Naya terbangun dan menutup mata dari sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Kicauan burung terdengar dengan merdunya, menandakan hari sudah terang. Perempuan itu memutuskan untuk mengambil cuti karena merasa kurang enak badan sejak kemarin. Naya beranjak dari pembaringan dengan malas dan membasuh wajah dengan air dari wastafel. Dia menyesal telah meninggalkan waktu subuh akibat tidur terlalu larut. Perlahan Naya membuka jendela yang tidak terkunci. Dia sengaja tidak melakukannya karena semalam mata sudah terlalu berat untuk terbuka. Lagi pula, kamar Naya terletak di lantai dua. Jadi, menurutnya tetap aman meski jendela tidak tertutup rapat. Suara ketukan pintu terdengar seiring dengan namanya disebut. Naya bergegas membuka pintu kamar. Dilihatnya Laras dan Vicko tersenyum menyambut. “Ya ampun,” ucap Naya yang baru sadar akan penampilannya yang masih amburadul. Rambut panjangnya masih berantakan karena belum tersentuh sisir kesayangan, juga wajah pucat tanpa make up yang biasa digunakan. Laras menyelonong masuk ke kamar Naya yang jauh dari kata rapi. “Biasa aja, Nay,” ucapnya sambil berlalu. Naya kebingungan menatap Vicko. Dia tidak mungkin menyuruh teman laki-lakinya masuk ke kamar. Apa kata ibu kos dan anak-anak lain? Vicko menangkap sinyal yang diberikan Naya. Lelaki itu tersenyum. “Aku Cuma anter Laras, kok.” “O—ooh ....” Bibir Naya membentuk huruf O. “Aku pamit, ya? Masuk pagi,” ucap Vicko. Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu berlalu dengan seulas senyum di bibirnya. Naya menutup kembali pintu kamar. Dia menghampiri Laras yang tengah menyiapkan sarapan di meja yang terletak di sebelah jendela. Sesekali Naya memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa berat. “Makan dulu, gih!” titah Laras. Bermacam makanan kesukaan Naya tersaji di meja. “Kamu—“ “Kak Vicko yang beli ini semua buat kamu,” sahut Laras yang sejak tadi duduk di bangku terdekat jendela. Naya menyusul duduk di samping Laras. “Jadi nggak enak,” gumamnya. Perempuan itu menggelung rambutnya dengan asal. “Harusnya kamu jangan mau diajak ke sini,” lanjutnya. Laras mengerucutkan bibir. “Jangan gitu, Nay. Niat Kak Vicko kan baik,” gerutunya. Tanpa diminta, dia mengambil sepiring makanan dan meletakkannya di depan Naya. “Makan dulu, habis ini aku anter periksa!” titah Laras kemudian. Dengan malas Naya melahap makanan yang Laras siapkan untuknya. “Aku nggak mau periksa, nanti juga baikan. Aku Cuma butuh tidur seharian. Makanya ... kamu nggak usah ajak Kak Vicko ke sini, biar aku bisa rehat bebas!” omel Naya. “Kamu kebanyakan ngomel, Nay! Harusnya kamu bersyukur, masih ada orang baik seperti Kak Vicko yang ekstra perhatian sama kamu,” tegur Laras yang tengah asyik menikmati sarapan paginya. “Aku nggak mau kalau kebaikan dia ada apa-apanya. Aku nggak mau dia mengharapkan balasan dari itu. Karena percuma, Ras.” Laras menggeleng mendengar kicauan Naya yang panjang lebar. “Kamu nggak perlu berburuk sangka sama Kak Vicko. Dia udah tahu kalau kamu sama sekali nggak ada rasa ke dia.” Naya menoleh menatap Laras dengan pandangan tak percaya. “Dia sendiri yang cerita. Katanya, dia nggak akan lagi berharap lebih sama kamu,” ujar Laras. Mendengar ucapan Laras, Naya menjadi sedikit lega. Dia tidak mau Vicko sakit hati karena rasa yang hanya bertepuk sebelah tangan. “Kamu beneran nggak mau periksa, Nay?” Naya hanya menggeleng sebagai jawaban. Laras menarik napas panjang. “Kamu tuh kenapa, sih, Nay? Introvert banget jadi orang,” celetuk Laras yang gemas dengan sikap Naya. “Aku nggak tahu harus jawab apa,” tukas Naya. Dia melahap habis makanannya dengan cepat. Tak lama, Naya bangkit untuk mencuci piring kotor. Setelah itu dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri supaya badan terasa lebih segar. Laras mendengkus kesal melihat tingkah Naya. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak bisa serta merta membencinya begitu saja hanya karena Naya adalah sosok yang introvert. Terlebih, Naya tidak pernah membuat kesalahan terhadapnya. Hari ini benar-benar panas. Sang raja siang melaksanakan tugas pengembaraannya dengan sempurna. Sinar panas yang dipancarkan hampir tak terhalang menembus bumi. Debu jalanan bertebaran bebas ditambah busuknya asap knalpot. Naya menyusuri jalan di bawah terik yang menyengat kulit. Sesekali ia mengibaskan tangan di leher, menciptakan angin untuk mengurangi hawa panas yang menyelimuti. Seperti itulah nasib Naya jika mendapat bagian sif siang. Sering kali Vicko menawarkan untuk menjemput, tapi selalu ditolak mentah-mentah. Naya tidak pernah mau merepotkan orang lain. “Nay, buruan!” panggil Laras ketika Naya hampir sampai di pelataran kafe. Naya mengerutkan dahi. Ada apa lagi? Laras menarik lengan Naya dengan tergesa ke sudut ruang istirahat pegawai yang masih sepi. “Nggak usah pakai narik-narik segala, Ras,” celoteh Naya karena diperlakukan seperti anak kecil yang hendak diculik. Laras mengatur napas sebelum membuka suara. “Nanti malam kita makan-makan. Perpisahan sama Pak Husain dimajukan,” ujar Laras pelan, hampir tidak terdengar. Naya mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa secepat itu? Kamu bilang manajer pengganti mulai masuk hari Senin, kan?” tanya Naya yang kepalanya dipenuhi dengan tanda tanya. Bukan hanya Naya yang merasa sedih akan kehilangan sang manajer idola. Tapi dikarenakan suatu hal, Pak Husain harus pindah lebih cepat dari rencana dan diganti dengan manajer baru. “Sepertinya itu masalah pribadi, Nay. Pak Husain nggak pernah cerita apa alasannya,” tukas Laras. “Dan sebelum pulang nanti, Pak Husain mau kasih pengumuman. Kamu pasti kaget, Nay.” Lanjut Laras. Lagi-lagi Naya mengangkat sebelah alisnya. “Kaget kenapa?” Naya mulai bosan dengan bicara Laras yang bertele-tele. “Jadi malam ini kita perpisahan sama Pak Husain. Sedangkan besok, kafe bakal tutup jam enam sore. Setelah itu, di sini bakal ada acara perpisahan sama Pak Husain sekaligus menyambut kedatangan manajer baru kita,” jelas Laras panjang lebar. “Dan Pak Husain udah memutuskan, kamu disuruh isi suara buat nyanyi,” lanjut Laras disusul dengan tawanya yang khas. “Tapi tenang aja, kamu nggak sendiri. Ada Yudha yang bakal temenin kamu di depan. Dia dipilih Pak Husain buat jadi MC.” “Kamu dapat berita dari siapa? Atau jangan-jangan kamu ngarang, ya?” tuding Naya yang membuat Laras mengerucutkan bibir. “Enak aja! Tadi si Tasya yang bilang. Anak-anak sif pagi udah pada dikasih tahu,” ucap Laras. Naya melipat kedua tangan di depan dada. Sejujurnya, dia merasa berat jika harus tampil di depan. Karena Naya lebih suka bekerja di belakang layar. Dia sama sekali tidak suka diekspos. Tapi untuk Pak Husain, mau tak mau Naya harus melakukan apa yang diminta. Laras menjentikkan jari di depan wajah Naya. “Kenapa ngelamun?” “Aku nggak habis pikir. Kenapa harus aku yang di depan? Harusnya Tasya aja yang suaranya udah pasti merdu seperti penyanyi beneran.” Naya memasukkan tasnya ke dalam loker dengan kasar. Laras menanggapi ucapan Naya dengan tawa. “Ya jelas Pak Husain pilih kamu. Tasya kan nggak secantik kamu, Nay,” ucap Laras sambil berlalu meninggalkan Naya seorang diri. Naya berdecak. “Cantik kalau dilihat dari sedotan, dari gedung tertinggi pula!” gumam Naya sembari menggeleng. “Hei sambel hejo, kunaon ngomong sorangan? Gudag-gideug teu paruguh kitu,”¹ seloroh Julian yang tiba-tiba masuk ke ruang istirahat. Gayanya yang alay sering kali membuat teman-temannya terhibur. Ditambah lagi dengan gaya bicaranya yang terkadang sedikit kocak. “Mau tahu aja!” gertak Naya seraya melangkah keluar ruang, mengingat jam kerja yang sebentar lagi dimulai. *** ¹“Hei sambal hejo ... kenapa ngomong sendiri? Geleng-geleng nggak jelas gitu,”
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Amazing
10/11
0sangat menarik
05/09
0keyen
03/08
0Ver Todos