"Ya sudah, sekarang kamu mandi, siap-siap dulu depan kaca," perintah Umi yang dibalas anggukan olehnya. Kemudian ia masuk ke kamar. Tanpa membuang waktu, 15 menit kemudian Andre sudah rapi dengan jas putihnya, siapapun yang melihatnya pasti klepek-klepek, Andre terlihat dewasa dan berwibawa. Kemudian Andre turun, karena sudah dijemput oleh Abinya untuk menghadap penghulu. "Abi pengen pernikahan kamu ini awet sampai ajal memisahkan kalian, Nak," pesan Abi sedangkan Andre hanya berusaha senyum mendengar nasehat Abinya. 'Andre gak bisa janji, Bi,' batin Andre. **** Diana yang tengah dirias bak bidadari menjelma ke bumi. "Wah ... Mbak Diana cantik sekali, pasti suaminya klepek-klepek, deh," puji para perias tersebut pada Diana, sedangkan Diana hanya tersenyum. Tidak lama kemudian terdengarlah kata "sah" dari bawah sana, air mata Diana seketika mengalir dengan deras, perasaannya campur aduk antara sedih dan bahagia. Tidak lama kemudian, terdengarlah ketukan pintu, Diana keluar dengan didampingi para perias. Begitu pintu dibuka, Andre langsung mematung melihat Diana sangat cantik. "Nak, jangan terlalu lama mandangnya, raih tangannya gih," suruh Abi, Andre langsung sadar dari lamunannya, kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menjemput Diana ke bawah. Tapi, tangan Diana malah bergetar untuk membalas uluran tangan Andre yang sudah sah menjadi suaminya. Karena merasa gemas, akhirnya para perias mengambil tangan Diana, kemudian meletakkannya di atas tangan Andre. Andre yang merasakan tangan Diana sangat dingin hanya tersenyum, sedangkan Diana terus menunduk hingga sampai ke pelaminan. Karena Diana sangat grogi, salah satu riasan kepalanya tersangkut membuat Diana berhenti hendak melepaskannya. Namun, karena Diana tidak terlalu tinggi ditambah lagi ia tidak bisa melihat ke atas, membuat Diana sangat kesusahan melepaskannya. Andre yang melihat itu langsung mengambil alih tangan Diana lalu diturunkannya, kemudian Andre maju tepat di hadapan Diana, Diana yang merasakan deru nafas Andre, hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Setelah selesai Andre menuntun Diana ke pelaminan. Tapi, sebelum duduk, Diana di perintahkan untuk menyalami tangan suaminya. Dengan tangan gemetar Diana meraih tangan Andre kemudian menciumnya sedikit lama. Andre yang merasakan jantungnya ingin copot karena berdetak sangat cepat, hanya diam seperti patung, karena selama pacaran dengan Tina Andre tidak pernah merasakan jantungnya seperti ini. Setelah selesai, Andre hendak meraih wajah Diana, Diana yang bingung dengan Andre langsung memalingkan wajahnya. Gelak tawa para tamu mulai terdengar. Akhirnya, Diana paham, kemudian menghadap Andre. Tanpa membuang, waktu Andre langsung meraih wajah Diana, kemudian mencium kening Diana, Diana yang merasakan itu hanya bisa menutup matanya. **** Sore hari, para tamu sudah pulang, tinggallah Diana dan keluarganya di ruang tengah. "Abi, Andre mau tinggal di rumah pribadi Andre aja, Bi?" pinta Andre pada Abinya, sedangkan Diana hanya diam tidak mau ikut campur. "Baiklah, tapi untuk malam ini kalian di sini dulu, Abi tahu kalian pasti capek seharian, istirahat sana," ujar Abi Andre yang diangguki oleh mereka berdua. Sampai dikamar, Andre langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Diana berada di depan meja rias, melepaskan satu persatu benda-benda yang menurutnya sangat berat dari kepalanya. Tidak lama kemudian, Andre keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Diana yang melihat itu, langsung memalingkan wajah. Andre yang tahu kepolosan Diana, langsung muncul ide jahilnya. Andre mendekat ke arah Diana, membuat Diana panas dingin tidak karuan, sedangkan Andre hanya tersenyum melihat ketakutan Diana. Andre semakin mendekat hingga dadanya sudah mengenai baju pengantin Diana dari samping. Akhirnya, Diana berusaha membuka suara. "Ka--kakak, mau nga--ngapain?" tanya Diana gugup, sedangkan Andre sudah hampir meledak tawanya. "Jangan mikir macem-macem, deh, gua cuma mau ambil deodorant doang," jawab Andre dengan enteng, sedangkan Diana sudah takut setengah mati. Kamudian Diana buru-buru ke kamar mandi lalu menguncinya. Dibalik pintu Diana memegangi dadanya yang rasanya ingin meledak. Sudah 30 menit, Diana di dalam kamar mandi, tapi belum keluar-keluar juga, membuat Andre bingung. Kemudian Andre berjalan ke arah pintu lalu mengetuknya. Tok! Tok! Tok! "lu ngapain sih di dalam? Bersemedi atau jangan-jangan lu takut malam pertama?" tanya Andre dengan jahil, sedangkan Diana yang mendengarnya hanya mendengus kesal. "Lu buka pintunya nggak atau gua dobrak?" ancam Andre. 'Dasar ketos sinting! Ya, kalo lu dobrak yang rusak pintu kamar mandi rumah lu, bukan rumah gua, oon,' batin Diana, kemudian perlahan ia membuka pintu. Ceklek! Terlihatlah Diana masih lengkap dengan pakaian pengantin, membuat Andre mengerti kenapa Diana tidak keluar-keluar. "Maaf, kak." ucap Diana. "Berbalik," perintah Andre, membuat Diana bingung. "Berbalik nggak atau lu pake baju ini selama seminggu," ancam Andre, membuat Diana langsung pasrah. Kemudian Andre membuka resleting belakang baju Diana, tampaklah punggung putih Diana, membuat Andre menelan salivanya dengan susah payah. Setelah membukanya, Andre buru-buru pergi dari hadapan Diana, membuat Diana bingung, tapi ia tidak mau ambil pusing, Diana langsung masuk lagi ke kamar mandi karena sudah sangat gerah. Disisi lain, Andre masih berusaha menahan nafsunya, ia menyalakan AC dengan sangat dingin. Tapi otaknya masih terbayang-bayang punggung Diana. 'Ya Tuhan, apa yang gua pikirin? Punggung yang mulus, oh come on, no ... no,' batin Andre. Setelah 10 menit kemudian, Diana keluar dari kamar mandi, Andre yang melihat diana langsung tidak bisa mengalihkan pandangan, rasanya nafsunya diuji dua kali oleh Diana. "Kenapa tidak pake hijab," ujar Andre dingin, Diana langsung meraba kepalanya dan benar saja ia tidak pake hijab, rambut hitamnya tergerai indah. "Ma--maaf, Kak. Diana lupa," ucap Diana, takut Andre marah. Diana langsung masuk lagi ke kamar mandi. Sedangkan Andre jangan tanya, ia hanya mengelus-elus dadanya, supaya tidak kelepasan. Tidak lama kemudian, Diana keluar dari kamar mandi. Diana langsung menuju sofa, karena ia tahu pasti Andre tidak mau satu ranjang bersama, Andre yang melihat itu hanya diam. Sudah jam 12 malam, Andre belum bisa tidur, pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Diana yang tidak pake hijab, kemudian Andre duduk ia melirik ke arah sofa. Andre melihat Diana meringkuk seperti janin karena kedinginan, karena tidak tega akhirnya Andre turun dari ranjang dan membopong tubuh Diana ke atas ranjang lalu menyelimutinya. Andre terus saja memandangi wajah polos tanpa make up itu, sangat natural, entah dorongan dari mana Andre mengelus wajah Diana, tidak lama kemudian Andre tertidur dengan memeluk Diana. POV Andre Gua masih nggak percaya kalo gua menikah dengan orang yang baru saja 2 hari gua kenal. Akhirnya gua memutuskan untuk tinggal di rumah gua sendiri, karena takut orang tua gua curiga kalo gua tidak begitu senang melihat Diana. Gua sempat terpana melihat kecantikan Diana yang natural, ketika ia keluar dari kamar mandi tidak menggunakan hijab, langsung gua lontarkan pertanyaan kenapa tidak pake hijab kepadanya, gua lihat Diana ketakutan langsung masuk ke kamar mandi. Sudah jam 12 gua belum bisa tidur, akhirnya gua putuskan melirik Diana yang tertidur nyenyak di sofa sambil meringkuk, karena kasihan melihatnya gua membopong tubuh mungilnya keranjang. Lama gua pandangi wajahnya akhirnya ikut tertidur di sampingnya dengan tangan memeluk pinggangnya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
best gila cerita ni...sampai kluar air mata....
03/07/2022
0baguss
25/06
0baguss sukaa❤️
24/05
0Ver Todos