Unit apartemen mewah itu terasa begitu hangat, seolah-olah dunia luar yang dingin dan kejam tidak pernah ada. Lampu-lampu temaram memberikan bayangan lembut di dinding, sementara lilin-lilin kecil yang menyala di atas meja kaca menciptakan suasana intim. Dua gelas wine yang sudah setengah tandas menjadi saksi bisu bagaimana malam itu dibungkus rapi dalam atmosfer nostalgia. Bagi Bimo dan Tasya, ini adalah perjalanan kembali ke masa lalu, ke sebuah rasa yang ternyata belum benar-benar usai. Bimo bersandar santai di sofa beludru, sementara Tasya duduk di sebelahnya dengan jarak yang nyaris tak ada. Bimo sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa saat lalu, Tasya telah mengambil ponselnya secara diam-diam. Tasya sempat melihat nama "Hanna" berkedip di layar, membiarkannya tersambung agar Hanna mendengar suara-suara yang menyakitkan, lalu dengan cekatan menghapus jejak panggilan itu sebelum meletakkan ponselnya kembali di sisi Bimo. Tasya tersenyum puas. Ada kemenangan kecil yang ia rasakan di balik sorot matanya yang manja. Pasti sekarang lo lagi nangis karena tahu suami lo lagi sama gue, batin Tasya kejam. Ia merasa menang telak karena berhasil membuat Hanna mendengar percakapan yang sengaja ia arahkan untuk memicu kecemburuan. “Kamu di sini saja dong, temenin aku sampai pagi, Nyet,” bisik Tasya seraya meletakkan kepalanya di bahu bidang Bimo. Bimo hanya menatap kosong ke arah layar televisi yang menyala tanpa suara. Ada sesuatu yang mengganjal di sudut hatinya sebuah rasa tidak tenang tidak mampu ia uraikan. Namun, aroma parfum Tasya yang familier seolah membius logikanya. “Ya?” Tasya mengangkat kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah Bimo karena pria itu tak kunjung mengiyakan permintaannya. Bimo terdiam sejenak, mencoba menarik kembali kesadarannya yang hampir hanyut. “Heh… next time, ya. Sekarang aku harus pulang dulu, kasihan Hanna sendirian di rumah,” lanjutnya. Tasya mendengus kecewa, bibirnya mengerucut membentuk ekspresi merajuk. “Tadi kamu bilang Hanna orangnya santai, tidak cemburuan, dan pasti bisa mengerti karena dia cinta mati sama kamu. Terus kenapa sekarang buru-buru banget, sih?” Bimo menghela napas, mengubah posisi duduknya hingga kini menghadap Tasya sepenuhnya. “Jauh-jauh ke luar negeri masih saja manja,” ujarnya lembut sembari mencubit hidung mungil wanita itu. “Awww…” Tasya berpura-pura kesakitan dengan gaya yang menggemaskan. “Iya, walaupun dia pengertian, tapi kan dia tetap seorang istri yang pasti punya perasaan. Lagian ini sudah malam sekali, Tasya,” ucap Bimo mencoba memberikan pengertian, meski hatinya sendiri masih terasa mendua. “Ya memangnya kenapa kalau sudah malam?” Tasya mendelik, menantang dengan tatapan yang provokatif. “Takut…” jawab Bimo singkat. “Takut apa?” “Takut tergoda sama kamu dan terjadi hal-hal yang diinginkan, hehehe,” Bimo kembali mencubit hidung Tasya, berusaha mencairkan suasana yang mendadak panas. “Ihh, ya tidak apa-apa dong, malah asyik kalau begitu,” sahut Tasya, semakin berani melangkah melewati batas. Untuk beberapa detik, keduanya terperangkap dalam tatapan mata yang dalam. Udara di ruangan itu seolah menipis. Bimo tak bisa lagi mengendalikan degup jantungnya yang berpacu liar, hingga akhirnya, logika benar-benar kalah oleh nafsu masa lalu. Sebuah kecupan mendarat, tak terelakkan. Mereka tenggelam dalam romansa yang sempat terputus oleh waktu, melupakan fakta bahwa ada seorang wanita lain yang sedang meregang nyawa di rumah mereka. “Ya sudah, aku janji besok aku ke sini lagi, ya,” Bimo akhirnya menjauhkan wajahnya, membingkai wajah cantik Tasya dengan kedua tangannya. “Janji?” tanya Tasya dengan nada menuntut. Bimo mengangguk lirih disertai senyuman penuh arti. Ia menenggelamkan kepala Tasya ke dadanya, mendekap wanita itu erat-erat seolah sedang mengucapkan salam perpisahan sementara. “Ya sudah, aku pergi dulu,” ucap Bimo mengakhiri pelukan. Tasya melepaskannya dengan berat hati, aktingnya sebagai wanita yang merindukan kasih sayang sungguh sempurna. “Eh, ponsel aku mana ya?” Bimo baru menyadari benda itu tidak ada di tempatnya semula. Tasya berdiri, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia ikut berpura-pura mencari, padahal ia tahu persis di mana benda itu berada. Saat Bimo lengah, Tasya dengan cepat meletakkan kembali ponsel itu di kursi bekas duduk Bimo. “Itu,” ujar Tasya sambil menunjuk. “Oh iya…” Bimo meraih ponselnya, lalu menatap layar. Dahinya berkerut sesaat. “Kenapa, Nyet?” tanya Tasya. “Enggak... ini tumben Hanna tidak ada telepon atau chat sama sekali,” balas Bimo merasa heran. Biasanya, Hanna akan mengirimkan pesan manis menanyakan kapan ia pulang. “Ohhh, ya berarti aman. Ya sudah, pulang gih, daripada nanti istri kamu ngambek benaran,” ucap Tasya. Dalam hati, ia tertawa sinis. Ya iyalah tidak ada telepon, sudah gue hapus semua log panggilannya. Setelah pelukan terakhir dan sebuah kecupan di kening Tasya, Bimo akhirnya meninggalkan apartemen itu. Ia memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Pikirannya masih melayang pada Tasya, sampai akhirnya ia memarkirkan mobil di garasi rumahnya sendiri. Rumah itu tampak gelap gulita. Tidak ada cahaya dari ruang tamu yang biasanya menyambut kepulangannya. Biasanya, Hanna akan berdiri di sana dengan senyum paling tulus, siap menerima pelukan lelahnya. Bimo membuka pintu depan dengan hati-hati. “Sayang?” panggilnya lirih. “Hanna… Sayang, ini kenapa lampunya tidak dinyalakan, ya?” Sunyi. Tidak ada sahutan selain suara detak jam dinding. Bimo melangkah masuk, jarinya menekan sakelar lampu ruang tengah. Seketika, cahaya lampu kristal menerangi ruangan, dan jantung Bimo nyaris berhenti berdetak saat itu juga. Di atas lantai marmer putih yang biasanya bersih berkilau, kini terdapat noda merah yang mengerikan. Berlumuran darah. Langkah Bimo membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap nanar ke sekeliling. Di dekat sofa, ada jejak darah yang memanjang, seolah-olah seseorang telah berusaha merangkak atau berjalan dalam keadaan terluka parah. “Hanna!” teriak Bimo, suaranya pecah oleh kepanikan. Ia berlari seperti orang kesetanan ke dalam kamar, ke dapur, hingga ke kamar mandi. Semua kosong. Rumah itu sunyi, hanya meninggalkan bau besi dari darah yang mulai mengering. Bimo mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menekan nama Hanna berkali-kali. Panggilan pertama, kedua, hingga keempat tidak dijawab. Kepanikan mulai menguasai akal sehatnya. Baru pada panggilan kelima, sambungan itu terangkat. Namun, suara yang muncul di seberang bukanlah suara lembut istrinya yang penuh pengabdian. Melainkan suara bariton seorang laki-laki yang sangat ia kenal. “Halo?” Bimo mengernyit, kemarahannya mendadak tersulut. “Siapa ini?! Mana Hanna?!” Suara di seberang tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang sarat akan kebencian. “Akhirnya lo telepon juga. Baru sadar ya kalau istri lo hilang?” Bimo membeku. Suara itu... “Dewa?” “Dewa… kenapa lo yang angkat ponsel istri gue?! Hanna di mana?! Apa yang lo lakukan ke dia?!” teriak Bimo dengan nada tegang dan protektif yang terlambat. “Hanna keguguran.” Dua kata itu terasa seperti petir yang menyambar langsung ke ulu hati Bimo. Darahnya seolah berhenti mengalir, kepalanya mendadak pening luar biasa. Langkahnya goyah hingga ia harus berpegangan pada pinggiran sofa. “Apa? Keguguran? Jadi… Hanna hamil?” gumam Bimo, suaranya melemah. Ia teringat kembali pada kado yang sempat Hanna tawarkan di restoran tadi, kado yang ia abaikan demi jam tangan dari Tasya. “Oh, shit. Jangan bilang kalau lo juga tidak tahu Hanna lagi hamil... anak lo sendiri,” sahut Dewa dengan suara yang bergetar karena amarah yang ditahan. “Lo sibuk apa sampai tidak tahu istri lo meregang nyawa sendirian di rumah?” Bimo tak mampu menjawab. Rasa bersalah mulai menghimpit dadanya hingga ia sulit bernapas. “Sekarang... kasih tahu aku, di mana Hanna?” desaknya dengan suara serak. “Rumah Sakit Harapan Kasih,” jawab Dewa tegas sebelum memutuskan sambungan secara sepihak. Bimo tidak peduli lagi pada harga dirinya yang baru saja diinjak oleh Dewa. Ia segera berlari keluar rumah, masuk ke dalam mobil dengan napas tersengal. Pikirannya kini hanya tertuju pada wajah Hanna yang sedang berjuang meregang nyawa demi buah hati yang sudah mereka nantikan tiga tahun ini.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Ver Todos