Tin tin tin Suara klakson mobil Aa Hadi berbunyi memanggil kami. Tadi, saat aku baru saja selesai mandi, Teh Lina sempat melihat persiapan kami lebih dulu. Setelah memastikan kami siap, dia langsung memberitahu suaminya. "Udah siap Teh, hayu!!!" seru Ibu sambil mengambil Hamdi dari gendonganku. Setelah itu, aku beralih mengambil tas bayi berisi baju ganti Nindy dan Hamdi. Kulihat Teh Lina tampak cantik dengan gamis berwarna ungu, lengkap dengan perhiasannya yang berderet. Sedangkan Aa Hadi ... Ah rasanya hati ini tidak pantas, bahkan untuk sekedar memujinya. Ya, baju batik warna senada dengan kebaya modern milik Teh Lina, aku tak bisa berbohong kalau dia begitu memesona, meski telah berumur. Kenapa rumput tetangga selalu lebih hijau, Ya Allah ...??? huaaa ... "Sudah siap semua?!" tanya Aa Hadi sambil membukakan pintu untuk kami. Sedangkan Teh Lina, sudah masuk lebih dulu dan duduk di depan. Satu persatu keluargaku masuk. Di awali Anjeli dan Bapak yang duduk paling belakang, lalu Ibu, aku dan kedua anakku di tengah. Di dalam perjalanan, beberapa kali matanya melirikku hingga pandangan kami saling bertemu lewat kaca spion. Aku jadi kegeeran lagi dilihat begitu. Upss!!! "Disana, ada panggung nya, ya Neng?" tanya Teh Lina, memecah kesunyian. "Iya Teh." Sejak tadi, kami memang hanya diam. Sepertinya kami kompak, takut lidah kami terpeleset dan keceplosan. Bicara sesuatu, yang akan menyinggung masa lalu ku dengan Aa Hadi. "Ada, Teh. Memang kenapa, Teteh mau nyanyi ya?" seru Ibu antusias. Ibu itu juga suka nyanyi dan naik ke panggung kalau ada yang hajatan. Karena itulah, Aa Hadi sering menyematkan nama Elvy di depan nama Ibu. 💙💙💙 Perjalanan yang kami lalui, sekitar dua jam dari rumah sampai ke tempat hajatan. Sampai disana, akad nikah baru saja akan dilaksanakan. Setelah akad nikah berlangsung, kami sempat jeda sebentar untuk berfoto bersama. Setelah jam makan siang dan azan dzuhur, panggung segera dimulai. Ibu, Bapak dan Teh Lina asyik naik ke atas panggung sambil bernyanyi dengan para biduan. Mataku sempat mencari keberadaan Aa Hadi, tapi tidak ketemu. Mungkin, dia mencari angin segar dan merokok, pikirku. Sedangkan Anjeli, dia asyik bersama para pagar ayu yang juga sepupu-sepupu kami. Ku dudukan Hamdi dan Nindy di kursi, agar aku bisa mengambil es krim dan dimsum untuk mereka. Harapanku, mereka anteng dan aku bisa makan siang. Aku tak khawatir meninggalkan mereka sebentar, karena kursinya dekat dengan meja pagar ayu. Setelah mendapat es krim dan dimsum, aku kembali ke anak-anakku. Baru separuh dia makan, Hamdi menumpahkan es krim ke bajunya. Kucari Anjeli untuk menitipkan anak-anakku, tapi tidak ketemu. Saat kuhubungi ponselnya, juga tidak aktif. Suara riuh musik dangdut dari speaker yang semakin kencang, membuat Hamdi menangis karena takut. Serba salah, itulah yang kurasakan. Sekian lama menunggu Anjeli tapi tak kunjung kembali. Sedangkan kulihat wajah Nindy yang mulai mengantuk. Rasanya aku ingin menangis saja kalau begini. Mana belum makan! Tiba-tiba, dari bangku samping, dengan sigap Aa Hadi menggendong Nindy di pundaknya, sambil sedikit berteriak. "Ayo cepet!" serunya. Aku menurut dan mengekornya di belakang sambil menggendong Hamdi. Mungkin, orang yang melihatnya, akan menyangka kami adalah pasangan suami istri. Padahal kami kan ... Ah, syudahlah! Sampai di mobil, Aa Hadi meletakan Nindy di bangku tengah. Dengan sigap dia meletakan bantal dibawah kepala anakku dan membuka kedua pintu agar udara masuk. Aku yang sejak tadi bersama Hamdi, memerhatikan sikapnya yang sangat peduli dengan Nindy. Segera ku ambil baju Hamdi dan sibuk menggantinya. Sedangkan Aa Hadi, dia menghilang entah kemana. Beberapa saat kemudian, dia mengagetkanku dengan membawa balon Upin Ipin di tangannya. "Makan dulu sana! Sini, biar Hamdi, Aa yang pegang! Kamu belum makan Jani ...!" katanya penuh perhatian. Rasanya mau nangis kembali mendapat perhatian dia yang sangat aku rindukan. Kenapa aku jadi bayangin, kalau dia benar-benar suamiku? Huaaa ... ampuni Jani!!! Tanpa banyak basa-basi, perutku yang sudah keroncongan sejak tadi, tak bisa diajak kompromi. "Jani titip ya!" kataku sambil berlalu. Gegas, aku kembali ke tempat hajatan dan segera makan. Disana, masih kulihat Teh Lina bersama Ibu dan Bapak yang sedang menikmati acara di atas panggung. Enggak sampai lima menit, sepiring nasi penuh beserta lauknya, sudah habis kumakan. Ini karena kupastikan tidak ada Aa Hadi disini. Kalau ada, mau membuka mulut pun, pasti diukur dulu! "Teh, anak-anak mana?" tanya Anjeli mengagetkanku. Aku menoleh melihat Anjeli dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Hih, dari tadi Teteh cari kamu. Mereka sama Aa Hadi. Hayu kita ke tempat parkir mobil!" ajakku sambil mengelap mulut dengan tisu. "Ngapain disana?" selidiknya. "Nindy tidur!" "Ah, si Teteh mah alasan aja. Kan Bibi udah sediain tempat buat keluarga di dalam! Bilang saja mau mojok disana!" tuduhnya. Plakkk Ku keplak juga kepala adikku yang sama semprulnya itu menggunakan kipas tangan. "Hih! Teteh itu dari tadi juga mau ke dalam Anjeliiiii! Teteh cari kamu enggak ada, mana telepon enggak di angkat!" sentakku kesal. Adikku itu hanya nyengir saja menunjukan giginya yang di behel. "Daging tuh, nyelip di behel! Mau kamu bawa ke kampung apa itu daging?!" Dia langsung kelimpungan mencari kaca kecil di tasnya. "Hayu ikut Teteh nyusul anak-anak. Nanti kalau Nindy bangun, kasihan, bisa nangis dia!" Aku dan Anjeli berjalan ke tanah kosong tempat yang disediakan Bibi untuk parkir mobil tamu undangan. Disana kami kembali disuguhkan pemandangan haru. Aa Hadi tengah menggendong kedua anakku di tangannya, sambil membawa mainan. "Kenapa ya Teh, rumput tetangga jauh lebih hijau. Bahakan anak-anak pun tahu, Bapak milik tetangganya jauh lebih hangat daripada Bapaknya sendiri ...?" kata Anjeli bergumam. Aku tahu dia sedang menyindir, karena dia tahu, Mas Pras tidak terlalu dekat dengan anak-anak. Ingin kembali kujitak kepalanya itu, tapi aku hanya bisa menghela nafas. Menyadari kalau ucapannya memang benar adanya. Aku berjalan menghampirinya dan langsung mengambil Nindy dari gendongan Aa Hadi. "Sini A!" pintaku. Aku berbalik hendak menitipkan Nindy pada Anjel, tapi .... "Anjeli!!!" teriakku gemas. Dia malah memesan bakso sambil nyengir. "Masih laper Teh! Ngebakso dulu ya!" "Udah biarin kasihan!" bela Aa Hadi. Aku diam saja dan kembali meletakakan Nindy di mobil. Lalu mengambil Hamdi dan menggendongnya. Kedua anakku anteng dengan mainannya di dalam mobil. Kusenderkan badan, sambil melipat kedua tangan dan menatap Anjeli dengan kesal. Sementara Aa Hadi, dia berdiri di depanku sambil mengepulkan asap rokok. "Jan!" "Hmm?!" "Kamu cantik!" pujinya. Glekk Mataku langsung meluas melihat ke sekeliling. Takut kalau Teh Lina tiba-tiba saja datang. "Jangan cari gara-gara terus A. Jani takut setiap kali berdua sama Aa seperti ini!" dengusku kesal. "Aa enggak pernah berbohong, 'kan tentang segalanya? Awalnya sih ... Aa bisa menerima takdir. Tapi melihat suami kamu seperti itu, Aa ingin merubah takdir itu Jan!" "Jangan ngaco dan sok tahu A. Bukannya setiap rumah tangga ada permasalahannya masing-masing? Jani yakin bisa melewati ini. Sama seperti Aa dulu melewati masa-masa sulit bersama Teh Lina!" sahutku ketus. "Aa membohongi diri sendiri, sampai saat ini. Sejujurnya, sampai sekarang pun Aa enggak bisa mencintai dia, Jani!" ucapnya lancar seperti jalan tol tanpa ada hambatan, apalagi perasaan bersalah. Aku kembali merinding mendengar ucapannya yang sudah kelewat jauh itu. Dasar buaya! Aku pikir dia sudah berubah! "Enggak cinta, tapi anak sampai tiga!" "Aku menafkahinya lahir bathin agar tidak semakin dzalim, Jan!" katanya beralasan. Heuh! "Jangan bersembunyi dibalik pemikiran idealis kamu A. Teh Lina itu baik, mustahil tidak ada kebaikannya yang bisa diingat!" "Kamu cemburu?" "Kok malah menuduh cemburu?! Aku ini wanita A, aku tahu perasaan Teh Lina bagaimana nantinya!" dengusku kesal. Aku hanya geleng-geleng kepala. Segera ku turunkan kedua anakku dari mobil, lalu menggendong Hamdi dan menggandeng Nindy sambil berlalu meninggalkan Aa Hadi begitu saja. 💙💙💙 Dalam perjalanan pulang, Ibu, Bapak dan Teh Lina tertidur pulas. Mungkin mereka kelelahan karena keasyikan berjoget. Sedangkan Anjeli, asyik mendengarkan musik dari ponselnya di belakang. Hanya aku dan Aa Hadi yang benar-benar terjaga. Tetapi, kami berdua hanya diam. Tak ada kata yang dia ucapkan lagi setelah pembicaraan kami di mobil tadi. Marahkah dia karena ucapanku??? Ah, masa bodo. Aku tidak mau memikirkan perasaan dia yang egois itu. 💙💙💙 Dirumah, Mas Pras ternyata sudah pulang dan sedang menonton televisi. Begitu kami datang, dia langsung mengambil Nindy yang tertidur di gendongan Bapak. Tanpa sepatah kata pun, dia meletakan Nindy di dalam, lalu tidur disampingnya. Segera kuletakan juga Hamdi di sampingnya. Setelah seharian lelah, aku semakin kesal karena Mas Pras tidak ada basa-basi sama sekali terhadap Bapak dan Ibu. Bisa kulihat raut wajah berbeda yang kentara jelas di wajah keduanya. Padahal saat bersama Aa Hadi dan Teh Lina tadi, Bapak dan Ibu terlihat bahagia. "Sekali-kali ajak ngobrol Bapak sama Ibu, Pa!" pintaku sambil membersihkan wajah dari make-up. "Apa yang mau di obrolin Ma? Mereka juga kelihatannya lelah!" "Enggak usah ngobrol, setidaknya basa-basi kan bisa? Bapak masih di depan, jangan tidur dulu!" "Kamu kenapa Ma? Enggak biasanya menuntut seperti ini? Kamu kan tahu aku begini sejak dulu!" protesnya. Aku tidak ingin memperpanjang untuk menghindari pertengkaran. Segera kuambil handuk, dan masuk ke kamar mandi. Disana, aku menangis dalam diam. Kenapa aku selalu kesal setiap bersama suamiku sendiri, sekarang? Apakah kini hatiku mulai goyah dan tanpa kusadari, mengharapkan semua yang dimiliki Aa Hadi??? 💙💙💙
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
terimakasih atas karyanya 🤗
22/05/2022
0bagus banget cerita dan alurnya...
30/03
0keren
24/03
0Ver Todos