logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 Enam

Cahaya lampu ruang rawat inap yang temaram menyorot lembut ke wajah pucat Hanna. Aroma khas rumah sakit yang dingin, bercampur dengan bau obat yang menusuk, mengisi udara yang terasa sesak. Di keheningan malam itu, hanya detak alat monitor yang berbunyi teratur, mengiringi napas Hanna yang masih lemah dan dangkal. Wanita itu tampak begitu rapuh di balik selimut putih yang membungkus tubuhnya.
​Pintu kayu ruangan itu terbuka perlahan, menimbulkan decit halus yang memilukan. Bimo melangkah masuk dengan bahu merosot. Wajahnya pucat, matanya merah dan sembap karena penyesalan yang datang terlambat. Langkahnya terasa berat. 
​“Sayang…” lirih Bimo pelan. Suaranya pecah, nyaris seperti bisikan angin yang hilang ditelan sunyi.
​Hanna tidak menyahut. Ia tetap memejamkan mata lebih erat, mencoba sekuat tenaga agar tidak terguncang oleh kehadiran pria yang paling ia cintai sekaligus paling ia benci saat ini. Dengan gerakan lambat yang menyiratkan rasa sakit fisik dan batin, Hanna memiringkan tubuhnya membelakangi Bimo.
​“Sayang, pelan-pelap. Kamu masih lemah,” ucap Bimo panik, berusaha membantu.
​Bimo duduk di tepi ranjang, tangannya yang dingin terjulur menyentuh jemari Hanna yang terkulai lemah. Namun, seolah tersengat listrik, Hanna menarik tangannya menjauh. Penolakan itu begitu nyata hingga Bimo tertegun. Ia menundukkan kepala, napasnya terasa mencekat di tenggorokan.
​“Kamu… kenapa tidak bilang kalau kamu hamil, Han?” suaranya bergetar penuh sesal, namun ada nada menyalahkan yang terselip di sana. “Andai saja kamu bilang, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian. Mas pasti akan terus menjaga kamu, Sayang.”
​Hanna menggigit bibirnya kuat-kuat. Matanya mulai basah, namun ia menahan isak tangisnya agar kalimatnya tidak hancur. Ia menarik napas panjang yang terasa sesak sebelum akhirnya bersuara lirih.
​“Kamu ingat kado yang batal kuberikan tadi mas?” Hanna terdiam sejenak, menelan kepahitan. “Itu adalah kejutan terindah yang sengaja aku siapkan untukmu. Alat tes kehamilan itu... Aku ingin memberikan sesuatu yang kupikir akan menjadi kado terindah untukmu.”
​Bimo membeku. Dunia seolah berhenti berputar saat ia menyadari apa yang telah ia sia-siakan.
​“Tapi kamu lebih memilih kado dari Tasya,” lanjut Hanna, kini air matanya mulai banjir membasahi bantal. “Sepertinya seindah apa pun hadiah yang bahkan dikirimkan Tuhan sendiri, tidak ada yang lebih berharga bagimu daripada milik Tasya, iya kan, Mas?”
​Bimo memejamkan mata rapat-rapat, merasakah hantaman di dadanya. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang tidak ada apa-apanya dibanding apa yang telah Hanna lalui sendirian di lantai rumah mereka.
​“Aku minta maaf, Hanna… sungguh. Tapi kenapa kamu tidak hubungi aku waktu itu? Kenapa malah Dewa yang kamu telepon?” tanya Bimo, mencoba mencari penjelasan di tengah rasa cemburu dan lukanya.
​Hanna tertawa kecil. Sebuah tawa getir yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Heh, kamu tidak sadar berapa banyak panggilan yang sudah kamu abaikan? Aku bahkan bersyukur saat akhirnya panggilanku diterima, tapi ternyata…” Hanna menutup wajahnya dengan sebelah tangan, tangisnya pecah seketika.
​“Kamu telepon aku?” Bimo buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Tapi tidak ada notifikasi panggilan sama sekali di sini, Han.” Ia menyodorkan layar ponselnya seolah itu adalah bukti kesetiaannya.
​“Aku sudah menduga,” Hanna mendengus sinis di balik tangisnya. Ia akhirnya menoleh, menatap Bimo dengan mata yang bengkak dan merah. “Coba kamu buka log panggilan di ponselku, Mas. Lihat sendiri berapa kali aku mencarimu malam itu. Tapi tidak satu pun yang kamu jawab.”
​Bimo meraih ponsel Hanna yang tergeletak di meja kecil samping ranjang. Jemarinya bergetar saat membuka daftar panggilan keluar. Detik itu juga, darahnya seolah berhenti mengalir. Enam panggilan tak terjawab menuju nomornya. Waktu yang tertera... tepat saat ia sedang tertawa di apartemen Tasya.
​“Jangan-jangan…” gumam Bimo, kecurigaan mulai merayapi pikirannya.
​“Dan panggilan terakhir... kamu menerimanya, Mas,” suara Hanna kembali merendah, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat. “Tapi kamu tidak bicara denganku. Kamu hanya membiarkan aku mendengar kalian tertawa... bercanda... dan mengolok- olok diriku. "
​Isak tangis Hanna semakin hebat, tubuhnya yang lemah sampai bergetar.
​“Kamu biarkan aku mendengar semua kemesraan itu sambil aku menahan sakit kehilangan bayi kita. "
​Bimo menatap ponsel di tangannya dengan pandangan kosong. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. “Panggilan itu... diterima?”
​Hanna mengangguk pelan dalam kepedihan yang dalam. “Aku dengar semuanya. Suara kamu, suara dia, candaan kalian... dan kalimat paling menyakiti yang pernah aku dengar sepanjang hidupku. Kalian mengaggap perasaan cintaku hanya sebagai suatu kebodohan. "
​Air mata Bimo jatuh menetes ke lantai. “Han, aku… aku benar-benar tidak tahu. Aku bersumpah, aku tidak memegang ponselku saat itu.”
​“Tasya yang menerima panggilan itu, kan?” Hanna menatap tajam, menembus langsung ke mata Bimo. “Dia yang sengaja membiarkan aku mendengar semuanya supaya aku hancur, kan?”
​Bimo terdiam. Potongan-potongan kejadian malam tadi mulai menyatu di kepalanya—tentang ponselnya yang sempat "hilang", tentang ekspresi puas di wajah Tasya, dan tentang ajakannya untuk mampir ke apartemen. Ia menyadari telah menjadi pion dalam permainan licik mantan kekasihnya.
​“Ya Tuhan…” napas Bimo memburu, rasa mual mendadak menyerangnya.
​Hanna kembali memalingkan wajah, menutup pintu hatinya rapat-rapat. “Kamu pergi saja, Mas. Aku tidak mau lihat kamu sekarang.”
​“Hanna, please… beri aku kesempatan minta maaf.”
​“Tolong... pergi. Aku mau istirahat,” usir Hanna tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
​Sunyi yang mencekam kembali menggantung. Bunyi mesin monitor menjadi satu-satunya saksi kehancuran sebuah pernikahan malam itu. Bimo duduk membeku, menatap punggung Hanna yang seolah sudah berjarak ribuan kilometer darinya.
​Tepat saat itu, pintu terbuka lagi. Dewa masuk bersama seorang perawat. Tatapan Dewa langsung terkunci pada sosok Bimo. Amarah yang sejak tadi ia pendam seolah siap meledak kapan saja.
​“Selamat malam, Bu Hanna. Saya periksa dulu ya kondisinya,” ucap perawat itu ramah, mencoba mencairkan suasana yang sangat tegang.
​“Iya, Sus,” jawab Hanna lemah.
​“Tolong yang lain keluar dulu ya, biar pasien bisa tenang,” pinta sang perawat.
​Bimo berjalan keluar lebih dulu dengan kepala tertunduk. Dewa mengikuti di belakang, menatap punggung Bimo dengan rahang yang mengeras. Begitu mereka sampai di koridor rumah sakit yang sepi dan memastikan Hanna tidak lagi bisa melihat mereka, Dewa bergerak.
​“Bim…” Dewa memanggil lirih namun penuh ancaman.
​BUKK!
​Sebuah bogem mentah mendarat telak di rahang Bimo saat pria itu menoleh. Bimo terhuyung, menabrak dinding koridor.
​“Aww! Apa-apaan ini?!” seru Bimo sembari memegang pipinya yang berdenyut panas.
​Dewa berdiri tegak, napasnya memburu hebat. “Dulu gue mundur karena gue tahu Hanna cintanya sama lo! Karena gue percaya lo bisa buat dia bahagia!” Dewa setengah berteriak, suaranya gemetar menahan emosi yang meluap.
​“Gue tahu gue salah, tapi lo tidak berhak memukul gue!” balas Bimo mencoba membela diri.
​BUKK!
​Pukulan kedua mendarat di sudut bibir Bimo, membuatnya mulai mengeluarkan darah.
​“Hanna itu perempuan paling berharga buat gue, dan gue tidak nyangka lo bisa segoblok ini menyia-nyiakan dia!” Dewa mencengkeram kerah baju Bimo, matanya menatap tajam penuh kebencian.
​Bimo mencoba membalas, namun kekuatannya kalah jauh dari Dewa yang sudah dikuasai amarah. Dewa memiting tubuh Bimo hingga pria itu tak berkutik di lantai.
​“Sekarang mending lo pergi dari sini. Lepaskan Hanna. Kalau lo tidak bisa bahagiain dia, gue bersumpah... gue sendiri yang akan ambil alih posisi itu dan membuat dia bahagia seumur hidupnya.”
​Dewa mendorong tubuh Bimo hingga terjatuh, membiarkan sahabat lamanya itu bangkit dengan tertatih dan sisa-sisa harga diri yang sudah hancur berantakan.

Comentário do Livro (0)

    Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes