Ruangan berukuran 2x2 meter itu tampak kacau. Pakaian-pakaian berserakan dan menumpuk di setiap sudut. Bungkus makanan dari satu minggu yang lalu belum juga disingkirkan, masih dibiarkan teronggok di atas lantai. Pemiliknya tak acuh. Asyik membolak-balikkan tiap lembar dari buku yang tengah dibacanya. Sesekali ia melenguh, mengusap kasar wajahnya. Melemparkan buku yang tadi dibaca ke beberapa tumpukan buku yang berantakan. Perempuan itu mengubah posisi yang tadi telungkup menjadi telentang. Menengadah ke atas, melihat langi-langit kamar yang telah usang dan berjamur. Perasaannya kacau, seperti keadaan kamar yang kini ditempati. Pikirannya hampir berjamur, digunakan berpikir hal yang sama dalam jangka waktu lama. Menyambar kertas putih yang terletak tidak jauh dari kepalanya, ia menatap lamat kertas bertulisan "Harvard College" itu. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat dirinya memberitahu sang bunda tentang undangan beasiswa sebesar ini. Akankah wanita setengah abad itu memberinya izin, atau ternyata malah melarang keras? Astaga. Ia tak bisa membayangkannya terlalu jauh. Kalut. Hal yang perlu diketahui tentang orang yang memiliki kepintaran istimewa adalah ia sering dihadapkan dengan kondisi sulit. Di mana, orang pintar itu cenderung memikirkan segala hal secara matang dan berkepanjangan. Ia akan merasa tertekan dan dihantui oleh hal yang belum terselesaikan. Kebanyakan orang mungkin berpikir jika orang pintar akan dengan mudah menyelesaikan suatu persoalan. Namun, yang terjadi pada kenyataannya adalah kebalikan dari hal itu. "Alisya!" seruan tegas terdengar dengan diikuti ketukan di pintu reyot, memunculkan suara yang cukup bising. Perempuan yang tengah berperang dengan pikirannya sendiri itu terlonjak kaget. Segera ia beranjak, menyembunyikan kertas putih di bawah bantal berwarna pucat. "Sebentar, Bun!" teriaknya. "Lama sekali, Alisya. Sedang apa tadi?" Alisya diserbu pertanyaan, setelah membukakan pintu reyot dan menampakkan bundanya yang tengah memangku sebuah bakul besar. Entah apa isinya. "Bunda, bawa apa itu? Biar Alisya yang bawa ke dalam," ucapnya, mencoba menghindar dari pertanyaan. Toh, lebih baik mengalihkan pembicaraan daripada menjawab dengan kebohongan. Bakul berat tersebut berpindah tangan. Alisya membawanya ke dalam, meletakannya di bawah meja dapur berukuran 70x70 cm. Bundanya mengekor. Mengambil gelas dan menuangkan air putih di meja yang sama. "Bunda tadi dapat sembako dari keluarganya Pak Anwar. Mereka bikin syukuran karena anaknya dapat beasiswa S2 di luar negeri." Ada saja pembahasan yang menjurus ke arah hal yang ditakuti Alisya. Perempuan itu bergeming, menatap kosong ke arah bundanya dengan pikiran yang berkecamuk. Mempertimbangkan antara memberitahu bundanya tentang beasiswa yang didapatnya, atau memilih tetap bungkam saja. "Bukannya kemarin juga anak Pak Anwar itu kuliah ke luar negeri, ya, Bun?" Akhirnya, Alisya tetap memilih menghindar. Ketakutannya terlalu besar. Ia takut kecewa ketika nanti sang bunda tahu, tetapi tidak memberinya izin. "Iya. Katanya kemarin dapat beasiswa sebagian saja. Sekarang malah dapat beasiswa penuh. Ya, gak mungkin kalo gak diambil, kesempatan emas." "Hebat, ya, Bun, kuliah di luar negeri 2 kali berturut-turut." Alisya menerawang, akan seindah dan sebangga apa jika dirinya seperti anak Pak Anwar. Kuliah dengan beasiswa merupakan salah satu impian terbesar Alisya. Selain tidak mengeluarkan biaya, tapi juga dengan beasiswa ia akan lebih mendapatkan perlakuan khusus dari berbagai lapisan masyarakat. Terlalu kentara memang, ingin dilihat dan dipuji oleh orang. Namun, bukankah di zaman sekarangi memang hukum alamnya begitu? Suara bundanya membuyarkan lamunan Alisya, "Konon, anaknya Pak Anwar sempat menolak beasiswa penuh itu, Sya." Alisya menatap penasaran ke arah bundanya yang kini mendudukkan bokongnya di atas dipan. "Loh, kok bisa seperti itu, Bun?" Ia ikut duduk di sana. "Sayang sekali kalo ditolak betulan." Bundanya mengedikkan kedua bahu. "Bunda cuma tahu sedikit saja tentang alasan anak itu menolak beasiswa. Dia takut suka sama lawan jenis yang berbeda keyakinan. Dulu, waktu kuliah S1, katanya dia pernah mengalami itu. Mungkin sekarang trauma, sedikit tragis memang kalo sudah menyangkut asmara." Bergidik ngeri. Alisya dibuat tak habis pikir dengan cerita yang bundanya lontarkan. Benar, sesuatu apabila bersangkutan dengan asmara akan menjadi hal yang rumit sekaligus tragis. Mendengar cerita itu, Alisya teringat dengan kisah cinta Zainab-putri Rasulullah SAW.-dengan Abdul Ash yang merupakan anak dari seorang pimpinan tentara sekutu saat perang Badar. Perjalanan cinta keduanya lebih dari sekadar rumit. Zainab dan Abdul Ash sempat menikah, sebelum pada akhirnya diturunkan ayat al-qur'an yang melarang pernikahan antara seorang muslim dengan seorang musyrik. "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah SWT mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran" (QS Al-Baqarah : 221) Setelah turun ayat al-qur'an tersebut, Zainab dan Abdul Ash bercerai. Meski begitu, pada akhirnya mereka kembali bersama lagi karena Abdul Ash mendeklarasikan jika ia beriman kepada Allah. Sayang, Zainab meninggal dunia setelah hal itu terjadi. Tatapan Alisya yang kosong, membuat sang bunda mengerutkan alis dan segera membuyarkan segala pikiran gadis itu. "Hei! Kenapa kamu malah melamun, Alisya?" Alisya menggelengkan kepala dengan cepat, menyadarkan dirinya untuk kembali ke pembicaraan yang tengah berlangsung dengan sang bunda. "Enggak kok, Bun. Alisya tadi cuma teringat sama kisah cintanya Siti Zainab dan Abdul Ash." "Syukurlah. Bunda kira, tadi kamu bengong karena hal ini juga ada sangkut pautnya sama kisah cinta kamu sendiri." Bundanya itu memicingkan mata penuh selidik. Memelototkan matanya, Alisya dibuat kesal dengan ucapan sompral sang bunda. "Ish, gak ada yang kayak gitu ya, Bun. Amit-amit deh," ujarnya sambil mengusap dada beberapa kali. Bundanya terkekeh melihat mimik muka Alisya yang kusut. "Ya, bagus kalo memang enggak." Ia mengakhiri kekehannya, kemudian beranjak dari atas dipan. Melihat bundanya beranjak, Alisya segera menghentikan. "Eh, Bunda mau ke mana? Ceritanya belum selesai itu, Bun!" "Bunda mau istirahat di kamar, capek sekali," jawabnya sambil mengedikkan kedua bahu. "Eh, Bun, Bunda! Itu ceritanya gimana belum selesai? Alisya masih penasaran kenapa anaknya Pak Anwar malah Terima beasiswa S2 itu? Bun-" Alisya berseru tak sabar, masih ada banyak hal yang ingin ia ketahui terkait anak Pak Anwar. Lagi pula, kenapa bundanya itu hanya bercerita separuh saja? Bikin orang penasaran saja. Lambaian tangan dan hilangnya sang bunda di antara pintu kamar keduanya, membuat Alisya mengembuskan napas kecewa. Tunggu, kamar keduanya? Iya, kamar yang ditempatinya dan juga sang bunda. Sial. Alisya menepuk jidatnya dengan keras. Untuk yang kedua kalinya, Alisya melupakan satu hal. "Surat undangan beasiswa Universitas Harvard, Inggris!"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat asyik
13/11
0bagus
10/06/2025
0sangat suka
25/04/2025
0Ver Todos