Seorang lelaki memarkirkan mobil di halaman kafe yang cukup luas. Dia menoleh ke sana-kemari, melihat suasana sekitar yang sudah cukup ramai. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Lelaki itu memang datang terlambat dari jam yang telah dijanjikan. Perlahan lelaki itu membuka pintu mobil dan menuju kafe melewati beberapa lampu taman yang bergaya klasik ala Victoria. Dari dalam ruangan, terdengar seorang MC mempersilakan seseorang menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangan. You were the shadow to my light Did you feel us? Another star, you fade away Afraid our aim is out of sight Wanna see us alight... Don’t you give up, na na na I won’t give up, na na na Let me love you, Let me love you, Where are you know... Lelaki itu menghentikan langkah saat mendengar suara yang sepertinya dia kenal. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Perlahan, dia kembali melangkahkan kaki hingga terlihat jelas si pemilik suara yang memang dia kenali. Seorang perempuan tampak anggun mengenakan dress berwarna krem keemasan dengan rok sepuluh senti di bawah lutut. Sedang rambut panjang yang hanya di-curly dibiarkan tergerai begitu saja. “Selamat malam, Pak. Kami sudah menunggu kedatangan Anda. Mari, silakan masuk!” Fokusnya terhenti ketika Pak Husain tiba-tiba datang menyapa. Lelaki itu mengatur napas sebelum akhirnya bisa menguasai diri dan menghambur dalam keramaian. Naya tengah diminta untuk menyanyikan lagu ketika lelaki itu tiba-tiba masuk ke dalam kafe dan mengganggu konsentrasi. Wajahnya tiba-tiba memanas. Bulir bening luruh begitu saja tanpa diminta. Bagi tamu yang melihat, mereka mengira Naya menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Tanpa mereka tahu, Naya menangis karena melihat kedatangan sosok yang selama ini dia rindukan. Naya membawakan lagu J Fla – Let Me Love You dengan baik hingga mengundang perhatian para tamu. Selesai bernyanyi, Naya mundur perlahan. Matanya masih saja tertuju pada lelaki pengusik hati yang sedang berbincang dengan pemilik kafe. Dia pun melarikan diri dari keramaian, menuju taman belakang kafe yang biasa digunakan sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Naya menangis seorang diri di sana. Menangis bahagia karena tiba-tiba Gasta hadir kembali ke dalam hidupnya, juga menangis sedih atas rasa bersalah yang dia lakukan terhadap lelaki itu beberapa tahun silam. Hingga selesai acara, Naya duduk seorang diri di taman belakang. Dia sibuk menata hati untuk kembali bertatap muka dengan Gasta. “Loh, Nay, kamu kenapa menyendiri di sini? Sedih, ya, saya mau pindah?” tanya Pak Husain yang tiba-tiba datang mengejutkan Naya. Naya dengan cepat menyeka air matanya dan membalikkan badan, berhadapan dengan Pak Husain. Perempuan itu tersenyum samar dengan kepala sedikit menunduk. “Kamu masih menyimpan nomor saya, kan? Kita tetap bisa saling berkomunikasi untuk menjaga silaturahmi, Nay.” Naya mengangguk pelan. “Iya, Pak,” ucapnya serak. Terlihat Pak Husain melempar senyum ke arah Naya. “Oya, kenalkan. Ini manajer baru kita, Nay. Namanya Pak Gasta. Beneran ganteng seperti yang saya bilang, kan?” ucap Pak Husain ketika Gasta melangkah mendekat bersamaan dengan pemilik kafe. Naya mendadak diam terpaku. Seluruh tubuhnya mendadak beku. Gasta mengulurkan tangan ke arah Naya. “Gasta,” ucapnya memperkenalkan diri. Hati Naya seketika hancur. Gasta menyebut namanya seolah-olah lelaki itu tidak pernah mengenal Naya sebelumnya. ‘Kenapa kamu harus berpura-pura tidak mengenaliku, Gas?’ Dengan berat hati Naya membalas uluran tangan Gasta. “Naya,” ucapnya sembari menunduk. “Anak-anak bilang, Naya ini pegawai kita yang paling cantik. Sayangnya, dia agak tertutup dan suka menyendiri. Tapi sebenarnya dia baik, kok,” ucap Pak Husain. Gasta hanya tersenyum menanggapi. “Maaf, Pak. Saya permisi dulu. Ada yang harus saya kerjakan,” pamit Naya tanpa menunggu jawaban dan berlalu begitu saja. Acara perpisahan sekaligus penyambutan manajer baru telah usai. Naya dan teman-temannya membereskan kafe sebelum pulang. Pak Husain masih terlihat sibuk bercakap dengan Gasta, sang manajer baru. Sesekali Naya mencuri pandang ke arah mereka. Dia sama sekali tidak habis pikir, kenapa Gasta bersikap seolah-olah mereka belum pernah saling kenal? “Pak Gasta emang cakep ya, Nay.” Bisikan Julian di telinga Naya membuat perempuan itu memekik, mengundang atensi seisi kafe. Naya memegangi dadanya. “You make me shock, Julian!” geram Naya. Julian meringis. “Mohon maaf, Sambal Hejo, aku nggak bermaksud ngagetin kamu. Orang cuma ngomong doang,” dalihnya. “Ada apa sih, ribut-ribut?” tanya Pak Husain yang tak lama kemudian disusul dengan Gasta. Julian mencebik. “Nggak tau nih Pak, si Sambal Hejo bikin keributan!” ocehnya. Naya menggelung rambut panjangnya yang tak beraturan. Kembali pada aktivitas semula tanpa menanggapi ocehan Julian. Pak Husain menggeleng. “Sini, Nay!” panggilnya kemudian. Merasa dipanggil, Naya menghentikan aktivitas. “Saya, Pak?” “Ikut saya sebentar!” titah Pak Husain sambil berlalu ke ruang manajer diikuti Gasta. Naya menghela napas panjang. Antara ingin dan tidak ingin mengikuti Pak Husain. “Buruan, Nay! Siapa tau mau dikasih salam tempel,” ucap Laras asal. Naya berlalu menuju ruang manajer tanpa menghiraukan ucapan Laras. “Tutup pintunya, Nak!” perintah Pak Husain ketika Naya memasuki ruangan. Perempuan itu melakukan apa yang diperintahkan. Tanpa menghiraukan Gasta yang duduk di depan kursi manajer, Naya maju beberapa langkah tidak jauh dari pintu. “Ada apa Bapak manggil saya?” tanya Naya dalam kegelisahannya. Jantungnya berdegup kencang karena keberadaan Gasta di sana seperti orang asing baginya. “Duduk dulu, Nay. Masa berdiri di situ,” ucap Pak Husain. Naya mematuhi perintah Pak Husain dan duduk di kursi sebelah Gasta. Perasaannya tidak menentu. Ingin rasanya Naya segera pulang dan menangis memeluk bantal. “Jadi Naya ini pegawai yang paling menarik perhatian saya.” Deg! Wajah Naya terasa memanas, membuatnya sedikit menunduk. Gasta merasa bingung, berusaha menangkap maksud perkataan Pak Husain. Lelaki itu berburuk sangka, mengira Pak Husain telah menaruh hati kepada Naya. “Naya ini anak rantau, jauh dari keluarga. Diam-diam saya sering perhatikan dia suka melamun, sering menyendiri, teman-temannya sama sekali tidak ada yang tahu kenapa Naya seperti itu.” Bulir bening luruh begitu saja dari kedua sudut mata Naya. Dia tidak kuasa menahannya. Mendengar ucapan Pak Husain sangat membuatnya terharu. Seandainya saja bapaknya adalah orang yang bijaksana seperti Pak Husain, Naya tidak akan repot-repot bekerja di tempat yang jauh dari keluarga. “Karena itu, saya selalu berusaha untuk memahaminya,” lanjut Pak Husain. “Saya minta maaf kalau selama ini banyak merepotkan Bapak,” lirih Naya. Melihat Gasta yang seolah tidak bersahabat, membuat Naya tidak yakin bisa bekerja dengan baik seperti biasa. Pak Husain menepuk-nepuk punggung tangan Naya yang berada di atas meja. “Kamu nggak pernah merepotkan saya, santai saja.” “Jadi, kapan rencana Bapak untuk terbang ke Kalimantan?” Gasta membuka suara. Pak Husain menarik kembali tangannya, lalu melipatnya di depan dada. “Lusa saya sudah harus berangkat. Karena ada acara keluarga juga di sana,” jelasnya. Gasta manggut-manggut. “Kalau begitu, tolong Bapak kabari saya sebelum keberangkatan. Biar saya ajak Naya ke bandara untuk mengantar keberangkatan Bapak.” Naya menoleh sesaat, menatap tak percaya dengan apa yang dilontarkan Gasta. “Boleh, saya senang sekali kalau begitu,” ucap Pak Husain. Bibirnya terkembang. “Oya, karena sudah cukup larut, nanti kamu minta Vicko saja untuk antar kamu, Nay!” lanjutnya. “Saya bisa pulang sendiri, Pak. Saya nggak mau merepotkan.” Naya tersenyum samar. Pak Husain menggeleng. “Jangan keras kepala, nggak baik perempuan jalan sendiri tengah malam begini,” omelnya. Naya menghela napas panjang. “Bapak tenang aja, saya udah biasa.” Naya tersenyum samar. “Kalau gitu saya permisi dulu, Pak,” pamit Naya. “Baik, silakan,” balas Pak Husain. Naya segera beranjak dan berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gasta. Begitu keluar dari ruang manajer, Naya segera menyelesaikan pekerjaan dan bergegas pulang. Dia tidak menghiraukan teman-teman yang memandang ke arahnya dengan penuh tanda tanya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Amazing
10/11
0sangat menarik
05/09
0keyen
03/08
0Ver Todos