat. Ia ingin menjelaskan semuanya. Ia ingin berada di samping Hanna saat wanita itu rapuh. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu. “Maaf, Pak. Pasien berpesan tidak ingin diganggu oleh siapa pun,” ucap perawat yang tadi keluar. Tubuhnya berdiri kokoh menghalangi jalan Dewa. “Tapi, Sus… Saya yang membawa Hanna ke sini. Mungkin Suster salah dengar, yang dilarang itu laki-laki yang tadi... bukan saya,” Dewa berusaha bernegosiasi, suaranya memohon. “Mohon maaf, Pak. Tapi Bu Hanna berpesan tidak ingin ditemui oleh siapa pun untuk sementara waktu. Itu artinya, termasuk Bapak juga,” tegas perawat itu lagi, tak bergeming sedikit pun. “Tolong, Sus. Saya cuma mau lihat keadaannya sebentar saja. Memastikan dia baik-baik saja.” Dewa tetap berjuang untuk bisa masuk menemui Hanna. Namun, sebelum perawat itu sempat membalas, suara lemah namun jernih dari dalam ruangan merambat keluar, menghantam kesadaran Dewa. “Sus… tolong bilang ke dia untuk pergi. Saya mau sendiri.” Kalimat itu lirih, namun cukup untuk mengiris hati Dewa hingga berkeping-keping. Dewa mengalah. Ia mundur selangkah, kepalanya tertunduk lesu. Kata-kata perawat dan penolakan Hanna menyentuh logika terdalamnya. Mungkin ini bukan soal siapa yang lebih tulus atau siapa yang menyelamatkannya malam ini. Saat ini, Hanna sedang hancur. Dan mungkin, bagi Hanna, Dewa adalah bagian dari kenangan pahit yang ingin ia kubur bersama kegagalannya dengan Bimo. Dengan langkah berat yang menggema di koridor rumah sakit yang sunyi, tubuh Dewa berbalik. Hatinya sepi, namun ia tidak ingin menambah beban di pundak perempuan yang paling dicintainya itu. “Hanna… kamu masih saja salah paham padaku,” bisiknya dalam hati. Suaranya tenggelam dalam riuh rendah suasana rumah sakit, membawa hutang penjelasan enam tahun lalu yang belum sempat terbayar hingga hari ini.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Ver Todos